Jatinegara dan Yang Tak Kasat Mata

Dibandingkan dengan pasarnya, mendengar Jatinegara membuat kami, terutama saya (Hening), lebih ingat dengan Stasiun Jatinegara dan… JUWITA MALAM! Yeah!

*pada tahu nggak sih lagu ini? Kalau nggak, please klik JUWITA MALAM (versi Bonita and The husBAND) buat bikin amnesianya pada kembali ya :)*

Iya. Jatinegara itu selalu bikin saya bawaannya mau nyanyi lagu itu sambil pose ala- ala jaman perang kemerdekaan dan dadah-dadah pakai sapu tangan.

“Berilah namaaa~ alamat serta~ esok lupa boleh kita jumpa pulaaa…” *Sekian.*

Nah, tapi kalau ini yang bikin kalian inget sama Jatinegara, maka…..

IMG_20160312_095459_HDR
Coba cek, apa yang unik dari tulisan di gambar ini?
IMG-20160410-WA0029
Cimin! Uwuwuwuw
IMG-20160410-WA0019
Buku bekas, perkakas, kaset lawas, semua ada disini

Maka kamu kurang update, masbro, mbaksis.

Makanya saya mau bercerita di postingan kali ini. Bukan mau bahas Juwita Malam atau hal tak kasat mata alias gaib seperti yang saya sertakan dalam judul tulisan ini. Tapi, lebih ke hal- hal yang terlewat selama kita melintasi Jatinegara. Apakah itu? Here we go!

Tahu nggak dibalik ramainya Jatinegara, ada banyak bangunan bersejarah yang kita sendiri sering nggak ngeh. Saya sendiri baru tahu soal ini saat mengikuti city tour dengan guide lokal dari Jakarta Good Guide. Melalui penjelasan guide hari itu, Mbak Rita, saya mendengar banyak sekali dan melontarkan ‘ooooo’ panjang bolak- balik. Termasuk soal penjelasan tentang Jatinegara yang juga dikenal dengan kawasan Mester dan siapakah si Mester itu sebenarnya. Hahaha. Oya, buat teman-teman yang penasaran apa itu Jakarta Good Guide, silakan cek kegiatan mereka disini! 🙂
Ternyata, setelah ditelaah lebih jauh, kawasan Jatinegara ini dulunya termasuk kawasan satelitnya Batavia loh. Malah dulu, dia termasuk kawasan Bekasi. Mungkin sejak Bekasi terangkat ke langit (jangan membayangkan salah satu adegan di film Avengers dimana sebagian daratan patah dan naik ke atas ya. Bekasi itu langsung melejit dan pindah posisi di belakang Pluto), Jatinegara pun ditetapkan menjadi bagian dari Jakarta Timur. Maka jangan kaget kalau jalan rayanya masih bernama Jalan Bekasi.

*saya pun manggut- manggut oke mendengarnya*

Dan dalam perjalanan ini pula, fakta- fakta Jatinegara sedikit banyak terungkap. Berikut diantaranya.

1.Siapakah sosok Mester yang namanya populer diabadikan di Jatinegara?

Ternyata beliau adalah sosok penyebar agama Kristen dari Banda. Nama beliau adalah Cornelis Senen dan datang ke Batavia sekitar tahun 1600-an. Meneer satu ini nggak cuma guru agama, tapi juga tuan tanah yang menguasai perkebunan Jati di kawasan Jatinegara. Akibat perannya tersebut, warga memberi tambahan Meester pada namanya yang berarti Tuan. Membuat kawasan tempat tinggalnya pun berubah nama menjadi kawasan si Mester.
Yang kemudian menjelma menjadi nama wilayah karena penyebutan orang- orang Betawi tersebut. Dalam Bahasa Indonesia, penyebutan ini memanfaatkan penggunaan majas Metonimia.

*inget nggak? Pelajaran Bahasa kelas 6 SD nih. Buka buku lagi sanah.*

Penggunaan kata Jatinegara dimulai untuk menggantikan kawasan Mester sejak jaman pendudukan Jepang. Jepang yang anti nama kebelanda- belandaan, memilih nama Jatinegara karena banyaknya jati yang tumbuh di kawasan ini saat itu.

2. Ada apa dibalik bangunan Jakarta Gems Center (JGC)?

Dalam perjalanan city tour ini, kami menggunakan JGC sebagai meeting point. Dari judulnya juga udah ketahuan kan kalau dia jual batu mulia? Ditambah lagi ikon cincin batu akik yang kokoh berdiri di depannya. Masak iya jualan ikan hias? Hehe. JGC sendiri sudah diresmikan sejak 2010. Meski sebenarnya sebelum bangunan ini berdiri, kawasan sekitar JGC sudah lebih duluan dikenal sebagai pusat jualan batuan mulia yang terkenal dan terbesar se-Asia Tenggara! Keren ya.

Berhubung kami nggak ada yang pakai dan demen batu cincin, jadi kami nggak mampir ke dalam dan tetap meneruskan perjalanan.

IMG_20160312_092623_HDR
JGC, pusat batuan mulia terbesar di Asia Tenggara

3. Apa itu yang terlihat di depan JGC?

Inilah yang tak lain, tak bukan, bangunan yang sudah lama ada dan melegenda. STASIUN JATINEGARAAAA….

*kemudian nyanyi JUWITA MALAM lagi. Dilempar sendal*

Tahu nggak kalau arsitektur kuno yang menjadi ciri khas stasiun ini sudah ada dimulai sejak 1910? Kalau dulunya ramai dengan penumpang yang naik turun, sekarang Stasiun Jatinegara hanya menaik-turunkan penumpang dari dan ke sekitaran Jabodetabek saja. Sementara bagi penumpang dari luar kota, Jatinegara hanya berfungsi menurunkan penumpang. Menurut info Mbak Rita, tour guide kami, dulunya banyak penumpang yang turun dari Jawa membawa hasil panen terutama berupa beras disini. Sehingga tak jauh dari stasiun ada tempat berkumpulnya para pedagang beras. Dan fakta lain tentang stasiun ini adalah perannya sebagai pelopor sistem elektrifikasi kereta! Uwow, uwow, uwoww,…

IMG_20160312_133418_HDR
Stasiun Jatinegara yang melegenda

4. Apakah kamu melihat sesuatu yang keren diseberang stasiun?

Ya. Di titik pemberhentian kami selanjutnya, adalah Gedung eks Kodim 0505. Lokasinya berseberangan dengan stasiun. Sebagai bangunan lawas, gedung ini masih terlihat gagah dan harapannya ke depan bisa lebih gagah lagi. Karena, kondisinya sekarang kurang terawat dan  tertutup rimbunnya pepohonan di pinggir jalan, membuatnya tak terlihat  keren. Dan lagi, kami pun nggak bisa masuk. Alasannya, gedung ini tengah mengalami perbaikan untuk bisa segera dijadikan Gedung Kesenian Jakarta bagian timur. Ditunggu deh, jadinya. 🙂

Menurut info Mbak Rita, bangunan cakep ini dulunya tempat tinggal si Meester Cornelis loh. Yang kemudian diambil alih oleh pemerintah dan berubah pemanfaatannya.

IMG_20160312_093618_HDR
Rumah Si Mesteer

5.  Ternyata Jatinegara ajaib juga. Ada apalagi disini?

Nah, setelah dari rumah Mesteer, kami memasuki jalanan kecil di sebuah gang pemukiman padat penduduk. Tujuan kami selanjutnya adalah melihat kelenteng. Nggak yakin juga ada tempat peribadatan di dalam jalan sesenggol- menyenggol ini. Tapi nyatanya ada, sodara!

Vihara Dharma Kumala di dalam gang
Vihara Dharma Kumala di dalam gang

Dan kelenteng mungil bernama Dharma Kumala ini ternyata mulanya milik perseorangan. Saat ini keberadaannya diurus oleh keturunan dari si empunya. Kerennya lagi, antara si engkong dan keturunannya ini berbeda keyakinan loh. *happy tears*

IMG_20160312_095823_HDR


IMG-20160410-WA0028

6.  Wah, ternyata Jatinegara menyimpan bukti kerukunan beragama. Apa ada bukti lainnya?

Ada. Selain kelenteng, beberapa jauh darinya juga dibangun sebuah mesjid bersejarah. Namanya Masjid Jami’ Al Anwar yang berada di Rawa Bunga. Menurut keterangan Mbak Rita, mesjid ini dibangun oleh 12 desa disekitar mesjid. Itulah kenapa pilar yang menjadi penyangga mesjid berjumlah 12. Meski sudah dibangun sejak tahun 1800-an, mesjid ini tetap tegap berdiri karena sudah mengalami renovasi bolak- balik. Pada masanya, mesjid satu ini termasuk yang terbesar loh di Jatinegara. Kalau untuk ukuran sekarang mah, ya jauh lah…. Oya, fakta menarik lainnya dari mesjid ini adalah bahwa di dalam tiang yang sudah menjadi tembok itu, di dalamnya masih berupa kayu jati yang terpancang sejak awal mesjid berdiri!

12 pilar Masjid Al Anwar
12 pilar Masjid Al Anwar

7.  Makin tercengang dengar fakta Jatinegara. Kemana lagi setelah itu?

Setelah melewati mesjid, kami bertemu vihara. Lokasi lebih tepatnya ada di kawasan Pasar Lama Jatinegara. Sebuah pasar yang kalau kamu mau mencari perkakas sehari- hari, seperti sapu ijuk, gerabah, alat tukang, dan teman- temannya, mudah dijumpai disini.

Pasar Lama Jatinegara. Sedia 'palugada'  (credit: Mohammad Zaki)
Pasar Lama Jatinegara. Sedia ‘palugada’  (credit: Mohammad Zaki)

Nah vihara di depan deretan pedagang ini bernama Amurva Bhumi. Berukuran lebih besar dan berada di jalan yang lebih lebar dari kelenteng yang sebelumnya kami datangi. Ternyata usia vihara ini sudah lebih dari 300 tahun! Terus terang kami sampai takjub sendiri.

img_20160312_111656_hdr-2
Amurva Bhumi yang megah (credit: Mohammad Zaki)
img_20160312_111921_hdr-2
Di dalam Amurva Bhumi yang merah meriah (credit: Mohammad Zaki)

8.  Epic! Apa ada lagi yang lebih epic dari vihara jadul tadi?

Ada dong.  Sebelum perjalanan kami berakhir, Mbak Rita melewatkan kami kesebuah lokasi yang bisa bikin siapa saja yang melewatinya mengelus dada. Atau minimal prihatin. Dia adalah kawasan Kampung Pulo.

Kawasan yang super padat penduduk tapi sangat nggak layak ini sekarang sedang mengalami perbaikan. Bapak Gubernur DKI Jakarta yang begitu sigap sepertinya sedang gemas- gemasnya buat merelokasi penduduk dan merapihkan kawasan ini. Memang harus begitu kalau tidak mau kawasan bantaran kali ini menjadi langganan banjir terus- terusan.

IMG_20160312_110443_HDR_1458279168419
Yang segede upil dalam lingkaran itu anak kecil lagi berenang dengan santainya. Padahal arusnya lumayan deras.
IMG-20160410-WA0020
Di balik bangunan yang mau roboh ini, warga masih sempat terlihat tenang dan tetap berkegiatan seperti biasa -____-“
IMG-20160410-WA0017
Menurut kalian, ini harus diapakan? (credit: Mohammad Zaki)

9.  Serem juga yah. Bisa sampai berenang begitu. Dimana akhirnya rombongan tur berhenti?

Ceritanya belum selesai. Kami masih melewati sebuah sekolah katolik bernama St Maria de Fatima sebelum mengakhiri tur. Meskipun namanya sama dengan gereja yang ada di Glodok sana, tapi ini tak sama. Sekolah ini dulunya dibangun oleh usaha 6 orang zuster yang didatangkan dari Belanda. Beliau- beliau ini tergabung dalam kongregasi Gembala Baik. Dalam tugasnya ke Batavia mereka mengasuh anak- anak terlantar. Melalui bantuan banyak pihak, mereka pun akhirnya bisa membeli tanah yang saat ini masih berdiri kokoh di atasnya Sekolah Katolik St. Maria de Fatima.

St. Maria de Fatima
St. Maria de Fatima

10. Ternyata selain kelenteng, mesjid, vihara, ada pula sekolah katolik ya. Simbol kerukanan beragama banget nih.

Memang. Di pos terakhir kami berhenti, adalah Gereja Koinonia yang merupakan gereja Protestan. Ia sudah ada sejak tahun 1800-an. Posisinya sekarang ada di jalan pertemuan Jatinegara dengan Matraman. Lagi- lagi, bangunan ini ada karena keberadaan si Mesteer Cornelis dan merupakan gereja pertama di sekitaran timur Batavia. Saat ini, status bangunan dari gereja Koinonia adalah bangunan cagar budaya yang dilindungi negara.

IMG_20160312_113516_HDR
Gereja Koinonia dari seberang jalan

11.  Terharu…. *happy tears again*

Oya, memang sudah seharusnya rukun dong, sesuai pengamalan Pancasila. Hehe. Oya, di depan Gereja Koinonia juga berdiri sebuah monumen. Namanya Monumen Perjuangan Jatinegara. Orang mungkin awam saat melewatinya. Tapi dibalik sosoknya, ada cerita dan filosofi yang panjang loh. Monumen yang terdiri dari sosok seorang Bapak tentara bersenjata lengkap dengan seorang anak lelaki bersenjata seadanya ini banyak memiliki makna. Salah satunya seperti yang dibahas oleh semboyannya yang berbunyi “Tiada Sesuatu Perjoangan Yang Lebih Luhur Daripada Perjoangan Kemerdekaan“. Jadi memang monumen ini didirikan untuk mengenang perjuangan masyarakat di sekitar Jatinegara dalam perang kemerdekaan. Keren ya. Jleb banget.

Monumennya di belakang saya. Malah selfie. Hehe... anyway, yang sedang nunduk di belakang mbak hijab pink adalah Mbak Mumun Indohoy. So glad bisa seperjalanan sama dia! :) Dan yang bertopi cokelat tepat di belakang saya adalah tour guide kami hari itu, Mbak Rita.
Monumennya di belakang saya. Malah selfie. Hehe… anyway, yang sedang nunduk di belakang mbak hijab pink adalah Mbak Mumun Indohoy. So glad bisa seperjalanan sama dia! 🙂 Dan yang bertopi cokelat tepat di belakang saya adalah tour guide kami hari itu, Mbak Rita.

Dan satu lagi, sebelum perjalanan kami benar- benar berakhir. Kami menuju ke sebuah jembatan penyeberangan tak jauh dari Monumen Perjuangan tersebut. Lagi- lagi mbak Rita bikin kami plonga-plongo dengan cerita sejarah yang ia bagi.

Pernahkah kalian terpikir kalau Jatinegara ini dulunya pernah berdiri sebuah benteng? Mbak Rita menjelaskan dari atas jembatan penyeberangan dan menunjuk kekejauhan. Bahwa tak jauh dari tempat kami berdiri saat ini dulunya ada benteng berbentuk bintang tujuh lengkap dengan persenjataannya. Namun jejaknya sekarang sudah tidak ada sama sekali. Sayang yaa 🙁

IMG-20160410-WA0022
Kuinonia dari kejauhan (credit: Mohammad Zaki)

Bukti keberadaan benteng bisa dilihat dengan adanya parit besar di kawasan Matraman. Nggak jauh dari shelter TransJakarta Kebon Pala. Coba deh cek di bawah jalur rel kereta penghubung stasiun Jatinegara dengan Manggarai. Ada sebuah parit disitu, persis di bawah viaduct. Itulah yang menjadi bekas dari benteng yang dulunya pernah ada.

Tuh kan, lagi- lagi kita nggak sadar kalau jalur yang kita dan kereta lewati dulunya adalah tempat yang penting.

12. Iya banget. Ternyata ada banyak hal yang sering kita abaikan dari tempat yang biasa kita datangi sehari- hari.

Ya, dan tugas kita mencari tahu, sih, sebenarnya. Hehe.

Oya, tur kami selesai di jam makan siang. Lepas dari kegiatan tur dengan Tim Jakarta Good Guide, kami melepas lapar dan haus di Gado- gado yang terkenal seantero Jatinegara. Apalagi kalau bukan Gado- gado Jatinegara. Dibalik tempat yang sederhana, ada masakan yang lezat menanti. Selain gado- gado, tempat makan ini juga terkenal dengan laksanya yang bisa diadu. Harganya pun nggak bikin kantong jebol. Perut aman, dompet pun demikian!

Jadi, sampai disini jalan- jalan citytour kami di Jatinegara. Seru banget dan nggak menduga Jatinegara menyimpan cerita sebanyak itu. Justru tempat yang dekat, sering lewat meski selewat malah yang paling sering terlewat ya. Memang bepergian nggak harus selalu menunggu destinasi yang jauh. Karena yang penting adalah nilai tambah yang didapat setelah kita menyempatkan mencari tahu tentang tempat yang kita kunjungi. Betul? 🙂

IMG_20160312_095518
Tim jalan- jalan Jatinegara (ki-ka: Zaki, Dimas, Hening, Ian. Ula)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *