Bandung Banget Kata Kami

Mikir apa coba waktu denger kata ‘Bandung’ disebut? Deretan FO (factory outlet)? Daftar belanjaan? Surabi? Batagor? Cimol and the gang? Tempat outbond dan cafe-cafe cozy? Atau malah mojang-jajakanya? Kalau yang lain mikir itu selama di Bandung, menurut kami itu mainstream.

Biar nggak mainstream, kita punya pikiran sendiri soal Bandung. Ini nih, yang Bandung Banget buat Doubletrackers gara-gara #LostInBandung

1.      Nama

Denger Bandung bikin kita inget sama sederetan nama yang Sunda pisan. Nggak sekedar Asep, Dadang, Dada, Deden, Entin, and so on. Tapi juga nama yang berulang kayak,  (maaf yah, kalo ada yang mirip. Hehe…)  Edi Suryadi, Letti Hartati, Han Han Suhanda, bahkan Bapak Walikotanya aja nggak kelewatan, Dada Rosada.

Bersama dua sahabat saya yang berdomisili Bandung dan untungnya nggak bernama Sunda pisan  (Dwi dan Mili) :)))
Bersama dua sahabat saya yang berdomisili Bandung dan untungnya nggak bernama Sunda pisan (Dwi dan Mili) :)))

2.      Singkatan

Masih nggak jauh dari nama, sih. Kita berdua nggak tau darimana dan kenapa orang Sunda, khususnya yang di Bandung, seneng nyingkat nama sebuah benda. Bisa itu makanan, jalanan, apapun. Contoh umumnya, Batagor (Bakso Tahu Goreng), Sukro (Suuk di Jero/ kacang di dalam), Combro (Oncom di Jero), Cimol-Cireng-Cilok (Aci di Mol-mol, Aci di Goreng, Aci di Colok. Aci= kanji.). Bahkan Jalan Suci dan Paskal juga singkatan dari Surapati-Cicaheum dan Pasir Kaliki…. Oh, well….

Nggak peduli namanya. Yang penting jajanan Bandung raos pisan!
Nggak peduli namanya. Yang penting jajanan Bandung raos pisan!

3.      Bandung di-Lingkung Gunung

Katanya nih, Bandung itu bekas danau purba. Jadi jangan salahin posisinya yang kayak cekungan mangkok. Dari utara sampai selatan, Bandung memang dilingkung gunung (dikelilingin gunung). Misalnya aja, Gunung Tangkuban Perahu di utara dan Gunung Patuha di Selatan. Itu dia alasan yang bikin Bandung cukup semilir. Yah, kalo dibandingin Surabaya mah, jauh lah….

Hijauuu di mana-mana
Hijauuu di mana-mana

4.      View

Bandung punya view teduh dan menyenangkan buat ditinggali. That’s why sejak jaman Meneer-meneer sampai hari ini Bandung identik jadi destinasi wisata yang menyengangkan. Dari sononya aja, Bandung udah rimbun dengan suasana hijau. Kata orang Belanda sih, Bandung itu udah kayak Prancis Selatan di musim panas.

Sayang, banyaknya pendatang ke Bandung nggak diimbangin sama penjagaan kebersihan dan keteraturan kota. Jalannya yang sempit dan volume kendaraan bikin Bandung macet nggak karuan. Belom lagi sampahnya yang banjir sampe ke jalan.

5.      Arsitektur

Bandung buat kita adalah tempat yang lekat dengan bangunan ‘Belanda banget’. Nggak serepot di Surabaya buat nyari background foto lawas. Di Bandung, segala sudutnya fotogenik banget buat foto-foto. Sefotogenik neng-nengnya nu gareulis pisan… 😀

Liat aja Jalan Braga dan pusat kotanya. Bikin kita lupa kalau  lagi di Indonesia. Lanskap kotanya seperti ngajak kita berasa di Eropa. Ditambah suhu sejuknya, julukan ‘Paris van Java’ yang melekat makin pas rasanya dengan paduan dua hal tersebut. Ini contohnya

  • Gedung Sate adalah salah satu arsitektur yang menurut kami Bandung banget. Gedung ini (menurut bacaan kami) dibangun pada 27 Juli 1920 dan digunakan sebagai gedung pemerintahan Belanda. Sekarang dia berperan sebagai gedung gubernuran Jawa Barat.Awalnya Gedung Sate bernama Gouvernements Bedrijven. Embel-embel ‘Sate’ dibelakangnya ada gara-gara terdapat 6 buah pentol serupa sate di puncak atap utamanya. Menurut yang kami baca (lagi), keenam pentol itu simbol 6 Gulden yang berarti banyaknya biaya untuk membangun Gedung Sate.Gedung Sate ini ada di Jalan Diponegoro, Bandung. Sebelahan sama gedung Kantor Pos dan Museum Pos. Diseberangnya ada Taman Lansia yang teduh dan ramai sepanjang hari. Apalagi di hari Minggu, keramaian gasibu bisa tumpah ruah sampai ke depan Gedung Sate. Buat masuk Gedung Sate sih gratis. Tinggal minta ijin sama satpam yang bertugas, kita bisa foto-foto di halaman belakang Gedung Sate yang asri.
  • Terus ada juga Flyover Pasupati yang juga Bandung banget. Sekilas, jalan yang suka disebut jembatan ini memang punya bentuk mirip banget sama Suramadu. Harapannya sih, flyover ini bisa ngurangin kemacetan di Bandung Utara. Oya, balik ke soal kesukaan orang Bandung nyingkat nama, Pasupati ini juga singkatan loh. Pasteur-Surapati. Gubrak….
  • Yang terakhir adalah Gedung Merdeka yang sekarang jadi Museum Konperensi Asia Afrika. Gedung ini beken sejak dipakai sebagai tempat Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Gayanya yang art deco memang legend banget sama gedung bernama asli Sociteit Concordia ini.Awalnya Gedung Merdeka dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi mayarakat Belanda. Waktu pendudukan Jepang, gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan. Waktu jaman jayanya, ia jadi tempat kongkow paling megah se-Bandung Raya. Apalagi lokasinya deketan sama Hotel Savoy Homann dan Hotel Preanger yang juga beken waktu itu.Berminat ke Museum KAA? Datang aja pas hari weekdays. Enaknya, masuk kesini gratis! Pas buat yang pengen plesir anti-mainstream modal dengkul. Ruangnya sejuk, bersih, terang, pokoknya terawat banget deh. Ada jasa guide yang seru buat nganterin berkeliling. Hal yang paling kita suka cobain di museum ini adalah dengerin simulasi rekaman pembicaran telepon orang-orang penting dari pesawat telepon jaman dulu. Lucu banget, berasa denger siaran radio. Oya, disini juga sedia suvenir dan di ending museum kita bisa nikmatin film dokumenter.
    Searah jarum jam: Observatorium Bossch, Gedung Bank NISP (dulu gedung toserba De Vries), Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka
    Searah jarum jam: Observatorium Bossch, Gedung Bank NISP (dulu gedung toserba De Vries), Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka

    Searah jarum jam: Jembatan Pasupati, Gedung Sate, Gedung Pos, Gedung Bank Indonesia
    Searah jarum jam: Jembatan Pasupati, Gedung Sate, Gedung Pos, Gedung Bank Indonesia

Kira-kira, itu yang kita tangkap soal Bandung dari kacamata kita berdua (dan fortunately, kita memang pake kacamata, sih. Hehehe). Itu Bandung kata kami. Kata kamu?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *