Dari Cheng Hoo ke Balai Pemuda

Melanjutkan #selfcitytour edisi sebelumnya

Semakin siang, semakin nggak bisa mikir. Mana Surabaya panasnya kayak apaan tauk, makin meleleh lah otak kita di jalan.

“Ini pulang apa gimana, yak?” Dimas mulai galau. Bolak-balik ngelirik jam tangan.

“Gimana kalo ng-es aja dulu,” usulku yang otaknya udah blenyek kepanasan.

Akhirnya, dari Kenjeran Park, kita putar haluan ke arah Pacar Keling. Di jalan inilah nangkring warung es dan bakso idolaku. Pak No, namanya.

Dengan harga rata-rata 9000-an, warung Pak No ini bener-bener ngembaliin ‘nyawa’ kita berdua. Es buahnya memang legend abis! Bikin nyawa langsung genap, dan kita siap lanjut lagi.

Es Teler Pak No yang tiada dua
Es Teler Pak No yang tiada dua

Karena masuk waktu solat duhur, duet alim ini pun pergi ke mesjid yang terletak di Jalan Gading, Surabaya. Apalagi kalau bukan Masjid Cheng Hoo. Semacam setali tiga uang, lokasi yang kita datangi ini lagi-lagi berarsitektur Chinatown. Masih bau-bau perjalanan ke Kenpark sebelumnya.

Arsitektur Masjid Cheng Hoo yang khas pecinan
Arsitektur Masjid Cheng Hoo yang khas pecinan

Ternyata kita nggak sendirian, ada pengunjung lain yang minat ambil gambar disini. Wuah, kita jadi kalah heboh nih. Lagi enak foto-foto, bapak takmir mesjid datengin kita. Dikira nggak boleh foto, kita udah panic at the disco . Eh, ternyata si bapak malah  ngasih buletin dan ngajakin ngobrol dan ngasih penjelasan gitu. #eaaa…

Ternyata, masjid ini didirikan atas gagasan Pembina Imam Tauhid Islam (PITI) pada 2001 silam. Seperti nama dan arsitekturnya, jangan kaget kalau kebanyakan orang disini adalah muslim keturunan Tionghoa.

Arsitektur masjid terinspirasi oleh mesjid Niu Jie di Cina yang sudah berdiri sejak 996 Masehi. Kalau diamat-amati nih, masjid Cheng Hoo dibangun dengan banyak filosofi. Misalnya aja, jumlah tangga sebanyak lima tingkat yang merepresntasikan rukun Islam. Terus bagian atap mesjid berbentuk segi 8 (pat kwa) yang berarti jaya dan keberuntungan.

Kelar meneduhkan diri dan hati di Cheng Hoo, kita menuju Balai Pemuda. Tapi, kok jalanan ditutup yah? Ternyata, ada event balap sepeda dalam kota bernama Tour De East Java 2012. Event yang digelar di Jalan Walikota Mustajab itu denger-denger termasuk Perlombaan nomor Criterium yang menempuh jarak 1,6 KM dan diikuti 15 tim peserta dari berbagai penjuru dunia.

Menuju pulang, kami sempetin mampir dulu ke Balai Pemuda alias Simpangsche Societeit yang dulunya tempat kongkow-kongkow tuan dan noni Belanda. Tujuannya sih, ngambilin brosur di Tourism Information Center (TIC). Saking lagak kita yang kayak turis, mbak-mbak penjaga TIC sempet nanyak loh, asal kita dari mana. Dan betapa shock-nya dia waktu tahu kami ini turis dalam kota. Hahaha.

“Dari mana mbak?” tanya Si Mbak padaku.

“Err… Gunung Anyar (nama daerah di Surabaya), Mbak…”

Si Mbak cegek (jawa: shock)

“Saya mbak, dari luar kota,” kata Dimas.

“Oya, dari mana mas?”

“Sidoarjo…”

“….” Si Mbak double cegek…

Simpangsche Societeit yang sekarang lebih dikenal sebagai Balai Pemuda
Simpangsche Societeit yang sekarang lebih dikenal sebagai Balai Pemuda. Ada banyak barang peninggalan Belanda di sini. Dari mesin ketik tua (gambar kiri) hingga piano. Ada pula toko suvenir yang menjual kaos hingga gantungan kunci.

Dari dalam TIC, Beberapa anak terlihat latihan nari bahkan disebelah ada juga yang gelar resepsi nikahan. Ternyata, setelah sok-sokan jadi turis inilah kami akhirnya tahu kalo di TIC jualan suvenir mulai dari gantungan kunci sampai baju. Beberapa benda peninggalan macam cangkir, piano, sampai mesin kasir juga dipajang disini.

Sebelum benar-benar pulang, nanggung rasanya kalau nggak sempet mampir ke Zangrandi, toko es krim legendaris yang lokasinya berseberangan dengan Balai Pemuda. Zangrandi ini bahkan sudah eksis sejak jaman mbah kami masih muda loh. Nggak kalah legend sama eskrim Ragusa yang ada di Jakarta.

Biar rasanya nggak selembut eskrim masa kini, justru kekunoan rasa Zangrandi itu yang bikin eskrim kreasi Renato Zangrandi tersebut epik sampai sekarang. Sejak 1930, man! Kurang tua apa coba?

Kiri: Kedai es krim Zangrandi. Buka sejak 1930 dan masih mempertahankan cita rasa zaman dulunya.  Kanan: Es krim legenda pesanan kami.
Kiri: Kedai es krim Zangrandi. Buka sejak 1930 dan masih mempertahankan cita rasa zaman dulunya. Kanan: Es krim legenda pesanan kami.
Suasana di depan toko Zangrandi yang masih mempertahankan kesan jadul
Suasana di depan toko Zangrandi yang masih mempertahankan kesan jadul

Sadar kaki makin gosong (karena cuman sendalan) dan otak udah kayak mendoan, we decided to go home. Cukup puas muterin seperupil dari Surabaya yang superluas ini. Besok-besok lagi! A bientot!

c’est fini… 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *