Amsterdam From The East

Postingan ini kita buat istimewa, karena objek yang kita foto juga istimewa, dan punya cerita luar biasa. 🙂

Ceritanya malam itu kita lagi ada di sekitar Dam Jagir atau lebih Indonesianya dikenal dengan pintu air Jagir. Pintu air ini mengontrol kegiatan sungai Jagir yang dekat dengan daerah Wonokromo, Surabaya. Selain wujudnya sebagai pintu air, yang bikin Dam ini terkenal adalah sosoknya yang merupakan bangunan peninggalan Belanda.

img_1159

 

Rada serem juga ngambil gambar pintu air ini di malem hari. Lokasinya itu gelap-gelap sepi gimana gitu. Awalnya kita ngambil gambar deket rel kereta api. Disitu berjejer warung-warung kopi plus sederetan becak-becak. Sambil komat-kamit baca doa biar nggak kesamber kereta api pas moto, berharap juga sepeda motor kita nggak diembat orang. Abisnya kita diliatin kayak turis masuk kampung. Hehehe.

Karena nggak puas sama lokasi pengambilan gambar, kita milih mendekati dam itu. Nah ini malah lebih serem lagi. Kita berasa aneh diliatin beberapa pasang mata. Apalagi pas ngambil gambar dari dalam pagar gardu pintu air yang kita buka diem-diem. Hehehe…. Takut diusir!

img_1140
Ternyata Dam Jagir adalah bangunan cagar budaya :0

 

Nah, terlepas dari proses ambil gambar yang nggak sebanding sama hasilnya, ada cerita nih soal Dam Jagir. Bangunan ini, selain jadi cagar budaya ternyata menjadi titik paoekan pasukan Tar-tar yang akan menyerbu Kediri di tahun 1293. Barulah di tahun 1923, pemerintah Belanda membangun Dam ini sebagai pengendali banjir. Kali Jagir yang alirannya diatur Dam Jagir ini juga buatan loh. Jangan salah…. Nggak tau ya? Wah, beneran nih, pada doyan tidur pas pelajaran Sejarah. Ckckckck.

Biar pelajaran Sejarah udah lewat berapa taun lalu dan aku (karena sekolah di Bandung) nggak pernah denger sejarah Dam Jagir secara khusus, tapi aku pernah dapat kuliah tentang sungai ini di mata kuliah Ekologi Perairan. Gini nih cerita yang aku ingat tentang Surabaya yang nggak cuman dikenal sebagai The City of Heroes….

Surabaya di jaman Belanda dulu besarnya cuman sekitar Tunjungan, Jembatan Merah, Simpang (Balai Pemuda) dan paling jauh si Wonokromo ini. Rungkut (rumahku) jaman itu belom nongol di peta. Hahaha. Masih jadi empang kali dia. Bentuk kota Surabaya ini, kata dosenku, cekung kayak mangkok. Jadi kalau banjir, air sungai meluap dan masuk ke pusat kota. That’s why, dibangunlah pintu air (kanal) yang dalam bahasa Belanda disebut Kanaal.

Lokasi ini sengaja di taruh di titik terluar kota Surabaya waktu itu, yaitu Wonokromo (dulu Wanakrama) dan masuk ke dalam proyek Djagir Kanaal. Kata dosenku lagi, pintu air itu bakal nyalur ketiga lokasi bozem yang ada di Monokrembangan, Wonorejo, dan satunya aku lupa. Hehehe. Intinya buat mengatasi banjir di pusat kota karena Brantas meluap lewat anak sungainya.

Bukan cuman bozem yang dibangun sebagai penampung air limpahan saat banjir. Tapi juga beberapa pintu air seperti yang juga ada di Dinoyo. Jadi kalo air bah datang, pemerintah Belanda bakal mengatur buka tutupnya kedua Dam tersebut (Jagir dan Dinoyo).

img_1143

 

Dibangunnya kanal itu tentu membantu memperlancar kondisi Surabaya sebagai kota dagangnya Hindia Belanda. Bayangin kalo banjir terus. Bangkrut deh Belanda. Nah, karena sistemnya yang rapi itulah Surabaya sempat bernama Amsterdam From The East. Sangar ya? Paris van Java ada, Africa van Java ada, Little Thailand ada, Island of Gods juga, sekarang Amsterdam From The East. Apa yang nggak ada di Indonesia… hehehe.

FYI, buat temen-temen yang pengen tau bedanya kali buatan sama kali alami (sungai), bisa diliat di peta. Kalo dia berprofil lurus, biasanya itu kali buatan. Sementara yang berkelok itu ciptaan Tuhan. Kali Jagir ini termasuk buatan, kalo keliatan berkelok itu karena ada endapan aja. Kurang lebih gitu sih kata dosen. #yeaaaa #tepuktangaaan!

Ending Kali Jagir ini (sekarang) bisa kita liat di Pamurbaya (Pantai Timur Surabaya). Berkat adanya Dam Jagir, air banjir kirimannya nggak sempet masuk deh, ke kota. Dan suplai air ke sungai dalam kota (Kalimas) tetap teratur dengan baik.

Oya, dalam pembuatannya ini ribuan pribumi dikerahkan untuk menggali tanah sepanjang 5,6 kilometer dengan lebar 80 meter. Sayang kan, kali yang dibuat susah payah itu nggak kamu jaga kebersihannya sebagai para pewaris peradaban. Makanya, buang sampah kok ke badan air. Kalo banjir sapa yang disalahin. Kamu juga, kan? Katanya sekolah…. yang sekolah ya buang sampah di tempatnya.

Gitu deh, kira-kira cerita soal Dam Jagir. Baru tau? Kemana aja pas sekolah? :p

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *