Mengejar Penyu Ke Meru Betiri Sambil Goyang Sukamade

Baluran udah, Alas Purwo udah, Bromo-Tengger-Semeru masih baru Semeru sih, tapi anggep aja udah. Sekarang giliran Meru Betiri! Yak, lengkap udah empat taman nasional terdekat dari rumah aku (Hening) ceritain. Moga bakalan banyak yang minat kesana yah… 🙂

Buat ke Meru Betiri ini perjalannya nun jauhhh di mato. Memang bener deh kalimat buat ke surga itu jauhnya ampun. Aku lupa berapa jam. Seingatku makan waktu seharian. Lagi-lagi, aku pergi ke taman nasional karena tuntutan kuliah. Hehehe. Dan aku ke Meru baru sekali itu, tahun 2010.

Naik bis dari kampus, serombongan besar kami turun di Pesanggaran. Nama daerah buat transit menuju masuk ke Meru Betiri. Sedikit cerita, kita nebeng nih di rumah seorang senior yang kebetulan tinggal disana. Tujuannya nungguin angkutan. Jangan dibayangin angkutan yang kece-kece, kayak jeep, SUV, atau apapun itu. Ini truk, man! Truk warna kuning yang biasa angkut sapi.

Yah berdasar pengalaman, memang buat akses ke taman-taman nasional memang rata-rata begitu kalo mau masuk dalam jumlah rombongna besar. Apalagi mengingat jalur Meru yang kece badai ini.

Di dalam truk, tas carrier kami udah ketumpuk campur aduk. Kita naik bareng warga sekitar yang tinggal di desa terdekat Meru Betiri. Nggak cuman itu, kita di truk juga campur tahu dan barang bawaan warga lainnya.

Perjalanan dimulai…

Awalnya masih datar aja kayak lewat treking hutan pada umumnya, menit bertambah, goyangan makin dahsyat. Jalan yang dilalui terjal berbatu. Kata orang Jawa, jalannya ‘gronjalan’. Tangan yang berpegangan di tali tampar yang diikat ditengah bak truk ke belakang udah lecet nggak karuan. Pegangan nggak peganggan sama merosotnya. Hahaha.

Tiap perjalanan juga kita mesti merunduk. Vegetasi hutan disini luar biasa rapatnya. Kalo nggak awas, siap-siap aja kepala kebentur/ kesambit dahan pohon yang menjuntai-juntai.

Oya, perjalanan ke Meru Betiri kali itu aku menuju resor Sukamade. Buat masuk kesananya itu mungkin sejam lebih. Yang bikin keren perjalanannya, truk yang kita naikin kudu berkubang dulu di area Sungai Lembu. Lolos dari situ, baru kita masuk ke area perkebunan Sukamade Baru buat masuk Sukamade.

IMG_2764
Area perkebunan di sekitar Sukamade

 

Kondisi jalannya? Jangan tanya!!! Kedalaman sungai yang kita lewatin kalau nggak banjir ya setinggi ban truk. Hehehe. Seru abis. Kita namain perjalanan itu dengan Goyang Sukamade. Soalnya, sepanjang jalan kita goyang terooosss…. Tarik Maaaanngg!!!

Meskipun perjalanannya menggoncang jiwa raga, kita lumayan terhibur dengan view Teluk Hijau berair zamrud dari atas tebing yang kita lewatin. Yak, kita ngiterin tebing loh. Jadi bawah kita taulah apa, hehehe. Betul! Jurang! 😀 Hrrr…

Setibanya di Meru kita cukup terhibur. Wismanya tergolong baik meskipun kalau mandinya antre, aku terpaksa ikutan mandi nimba di sumur. Hahaha. Terus di sekitar wisma dengan mudah teramati burung Kangkareng Perut Putih, Srigunting Batu, dan Takur Ungkut-ungkut (fotonya googling sendiri ya :p). Jiwa birdwatcherku langsung girang begitu tahu kondisinya.

IMG_2599
Ini mau birding apa lomba masak survival? Lebih jago bikin mi daripada ngamatin burung. Jangan lupa bawa balik sampahnya.

 

Oya, hutan di Meru ini terhitung lembap. Nyamuknya juga lumayan aduhai. Hehehe. Apalagi waktu aku kesana sudah masuk musim hujan. Pengamatan burung yang kurencanakan bersama beberapa teman bahkan sempat terancam batal.

Meru Betiri ini juga terkenal dengan konservasi Penyu Hijaunya atau Chelonia mydas. Kita bahkan sempat diajak masuk melihat tempat penangkaran tukik (anak penyu) disana. Menjelang malam, kita juga diajak melihat proses penyu naik ke darat untuk bertelur.

CIMG3526
Penangkaran penyuuuu  (credit: Fitriana Pingkan)

 

Kata bapak PEH Meru Betiri, mereka bakal kembali setelah berusia sekitar 25 tahun. Itu pun belum karuan hidup. Banyak tantangan yang mereka hadapi saat baru dilepas ke laut. Mulai dari dimangsa predator darat, kayak Musang, predator laut, bahkan Elang juga doyan loh, nyerbu tukik-tukik kecil. 🙁 Aciyaann….

Di Meru juga kami diajak bapak-bapak PEH buat treking ke hutannya dan naik ke hmm… sebutlah bukit karena menurutku terlalu pendek disebut gunung. Hehehe. Dengan bangganya, mereka mengajak kami naik ke bukit itu sambil berpromosi tentang bunga Rafflesia yang juga tumbuh disana. Aku termasuk yang penasaran sama bunga bangkai raksasa itu.

CIMG3506
Menuju bukit Meru yang katanya ada Raflessia-nya (credit: Fitriana Pingkan)

 

Ternyata sodara… bukit ini luar binasa miringnya =,= lebih dari 45 derajat, for sure. Lucunya kita naik mengandalkan pegangan di sulur-sulur pohon yang menjuntai sebagai gantinya tali. Huahahaha. Menarik! Layaknya Tarsan =,= Belom lagi tanah yang kita pijak begitu gembur dan mengandung batu. Salah injak, batu bisa glundung ke bawah, kena teman yang di bawah.

Naik-naik ke puncak gunung dan tadaaaa…

“Pak, mana Rafflesianya?” semua ‘pendaki’ pada penasaran, napas udah ngos-ngosan.

“Itu…,” tunjuk bapak-bapak PEH pada sebuah, entahlah, sesuatu berukuran segede ujung jempol. Warnanya semacam putih gading gitu.

“Itu…bunganya, Pak?” tanyaku.

“Iya, ini belum musim berbunga, Mbak. Baru aja layu. Ini bekas yang udah layu. Ini anakannya.” jawab si bapak santai dengan menunjuk bergantian si anakan Rafflesia dan bekas bangkainya.

Aku speechless. Begitu pun yang lain.

Saat itu, aku pengen glundungin si bapak ke bawah…

Di Meru ini aku ngelakuin pengamatan burung, teman-teman. Jalurnya di perkebunan Sukamade dan Pantai Sukamade sendiri. Ombak pantai selatan yang khas bener-bener ganas disini. Rasanya pengen nelen aku bulat-bulat. Hahaha.

CIMG3498
Pantai selatan, hohohoho

 

Dapat apa ya pengamatan hari ini?
Dapat apa ya pengamatan hari ini?

 

Kelar pengamatan, kita sempetin main di sebuah kali mati. Kali yang nggak berarus dan buntu. Lokasinya masih disekitaran Pantai Sukamade. Lucunya, disini kita nemu ‘jackpot‘ berupa kotoran manusia. Hahaha. Yang tadinya asik berenang-berenang dan canoing jadi semacam nge-freeze. Salah-salah udah ketelen air sisa jackpot?

22758_1210781318716_8045819_n
Canoing plus-plus. Plus ‘jackpot’ orang yang lagi buang hajat di pojok sana. (credit: Noorafebriani)

 

21856_1210790358942_2126514_n
Masih belum sadar ada jackpot. Masih bahagia. (credit: Noorafebriani)
CIMG3720
Dadah, tukik- tukik 🙂 (credit: Fitriana Pingkan)

 

Yah, kurang lebih gitu deh ceritaku di Meru Betiri. Jalan kembali pulang pun sama seru dan bergoyangnya dengan kita berangkat. Dan sebelum pulang, kita sempet ikutan lepas tukik ke pantai. Ah, ya, semoga mereka bisa balik lagi ke pantai ini 23 tahun dari sekarang 🙂 Dadah, tukik- tukik!

Nb: Di dalam tulisan ini lebih banyak ilustrasi dari kamera teman- teman yang juga ikut dalam perjalanan. Sayang banget, pulang dari sini kamera mendadak rusak. SD Card-nya tidak terbaca. Hilang semua deh… 🙁

You may also like

2 Comments

  1. permisi, numpang nanyak.
    boleh berbagi pengalaman kan.?
    ehm.. kalo naik truk kuning itu bayar nggak sih??
    kalo iya berapa?
    mau ke sukamade tapi gak tau jalurnya…
    mohon dijawab 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *