Mandi- mandi di Taman Sari, Jogja

Seperti yang kuceritakan di postingan tentang Jogja dua tahun lalu, aku baru akan ke Jogja kalau memang ada kepentingan. Seperti beberapa waktu lalu, aku ke Jogja karena sahabatku, si Pristi, menikah.

Nah, sambil curi- curi waktu diantara hari yang sempit itu, aku dan Dimas menyempatkan mengunjungi salah satu objek wisata disana. Yaitu Taman Sari di area Keraton Jogja.

Tempatnya memang agak tersembunyi. Namun tak menghalangi niat untuk tetap dikunjungi.

Gang kecil menuju Taman Sari
Gang kecil menuju Taman Sari

Begitu tiba disana, mata seketika terkesiap disambut pemandangan cantik dengan air yang terlihat menyegarkan. Berpadu dengan arsitektur bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China, Taman Sari buatku cantiknya itu menggemaskan.

Sebenarnya kami kesana nggak berdua. Tapi ada seorang bapak, penduduk sekitar, yang menemani. Namanya siapa, kita lupa, yang pasti keberadaannya lumayan bisa buat menambah cerita. Hehe.

Oya, Taman Sari ini dulunya dibangun Sultan Hamengku Buwono I. Beliau ingin membangun sebuah tempat yang ada di sebuah umbul (mata air) untuk menghormati istri- istri beliau. Permintaannya, umbul itu harus ada di antara garis imajiner di antara Merapi dengan Parangtritis. Kedepannya, fungsi tempat ini juga dimanfaatkan sebagai pemandian keluarga kerajaan.

Dengan perintahnya itu, seorang arsitek berkebangsaan Portugis membangun sebuah bangunan yang penuh dengan wangi- wangian. Tempat itulah yang disebut Taman Sari.

Taman Sari ini memang sangat fotogenik. Selain temboknya yang unik dan terlihat kokoh, air yang nampak biru bikin siapa saja yang disana berasa mau nyebur hehehe. Ditambah lagi, pemandian ini terbagi atas tiga area kolam, yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Taman Sari yang fotogenik
Taman Sari yang fotogenik

 

Gapura Agung. Konon disini tempat sultan dan keluarga kerajaan turun dari kereta kencana.
Gapura Agung. Konon disini tempat sultan dan keluarga kerajaan turun dari kereta kencana.

 

Kenyang mengitari Taman Sari, kami berpindah ke sebuah mesjid bawah tanah. Namanya Sumur Gumuling. Untuk bisa kesana, kita akan melewati sebuah lorong. Lorong ini dulunya dimanfaatkan Kraton untuk berjaga- jaga dari kondisi bahaya.

Tiba di Sumur Gumuling, kami kembali terperangah. Bentuknya melingkar dengan lorong yang temaram. Dibangun dengan model sederhana, bertingkat dua. Karena bentuknya yang unik ini, mesjid yang nggak nampak seperti mesjid ini justru memiliki sisi akustik yang baik.

Nggak perlu lagi speaker buat mengumandangkan adzan. Coba kalian berbicara satu sama lain di dalam lorong ini, pasti menggema meskipun bicaranya tanpa tenaga.

Tempat jemaah mendirikan shaf solat
Tempat jemaah mendirikan shaf solat

 

Lalu, di tengah masjid, kita bisa menemui tempat sepertu panggung dengan 5 anak tangga di sekelilingnya. Di tempat ini pula, karena tidak ada penutup di bagian atas, kita bisa melihat langit. Cahaya matahari bisa masuk dengan sempurna menerangi lorong- lorong di dalam mesjid. Di bawah anak tangga ini pula terdapat genangan air. Dulu, katanya digunakan sebagai tempat berwudu. Dan katanya lagi, 5 anak tangga yang ada disini melambangkan rukun islam yang 5. Filosofi yang keren, yah?

5 anak tangga, perlambang rukun Islam
5 anak tangga, perlambang rukun Islam

 

Mata air di bawah tangga
Mata air di bawah tangga

Terakhir sebelum kembali ke penginapan, kami mengunjungi Gedung Kenongo. Menurut keterangan Bapak yang mengantar kami, gedung ini dulunya dimanfaatkan sebagai tempat raja bersantap. Kalau cuaca cerah di sore hari, kita bisa melihat matahari terbenam dari sini. Sayangnya, kami kesana siang- siang, hahaha.

IMG_8107
Di dalam Gedong Kenongo. Kalau tidak salah, bangunan ini sudah tak sempurna akibat perang dan bencana alam

 

IMG_8111
Wajar rasanya kalau dari sini bisa menengok sunset. Langitnya saja kalau dilihat dari sini terlihat istimewa.

 

Karena hari semakin siang dan panas semakin terik, kami pun pamit pulang. Tak lupa menyelipkan ‘ucapan terimakasih’ kepada Bapak ‘guide’ yang mengantar kami.

Ah, terimakasih Jogja yang cantik. Kami akan kembali. Segera!

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *