Bandung Mall to Mall

Pernah tinggal 3 taun di Bandung nggak bikin aku (Hening) sukses hafal jalanan Bandung. Otakku semacam ruwet sama jalurnya Bandung yang rata-rata sempit dan searah. Beda sama Dimas yang baru tiga malem di Bandung udah hapal. Hmm… jadi berasa bego…

Eniwe baswei, sejauh kita doyan jalan-jalan, hampir bisa dipastikan kita nge-mall dihitung jari. Bukan belagak kere apalagi idealis sama anti-mainstream minded kita, sih. Cuman cari tempat lain aja yang lebih seru.

Nah, selama di Bandung, mall seolah jadi penyelamat kita yang rada gagap jalan dan ngerasa #LostInBandung.

Lumayan lah, buat ngademin pantat sambil mantengin orang lalu lalang. Tiga mall istimewa yang sempat kita datengin pasti udah nggak asing lagi buat AGB-AGB (Anak Gaul Bandung), hehehe. Ciwalk, PVJ, sama TSM. So, let the story begin!

Berdasar pengalaman yang dulu-dulu, weekend di Bandung bisa jadi nggak jadi weekend. Lha gimana sih? Iya, soalnya yang ada malah weekend di jalan saking macetnya. Apalagi kayak di sekiataran Cihampelas gitu. Sepanjang jalannya penuh sama orang jualan baju dengan penawaran harga bersaing dan bikin kantong seketika genting. Hal yang bikin Cihampelas beken itu adalah produksi outfit berbahan jeans.

IMG_9662
Tempat paling hits jaman SMA buat Ijin Keluar :)))

Diantara sederetan toko di Cihampelas, nyempil satu nih, mall yang pewe banget buat kongkow dengan konsep semi outdoor. Konsep serupa juga hadir seperti di PVJ, Sutos (Surabaya), dan Beachwalk (Denpasar).

Kesamaan lain di Ciwalk dan PVJ adalah suasana malam yang menarik untuk dinikmati. Lampu-lampu dan interiornya memang cantik dan bikin suasana romantis. Hummm…manis sekali! Bedanya, PVJ di kawasan Sukajadi itu punya tenant yang lebih ‘sangar’ daripada Ciwalk. Termasuk resto-restonya. Rata-rata branded dan bikin silau!

Nah, ada lagi satu, yaitu TSM. Ada yang asing sama mall ini? Gimana kalo BSM? Pasti lebih familiar yah.

BSM sama TSM ini bahasan yang lama tapi baru. Sejak kehadiran Trans Studio, BSM alias Bandung Supermall yang udah 10 taun beroperasi resmi ganti nama akhir Juni tahun ini dengan Trans Studio Mall. Selain Trans Studio dan mall, TSM juga dikelilingi dua hotel megah, The Trans Hotel dan Ibis Hotel.

IMG_9655
Trans Hotel Bandung

Simbolnya yang dulu segitiga jadi serba kupu-kupu yang cantik banget. Interior se-mall berubah drastis jadi megah abis. Beda banget sama BSM jamanku sekolah tujuh taun lalu.

Karena di TSM ini yang ikonik adalah Trans Studionya, kita pun penasaran nyobain main di dalamnya. Yah, kayak amusement park kebanyakan sih. Cuman menang di indoor dan penataannya yang tematik plus teknologinya yang masa kini.

IMG_9644
Trans Studio Bandung

Karena judulnya Trans Studio, jelas banget tema permainannya disesuaikan dengan tema acara televisi milik TransCorp. Misalnya, yang bertema dark dan magic dijadikan satu. Permainan Dunia Lain alias rumah hantu hadir di dalamnya. Terus permainan bertema adventure diberi nama Jelajah. Sementara Si Bolang juga hadir dalam bentuk istana boneka. Lucu banget, deh.

Tiket masuknya 150 ribu per orang. Kalo kamu mahasiswa, tunjukin aja KTM. Lumayan, didiskon 50 ribu. Hohoho. Hidup mahasiswa! :p Oya, selama di Trans Studio, segala jenis transaksi pake kartu deposito. Jadi kita kudu isi ulang dulu buat belanja dan makan di di dalam Trans Studio. Semacam belanja pake kartu debit gitu deh.

Keseruan di Trans Studio
Keseruan di Trans Studio

Aku pribadi bukan orang yang suka main di amusement park. Cukup sebagai peminat aja, gara-gara aku nggak berani main yang memacu adrenalin. Sayang juga sih, tiket segitu dihabiskan cuman dengan masuk ke wahana Si Bolang dan rumah sains gitu. Kasian Dimas, jadi kehilangan mood main. Sorry yak, Mamen… :p

Kami pun nyari permainan yang aman buat jantung kayak Sky Pirates yang ngajak kita naik ‘balon udara’ keliling arena Trans Studio. Terus nonton pertunjukan teatrikal (lupa judulnya apa) yang keren banget. Dan nyobain semua eksperimen di rumah sains (aku juga lupa nama wahananya apa). Lumayan capek juga keluyuran di rumah sains ini.

Oh ya, sesuai konsepnya, segala sesuatu di dalam Trans Studio ini memang agak lumayan ngerogoh kocek. Baik makanan sampai suvenirnya yah, hmm… lumayan.

Dari sana kita berdua berpikir ke satu kesimpulan. Makin dewasa kita, makin sedikit alasan kita untuk bersenang-senang. Kenapa?

Kalau kita anak kecil, kita nggak bakalan mikir apapun buat masuk kesana. Yang penting happy dan main! Beda sama orang dewasa yang mikir dulu buat kesana. Berapa yang harus dikeluarin, benefit apa yang didapat, and soooo on.

Yah, itu sih, kata kita. Gimana pendapatmu? 🙂

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *