Jelajah Malam Di Kota Pahlawan

Once upon a time, the Doubletrackers went sightseeing around the town

Hahaha, apaan sih, berasa dongeng aja. Jadi begini,  dalam postingan kali ini kita nggak bakalan cerita soal dongeng. Kita bakal sharing soal sudut lain kota Surabaya yang menarik dilihat sambil mikir. Lah, ngapain sambil mikir? Ya… mikir aja. Ada yang beneran menarik, ada juga yang… yah, sebut apalah terserah. Pokoknya pasti mikir. Apa aja yang mau kita share? Ini dia...

 

Red Light District 

Memang bukan di Belanda, tapi Surabaya juga punya tempat serupa yang konon pernah jadi terbesar se-Asia Tenggara. Sebagai warga kota, nggak bangga juga sih, sama predikat itu. Yang jelas tempat ini jadi lucu aja buat di-kepo-in.

Kayak Doubletrackers waktu itu. Kita sempat kesasar dan tembus sampai daerah ini. Ceritanya memang habis nyari-nyari makan di sebuah warung angkringan yang nggak jauh dari sana. Kadung udah lewat, boleh lah ya sambil intip-intip dikit.

Jadi kawasan tersebut memang ramai a la pemukiman pinggiran kota yang lengkap dengan gang-gang sempitnya. Di sepanjang jalan utama kawasan tersebut berjajar beberapa wisma. Apa yang bikin beda? Nah, disetiap wisma itu dilengkapi kaca transparan semi-doff (meskipun ada juga yang tertutup) mengingatkan kita sama akuarium. Nggak ketinggalan lagi, disekeliling kacanya diterangi lampu ala-ala 17-an. Itu loh, lampu yang kelip-kelip. Biar suasana lebih semarak, dari dalam wisma-wisma itu juga diputar musik house remix yang angkot banget.

Dari atas motor yang kita tumpangin, kita bisa lirik-lirik aktivitas para ‘bos’ dan ‘calo’ beraksi saling rayu buat menggaet pelanggan. Sementara di dalam sana keliatan cewek-cewek berbusana seronok yang lagi menunggu order. Cewek itu ada yang beneran seksi, ada juga yang “seksinya- beneran- nggak- ya”, hehehe….

Selain wisma ‘berakuarium’, ada juga tempat-tempat bertema ‘tempat pijat’. Hehehe. Nggak tau deh apa yang dipijat :p Ya, kurang lebih gitulah pemandangan dari Red Light District-nya Surabaya yang sempet kami intip.

Namanya apa? Aah, jangan pura-pura ngga tau deh. Cukup aja ya bahasnya segitu aja, kalo penasaran lebih jauh, ya… coba liat sendiri deh, daripada bikin pengen :p

 

Gedung BI- Monumen Bahari

Melaporkan dari kawasan Wonokromo. Kebetulan kita lewat eks-gedung Museum Mpu Tantular. Yang kita tau nih, sekarang difungsikan jadi perpustakaan Bank Indonesia (BI) dan dibuka untuk umum. Peresmiannya juga baru aja, kok. Sekitar pertengahan Juli 2012 kemaren.

Dulunya, gedung ini bernama Wooning voor Agent van Javasche Bank. Fungsinya adalah sebagai rumah dinas pejabat De Javasche Bank di jaman Belanda dulu. Baru di tahun 1953, bank itu berubah nama jadi BI seperti yang kita kenal sekarang. Yang bikin keren lagi, bukan cuman jumlah koleksi bukunya, tapi status gedung ini sebagai bangunan cagar budaya di Surabaya.

Persis di depan gedung yang disebut juga Gedung Mayangkara itu, berdiri monumen bernama Monumen Bahari. Monumen ini dibangun tahun 1968 sebagai penguat identitas Kota Surabaya sebagai kota bahari dan basis angkatan laut yang kuat. Tuh, liat aja bentuk patung monumennya, gagah abis! 😉

img_1101
Gedung BI di malam hari

 

img_1117
Monumen Bahari, simbol Kota Surabaya sebagai kota bahari

 

Monumen Wira Buana

Ada yang pernah denger nama monumen ini? Apa? Belom pernah? Waduh, makanya keliling dong, bro…. Meskipun rada nyempil, monumen ini tetep punya nama, yaitu Wira Buana. Lokasinya ada di deket jembatan Wonokromo, sebelahnya Kali Jagir. Monumen ini dibuat sebagai simbol semangat arek-arek Wonokromo jaman penjajahan. FYI, daerah Wonokromo di jaman Belanda sudah termasuk garis terluar kota Surabaya, loh! Nggak tau, ya? Makanya kalo pelajaran Sejarah jangan bobok :p

Monumen Wira Buana. Simbol heroik arek- arek Wonokromo
Monumen Wira Buana. Simbol heroik arek- arek Wonokromo

 

Dam Jagir

Karena udah pernah cerita soal Dam kuno peninggalan kumpeni ini, kalian bisa baca ceritanya di postingan ini. 🙂

img_1130

 

Monumen Mayangkara

Kalau penasaran, lokasi monumen ini ada diseputaran Wonokromo. Posisinya dekat dengan flyover Wonokromo dengan wujud monumen orang berkuda. Sudah ingat? Nah, itu yang disebut dengan Monumen Mayangkara.

Nama monumen ini diambil dari nama kuda Letkol. R. Djarot Soebiyantoro. Beliau ini ternyata mantan Komandan Kompi Djarot Batalyon 503 Mayangkara. Yang bikin beliau dan batalionnya memorable dan diabadikan jadi monumen adalah kehebatan mereka dalam melawan Belanda.

Kabarnya, batalion ini berhasil menerobos pertahanan Belanda yang mengepung Surabaya di tahun 1949. Nah, demi mengenang jasa beliau dan pasukannya,  keluarga besar Batalyon Infanteri 503/Mayangkara Kodam VIII Brawijaya pun membangun monumen ini.

img_1170
Mayangkara, kuda dari Letkol Djarot Soebiyantoro

 

Taman Pelangi Surabaya

Maunya sih, kita bahas soal RTH-RTH (Ruang Terbuka Hijau) di Surabaya secara khusus, tapi udah deh, sikat aja di postingan ini. Hehehe. Tau dong, Taman Pelangi? Taman yang letaknya di sekitar Bundaran Dolog perbatasan Surabaya-Sidoarjo ini memang cantik banget.

Bukan cuman seger karena air mancurnya di siang hari, tapi juga karena lampu-lampunya yang warna-warni kayak pelangi di malam hari. Selain ada tamannya, tersedia juga tempat parkir yang lumayan cukup aman buat kendaraan roda dua.

Kita sendiri sangat menikmati pemandangan Taman Pelangi saban ngelewatin jalan ini. Sayang aja, tiap malem suka banyak ababil dan orang pacaran nggak liat tempat yang menurut kita bikin ganggu pemandangan. Sayang banget, deh….

Eniwe, kita punya pertanyaan, nih. Berapa jumlah bilah air mancur di Taman Pelangi? Yang tau, ngacung! 😉

img_1188

 

Monumen Bambu Runcing

Yang pada les Bahasa Jerman di Goethe pasti sampe jelek ngeliatin monumen satu ini. Yak, terletak di jalan Panglima Sudiraman, buat motret Bambu Runcing raksasa ini rada ribet kalo di jam sibuk. Pilihannya ya merapat di taman seberang gedung Goethe Institute.

Monumen ini sengaja didirikan sebagai simbol semangat arek-arek Suroboyo yang identik dengan bambu runcing dalam melawan penjajah. Monumen ini pun jadi sesuatu yang ikonik banget di Surabaya setelah Tugu Pahlawan.

Pertanyaan lagi nih, ada berapa jumlah bilah bambu runcing di monumen ini? Acung!

img_1245

 

Gimana udah cukup mikir belom sama cerita kita? Cukup dulu ya, nanti lagi di #selfcitytour selanjutnya. 😉

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *