Dwi, Bosscha, dan Kawah Putih

Hanya satu kata : 36 B.
Bukan, ini bukan tentang si Hening.

Dialah Dwi, pemilik 36 B (julukan yang kubikin sendiri dengan ngaco). Meski punya Dwi lumayan gede, tapi bukan itunya Dwi juga yang mau aku bahas.  36 B adalah singkatan dari Bongsor Berkacamata (sering di) Bully (tapi) Baik Banget 31x. Keren kan?

Dwi Putra Suwandono, calon orang terkenal
Dwi Putra Suwandono, calon orang terkenal

Nggak kayak Hening yang udah temenan lama sama nih anak, aku kenal nih anak baru kemaren waktu main ke Bandung. Kesan pertama ketemu anak ini, aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama “oh ini toh temennya Hening yang dari jaman playgroup,” pikirku.

Bicara tentang playgroup, aku dulu nggak pake playgroup2an. Langsung TK. Kata mama sih soalnya otakku udah terlalu cerdas buat masuk playgroup. Tapi ternyata, semakin naik jenjang akademisku, semakin menurun kemampuan otakku. Ah sudahlah, yang penting tetap tampan.

Dwi ini semacam teman playgroup Hening yang terpisah, lalu ketemu lagi waktu di Krida. Lantas jauh lagi. Dan kemaren ketemu lagi waktu kita makan di PVJ. Di sana kita pun cerita kalo udah mengunjungi beberapa tempat, dan nyampein rencana kita mau ngunjungin tempat apa lagi. Nah setelah cerita ngalor ngidul, Dwi pun nawarin buat nganter kita ke 2 tempat yang ada di list kita. Bosscha dan Kawah Putih.

FYI, Bosscha dan Kawah Putih ini letaknya bertolak belakang. Bosscha di Utara, Kawah Putih di Selatan. Jauh? Nggak kok, cuma sejengkal. YA JAUH LAH !!

Dan tawaran Dwi itu bak hujan di batas kemarau. Menyegarkan! Besoknya kita cabut ke Bosscha dan Kawah Putih! Aku jelas girang banget, terutama ke Bosscha. Aku curiga kegiranganku ini gara-gara film Petualangan Sherina yang dulu diputer melulu di stasiun TV swasta tapi selalu nonton juga padahal udah pernah nontonin di bioskop. Berkat Sherina, aku jadi bisa melihat semua lebih dekat meski dari dulu nggak deket-deket juga sama Sherina-nya.

Eniwe, dulu Sherina gendut jelek kayak gitu kok sekarang bisa cantik banget ya? Heran aku.

Eh kok malah ngomongin Sherina sih? Skip skip. Perjalanan ke Bosscha ini diwarnai kenyasaran. Sungguh mati aku jadi kenyasaran, sampai mati pun akan ku perjuangkan. Jarang ditemui papan penunjuk arah ke Bosscha, kalopun ada, itu pun ngga muncul-muncul lagi di jalanan depannya. Tapi syukurlah ada aplikasi Maps. Meski toh menyesatkan juga.

Tapi kita nyasarnya juga keren lho. Sebelum sampe Bosscha, kita nyasar ke Tangkuban Perahu, sama Vipassana Graha. Wong pada dasarnya aku seneng nyasar dan jalan-jalan, yo seneng-seneng aja meski ga nyampe-nyampe tujuan utama. Tapi abis muter-muter nyari jalan, akhirnya kita nemu juga jalan masuk ke Bosscha!

Mobil Dwi terus melaju, sampai akhirnya jalan tertutup sama portal. Satpam pun datang menghampiri, kayaknya curiga ngeliat kita. Dan yap, kita berasa kayak bawa teroris apa bahan peledak di mobil.

Eh, bahan peledak? Bener juga sih, si Hening kan bisa meledak juga. Sekarang aku baru sadar kenapa kita didatengin satpam. 😐

Tapi berkat Dwi, sepik sedikit, si satpam langsung luluh. Bahkan dengan senang hati beliau nunjukin arah jalannya. Wow, jelas Dwi ini bukan orang sembarang orang! Aku curiga dia anaknya penguasa Bandung, atau malah dia penguasanya? Whatever lah, yang pasti berkat Dwi kita bisa berpose sepuasnya di depan Observatorium Bosscha. Sendiri. Berasa Bosscha milik pribadi.

IMG_9917
Aku dan Bosscha. Berdua saja melawan dunia. Haha. Nggak sih, aku malah curiga Bosscha ini juga punya Dwi. Semacam mainan masa kecilnya Dwi.

Puas maen-maen di Bosscha, kita bertolak ke Selatan menuju Kawah Putih Ciwidey. Selama perjalanan, kita disuguhi oleh pemandangan macet. Apalagi di daerah Kopo, buset dah. Untung Dwi ini orangnya santai, sabar, woles, jadi perjalanan aman tenteram sampe ke Kawah Putih. Two thumbs up deh pokoknya buat Dwi! Coba dia ikutan Indonesian Idol pasti aku bakal SMS dukungan terus sampe tabungan abis.

Sesampainya di pintu masuk Kawah Putih, kita disuruh bayar administrasi. Aku lupa berapa tepatnya, tapi yang jelas kuingat adalah kita pake harga spesial! Yang harusnya kita bayar untuk tiga orang, kita cuma bayar untuk dua orang aja!

IMG_9919

Dua orang? Berarti yang diitung cuma aku sama Hening dong? Lha Dwi? Wah, bener-bener nih anak bukan anak sembarangan. Aku jadi semakin yakin kalo Dwi adalah The Choosen One, The Boy Who Lived, The You Know Who.

Kita pun turun ke area Kawah Putih. Sebenernya air danaunya nggak putih, bahkan ijo. Yang putih adalah pasir di sekitar danau itu. Aroma belerang bener-bener menyengat. Dengan kacamata bodohku, Kawah Putih ini mirip areal Lumpur Lapindo yang dikasih Tje Fuk dan dipoles sedikit.

IMG_0020

Tapi di sana nggak kayak di Lapindo. Di Kawah Putih pemandangannya lebih asoy bener, soalnya banyak cewek-cewek kece yang foto, kayak model-model gitu. Di sana juga banyak yang foto pre-wedding. Tapi anehnya ngga ada yang foto dengan pose nyemplung di tengah kawah. Padahal jelas itu epic banget.

IMG_9978

Oya, buat yang belom tau, Kawah Putih alias Kaput ini semacam danau yang terletak di Gunung Patuha, Bandung Selatan. Tepatnya di Ciwidey. Menurut sejarah yang ada disana, danau belerang berwarna turquoise ini tercipta akibat letusan gunung tersebut. Sampai akhirnya Dr.Junghuhn asal Belanda menemukannya selama masa kolonialisme Belanda. Akibat kandungan belerang di dalamnya, Kaput dimanfaatkan Belanda dan Jepang sebagai tambang belerang.

Hingga kini, Kaput dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat berkumpulnya roh leluhur dan dijaga seorang kuncen bernama Abah Karna. Bagian menarik dari Kaput juga terletak pada hutan (menurutku sih cuman sekumpulan vegetasi aja) yang didominasi pohon Cantigi (Vaccinium varingiaefolium).

Ya layaknya ababil di tempat kece, kita pada ambil foto sepuasnya di sana. Sedangkan Dwi tampak santai aja, kayak udah sering maen-maen kesini. Aku jadi makin curiga, jangan-jangan ini dulu tempat mandinya Dwi. Wow, hebat sekali nih anak! Aku ga habis pikir. Soalnya pikiranku udah habis di Hening. Hahaha, gak payuu..

Afterall, bisa mengunjungi dua tempat di ujung utara dan selatan kota Bandung adalah pengalaman yang sangat sangat menyenangkan. Dan semua itu takkan terjadi jika kita tak bertemu Dwi. Dwi adalah MVP hari itu.

IMG_9994
Thanks, Wi!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *