Main Ke Kota Tua Penuh Cerita

Postingan jalan-jalan kedua di Jakarta nih. Masih disponsori kantor, kali ini aku sama Mbak Celli maen-maen ke Kota Tua Jakarta dan Monas ūüėÄ Cerita masih dimulai dari Cililitan, tempat kita berdua tinggal selama di Jakarta. Gimana serunya?

Di Cililitan sendiri, kita tinggal di Jalan PLK II. Buat menuju Kota Tua, our first destination,¬†kita berdua naik angkot Trans Halim yang ke arah PGC (Pusat Grosir Cililitan) buat naik Transjakarta jurusan Harmoni. Naik angkotnya sih nggak ada 10 menit. Tapi nungguin Transjakartanya lewat ini loh… -________________- lama~ blrrpp… Naik Trans Halim cuman butuh 2 ribu, sementara naik Transjakarta-nya abis 3 ribu.

Menuju Harmoni, yang merupakan shelter Transjakarta terbesar aja sejam sendiri dari Cililitan. Nggak cuman lama nunggunya, tapi lama di jalannya. Gimana nggak, kalo masyarakat umum mengendarai kendaraannya lewat jalur¬†busway.¬†Sama aja deh, macetnya. Hehehe…

Begitu tiba di Harmoni, kita langsung oper Transjakarta jurusan Stasiun Kota. Karena sama-sama modal nekat, aku sama Mbak Celli sama-sama nggak tau kalo bus yang kita naiki ini bakal bisa turun di Monas. Jadi kalo ke Monas dari Kota Tua ya… muter lagi deh. :p

Begitu turun di Stasiun Kota yang haltenya mirip subway di luar negeri, kita tinggal jalan sedikit buat masuk ke komplek Kota Tua. Waktu itu Jakarta lagi terik-teriknya. Tapi kita tetep asik buat jalan! Yiippiii!!

Komplek pertama yang kita kunjungi adalah Museum Bank Mandiri. Gedung museum ini adalah bekas gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorij Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan hingga hari terakhirnya beroperasi sebelum menjadi museum. Segala rupa benda-benda perbankan dipajang disini. Dari mulai sempoa sampai mesin ATM pertama. Dekorasi di dalamnya masih khas bangunan Belanda.

Sempoa jadul
Sekelompok sempoa jadul

Pada kaca di atas pintu masuk museum terdapat logo kota batavia (sebelah kiri), logo NHM (tengah), dan logo Kerajaan Belanda di kanan. Bangunan museum sangat luas dan cukup terawat.

img_3490
Ornamen kaca di gedung Museum Bank Mandiri
img_3487
Kondisi yang akan kalian temui begitu masuk kedalam gedung

Lewat dari sini, kita langsung masuk inti dari Kota Tua Jakarta.

Awalnya kita memutuskan buat keliling dengan sepeda ontel disekitar Museum Fatahillah/ Museum Jakarta. Tapi ternyata dengan 35 ribu/ orang+ guidenya, kita udah bisa keliling ke 5 ikon Kota Tua Jakarta. Diantaranya adalah Toko Merah, Jembatan Kota Intan,  Museum Bahari, Menara Syahbandar, dan Pelabuhan Sunda Kelapa,.

img_3508
Begitu masuk kedalam kawasan Kota Tua
img_3525
Sepeda ontel pilihan buat keliling Kota

1. Toko Merah

Toko Merah adalah salah satu bangunan tertua di Kota Tua Jakarta, dibangun pada 1730. Gedung yang berlokasi di Jalan Kali Besar Barat No 107 ini dulunya adalah rumah seorang Gubernur Jenderal VOC, Willem Baron van Imhoff. Saat dibeli seorang pedagang Tionghoa, gedung tersebut dicat merah yang identik dengan ras Tionghoa. Kini gedung tersebut sudah bisa dinikmati inteior dalamnya setelah sebelunya hanya digembok dan dibiarkan tak terawat.

img_3545
Di depan Toko Merah

2. Jembatan Kota Intan                                                                                                                                                                    Jembatan Kota Intan pernah disebut masyarakat pribumi dengan Jembatan Pasar Ayam (Hoenderpasarbrug). Soalnya, disini dulu dibuat area jual beli ayam. Dan pada tahun 1938 Jembatan Kota Intan ini rusak. Sempat diperbaiki lagi dan berganti nama jadi Jembatan Ratu Juliana ( Ophalsbrug Juliana). Jembatan ini dulunya juga bisa dibuka tutup untuk lalu lalang kapal dagang.

Jembatan Kota Intan yang dulunya bisa buka tutup
Jembatan Kota Intan yang dulunya bisa buka tutup

3. Museum Bahari- Menara Syahbandar

Museum Bahari di jaman Belanda berfungsi sebagai tempat menyimpan, memilih, dan mengepak hasil bumi yang jadi komoditi utama VOC. Dibangun persis di sisi Ciliwung, museum ini dibagi jadi sisi Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat dan Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Kita bisa menikmati replika-replika perahu kebanggan Nusantara kita beserta timeline kejayaan maritim Indonesia.

img_3604

img_3590
Mbak Celli bersama bapak pemandu
img_3597
Bagian dalam Museum Bahari
img_3598
Jendela- jendela khas bangunan Belanda di era abad 18-an

Menara Syahbandar (Uitkijk) sendiri dibangun sekitar tahun 1839 sebagai tempat memantau kapal  yang keluar masuk Batavia. Setelah kemerdekaan, beberapa bangunan didekat menara dirobohkan untuk perluasan jalan. Bangunan di tengah antara menara dan gedung administrasi, diganti dengan prasasti di tugu yang ditandatangani Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tahun 1977 sebagai penanda Kilometer 0 pada masa lalu

img_3573
Salah satu gedung di area Menara Syahbandar
img_3578
Tugu peninggalan Belanda di kawasan Menara Syahbandar
img_3582
Menara Syahbandar yang masih kokoh berdiri

4. Pelabuhan Sunda Kelapa  

Pelabuhan ini merupakan saksi bisu perjalanan terbentuknya kota Jakarta. Dimulai dari pendaratan penjajah pada 22 Juni 1527, hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Jakarta.

Mbak Celli dan deretan kapal di Sunda Kelapa
Mbak Celli dan deretan kapal di Sunda Kelapa

5. Museum Fatahillah/ Museum Sejarah Jakarta 

Awalnya gedung ini dibangun dengan nama Staadhuis oleh gubernur jenderal Belanda, J.P. Coen sebagai balaikota, KUA, pegadaian, hingga gedung pengadilan. Namun seiring waktu, gedung ini berubah fungsi menjadi museum yangs kini kita kenal dengan nama Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta.

img_3523
Bersama salah satu meriam di area Museum Fatahillah
img_3616
Pintu masuk Museum Fatahillah
img_3634
Halaman Museum Fatahillah dari lantai dua
img_3651
Halaman belakang museum dan patung Hermes
img_3656
Istirahat dulu sambil makan es Selendang Mayang dan Kerak Telor

Puas berkeliling Kota Tua, kita cap cus ke Monas. Monumen yang menahun jadi ikon legendaris Jakarta ini mulai dibangun tahun 1961. Digambarkan sebagai api semangat masyarakat Indonesia, Monas punya puncak yang berwujud api dan terbuat dari emas.

img_3665

Berminat masuk kedalam Monas? Cukup 5 ribu saja dan kita bisa menikmati diorama perjuangan Indonesia seperti yang terdapat di Tugu Pahlawan. Kita juga bisa nikmatin puncak Monas loh. Keren banget kan?

img_3671

Yuk, cobain main ke Jakarta nggak pake nge-mall dulu ūüėČ

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *