Bedol Desa Se- Jawa Timur

Biar udah 4 tahun tinggal di Surabaya dan berstatus warga kota Surabaya sesuai KTP, tetep aja aku gagap Surabaya. Bukan cuman jalan, bahkan untuk event-event yang digelar, aku masih kayak orang yang baru tinggal disini kemaren sore. Kayak kejadian satu ini.

Masih seputar event ulang tahun Jawa Timur yang ke-67, hari Minggu (14/10/12) kemarin digelar karnaval di pusat kota Surabaya. Karnaval kemaren diramaikan sama pawai budaya dari masing-masing Kota/ Kabupaten yang ada di Jawa Timur. Denger-denger sih sejumlah 36 kontingen bakal turun ke jalan. Sesuai sama jumlah Kota/Kabupaten yang ada di Jawa Timur.

Ramainya penonton di sekitar kawasan Tunjungan
Ramainya penonton di sekitar kawasan Tunjungan

 

Nggak main-main, peserta pawai jalan kaki dari Jalan Pahlawan- Gemblongan- Tunjungan- Gubernur Suryo. Jalan kaki, men! Gila babe kalo buat jalan kaki dengan cuaca se-’hangat’ Surabaya dan jarak segitu. Apalagi pawainya bakal dimulai jam 2 siang.

Aku tau event ini karena dua hari sebelumnya sempet dikabarin Dimas. Karena dia nggak bisa nemenin dan aku kepengin tau, aku hajar aja deh kesana siang bolong, panas kentang-kentang (Bahasa Suroboyoan buat panas buanget) pas hari H. Sebelum berangkat, pakde di rumah sempet bilang barusan denger laporan di radio katanya jalanan udah mulai macet. Aih, kebayang udah jalanan penuh sesak sama lautan manusia. Tapi demi first experienced, nekat aja berangkat. Kalo nggak bisa dapet space dan jalan ditutup yaudah pulang aja, pikirku waktu itu.

Selama perjalanan ke TKP aku mikir. Enaknya berenti dimana, ya? Nah, karena ngerasa akses paling enak ada di Jalan Tunjungan, aku pun milih berhenti disana.

Tepat jam dua kurang seperempat aku sampai di Jalan Tunjungan. Kenapa aku pilih jalan ini? sebenernya sih karena bisa nebeng parkir di Tunjungan City (ex-Siola). Selain lebih aman,  kalo panas, aku bisa gampang beli minum plus ngadem di dalem gedungnya Tunjungan City. Huahahaha. Nggak mau rugi dong.

Kelar parkir, aku nunggu di emperan Tunjungan City bareng ribuan orang yang juga pengen liat pawai. Ternyata ya, 15 menit nunggu jam dua itu berasa nunggu lebaran lagi. Luama banget apalagi yang namanya matahari waktu itu lagi jual murah sinarnya. Aku berasa lagi di fisioterapi.

Sambil nunggu, aku ngamatin sekeliling. Lucu juga ya terjun di sekitar gitu. Bisa liat orang jualan-jualan mainan, minuman-minuman, segala cemilan dari kacang sampai jagung rebus. Weteeett…siang panas gitu jualan jagung rebus. Hm… lucu aja.

Pemandangan menarik pertama waktu aku ketemu 4 orang Papua yang ikutan nonton. Kenapa aku tau itu orang Papua? Selain dari fisiknya, mereka pakai baju yang menunjukkan kalau mereka itu Papua banget. Nah, bukan si Papua ini yang menarik aku. Tapi respon anak kecil-kecil dari kampung sekitar yang heboh banget liat mereka entah kenapa.

Weh, ono Eto’o, ono Eto’o... (Wah, ada Eto’o, ada Eto’o- red.)”, kata bocah-bocah itu histeris. FYI, Eto’o ini pemaen bola asal Kamerun yang tinggi besar berkulit gelap.

Eh, kirain ocehan bocah itu selesai sampai disitu, ternyata temen satunya lagi nyahut. “Gak iku Bonai! (Bukan, itu Bonai)” kemudian rame-rame lah mereka manggil geng Papua itu dengan “ Bonai! Bonai! Titus Bonai!” FYI lagi, Bonai ini pemain bolanya Indonesia dari Papua.

Bahkan ada loh bocah yang ngerengek sama ibunya minta foto sama ‘Bonai’ aspal itu. Sumpah aku kebelet ngakak. Nggak tau deh ‘Bonai’ aspalnya pada nyadar apa nggak.

Selain pemandangan geng bocah vs geng Bonai aspal, ada hal lain yang juga menarik. Aku dapet jajan gratis. Hahaha. Jadi, di Tunjungan City itu ada konter donat baru buka. Mereka lagi bagi-bagi tester yang ukurannya lumayan buatku kalo cuman sekedar tester. I was feeling lucky! 😀

Ini baru cerita 15 menit pertama sudah lucu-lucu aja yang terjadi. Belom tiga jam kemudian nih…

Tepat jam 2, bocah-bocah yang tadi ribut sama Bonai palsu langsung rame liat ada arak-arakan nongol di kejauhan. Yay! Mereka muncul!

Aku yang uda nyiapin lensa tele langsung bangkit dari duduk, nggak mau ketinggalan momen. Pawai di buka dengan pawai kontingennya polisi. Selain minta supaya penonton nggak turun ketengah jalan, mereka juga semacam konvoi. Mulai dari ngeluarin mobil sedannya itu sampai sepedanya. Bahkan polwan-polwan yang turun ke jalan cantik dan muda-muda, loh.

Selang beberapa menit, dateng tuh kontingen pertama dari Kabupaten Mojokerto. Nggak tau sih aku sejarah kota satu ini apa, tapi mereka turun menggandeng ikon ayam warna putih raksasa. Apa ada hubungannya sama Cindelaras aku juga belom ngecek. Hehehe.

Ayam Cindelaras, Bukan Cinderella ya. Beda.
Ayam Cindelaras, Bukan Cinderella ya. Beda.

 

Di posisi kedua ada Malang yang nggak mau kalah bawa ikon berupa pasangan Ken Arok dan Ken Dedes. Mereka berdua duduk diatas mobil hias yang dihias macam relief candi. Tuban lebih nggak mau kalah lagi. Bahkan waktu liat kontingen ini aku sampai nggak habis pikir berapa orang ‘Laskar Ronggolawe’ yang diajak bedol desa buat ikutan pawai. Aku jadi berkesimpulan kalau  selama pawai cuman kontingen Tuban-lah yang jumlah orangnya paling banyak.

Ajudan Ken Dedes dan Ken Arok ehehe
Ajudan Ken Dedes dan Ken Arok ehehe

 

Laskar Ronggolawe impor dari Tiongkok ehehe
Laskar Ronggolawe impor dari Tiongkok ehehe

 

Kontingen Kabupaten Kediri juga menarik. Mereka bawa ikon serupa Pak Sakera (yang dari Madura itu) dengan cambuk tali tambang yang puanjang dan berukuran besar. Si Sakera dari Kediri ini show up banget sama cambuknya. Bunyinya waktu di sambit di udara itu ‘cetar’ banget. Hahahaha, kayak Syahrini aja.

kabupatenkediri
Kabupaten Kediri dan kuda lumpingnya

 

Kalo tadi Kabupatennya, Kota Kediri lain lagi. Mereka ini kontingen paling wangi sepanjang pawai. Gimana nggak kalo semua pesertanya dihiasi rangkaian melati kayak pengantin. Dari jauh aja, aku bisa cium bau melati asli yang mereka pakai. Seger banget.

kotakediri
Kota Kediri dan penari- penarinya yang gemulai

 

Sementara Jombang, Lamongan, dan Sidoarjo mengusung tema yang sama berbau-bau sawah. Peserta mereka pada berkostum ala pak tani- bu tani dan menjadikan padi sebagai ikon mereka. Jangan tanya kenapa, aku juga nggak tau.

Kontingen Jombang dengan gaya caping andalannya
Kontingen Jombang dengan gaya caping andalannya

 

Kontingen Sidoarjo dengan kostum bercaping
Kontingen Sidoarjo juga nggak ketinggalan dengan kostum bercaping

 

Gaya 'nyawah' yang berbeda dari Lamongan
Gaya ‘nyawah’ yang berbeda dari Lamongan

 

Selang beberapa saat, pawai polisi nongol lagi diikuti kontingen Kota Mojokerto. Nah, ini nih muncul Gus- Yuk (semacam Cak- Ning atau Ab-Non-nya Mojokerto) plus rombongan Ustad Maulana palsu. Mereka pake gamis putih-putih plus khefiyeh gitu dan menyapa penonton dengan “Jemaaaa…aaahhh…”, oh, please

Yang cantik- cantik dari Kabupaten Mojokerto
Yang cantik- cantik dari Kabupaten Mojokerto

 

Dibelakang mereka, ada rombongan Tulungagung dengan aksi cambuk badan. Iya, rombongan ini show up macam pertunjukan kuda lumping gitu. Saling cambuk badan pakai cambuk rotan. Kayaknya sih, mereka dibuat kerasukan. Toh badan sampai luka-luka gitu mereka stay cool aja. Tolong di note juga kalau lukanya itu berdarah.  Oya, waktu nonton rombongan ini, aku bingung. Soalnya kostum mereka lebih cocok dipakai sama kontingen dari Madura.

tulungagung
Rombongan Tulungagung? Apa Madura?

 

Dalam pawai ini, selain ‘ayam’ dari Mojokerto, ada hewan lain yang ikut nampang. Misalnya ‘kera’ dari Magetan, ‘banteng’ dari Batu, ‘merak’ dari Situbondo dan Pasuruan, plus ‘kerbau’ dari Bojonegoro. Mereka hadir sebagai cosplay atau ikon yang dipajang di mobil hias. Tapi bukan berarti nggak ada yang asli. Lumajang contohnya. Mereka tampil bawa kuda asli buat ditunggangi.

Kerbau- kerbau Bojonegoro
Kerbau- kerbau Bojonegoro

 

Kera dari Magetan
Kera dari Magetan

 

(Singa?) dari Bondowoso
(Singa?) dari Bondowoso

 

Kontingen paling meriah secara kostum menurutku dari Nganjuk. Liat mereka bikin aku berasa lagi nonton Jember Fashion Carnival. Ramai, rempong, tapi sayangnya nggak ikonik. Waktu rombongan ini lewat, banyak banget yang nyegat minta foto bareng. Sumpah ganggu banget!

nganjuk-2
Nganjuk yang cantik tapi nggak ikonik

 

Ternyata, bukan cuman Kota Mojokerto yang tampil bernuansa islami dengan Ustad Maulana aspalnya. Tapi juga Gresik. Penarinya aja jilbaban semua dengan kostum ijo-ijo. Nggak ketinggalan mobil hias yang diisi serombongan pemusik yang memainkan lagu-lagu Arabian gitu. Lucu abis. Berasa kayak lagi ada hajatan.

Penari- penari berhijab dari Gresik
Penari- penari berhijab dari Gresik

 

Dari semua kontingen, aku pribadi paling suka kontingen Sumenep. Mereka hadir nggak neko-neko. Pake batik Madura dan mobil hias yang keren nuansa emas dan marun. Nggak cuman itu, tetabuhan yang mereka mainkan bernuansa rancak dan semangat dengan lagu daerah mereka.

Sumenep yang rancak dan humble
Sumenep yang rancak dan humble

 

Pawai ditutup sama rombongan pecinta sepeda tua. Mereka datang pakai seragam pahlawan jaman perang. Banyak peserta terakhir ini yang udah tua-tuaaa banget. Jadi terharu sama semangatnya.

Yah, jadi kurang lebih gitu ceritaku dari pawai budaya kemaren. Mungkin ini jadi postinganku yang paling panjang dan melelahkan. Baik di lapangan sampe proses cerita dan milih fotonya yang sangat banyak.

Merdeka, Mbahhhh!!!
Merdeka, Mbahhhh!!!

 

Selama ngambilin gambar ini, aku ikutan turun ke tengah jalan bareng wartawan dan pecinta fotografi. Sumpah, lagakku kayak pro! Hahaha. Ikutan jongkok, ndelosor, lari-larian kayak mereka. Awalnya, cuman kami yang bisa ke tengah jalan. Lama-lama, fotografer-fotografer dadakan ikutan gatel hunting foto. Bukan apa-apa, mereka ini ganggu banget. Tangannya yang pada ngacungin hape deket banget sama objek foto. Bikin banyak foto huntingan yang bocor kena kepala dan tangan mereka. Apalagi aku motret pake lensa tele 75-300mm =,=

Kelamaan lagi, mereka ikutan ngumpul di tengah jalan. Kalo satu-dua, sih, nggak papa. Ini mah semua. Bikin yang ikutan pawai sampai nggak bisa jalan. Kasian banget. apalagi yang pada pengen foto sama cosplayer-nya. Rela nyegat di tengah jalan lo. Argh, pengen negur rasanya.

Selain itu, cuaca Surabaya yang sauna banget bikin keleyengan waktu di lapangan. Namanya keringet, beh… sampai masuk-masuk ke mata. Air minum yang kubawa sampai jadi air panas di dalam botol. Berapa kali beli minum tetep aja nggak kebelet pipis saking semua keluar jadi keringet. Pakai jaket nggak pakai jaket juga serba salah. Dipakai ungkep, nggak dipakai kepanasan.

Cak- Ning Surabaya
Cak- Ning Surabaya

 

Tapi, biar gitu juga aku seneng. Puas? Pasti! Kan aku jadi bisa berbagi cerita sama yang belom pernah dan yang nggak bisa nonton J moga-moga kalau diadain lagi bias jalan lebih tertib dan tentu lebih meriah!

Nb: kelar acara aku liat pasukan kuning yang sigap bersihin jalan. Mereka hadir tepat di belakang kontingen terakhir. Pak polisi bahkan sampai nutup jalan supaya mereka bias bersih-bersih. Yang harusnya pulang tinggal jalan lurus aku harus muter sampai kearah Pasar Atom- Kenjeran- Kampus C Unair, which is twice far than it must!

 

Potre Bangkalan
Potre Bangkalan

 

Barongnya Banyuwangi yang mirip banget sama punyanya Bali
Barongnya Banyuwangi yang mirip banget sama punyanya Bali

 

Biru- biru dari Lumajang
Biru- biru dari Lumajang

 

Reog Ponorogo yang ruame dan suangar
Reog Ponorogo yang ruame dan suangar

 

Gadis- gadis Sampang
Gadis- gadis Sampang

 

Mbak Mas dari Situbondo yang serasi
Mbak Mas dari Situbondo yang serasi

 

Trenggalek dan kuda lumpingnya
Trenggalek dan kuda lumpingnya

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *