Berkelana di House of Sampoerna, Surabaya

Selang tiga hari habis “trekking” #selfcitytour pertama, kita buka lajur baru (ciah, bahasanya, berasa sopir angkot).  Nggak tau kaki yang terjangkit kutu air jadi gatel pengen jalan terus, apa kita yang ke-nganggur-an, siang kentang-kentang (bahasanya orang Surabaya buat cuaca panas terik) kita belain buat masuk Surabaya Utara.

Masalahnya, masuk Surabaya Utara itu berasa masuk neraka (Dih, kayak pernah masuk neraka aja…) Sudahlah panas, sebelahan sama pesisir pula. Lengkap. Nggak terima otak blenyek kayak di #selfcitytour pertama, di #selfcitytour kali ini otak kita bahkan tercecer sepanjang jalan.

Tapi semua itu kita jalani dengan ikhlas lillahi ta’ala demi meliat wujud House of Sampoerna (HoS) yang nggak kalah legend. Dibuka untuk umum tahun 2003, di museum ini kita bisa nikmatin sekompleks bangunan tua milik keluarga pendiri Sampoerna. Produsen rokok yang terkenal di Indonesia dan dunia.

Interior di dalam museum
Interior di dalam museum

Ceritanya, dari berkeliling House of Sampoerna kita diajak mengenal sang perintis usaha, Liem Seeng Tee dari awal membangun usaha sampai setenar sekarang. Beragam memorabilia lengkap dipajang disini. Ditata rapi dari pintu masuk sampai ke belakang. Seolah pengunjung disuguhi timeline yang seru buat diamati.

Interior lain di dalam museum
Interior lain di dalam museum

Waktu kita kesana, lagi ada semacam mengenang kejayaan Sampoerna Theater gitu. Jadi poster-poster film yang pernah di putar di pajang di arena museum lanai satu. Bahkan filmnya pun diputar!

Oya, di House of Sampoerna ini, kita bisa puas foto-foto di tiap sudut museum lantai satu. Sementara di lantai dua, kita dilarang mengambil gambar tanpa seizin pihak museum.

Naik ke lantai dua, kita bakalan nemuin kios suvenir khas Surabaya dan ngeliat proses pembuatan rokok yang masih HANDMADE! Yak! HANDMADE SODARA-SODARA!!! Ibu-ibu pelintingnya udah kayak di pencet tombol fast forward. Gilak cepet banget! Lebih cepet dari ngedip. Hahaha. *Oke, ini berlebihan.*

Selain museum, House of Sampoerna juga menyediakan resto bergaya art deco bernama A Cafe. Namun berhubung bokek tiada tara, kami pun mencari yang gratisan tapi nggak kacangan. Apalagi kalau bukan naik bus SHT alias Surabaya Heritage Tour. Buat naik bis ini jangan lupa daftar dulu buat memastikan kuota. Jadwalnya bisa kalian cek di sini.

Surabaya HEritage Track. Gratis dan ada pemandunya
Surabaya Heritage Track. Gratis dan ada pemandunya
Dapat ID card dan peta
Dapat ID card dan peta

Tepat jam 3 sore, bis melenggang kangkung keluar jalan Taman Sampurna menuju  arah Tugu Pahlawan dan PTPN XI.

FYI, bus merah bentuk tram jadul ini keliling 3 kali sehari. Selain hari Jumat-Minggu, pengunjung yang disebut tracker sama si tour guide bakal diajak rute tur jalur pendek. Durasinya sekitar satu jam.

Sampai di Tugu Pahlawan kita asik hunting angle. Sementara tracker lain disitu-situ aja, kita uda sampe tengah lapangan. Wajar, hari Minggu kita nggak bisa sepuas ini soalnya sekeliling tugu di kepung PKL yang bisa tumpah-tumpah ke jalan raya.

Tugu Pahlawan yang menggambarkan sikap heroik warga Surabaya dalam menentang Belanda
Tugu Pahlawan yang menggambarkan sikap heroik warga Surabaya dalam menentang Belanda

Sayangnya, kedatangan kita disana bertepatan dengan perbaikan museum. Nggak bisa masuk deh. Nggak papa, di luar monumen yang berdiri sejak 10 November 1951 ini aja kita udah seneng banget.

Situs kedua yang kita singgahi adalah gedung PTPN XI. Kata mbak tour guide-nya, gedung ini eks- perusahaan gula Belanda yang meng-cover area utara Jawa Timur. Lagi-lagi, kita berdua yang kakinya terjangkit kutu air ini sudah mberobos masuk gedung sebelum disilahkan. Apalagi yang kita lakukan kalau bukan… narsis! 😀

Gedung PTPN XI. DI beberapa bagian sengaja dibuat retakan sebagai antisipasi terhadap gempa
Gedung PTPN XI. DI beberapa bagian sengaja dibuat retakan sebagai antisipasi terhadap gempa

Menurut info lagi, PTPN XI ini dulunya bernama Handelsvereeniging Amsterdam, dan dibangun pada tahun 1920-1925 oleh arsitek terkenal di Batavia. Pada masa keemasannya, bangunan ini dulunya termasuk yang terbesar di Surabaya loh! Keren yaaa 😀

Lorong di dalam gedung
Lorong di dalam gedung
Arsitektur di dalam gedung PTPN XI
Arsitektur di dalam gedung PTPN XI
IMG_9310
C’est fini! 😀

Nah, karena hari semakikami pun harus kembali ke kandang. Kami juga harus beranjak pulang. Kesimpulan hari itu, kami senang bukan kepalang. Dan yang kedua, segeralah berobat kalau merasa mengidap ‘kutu air’. Karena kaki gatal itu juga bikin capek, Jendral!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *