Naik Pangrango, Bikin Melongo (1)

For God’s sake, lama sekali tidak beraktifitas di luar semenjak bekerja di Jakarta. Apalagi sejak menjadi Ibu Rumah Tangga. Kalau kalian mengikuti cerita di blog ini, atau mengenal saya (Hening) sejak lama, pastilah mengerti kenapa saya berkata demikian. Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk kembali kuat menapaki jalanan super panjang dan menantang. Contohnya, jalan yang minggu lalu saya lalui.

Sekitar bulan Maret, Dimas menawarkan untuk bisa bergabung mendaki Puncak Pangrango bersama teman- temannya. Tawaran yang menarik, mengingat saya sudah jarang berkegiatan outdoor. Dan betapa saya selalu galau untuk bisa menikmati kembali kegiatan seperti itu. Pekerjaan saya akhir- akhir ini selalu dipenuhi hal- hal kerumah tanggaan sehari- hari hahahaha. Tentu nggak pakai pikir panjang, mendengar tawaran itu, saya mengiyakan.

Bersama ketujuh teman kuliah Dimas dulu, yang kebetulan juga berdomisili di Jakarta saat ini, kami berangkat menuju Cibodas dengan bus. Meeting point yang disepakati adalah Terminal Kampung Rambutan. Dimas dan teman- temannya yang mayoritas pekerja tentu berkumpul setelah jam kantor. Dan kami memulai keberangkatan sekitar jam 10 malam WIB.

Bus yang kami tumpangi tidak terlalu bagus kondisinya. Untuk yang bertungkai panjang seperti kami berdua, duduk di bangkunya terasa sangat sempit dan bikin kesemutan. Tipikal bus ekonomi yang kebanyakan beredar di terminal kita lah. Dan seperti sebagaimana selalu, bus kami pun tak sepi dari tawaran dan ocehan pedagang cangcimen dan…, part paling favorit dari teman- teman, nyanyian pengamen yang bikin melek mata! Salah satunya yang kuduga sebagai OI sejati. Si pengamen ini membawakan lagu Ibu milik Iwan Fals dengan 100% penghayatan dan penekanan di setiap kata “ribuan kilo”. Sehingga kami yang mendengar ikutan bergetar jiwanya saat terucap kata “RRRRRIIIIBUUUAAANNNN kilo~~~”. Iya, RRRRRR, seperti kucing menggeram.

Salah satu dari teman Dimas, sebut saja Bijak, senang sekali mengulang-ulang lagu itu. Kalau bukan teman, sudah kuglindingkan dia dari lereng gunung -____-“

Oke, lepas dari si OI sejati itu, kami tiba di Cibodas sekitar pukul 1 pagi. Kami turun di pinggir jalan kemudian melanjutkan dengan angkot charteran. Saya lupa berapa tepatnya biaya charter angkot. Yang ada dipikiran saya pagi buta itu adalah memori-memori waktu masih sering-seringnya melakukan hal semacam ini. Ah, andai bisa terharu. Rasanya seperti ini ternyata rindu yang sekian lama terbelenggu lalu tumpah. #hening #mulai #lebay.

Kami tiba di (sebut saja gerbang) pendakian beberapa menit kemudian. Hawa dingin sudah mulai terasa. Disini kami menunggu beberapa saat karena harus menyerahkan beberapa surat. Bagi teman- teman yang belum tahu, seperti biasa kegiatan trekking di alam dilakukan, baik itu bersifat jungle trekking apalagi hiking, kita harus menyertakan surat ijin masuk. Baik berupa SIMAKSI maupun surat keterangan sehat. Jadi, jangan rewel dan mengeluh kalau harus ribet mengurusnya ya. Ini buat kebaikan bersama juga. Karena alam, nggak bisa dilawan. Data ijin dan kesehatan kalian itu penting kalau terjadi apa- apa di dalam sana.

Setelah surat menyurat selesai, kami harus mulai naik. Terakhir saya pergi ke tempat seperti ini tentu saat jalan ke Ranu Kumbolo, empat tahun lalu. Itupun malam masih istirahat dulu. Baru mendaki di pagi hari. Sementara ini? Dalam keadaan gelap gulita, kami harus bergegas. Baiklah, ini pertama kalinya buat saya. Excited? Oya, pastinya. Kemudian rasanya tercekik- cekik. Hahaha…

IMG_0946
Selamat pagi. Suasana di shelter pertama sekitar pukul 05.30 pagi

 

Ada yang bilang, untuk naik gunung, pastikan Anda sehat jasmani rohani. Oya, tentu kami berdua sehat jasmani rohani. Tapi apakah cukup tangguh untuk mendaki? Hahahahaha… saya pun sangsi. Giliran naik, baru sekian tanjakan, nafas tinggal seperempat. Dan jalur Pangrango ini menghajar saya pribadi yang begitu cupu-nya hingga akhir perjalanan. Jalanannya menanjak, menanjak, menanjak, dan terus menanjak. Hampir jarang ketemu jalan yang minimal mendatar. Oh, lututku sudah lebih dari bergetar.

IMG_20160402_065728_HDR
Pernah dengar istilah dengkul anjlok? Ya ini…

 

Jalur disini cukup berbatu- batu. Dan di beberapa titik berair- air. Sehingga cukup licin juga saat memijak batu yang dialiri air tersebut. Berbeda saat dulu ke Ranu Kumbolo yang jalurnya rata- rata tanah gembur dan berdebu.

IMG_0961

IMG_0954
Mendaki setengah ngantuk

 

Jalur yang paling bikin deg- degan adalah saat melewati jalur air panas. Iya AIR PANAS. Buat saya ini uji nyali juga sih. Bisa bayangkan melewati aliran air yang isinya air panas? Nah. Tambah dengan di sisi satunya adalah jalur air itu turun berupa semacam air terjun. Terbayang? Nah. Tambah dengan kamu memakai kacamata. Yang mana lepas kacamata nggak kelihatan, dipakai ngembun nggak kelihatan juga. Nah. Tambah lagi di jalur air itu turun, nggak ada pembatas yang kokoh kecuali tali AVTECH sebagai pegangan. Nah. Tambah lagi, supaya nggak panas, silakan berpijak pada batuan yang ada di sepanjang aliran air. Sudah? Gimana hasilnya? Ya, gitu deh.

IMG_20160402_085315_HDR
Jalur air panas yang bikin was- was

 

IMG_0972
Bukan kabut, ini embun air panas

 

Baru disini saya tahu alasan diharuskannya memakai sepatu. Meski memang kalau mendaki atau apapun jenis trekkingnya lebih aman dan dianjurkan dengan bersepatu, tapi kalau kena air panas dan kepleset di air panas, nggak lucu juga kali. Hehe. Di saat pengurusan pun bila tidak bersepatu juga harus menyiapkan materai untuk surat pernyataannya. Super sekali bukan.

Oya, selama perjalanan ini, saya dan Dimas adalah yang selalu terakhir dalam rombongan. Kayaknya udah pada gregetan sama langkah kaki kami yang jompo banget. Haha… nggak naik, nggak turun, kami selalu ketinggalan. Terimakasih buat Rahman, temannya Dimas yang selalu sabar di belakang kami dari awal sampai akhir perjalanan. Aku terharu. Meskipun tahu, kamu pasti pengen gelindingin kami juga kan? Hahahaha… #sedih #balada #dua #keong #keong #racun.

Melewati sumber air panas, kami berhenti di salah satu shelter buat isi amunisi. Emang cuma mesin yang harus isi tenaga? Kita juga. Lumayan juga bisa selonjoran kaki (alesan, padahal tiap 5-10 langkah kami berdua selalu berhenti, hehe). Singkat kata, kami pun isi tenaga dengan… jengjeeeenggg…. tenaga micin! Yeah, hidup indomi! Hidup micin! :)))

IMG_0968
Tim Indomie sedang memasak. Bukan pakai air panas tadi ya.

 

Setelah dirasa lebih tangguh (padahal tetep gak kuat, udah pengen nangis biar bisa gandolan di Uber Chopper), saya kembali berjalan. Dan lagi- lagi ketinggalan. Haha. Jangan ketawa.

Dalam pemberhentian sambil isi energi micin tadi, kami sempat berdiskusi alot dan tidak mufakat. Apakah akan bertenda di Kandang Badak (lokasi camp sebelum puncak) atau di Mandala Wangi (lokasi camp setelah puncak, yang berarti harus ke puncak dulu)?

Dan survei mengatakan… TENDANYA DI KANDANG BADAK AJA! HOREEE! *kemudian pingsan*

IMG_20160402_102847_HDR
Duo keong di pos air terjun. Makasi Rahman, Udah nungguin, mau pula diminta fotoin :)))

 

Alhamdulillah selang sejam sejak keenam teman sampai di Kandang Badak di jam adzan Dzuhur, saya dan Dimas, dan Rahman, baru sampai. Melihat kami yang mukanya minta dijegurin ke mata air, kayaknya rombongan tim yang sudah duluan sampai terharu. Akhirnya dicarilah lokasi pasang tenda yang presisi dan voila! Jadilah dua tenda untuk kami bermalam.

Tapi,… alam memang nggak bisa dilawan. Enak aja mau santai- santai habis mendaki. Challenge belum kelar, masbro, mbaksis. *kemudian hujan deras turun*

BAGOSSSS…

Tenda tempat saya, Dimas, Jeanny, dan Rahman berdiam pun bocor. Bersama hujan, saya pun (jadi ingin) berairmata. Ya Allah, ampuni Baim… *terseret-seret keluar tenda bantuin pasang fly sheet*

Sudah kehujanan, kemudian kebocoran, itu rasanya kok lebih apes dari habis jatuh ketimpa tangga ya. Hahaha….

Berhubung hujan tak kunjung reda hingga malam tiba, maka kami bersembilan sepakat merubah diri masing- masing menjadi kepompong di dalam sleeping bag. Kata teman- teman, kalau sampai tengah malam nggak reda, kita ngak ke puncak. Dalam hati, ini antara seneng (horeee nggak capek) sama sedih (udah kesini susah- susah nggak sampe puncak?) *kemudian joget AFI*

Entah Tuhan lagi baik, atau kasihan, doa- doa galau kami diijabah. Hujan reda sekitar jam 2 malam. Kok saya tahu? Karena saya nggak bener- bener tidur. Karena di bawah Sleeping Bag ternyata ada tonjolan kayu. Nyeri juragan!

Sayup- sayup, menjelang jam subuh, saya mendengar segerombolan anak laki- laki memanggil dari luar tenda. Persis kayak anakSD ngajak keluar temennya main.

“Miiiddd (panggilan buat Dimas adalah Samid), Jeeennnn (untuk Jeanny), Duuuurrrr (namanya Rahman adalah Abdurrahman Wahid, sering dipanggil Gus DUr :)))”

Bolak balik sahut- sahutan itu terdengar. Tapi kanan kiri saya ini, nggak ada yang gerak. Karena nggak ada yang panggil saya, saya diem aja hahaha. Sampai akhirnya Rahman dengar dan menyahuti. Dia membangunkan kami semua supaya bersiap- siap. Karena hujan sudah reda dan kita bisa menuju puncak.

Kamu tahu apa yang Dimas bilang? “Aku disini aja, di dalam sleeping bag.” Oh well, ini minta di lipet bareng tenda sih kalau kayak begini.

Lagi, di tengah pagi buta, kami dengan mata setengah terbuka, harus gelap- gelapan menuju puncak untuk mengejar SUNRISE!

Kira- kira, dapet nggak? Tunggu cerita selanjutnya, ya 🙂

 

IMG_0978
From a small seed a mighty trunk may grow. – Aeschylus

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *