Bingung Gara-gara Elsa Buntung

Elsa’s Identity

Elsa itu nama motorku. Eh ralat, motor peninggalan bokap. Nama lengkapnya El Salvador. Nggak ada alasan khusus sih kenapa dinamain El Salvador. Kedengaran sangar dan laki aja, kayak yang punya (dalam hal ini bokap maksudnya). Selain itu, kedua motorku yang lain juga bernama dengan awalan El. El Diablo (punyaku) dan Elisabeth (punya adekku). Hahahaha.

Tapi karena Dimas, nama El Salvador yang gagah kudu rela turun pangkat kayak nama banci jadi Elsa.

Elsa ini sering kali kusiksa. Jarang di bawa ke servisan dan sering juga nggak kupanasin sebelum dipakai. Biar gitu, dia masih baik hati mau lari kenceng. Kadang aku sangat merasa bersalah sudah menjadi tuan yang kejam. Padahal waktu masih di bawah asuhan ayahku, Elsa sangat mulus dan terawat. Giliran pindah ke tangan ku. Hmmm…. no comment ah.

Sebenernya Elsa kali ini sudah mencapai tahap mengenaskan secara kondisi. Aku udah cukup dibuat kelimpungan gara-gara itu. Apalagi waktu Elsa jadi buntung.

Bukan, dia bukan habis kecelakaan. Elsa habis kehilangan identitasnya! Hmm, memang sih dia selamanya bakal tetep jadi motor dan menyandang status single. Tapi masalahnya Elsa bakal nggak bisa nemenin tuannya kelayapan kalo STNK yang jadi identitas dia ilang!

Aku ini pelupa. Semacam menderita short term memory syndrome. Jadi apa aja yang baru atau seharusnya kulakukan bisa hilang dari ingatan sedetik kemudian. Termasuk naroh STNK-nya Elsa. Kejadiannya waktu aku pulang kumpul Anak-anak Bontang di Galaxy Mall. Seingetku sih ada di kantong jaket. Aku malah santai aja sampe 2 hari baru ngeh kalo STNK-nya nggak ada. Jaket, jeans, tas, cardigan, semua yang aku pakai, yang nggantung di pintu, sampe yang berserakan di meja, aku pilihin satu-satu.

Hasilnya nihil…

Aku harus segera lapor polisi. Nggak pengen buru-buru, aku nambah sehari buat bikin laporan ke polisi. Niatnya nyari dulu sampe jelek baru bikin laporan.

Hasilnya pun tetep. Nggak berhasil…

Setelah sesi diskusi panjang sama Dimas, dikasihlah aku saran cara ngurus STNK yang dia dapet dari forum. Nggak pakai basa-basi, aku berangkat juga hari itu buat ngurus. Well, ini dia jalan panjang yang kutempuh buat ngebalikin identitas si Elsa kembali.

Siapin kelengkapan: Sebelum berangkat, aku siapin semua kelengkapan. KTP dan BPKB aku fotokopi sebanyak mungkin. Kali aja perlu. Beruntung, aku pernah scan STNK-ku dulu buat ngurus parkir langganan di kantor. Itu juga aku copy sebanyak mungkin. Kali aja perlu. Plus stofmap warna-warni itu kubawa. Ngerasa uda lengkap, aku lanjut ke tahap selanjutnya.

Ngurus ke POLSEK: Datenglah aku ke polsek terdekat dari rumah. Tinggal bilang sama Pak Polisi yang jaga di meja depan. Terus aku bikin laporan kehilangan dan diajak tanya jawab gitu sebagai saksi dan korban kehilangan sama pak polisi. Cepet aja sih, kecuali ngantri. Nggak sampai sejam juga udah kelar. Berkas yang udah jadi berupa surat kehilangan dan berita acara simpen baik-baik buat dilanjutin ngurus. Nah karena waktu itu udah siang b anget, aku lanjutin ngurusnya besok. Selama proses ini, gratis tis tis! Oya, jangan lupa bawa juga BPKB yang asli buat bukti.

Bikin Iklan: Oya, kelar dari polsek, kita diharuskan bikin iklan kehilangan. Bikin iklan ini sepele tapi wajib. Dateng aja ke jasa bikin iklan yang ada di sekitar rumah. Harganya ya udah ditentukan sih. Waktu itu aku ada opsi yang terbit sekali atau yang tiga kali. Harganya juga nggak beda jauh. Aku pun milih yang terbit 3 kali (berarti selama tiga hari iklanku bakal terbit) dengan harga 95 ribu. Simpan tuh bukti bikin iklan dan potongan iklannya waktu terbit besok buat ngurus di SAMSAT.

Gesek nomer rangka di SAMSAT: Di hari selanjutnya, kulanjutin lagi ngurus si Elsa. Dengan berkas-berkas yang udah lengkap plus potongan iklan dan kuitansi pembuatan iklan, aku menuju SAMSAT. Disana kita langsung ke tempat gesek rangka. Sembari di gesek nomer rangkanya, kita ngisi data di formulir yang disediakan.

Ati-ati nih, aku kemarin ketemu calo yang biasanya ngurusin bikin-bikin STNK. Awalnya, aku kirain dia yang bagian gesek rangka itu. Tiba-tiba aja formulirku diminta, diisikan sama dia terus dikasihkan ke petugas. Kelar-kelar dia malak GOCENG! Untung goceng! Sialan, aku ditipu bapak-bapak calo formulir =,=

Cek ke LOKET BERMASALAH: Habis gesek rangka, kita menuju ke loket bermasalah buat di cek data-data di STNK kita. Udah bayar pajak atau belum dan sebagainya. Terus kita diminta ke bagian (aku lupa namanya) buat minta surat lagi kemudian melanjutkan minta surat rekomendasi di POLDA.

Bikin surat rekomendasi ke POLDA: Karena udah terlalu siang, aku ke POLDA ini keesokan harinya. Disini pelayanannya juga cepet. Aku cuman bayar dua puluhan ribu kalau nggak salah sebagai biaya administrasi. Kelar dari sini dan dapet surat, aku balik lagi ke SAMSAT.

Balik ke SAMSAT: Di SAMSAT masuk lagi ke lolket bermasalah dengan segala berkasnya. Disini kita nunggu duplikat STNK kita di cetak. Agak lama sih, sekitar sejam gitu baru kelar. Dan aku ngelakuin ini hari Sabtu loh. Keren deh, SAMSAT Sabtu gitu buka. Hehehe. Sejam kemudian, kuterimalah STNK Duplikat si ELSA. Huahahaha. Aku terharu. Perjuangan bikin nyaris seminggu kelar juga.

Sejak Elsa punya duplikat, aku jadi lebih hati-hati dan berusaha nggak careless. Satu hal yang aku salut selama ngurusin identitas si Elsa ini adalah pelayanan yang cepat dan jelas. Aku ngurus sendiri loh, nggak pakai calo kecuali pas gesek rangka itu karena aku nggak tau. Hehehe.

Oya, ada kejadian yang bikin aku kesel banget. Ceritanya, sejak kehilangan STNK-ku itu di iklankan, ada aja yang coba hubungin aku. Salah satunya ngaku nemuin itu dengan cerita yang lengkap dan melas. Dia sempet nawarin mau diantarkan apa diambil sendiri. Bahkan dia pun memberi alamat rumah!

Aku yang ragu-ragu, tanya ke Dimas. Disitu dia sudah mulai curiga. Kalau memang nemuin, langsung aja anterin ke rumah. Kecurigaan Dimas bertambah waktu si orang yang ngaku-ngaku ini minta pulsa. NGgak banyak sih, 20 ribu. Tapi aneh aja. Alasannya buat nelpon orang rumahnya supaya STNK-nya nggak dimainkan anak-anaknya. Kata Dimas, mestinya kalau tau itu surat berharga ya di simpan baik-baik.

Bar aku lega, malam itu juga, seperti jam yang dijanjikan sama si oknum ini, Dimas nganterin aku buat nemuin orang itu. And guess what? Kita sampai di alamat yang di tuju dan bikin kita ragu. Sebut aja kita menuju sebuah kawasan bernama Jalan Apel.

Nah, Jalan Apel ini sendiri, menurut pengetahuan Dimas, adalah perumahan menengah. Tapi, orang ini ngaku kalau dia sopir yang tinggal disitu. Akhirnya kita berasumsi kalau pelaku adalah sopir dari orang yang punya rumah di kawasan itu. Jalan Apel itu juga terdiri dari beberapa gang. Sebutlah gang I-IX dan orang itu ada di Jalan Apel gang V.

Kita muterin semua Jalan Apel bahkan tanya sama warga sekitar. Bukan kita nggak nemu Jalan Apel gang V. Kita ketemu cuma ragu karena lokasinya ternyata sangat sepi dan berupa kawasan pergudangan gitu, bukan rumah-rumah. Keterangan warga sekitar pun tetap merujuk ke Jalan Apel yang tadi kita temuin.

Firasat Dimas benar. Orang itu niat menipu. Apalagi selama kita nyari alamat itu dan kita coba hubungi orang itu, nggak ada respon sama sekali. Pasti dia lagi ketawa puas liat kebodohan kita.

Kita sempat kembali ke Jalan Apel gang V dengan nomer yang dituju. Dimas ngetuk beberapa kali bahkan sempat ketemu suami-istri semacam pemulung gitu yang nggak jauh dari lokasi. Dengan santainya mereka berdua menjawab, “Wah, mas, itu modus. Biasa mas, penipuan. Sering kok. Mesti alamatnya kesitu.”

Dengar pengakuan itu, aku lemes. Orang itu nipunya niat banget. Sialan… kita pun akhirnya pulang dengan tangan hampa. Menyisakan aku yang sedih dan Dimas yang jengkel.

Yah, seenggaknya kan, kita mencoba. Kehilangan kali itu bikin aku, juga Dimas yang nggak sengaja keseret belajar banyak. Mengurangi kecerobohan dan nggak mudah percaya sama orang.

Kira-kira gitu pengalamanku. Gimana kamu? 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *