Sepetak Pecinan di Petak Sembilan

Setiap hari besar Imlek, nama kawasan yang satu ini nggak pernah absen diliput. Dia selalu jadi ikonnya Chinatown di Jakarta. Yoi, apalagi kalau bukan kawasan Petak Sembilan yang terletak di Glodok, Jakarta Barat.

Pertama kali kami mengeksplor Petak Sembilan, kebetulan bertepatan dengan menjelang Imlek tahun 2014. Hahaha, lama banget ya. Lalu di kesempatan kedua, kami jalan bareng Jakarta Good Guide (tentang mereka, ada disini) dan kami dapat lebih banyak cerita tentang Petak Sembilan.

Memang apa menariknya sih kawasan ini? Berikut kami ceritakan secara urut berdasarkan rute bersama Jakarta Good Guide.

Memulai eksplorasi Petak 9 lebih enak dengan jalan kaki. Bisa dari Jalan Pancoran (Pancoran Glodok ya, bukan Pancoran Tugu Pancoran) atau dari Hotel Novotel di Jalan Gajah Mada. Kenapa harus dari Hotel Novotel? Karena kita bisa bertemu dengan…

 

Gedung Candra Naya!

Bangunan berarsitektur Tiongkok ini letaknya memang tersembunyi di belakang Hotel Novotel. Diapit oleh hotel itu sendiri dan bangunan Seven Eleven disebelahnya.

img_0540
The hidden old building, Candra Naya

Dulunya, bangunan ini merupakan rumah milik keluarga Khouw secara turun temurun. Generasi Khouw terakhir, Khouw Kim An, adalah ketua Dewan Cina di Batavia dan sempat diangkat menjadi Mayor China pada periode 1910-1918. Beliau juga merupakan anggota parlemen bentukan Hindia Belanda era 1921-1931. Maka sebagai rumah tinggalnya, Candra Naya saat itu disebut sebagai ‘Rumah Mayor’.

img_0542
Berkunjung ke ‘Rumah Mayor’

Namun, setelah perang dunia berakhir pada 1946, ‘Rumah Mayor’ berubah fungsi setelah disewa oleh sebuah organisasi sosial. Organisasi ini bernama Sin Ming Hui dan bergerak dalam kepedulian sosial. Seperti penyediaan klinik kesehatan hingga klinik bantuan hukum.

Baru sejak tahun 1962, Sin Ming Hui menyesuaikan penggunaan nama menjadi lebih Indonesia, sebagai Tjandra Naja. Atau bila ditulis dalam ejaan sekarang, disebut dengan Candra Naya.

img_0546
Bagian dalam Candra Naya yang oriental banget.
@doubletrackers
Kisah yang tergambar di atas salah satu pintu Candra Naya
img_0550
Halaman belakang Candra Naya yang sejuk banget. Lengkap sama gemericik airnya dari pancuran ikan koi (inframe: Kak Myrta dan Bhumi)
img_0553
Bagian samping Candra Naya banyak kafe-kafe unik yang bisa kamu coba seperti Kopi Oey.

Nah, kelar menikmati arsitektur bangunan yang cantik ini, kami pun melanjutkan berjalan kaki ke tempat selanjutnya. Yaitu ke…

 

Pasar Tradisional Petak Sembilan.

Sebenernya, pasar ini secara profil sama dengan pasar-pasar pada umumnya. Bedanya, segala hal yang berbau oriental lebih mudah kita dapatkan disini. Apalagi kalau sudah mendekati Imlek. Nggak cuma permen atau camilan impor dari RRC aja, tapi juga kue keranjang, beragam lampion, hio, amplop, dan pernak-pernik Imlek lain bisa kita temui disini.

Di hari biasa, kita juga bisa dengan mudah menjumpai bahan makanan yang sering ada di masakan oriental. Seperti alang-alang yang dipakai untuk teh (Liang Tea), aneka kecap-kecapan yang sering ada di rumah makan Cina, swike (kodok hijau), hingga aneka seafood (dari cumi-cumi sampai teripang).

20140114_105816
Camilan dan permen impor dari RRC
@doubletrackers
Beberapa toko kue disini hanya buka atau menerima pesanan menjelang Imlek saja loh
20140114_114436
Amplop-amplop untuk angpao. Mau dong satuuuu~
20140114_114622
Suasana di dalam gang pasar menjelang Imlek. Serba merah dan emas. Meriah!

Kita juga bisa menjumpai kura-kura loh disini. Ternyata selain dimasak sebagai sup Pi Oh (sup kuah tauco dengan daging kura-kura), kura- kura juga dimanfaatkan warga keturunan untuk kelengkapan sembahyangnya. Hmm… baru tahu.

20140114_114752
Bulus alias kura-kura… Mereka beneran mau dimasak? 🙁
20140114_114758
Yang ini penyu. Beda loh ya sama kura-kura 🙂 Tapi ini nggak tahu buat apa…
20140114_114925
Pedagang lampion dan keperluan lain untuk memeriahkan Imlek
20160224_100820
Pedagang swike. Kamu sudah pernah makan? Saya sudah hehehehe

Kalau teman-teman punya kesempatan untuk mencicipi beberapa hidangan disini, jangan dilewatkan. Sebut saja bakcang dan bakpao. Tapi harus hati- hati ya bagi teman-teman yang tidak diperkenankan makan babi. Jangan lupa tanya sebelum beli :)))

Selama menyusuri pasar ini juga, kita akan bertemu dengan salah satu klenteng tertua di Jakarta. Tepatnya di jalan Kemenangan III. Klenteng itu bernama…

 

Klenteng Dharma Bakti (d/h Jin De Yuan)

Klenteng ini dibangun pada 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dengan nama Koan Im Teng. Gila, jadul banget kan? Kakek nenek kita aja masih di awang-awang. Hehe.

20140114_112258
Salah satu gerbang masuk klenteng Jin De Yuan
img_5825
Suasana jemaah yang hendak sembahyang di latar klenteng (circa Januari 2014)
20160224_101531
Suasana di latar klenteng dua tahun kemudian setelah kebakaran (circa Februari 2016)

Nah kalau menjelang Imlek, para fakir miskin banyak sekali yang berkerumun disini. Tujuannya apalagi kalau bukan menunggu santunan yang biasa diberikan oleh warga yang tengah merayakan Imlek. Namun di hari biasa, kelenteng ini tak ubahnya rumah ibadah pada umumnya. Ramai dengan yang beribadah saja.

20140114_111903
Antrean kaum fakir miskin di depan klenteng menjelang Imlek. Can you find where Dimas is?

Klenteng ini memiliki dewi utama yaitu Dewi Kwan Im. Sejarahnya ada pada saat pembantaian Angke dulu, cuma patung Sang Dewi yang tersisa. Itu sebabnya, Dewi Kwan Im sangat dipuja disini.

Oya, setiap berkujung ke klenteng, saya sering mengamati adanya pedagang burung Emprit alias burung Bondol alias Lonchura sp. yang selalu mangkal di depan klenteng. Ternyata, burung-burung ini nasibnya sama seperti si kura- kura. Yaitu, untuk keperluan sembahyang. Kelak mereka akan dilepaskan usai memanjatkan doa.

img_5840
Ritual pelepasan burung bondol
20140114_112719
Sembahyang di latar klenteng
img_5839
Salah satu spot di klenteng dan saya, 10 kilogram yang lalu hahahaha (circa Januari 2014)

Masih berbau-bau rumah ibadah yang sangat khas budaya Tiongkok, tujuan kita selanjutnya ada di Vihara Buddha satu ini. Apalagi kalau bukan…

 

Vihara Dharma Jaya (Toa Se Bio)

Teman-teman pernah dengar tragedi Angke pada tahun 1740 silam nggak? Saat itu, para etnis Tionghoa banyak dibantai penjajah. Sampai-sampai, tempat tinggal mereka pun diberi pembatas. Saking antipatinya penjajah sama etnis satu ini, mereka juga membakar kawasan tinggalnya. Dan kebakaran yang meluluh lantakkan tempat tinggal etnis Tionghoa tersebut sampai ke Vihara Toa Se Bio ini.

20160224_102346
Langit-langit di Vihara Toa Se Bio

Namun secara ajaib, ternyata klenteng ini tidak terbakar habis loh. Hiolo, tempat dupa yang digunakan saat sembahyang, tidak terbakar. Padahal ia terbuat dari kayu. Itulah mengapa vihara satu ini sangat dikultuskan.

20160224_102306
Salah satu spot sembahyang di dalam vihara

Hal menarik lainnya terkait vihara ini bisa teman- teman lihat dari pagoda tinggi yang digunakan untuk menyimpan lampu minyak para jemaat. Juga patung dewa Cheng Boan Cheng Kun yang menjadi tuan rumah vihara ini.

20160224_105111
Sejumlah umat sedang melakukan ritual sembahyang

Kunjungan sejarah berlanjut masih tak jauh dari Vihara Toa Se Bio. Spot terakhir yang menjadi jujgan kami adalah sebuah gereja yang sangat unik, bernama…

 

Gereja St. Maria de Fatima

Sebagai keyakinan yang dibawa bangsa Eropa masuk ke Indonesia, saya nggak kaget kalau melihat banyaknya perpaduan budaya Eropa di dalam penyebaran Katolik atau Protestan. Sebut saja dalam gaya arsitekturnya. Namun kalau dibuat bergaya oriental yang kental? Nah saya pribadi cukup terkejut.

Ternyata Jakarta punya itu dan Gereja St. Maria de Fatima ini contohnya. Yang bikin saya terkejut lagi, bahkan di pintu depan ada lukisan Isa dengan gaya busana Tiongkok, loh. Sungguh antimainstream bukan? 😀

20160224_103407
Interior Gereja Maria de Fatima, Glodok

Gereja ini dulunya kediaman pejabat Tionghoa dengan gaya atap ian boe heng (ekor walet) dan lengkap dengan sepasang shi shi (singa batu) yang mengawal di depannya. Kalau teman sempat berkunjung kesini, bisa perhatikan bagian bubungan atap yang memiliki tulisan dalam aksara Tionghoa ‘fu shou, kang, ning’ yang berarti rejeki, umur panjang, kesehatan, dan ketentraman.

img_0555
Arsitektur gedung gereja tampak luar

 

Fiuh… selesai juga jalan- jalan di Petak Sembilan. Nah, sambil melepas lelah, lapar, dan haus, kita bisa lanjut mengunjungi gang satu ini. Masih terletak di sekitar Petak Sembilan, apalagi kalau bukan… Gang Gloria. Cerita lengkapnya ada di postingan selanjutnya ya 🙂

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *