Bandung Tour d’ Musee

Selama kami di Bandung, porsi jalan ke museum lebih banyak dari yang lain. Buat kita berdua, ke museum itu kayak baca timeline. Perkembangan suatu jaman bisa kebaca dari sudut yang berbeda. Kayak kunjungan ke kedua museum ini. Museum Perangko dan Museum Geologi.

Pertama dateng ke Bandung dan nyusurin gasibu, kita sempet tergoda sama gedung Museum Prangko. Lucu juga buat dicobain. Jadi sebelum pulang, kita sempetin dulu nyatronin museum ini.

IMG_0119
Timbangan paket pos
IMG_0133
Vending machine berisi benda pos. Keren ya!
IMG_0104
Beraneka kotak pos
IMG_0110
Replika masyarakat yang sedang menerima kedatangan Pak Pos. Momen yang hampir nggak ada sekarang 🙁

Kayak judulnya, apalagi yang dipajang kalau bukan benda-benda pos. Wah, semacam nostalgia ke jaman berjayanya tulis-menulis surat. Seneng banget nungguin surat dari sodara atau teman di luar kota. Apalagi kalo musim lebaran. Kartu ucapan Idul Fitri dari yang resmi sampai yang unyu bisa menggunung di rumah. Dan sekalipun template, beda banget rasanya kayak ngirim ucapan jamna sekarang yang tinggal send to all dan nggak berkesan repot itu.

Nggak ada sampul berbeda dan tulisan berbeda di dalam ucapan jaman sekarang. Dan nggak ada seni menunggu yang lebih seru kayak nunggu surat. Ah, jadi kangen….

Museum Pos ada di sebelah Gedung Sate. Buat masuk kesini sih gratis. Sayangnya, waktu kita dateng nggak ada petugas yang berjaga di depannya. Jadi mau tanya-tanya juga bingung kemana. Kita pun slonong boy aja. Museum ini juga satu gedung sama gedung Kantor Pos Pusat Kota Bandung. Dan tau nggak, keberadaannya udah ada sejak jaman Belanda. Waktu itu namanya Museum Pos Telegrap dan Telepon.

Begitu masuk ke dalamnya, kita disambut sama patung setengah badan Alm. Bapak Pos Indonesia, Mas Soeharto. Beliau ini tokoh yang berjasa dalam dunia pos Indonesia yang hilang diculik Belanda. Bahkan hingga kini, jasadnya pun tak ditemukan. Hiks…. 🙁

Kedalam museum kita bisa liat beragam kotak pos di Indonesia dari jaman ke jaman. Bahkan ada vending machine benda pos segala! Asli, kita sendiri baru tau kalo ada vending machine kayak gitu. Lucu juga. Perangkat benda pos dan telegraf lain juga tertata rapih di museum berarsitektur Italia masa Reinassance ini.

Yang lebih keren di museum ini adalah deretan lemari-lemari vertikal dan display lembaran kaca berisi koleksi perangko berbagai negara. Jadi inget, dulu jamannya pos masih jaya, hobi filateli bener-bener naikin gengsi. Hehehe.

Masuk ke sisi belakang kita bisa liat deretan Surat Emas alias surat raja-raja se-Nusantara yang dihibahkan dari sebuah lembaga di Inggris sana. Waduh, sedih juga. Suratnya siapa, yang punya dan simpen negara mana…

Museum pos terhitung berukuran kecil. Apalagi kalo dibandingin museum satu kunjungan kita selanjutnya.

Yak, kedua kita mengunjungi Museum Geologi. Kita pikir bakalan sama kayak museum lainnya yang sempet kita datengin sebelumnya. Ternyataaaaa… udah luas banget, ada dua lantai! Puas deh ngamatin gragal (batu-batu) dan fosil sejak jaman prasejarah disini.

IMG_0162
Lorong di dalam museum

Denger-denger, dulu masuk Museum Geologi gratis. Tapi sekarang mesti bayar. Murah aja sih. Buat kami yang masih terhitung mahasiswa cuman 2 ribu aja. Begitu masuk, kita langsung dibuat terpukau sama batuan-batuan cantik. Ada yang dari luar negeri dan nggak sedikit yang dari Indonesia sendiri.

IMG_0178
Contoh batuan koleksi museum
IMG_0203
Area eksibisi batuan

Kita juga jadi tau  proses pembentukan batuan sampai ke gunung meletus. Mata kita berdua bahkan nggak lepas dari yang namanya Kristal Kecubung dan kawan-kawannya. Cantik banget! dari luar keliatan kayak batu hitam biasa. Tapi begitu dibelah,…. TADAAA!!! Batuan bening dan tajam berwarna ungu muncul dari dalam.

IMG_0207
Batu yang dimaksud

Koleksi benda geologi dan tambang disini udah dikumpulin dari tahun 1850-an loh. kerennya, museum yang dulu dipakai belanda sebagai laboratorium geologi ini udah jadi museum sejak tahun 1929. Sama tua lah ya, kayak Museum Pos.

Disini juga kita bisa liat sederetan fosil manusia puba dan gajah purba bernama Stegodon trigonocephalus. Kalo masi nggak puas sama fosil itu, masih ada kok replika fosil dinosaurus Tyrannosaurus rex yang terkenal itu.

IMG_0195

Di lantai dua juga ada tempat display yang lebih keren dan interaktif. Display bakalan bergerak berdasar sensor yang menangkap gerak tangan kamu. Bahkan ada tempat display yang mirip sama arena Dance-Dance Revolution. Huehehehe.

Ngeliat kondisi museum yang terhitung keren kayak gini, sayang banget rasanya kalau kita nggak nyempetin berkunjung. Dibanding buang duit shopping nggak jelas untuk barang yang lekang dimakan waktu, mending di alokasikan kesini. Ilmu kan nggak lekang.

Mengutip perkataan seorang kawan:

ilmu itu harus murah kalo nggak bisa gratis” – Swiss Winnasis.

Setuju deh, sama Mas Swiss. Kamu? 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *