Dieng, Rumah Dewa Yang Lainnya (1)

Di postingan saya (Hening) beberapa tahun lalu, saya pernah bercerita tentang sowan ke ‘teras rumah’ para Dewa. Yaitu di Ranu Kumbolo, Semeru. Sementara, yang disebut rumahnya adalah Mahameru, puncak dari Semeru. Ternyata, saya akhirnya tahu kalau dewa- dewa ini juga punya ‘rumah’ yang lain selain disana. Lokasinya berada di Dataran Tinggi Dieng, Banjarnegara- Wonosobo, Jawa Tengah.

Kalau saya jadi salah satu Dewa- dewa itu, saya pun akan dengan senang hati memilih Dieng sebagai rumah. Bukan masalah harga tanahnya yang masih murah. Melainkan pemandangannya yang indah. Ditambah lagi udara dingin pembeku tulang yang acap berhembus tak tahu arah. Sungguh lokasi strategis membangun rumah yang brilian agar tak diganggu tamu yang mau minta termos es atau niat ngutang.

Namun, namanya tamu, kadang memang suka tak tahu malu. Meski butuh usaha buat dijangkau, Dieng yang juga dinobatkan sebagai dataran tinggi tertinggi di Jawa, nyatanya tak pernah sepi disatroni tamu- tamu para Dewa. Dewasa ini, mereka disebut pelancong. Saya salah satunya.

IMG_20160515_120837_HDR
Ladang kotak- kotak macam patchwork yang bisa kamu temui sepanjang jalan ke dan dari Dieng

Setelah sering dihasut berbagai sosial media, beragam wacana, dan doa agar bisa kesana yang tak putus, jawaban itu akhirnya datang juga. Teman- teman Dimas yang sebelumnya mengajak ke Pangrango (ceritanya ada disini dan disini), berbaik hati mengabari kalau mereka akan ke Dieng. Tak pakai lama, kami yang banci jalan-jalan pun pasang badan.

“Anak- anak mau ke Prau,” kata Dimas. Prau, buat yang belum tahu, adalah gunung yang berada di Dieng (2.565 mdpl). Hm… mengingat kami yang sangat jompo dan minta digelindingin kalau urusan daki- mendaki, maka saya pun mengajukan ide yang sungguh ciamik. “Kita jalan sendiri gimana? Disekitar Dieng banyak tempat bagus,” kataku.

Singkat cerita, Dimas mengiyakan dan mulai menghimpun kekuatan informasi.

Hari yang ditunggu tiba. Tak banyak barang yang dibawa karena kami sudah meniatkan berwisata. Berangkat dari Stasiun Senen pukul 21.00, kami menggunakan KA. Serayu menuju Purwokerto. Harganya sumpah, bikin saya terharu. Hanya IDR 68.000. Bahagiaaa… 😀 #prinsipibuibu #cariyangtermurah #hematpangkalkaya #buatnabungsekolahanak

Say 'Hi' first to the camera, please
Say ‘Hi’ first to the camera, please

Oya, kenapa Purwokerto? Karena menuju Dieng dari Jakarta, paling umum ditempuh dengan cara demikian. Baru kemudian dilanjutkan dengan naik bus atau sewa angkot ke Dieng.

Saat menaiki Serayu ini, saya kembali teringat dengan perjalanan ke Bandung (cerita disini) menggunakan kereta yang sama.

Yah, meskipun sekarang KA Ekonomi kondisinya lebih baik dari waktu pergi ke Bali enam tahun lalu, price does matter, Sodara. Ekonomi tetap bukan Eksekutif. Duduk nyaris 12 jam dengan bangku begitu dan bantal begini, tentu tak bisa disebut nyaman. Beruntung ada teman serombongan yang tak jadi ikut. Kaki panjang kami masih bisa dapat ruang untuk selonjoran. Alhamdulillah.

Oya, sedikit drama menjelang keberangkatan. Dua teman Dimas tak datang- datang. Rombongan dibuat menunggu. Usut punya selidik, ternyata ada masalah dengan tenda. Bijak (ini nama sungguhan, bukan alias), teman Dimas si empunya tenda, ternyata baru ngeh kalau tendanya nggak punya pasak. Ia mengaku harus mengganti pasak itu dengan berpikir keras dan cerdas. Diputuskannya menggunakan hanger alias gantungan baju yang sudah dipatah- patahkan sebagai gantinya. Mendengarnya, saya agak gagal paham. Apakah pilihan itu sebijak nama si pembuat keputusan konyol ini? Entahlah.

Dan drama kecil lain menyusul kemudian. Tentang kita yang mulai kelaparan, dan pantat yang mulai pegal- pegal. Namun setelah perjuangan panjang menahan rasa itu, sekitar pukul 07.30 pagi, kami tiba di Purwokerto. Masih dengan perasaan yang sama. Hahaha.

But show must go on. Prrjalanan dilanjutkan dengan menyewa angkot. Kami menuju Dieng hingga empat jam ke depan. Melewati jalan berliku dan goyangan yang aduhai.

Seperti perjalanan yang sudah- sudah, saya pribadi selalu berusaha mendapatkan sesuatu untuk dimaknai. Entah dari hal baru, teman baru, atau bahkan kenangan lama rasa baru. #cieebaper.

Iya, saya baper.

Saya memang akan pergi ke tempat baru, dengan orang-orang baru (kebetulan di rombongan ada teman- teman Dimas selain dari rombongan Pangrango). Tapi kenangan lama nggak selalu bisa ditebak kapan mau kembali, kan?

Di dalam angkot yang bikin kaki saya macam kursi lipat itu, saya menyimak percakapan antara Dimas dan teman- temannya. Percakapan tentang si A menikah dengan si B. Si C yang lagi nyicil rumah. Si D lagi menjalankan bisnis ini itu. Si E anaknya udah 10 (oke ini saya yang bilang, anyway). Si F yang masih tetap bully-able. Dan mereka- mereka yang masih saja terjebak dalam urusan pilih memilih jodoh (baca: ya teman- temannya Dimas di dalam rombongan ini).

Saya dipojokan kiri. Nguping pembicaraan pria-pria dewasa :)))
Saya dipojokan kiri. Nguping pembicaraan pria-pria dewasa :))) (credit: Megawati Sriayu)

Kemudian dalam hati, saya sedang mereka-reka memori yang sama. Bagaimana kalau adegan di depan saya ini terjadi 6-7 tahun yang lalu. Masa saya rajin- rajinnya nggembel sana- sini demi blusukan masuk hutan (ceritanya ada disini, sini, dan sini)? Pembicaraannya masih seputar tugas kuliah, ngomongin dosen, target lulus, target IP, mau kerja jadi apa, si A pacarnya sekarang siapa, dan obrolan dewasa muda lainnya. Ah ternyata waktu berlalu begitu cepat. Hahaha… #getir

Salah satu kejadian yang sama. 6 tahun lalu saat menuju Bali :')
Salah satu kejadian yang sama. 6 tahun lalu saat menuju Bali :’)

Baper saya pada akhirnya cepat tertangani ketika angkot kami memasuki kawasan Dieng. Belum apa- apa, para Dewa sudah memberi sambutan selamat datang berupa angin pujaan hujan (bukan lagu Payung Teduh), yang dingin merajam falanges, belikat, selangka, hasta, pengumpil, atau intinya semua belulang.

Sambil menahan dingin menunggu hujan reda, dan teman- teman yang mau naik ke Prau bersiap- siap, kami berdua berkeliling mencari tempat bermalam. Nggak perlu khawatir, di sekitar Dieng, bertebaran tempat menginap berbagai model dan harga. Salah satunya Home Stay Bougenvil milik Ibu Sunarti yang akhirnya menjadi pilihan untuk kami tempati.

Buat teman- teman yang mau ke Dieng bisa kontak beliau di 081327072112. Dengan kasur spring bed, seprai yang bersih, kamar mandi air panas yang oke, ada pula yang dengan TV, sudah bisa didapat dengan harga bersahabat. Lokasinya pun strategis. Namun, pastikan apapun home stay pilihan kalian, cek kondisinya dulu, kemudian tanya harga. Jangan buru- buru memutuskan.

Untuk urusan perut, sangat mudah dicari sekitar Dieng. Bisa pula meminta pemilik home stay untuk menyiapkan makan. Harga rata- rata sekali makan cukup IDR 20.000 saja dengan menu prasmanan. Nggak ketinggalan, di sekitar Dieng juga banyak persewaan motor. Ada pula home stay yang juga sekaligus menyewakan motor. Sekali lagi, jangan lupa tanya sebelum sewa, ya.

Setelah penginapan di dapat, dan hujan mulai reda, kami bersepuluh mulai melanjutkan keseruan di Dieng. Apa yang terjadi kemudian ya?

(to be continued…)

NB: Sebelum berlanjut, sila cek resume perjalanan kami ke Dieng, disini! 🙂

 

You may also like

13 Comments

  1. “Oya, sedikit drama menjelang keberangkatan. Dua teman Dimas tak datang- datang. Rombongan dibuat menunggu. Usut punya selidik, ternyata ada masalah dengan tenda. Bijak (ini nama sungguhan, bukan alias), teman Dimas si empunya tenda, ternyata baru ngeh kalau tendanya nggak punya pasak. Ia mengaku harus mengganti pasak itu dengan berpikir keras dan cerdas. Diputuskannya menggunakan hanger alias gantungan baju yang sudah dipatah- patahkan sebagai gantinya. Mendengarnya, saya agak gagal paham. Apakah pilihan itu sebijak nama si pembuat keputusan konyol ini? Entahlah.”

    Paragraf singkat yang berhasil bikin gue ngakak sampe temen sebelah yg make headset pun nengok :)))))))

  2. jadi karena perjalanan yang luar biasa berat dan membatu #eh berbatu lebih baik duduk di depan, jangan duduk di belakang apalagi menghadap belakang.
    perjalanan ke dieng memang perjalanan luar biasa syantik, dan tetep sosis adalah makanan terenak selama di atas
    ssttt terungkap sudah rahasia kenapa rahman begitu kuat, No Sosis, No Mie instan, No Kopi, Wafer / roti sama bandrek saja sudah cukup buat dia naik turun dieng beberapa kali 😀
    Lol

    anyway makasih hening atas dokumentasi perjalanan hati ini #eh maksudnya jalan-jalan liburannya 😀
    tulisan yang bagus

    1. terimakasih mas hafiz. hahahaha, marilah kita teruskan acara halan- halan ini.
      oh, mau ditulis banget nih perjalanan hatinya? kalo iya sih kita berangkaattt~~~ :)))

  3. sangat menarik dan sangat menghibur penuh dengan drama dari awal perjalanan sampai kembali ke jakarta..ayook lain kali kita naik semua ke puncak untuk menikmati golden sunrise dan bintang 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *