Naik Pangrango, Bikin Melongo (2-end)

Ceritanya berlanjut dari episode Rosalinda , maksudnya dari postingan sebelumnya

Di dalam gelap, seperti malam sebelumnya, kita mengejar sunrise ke puncak gunung Pangrango. Dengan mata yang setengah terbuka dan hasrat masih mau jadi kepompong di dalam sleeping bag yang hangat, musnah sudah.

Jalur yang dilalui berbeda dari jalur sebelumnya. Dari bawah sampai Kandang  Badak tempat kami bermalam, jalurnya jauh lebih lebar dan (nampak) lapang. Nggak nampak juga sih, soalnya sama- sama gelap. Hehe… Yang pasti di jalur sebelumnya kita bisa melihat samar- samar yang namanya jembatan di atas rawa Denok dan rawa Panyangcangan. Meski watir juga soalnya jalur beton di atas rawa itu beberapa ada yang bolong. Lucu kan kalau jadinya malah terperosok. Selain itu kita juga bisa mendengar bunyi air yang mengaliri Telaga Biru saat berangkat dari pos keberangkatan ke Kandang Badak. Sementara saat naik ke puncak, nggak ada suara apa- apa selain serangga malam. Hehe.

Dan waktu terus berlalu. Duo keong tetap terbelakang. Masih juga ditemani Rahman. Sementara pasukan tempur kami sudah entah melesat dimana. #hayati #sedih

IMG_1025
Keong 1 sudah tepar
IMG_1014
Ini Rahman. Yang entah kenapa tiap foto selalu ada sinar matahari. Mungkin karena hatinya mulia. #eaaaaa Foto lain diambil oleh Bijak waktu dia sholat. Ada mataharinya juga :))))

Oya, sekedar info. Bahwa Gunung Pangrango ini menjadi satu kesatuan dengan Gunung Gede. Mereka berdua, karena posisinya yang berhadapan, ada di bawah kendali pengurusan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Pangrango sendiri memiliki ketinggian yang lebih dari Gunung Gede. Untuk mencapai puncak masing- masing, kita akan bertemu jalan bercabang dari Kandang Badak. Bila tidak berniat memuncak, dari pendakian di awal, kita bisa langsung belok ke Air Terjun Cibereum sebelum memasuki Rawa Denok.

Kembali ke cerita semula, kami pun melanjutkan perjalanan. Nampaknya, matahari lebih gercep dari kami bersembilan. Oh, lebih tepatnya kami berdua+ Rahman (yang terpaksa ngintilin di belakang kami). Masih di tengah perjalanan, matahari sudah muncul. Sinarnya terasa hangat menembus sela- sela pepohonan yang rapat. Indah sekali. Dari tempat kami berdiri pula terlihat di kejauhan Gunung Gede berselimut awan- awan. Sambil tengok- tengok kebelakang, saya secara pribadi cukup dibuat takjub.

IMG_0986
Sunrise di (menuju) puncak Pangarango (yang nggak sampai- sampai)
IMG_1069
Jalan menuju puncak
IMG_1003
Sempet ye, narsis dulu
IMG_1030
Naik, naik, ke puncak gunung, tinggi… tingi sekali….

Dan kemudian…. kami pun tiba di puncak sekitar nyaris 3 jam kemudian.

Mau tahu rasanya? #hening #nggak #bisa #komentar

Whoaaaaa bahagia. Selamat datang di ketinggian 3019 mdpl! Hihihihi, akhirnya.

Alhamdulillaaaah~
Alhamdulillaaaah~

Bagi beberapa teman kami yang sudah pernah ke Gunung Gede yang diseberang, mereka bangga sekali bisa bercerita perbandingan ini itu antara Gede dan Pangrango. Keren deh, kalian! 😀

Meski pemandangannya tetap nampak bagus, sebenarnya puncak Pangrango bila dibandingkan dengan kesulitannya mendaki itu………………..

Bikin saya melongo.

Kenapa?

Karena bukan kawah seperti yang saya bayangkan. Bentuknya mirip puncak sebuah bukit yang sederhana dengan saung di atasnya. :))))))))))))

Boleh tonton disini buat menyaksikan perjalanan kami selama ke Pangrango yah 🙂

 

Tapi yasudahlah. Untuk membayar kemelongoan tadi, saya pun mengikuti jejak teman- teman setim untuk lanjut ke Mandala Wangi. Sebuah tempat yang tadinya mau menjadi tempat kami bermalam. Jaraknya cukup dekat dengan Puncak. Mungkin tidak sampai 15 menit.

Dan ke-melongo-an-ku TERBAYAARRRR :)))

IMG_1141
Mandala Wangi

 

Mandala Wangi merupakan padang yang luas dan menjadi tempat tumbuhnya Edelweiss- Edelweiss cantik (Anaphalis javanica). Namun kata beberapa teman, termasuk Dimas sendiri, yang sudah pernah ke Papandayan, jumlah Edelweiss di Pangrango nggak lebih cantik dan lebih banyak dari yang ada di Tegal Alun, Papandayan. Whatever, yang penting disini nyamaann. Bisa tidur- tiduran lihat awan yang bergerak di tiup angin dan cuci muka di air yang mengalir dari celah bebatuan. Segar!

Anaphalis javanica. Bawaannya pengen nyanyi lagu Edelweiss-nya Sound of Music
Anaphalis javanica. Bawaannya pengen nyanyi lagu Edelweiss-nya Sound of Music

 

Berhubung tiba- tiba cuaca berubah lagi dan kabut mendadak turun, kita pun mau nggak mau harus menyudahi leyeh- leyeh di Mandala Wangi. Perjalanan masih panjang buat kita kembali turun ke Kandang Badak sampai turun lagi ke pos pemberangkatan pertama.

IMG_1180
Segarnyaaaaa airrrrr (nggak tahu airnya juga bekas apa aja)

 

IMG_1196
Segera turun, kabut sudah datang

 

IMG_1211
Masih pagi, kabut dan mendung sudah begini turun dari Mandala Wangi

 

Dan benar, kita baru mulai turun dari Kandang Badak itu, 15.30 sore. Deym! Jam berapakah kita akan tiba di bawah?

Jawabannya…

Pukul 19.30 malam :))))))))))

 

Dalam perjalanan turun, meskipun effortless, dan tetap lebih cepat dari saat kami naik (kami disini saya dan Dimas, dan Rahman yang baik hati), tetao saja kami paling bontot. Teman- teman sudah jauh entah dimana. Bahkan di tengah perjalanan kami yang akhirnya terbagi dua, sempat bertemu di pos Air Panas. Gara- gara apa? Karena mereka berhenti untuk membantu Bijak yang hape nya jatuh di sekitar kawasan air panas. Edyan sih itu. Hehe…

Meski sempat bareng, endingnya tetep aja ketinggalan lagi. Dan kami bertiga, dalam hujan deras, jalur licin, kabut tebal, dan air minum yang menipis, pelan- pelan turun gunung. Sepanjang perjalanan, entah kenapa selalu dibasahi air. Bukan lagi genangan, tapi berupa aliran air yang turun. Seperti mata air yang turun. Sepatu sudah basah tak karuan.

Suasana menjadi semakin sedih karena selain hujannya lama, air minum mulai habis, jalan mulai gelap. Dengan senter hape dan senter Rahman seadanya, kami tetap lanjut jalan. Termasuk saat Dimas harus jatuh terduduk karena terpleset hingga dua kali :)))

Memasuki kawasan Rawa Denok, kaki mulai terasa perih. Entahlah rasanya lama sekali sampai kebawah. Dan nyeri di lutut makin menjadi. Belum lagi perasaan lapar yang mungkin bisa bikin makan orang. Di tengah jalan, saya tiba- tiba mencium aroma pandan yang bikin ingat sama aroma kue putu. Perut berbunyi makin menjadi. Deym.

Momen paling mengharukan ya tentu saat dengan selamat kami tiba di Tarentong. Ya Allah, makin dekat kami buat sampai rumah. Begitu lihat pos pemberangkatan, langsung ambil lahan kosong buattttttt selonjorannnnnn. FIUH! Buat berdiri lagi rasanya berat banget kalau nggak inget harus bebersih diri dan makan.

Disitulah kami ketemu rombongan kami yang hilang. Hahaha… akhirnya ketemu. Kirain ditinggal ke Jakarta loh :)))

Usai beberes yang udah nggak peduli lagi sama dinginnya air yang menusuk tulang, kami melanjutkan jalan untuk mencari tempat makan dan tumpangan pulang. Disinilah kami mulai saling bertukar cerita dan mulai sadar kalau kami bersembilan, sama- sama merasakan momen magis. Terutama saat melewati rawa yang rata- rata kami lewati saat maghrib tadi.

Bahwa ternyata aroma pandan itu dicium juga oleh teman setim yang lain. Bahkan saat melintasi, Rahman merasakan ada yang melemparinya dengan semacam kerikil. Cuma dia saja yang nggak bilang- bilang. Hm… apakah benar demikian? Wallahualam…

Usai mendapat warung buat kita singgah dan mencari tumpangan, kita mulai jalan kembali ke Jakarta sekitar jam 11 malam. Kami memutuskan mengambil tawaran ibu si pemilik warung untuk menggunakan jasa charter APV rekomendasinya.

Murah sih, tapi tahu tidak sepanjang jalan, cuma saya yang nggak bisa tidur.

Si Aa yang nyopirin mobil ngeri banget nyetirnya. Sudahlah hujan (lagi) dengan derasnya sampai ke masuk Jakarta, wiper tidak berfungsi maksimal, juga dia yang nyetirnya aneh. Masak jalan pelan di tengah jalan tol? Itu kalau bukan ngantuk, lantas apa ya? Dan sepanjang jalan dia nggak paka seat belt. Plus AC tidak berfungsi (bahaya kan kondisi hujan dan AC nggak berfungsi saat nyetir?) kemudian dia terpaksa buka jendela mobil. BUKA JENDELA MOBIL DI TOL! Ini ajaib sih. Aselik. Saya sebagai penumpang dengan lisensi SIM A rasanya pengen ambil alih kemudi. Sini A, kasihkeun ku Teteh! Gemes.

Akhirnya, setelah mata yang berusaha tetap terjaga dan doa panjang tiada tara, kami tiba di Jakarta pas pukul 02.00 dini hari. Alhamdulillah……

Setelah kendaraan pesanan kami tiba dan menghantarkan kami kembali ke rumah masing- masing, kami pun bisa dengan nyenyak kembali istirahat. Dan mengumpulkan semangat untuk kembali bekerja di Senin pagi. Alhamdulillah, akhirnya yah. Selamat istirahat. Selamat mencuci. Sampai nanti, teman!

 

IMG_1194
‘Till The Next Trip! (ki-ka: Hening, Dimas, Rahman, Akbar (belakang), Fuad (kacamata, depan), Jeanny, Hafiz, Ludfi, Bijak (kanan atas))

 





You may also like

6 Comments

  1. Isinya sudah bagus, bahasanya komunikatif dan enak dibaca. Mungkin fotonya diatur sedemikian rupa (mis, penyesuaian pixel foto file dengan pixel tempat foto website ini) karena pas dilihat (seperti yg saya lakukan sekarang) lewat laptop, fotonya tampak pecah. Sekedar saran saja. Semoga sukses selalu, Doubletrackers!

  2. Waa..seruu! Awalnya baca part 1, part 2, trus jadi baca2 postingan Hening yang lain 😀 Bahasa nya segar dan ceritanya detail. Mengingatkanku untuk sering nulis lagi,hehe Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *