Kereta Ekonomi Jakarta-Bandung: Siapa Hendak Turut

Jalan naik kereta selalu punya ceritanya. Kayak perjalann saya kali ini. Gara-gara harus ke Bandung, saya dan suami kehabisan tiket kereta bisnis juga eksekutif yang biasa kami beli kalau ke Bandung. Jadilah kereta ekonomi sebagai pilihan.

Awalnya sempat ragu kalau ingat punya pengalaman nggemesin naik kereta ekonomi terakhir kali. Itu juga sekitar 4-5 tahun lalu jurusan Surabaya- Banyuwangi pakai Sri Tanjung.

Tapi… begitu sampai stasiun Senen, semua skeptis tadi ngilang gatau kemana. Kereta ekonomi sekarang nggak kalah cetar sama kelas bisnis dan eksekutifnya.

Toiletnya bersih dan kering (akhirnya!), stasiunnya tertib dan rapih (senangnya!), dan selain sama-sama bisa pesen onlen, kita juga bisa cetak tiket mandiri kayak di kelas bisnis dan eksekutif (yeaay!!)

20150904_201815
Stasiun Senen: termasuk bangunan cagar budaya di Jakarta

Seneng banget udah nggak banyak lagi calo tiket. Nggak banyak lagi yang nggak berkepentingan seliweran di stasiun. Masuk peron aja cuma boleh buat penumpang yang keretanya lagi “boarding”. Whoa!

 

Kalo ada pihak yang berhak menerima salam sungkem kami, itulah PT. KAI. Maafkan ke-nggak-update-an kami, Pak!

 

Begitu masuk kereta Serayu Malam yang bakal nganter kita ke Bandung, saya juga tambah takjub emejing sama kereta ekonomi jaman ini.

Udah lengkap sama AC meskipun AC Kamar (kayak kereta Bisnis), kursi udah bersarung nggak polosan, udah tertib duduk sesuai nomor kursi, juga ada bapak petugas ngecek tiket. Beda parah sama 4-5 tahun lalu! Dan hal kekinian yang saya sukai dari kereta ekonomi ini adalah… ada charger! #terharu

Ada AC -nya!
Ada AC -nya!

 

Dalam perjalanan ini, kami juga banyak ketemu sama backpacker yang mau naik ke Gunung Prau, Dieng.

 

Mulai dari yang keliatan pro sampe pendaki ala film 5CM semua ada

 

Inget lagi sama jaman masih jadi birdpacker (birdwatcher plus backpacker) 5 tahun lalu sama temen-temen.

Diantara penumpang ke Banyuwangi yang bawa kardus, buntelan kresek, sampai keranjang pasar, carrier kami keliatan menjulang dan menyesakkan. Besarnya ransel yang nggak sopan ukurannya itu juga bikin kami kepaksa berdiri di pinggiran pintu kereta atau duduk dekat kloset. Yay.

Duduk di kereta ekonomi sekarang nyaman. Pengalaman terakhir dulu, masih jelas di mata, kalau di depan saya ada ibu-ibu bawa anaknya. Anaknya asik bener makan sate kerang yang dibeli dari penjaja asongan. Sementara si ibu rempong sama keranjang pasar isi ayamnya. Ayam hidup ya. Bukan ayam potong.

 

kalau si ibu naiknya di jaman sekarang, pasti sudah habis di sate itu ayam sama orang sekereta, hehe..

 

Duduk di kereta sekarang juga makin pewe karena nggak ada lagi penjual asongannya yang suka ngelemparin tisu, kacang, permen jahe, sampai buku gambar ke pangkuan. Yang mana kalo kita ga jadi beli, dia bakal tarik lagi deh itu barang- barang.

Inget banget tiap naik ekonomi waktu itu, penjaja asongan nggak putus-putus nawarin dari cangcimen, mijon, nasi kucing, nasi pecel, bahkan sampai burung.

 

Iya. Burung beneran. Burung piaraan yang hidup. Jenis Bentet Kelabu atau nama pasarnya Cendet (nama ilmiah kecenya Lanius schah).

 

Bisa bayangin ga sih, sapa yang mau beli burung di kereta? Kadang emang keterpaksaan mendekatkan kita sama kreatifitas. Hehehehe…

Sekarang ekonomi juga nggak ada lagi yang minta-minta. Waktu terakhir naik, saya masih bisa ngelompokin peminta-minta dalam 3 kategori, yaitu:
1. Cuman sekedar minta
2. Minta sambil nyeracau. Kalo nggak nyanyi ya baca puisi (serius!)
3. Minta sambil nyapu. Beneran nyapu pakai ijuk/ sapu lidi di sepanjang koridor gerbong. Emejing pol.

Gara-gara cerita diatas itu, pulang dari Banyuwangi saya cerita sama ibu di rumah. Beliaunya malah nyuruh saya banyak-banyak bersyukur. Iya juga sih. Kondisi yang cuma bisa saya rasain kalo melakukan perjalanan yang beda dari kebiasaan.

Nah, di perjalanan kali ini juga saya jadi belajar. Kalo saya yang bawa carrier di kereta ekonomi jaman gini, pastilah nggak jadi aneh. Gimana nggak aneh kalo sekereta hampir semua bawa carrier. Iya sih, sekarang backpacking dan traveling udah jadi a brand new life style. Ah, moga-moga mereka termasuk para responsible traveler 🙂

Sama saya juga belajar, kalau hal baik berawal dari perubahan. Terimakasih buat PT. KAI yang mau berubah buat ngasih pelayanan terbaiknya. Sukak!

nb: sebelum saya post tulisan ini, muncullah mas-mas “pramugara” kereta yang nawarin nasi kotakan, minuman, dan bantal. Whuaaaaa!!! Sukak maksimal sama layanan kereta ekonomi sekarang. Where have you been, Neng? Heheehehe…

 

Ada mas- mas "pramugara"-nya :)
Ada mas- mas “pramugara”-nya 🙂

 

Bonus pemandangan tumpukan gerbong saat perjalanan dari Bandung- Jakarta (1)
Bonus pemandangan tumpukan gerbong saat perjalanan dari Bandung- Jakarta 

 

Tumpukan gerbong ini ternyata ada di area Purwakarta
Tumpukan gerbong ini ternyata ada di area Purwakarta

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *