Dieng, Rumah Dewa Yang Lainnya (2-end)

Melanjutkan dari postingan tentang trip ke Dieng sebelumnya

Hujan yang mereda pertanda kami dikehendaki untuk melanjutkan agenda jalan- jalan. Teman- teman memilih berjalan kaki ke Telaga Warna. Sementara, saya dan Dimas langsung menuju Batu Ratapan Angin atau disebut juga Batu Pandang.

Menggunakan motor yang disewa, kami melewati area Dieng Plateau Theatre. Posisi Batu Pandang sendiri ada tepat di belakang atas gedung Dieng Plateau Theatre. Bisa dikatakan, mereka berada dalam satu kompleks.

Biaya masuk ke kawasan ini terjangkau saja. Cukup IDR 10.000/ orang, belum termasuk parkir.

Dieng Plateau Theatre yang mirip Keong Mas di TMII
Dieng Plateau Theatre yang mirip Keong Mas di TMII

Setibanya di Dieng Plateau Theatre, kami harus menaiki jalanan menanjak untuk menuju Batu Pandang. Harus berhati- hati mengingat kanan- kiri dibatasi lereng berbatu. Plus akibat baru hujan, jalanan juga licin. Dan begitu kami tiba di Batu Pandang, kami nggak bisa segera foto- foto. Bukan karena antre, melainkan hujan deraaassss… 🙁

Untung saja ada pondokan kecil yang terletak di sekitar Batu Pandang. Setelah berteduh beberapa saat, kami memberanikan diri menuju Batu Pandang.

Batu Pandang a.k.a Batu Ratapan Angin. Agak ngeri- ngeri sedap buat berdiri disini hehe
Batu Pandang a.k.a Batu Ratapan Angin. Agak bikin jantung nyes- nyesan buat berdiri disini hehe

Sedikit informasi, dari Batu Pandang ini pula, kita bisa menengok ke bawah. Pemandangan Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang indah menjadi daya tariknya. Konon saat cerah, air dari telaga ini bisa berubah- rubah warna saat ditempa sinar matahari. Sayang saat sore itu hanya ada kabut yang menutupi. Jangankan danaunya, matahari saja nggak nampak.

Sebenarnya ada pula jujugan berupa flying fox sepanjang 200 meter disini. Juga tempat bernama Jembatan Merah Putih yang letaknya lebih di atas dari Batu Pandang ini. Namun dengan cuaca seekstrim hari itu dan angin yang tak tahu adat, rasanya untuk bisa naik ke atas lagi sangat mustahil. Ngeri- ngeri sedap.

Akhirnya kami memutuskan turun dan masuk ke dalam Dieng Plateau Theatre. Ternyata di dalamnya sedang dilangsungkan pemutaran film dokumenter mengenai apa dan siapa Dieng itu sendiri. Bahwa ternyata, Dieng memiliki banyak rekahan kawah yang menimbulkan gas beracun dengan kadar CO2 yang tinggi.

Disebutkan pula dalam film tersebut, pernah terjadi gempa yang mengakibatkan salah satu kawah semakin lebar retakannya. Dalam kejadian itu, ratusan korban jiwa berjatuhan akibat menghirup gas beracun. Innalillahi wa innailaihi roji’un….

Puas menikmati area Dieng Plateau Theatre, kami sempat bertanya ke penduduk sekitar. Hal apa yang bisa dinikmati saat malam hari nanti di Dieng? Ternyata, nggak banyak rekomendasi. Akhirnya kami putar- putar jalan untuk makan, beli oleh- oleh, dan duduk- duduk.

Oleh- oleh Dieng nggak hanya buah carica dan kentang. tapi juga merchandise keren di Toko Dihyang ini. Modelnya kekinian. Sablonnya bagus dan bahannya enak *bukan promo*
Oleh- oleh Dieng nggak hanya buah carica dan kentang. tapi juga merchandise keren di Toko Dihyang ini. Modelnya kekinian. Sablonnya bagus dan bahannya enak *bukan promo*

Sementara kami berdua magabut maksimal, teman- teman kami malah sibuk berjuang menaklukkan hawa dingin. Ya, selepas magrib, delapan orang dari rombongan kami yang berjumlah 10 orang ini berangkat menuju Gunung Prau.

Teman- teman yang naik ke Prau
Teman- teman yang naik ke Prau (Credit: Ahmad T. Hafiz)

Menurut cerita mereka, kondisi di atas sangat tidak nyaman. Angin berhembus terlalu kencang. Antara air kabut dan air hujan sudah saru bedanya. Yang pasti tenda mereka basah tak karuan.

Bukan lagi ruwatan rambut gembel. Ini lagi cari kehangatan (Credit: Megawati Sriayu)
Bukan lagi ruwatan rambut gembel. Ini lagi cari kehangatan (Credit: Megawati Sriayu)

Belum lagi tenda sempat roboh tertiup angin. Diduga ini adalah tenda berpasak hanger yang dengan cerdas direka- reka Bijak. Yayaya.

Tenda yang penuh drama
Tenda yang penuh drama (credit: Ahmad T. Hafiz)
Kisah di balik robohnya tenda kami :))) (Credit: Megawati Sriayu)
Kisah di balik “robohnya tenda kami” :))) (Credit: Megawati Sriayu)

Gubraknya lagi, saat tenda itu roboh, ternyata di dalamnya adalah teman- teman cewek yang sedang berusaha tidur. Sudah kaku tak berdaya akibat hawa dingin, mereka pasrah saja tertimpa tenda. Lalu apa yang teman- teman cowok lakukan di tenda sebelah?

Sama. Mereka juga sedang berupaya menahan dingin yang menusuk hingga kalbu. Sampai bisa nggak peduli kalau tenda di sebelahnya nggak berbentuk lagi. Akibat cuaca yang ekstrem itu pula, barang bawaan teman- teman yang berangkat ke Gunung Prau basah total.

Puncak Prau
Puncak Prau, 2.565 mdpl. Jangan nyari kami di foto ini, lagi makan Mi Ongklok di bawah hehe… (credit: Ahmad T. Hafiz)

Nah. Setelah kejadian super drama tadi, rupanya Dewa- dewa di Dieng masih belum berbaik hati menjamu tamunya.

Nggak sedikit yang bilang, sunrise di Dieng too good to be true. Shouldn’t be missed. Teman- teman yang di Prau sudah siap menjelang sunrise dengan badan kaku- kaku nyaris beku. Sementara saya dan Dimas sudah berangkat jam 04.00 pagi menuju Sikunir untuk hal itu. Tapi ibarat kata Ibu Kartini ‘habis gelap terbitlah terang’, di Dieng hari itu, tak berlaku. Kabut tebal malah menjadi- jadi. Sunrise yang dinanti baik di Prau maupun di Sikunir nggak nampak juga.

Matahari tak tahu diri. Sudah ramai ditunggu. Sudah beku kelu. Dewa- dewa cuma sedikit buka jendela. Begitu muncul sinarnya, hilang lagi ia ditutup tirai kabut.
Matahari tak tahu diri. Sudah ramai ditunggu. Sudah beku kelu. Dewa- dewa cuma sedikit ‘buka jendela’. Begitu muncul sinarnya, hilang lagi ia ditutup tirai kabut.

Oya, untuk menuju Sikunir, jalannya memang agak meragukan. Sempat terpikir kami berdua salah jalan. Sudahlah jalanan gelap kurang lampu, kabut tebal luar biasa, kendaraan lain yang berpapasan hanya satu- dua, eh, yang nampak malah PLTU- PLTU di sepanjang jalan. Baru selang beberapa menit kemudian, keraguan itu terjawab dengan kelap- kelip lampu Desa Sembangun, desa tertinggi di Pulau Jawa.

Dengan membayar tiket masuk IDR 15.000 (sudah termasuk parkir), kami dibuat ternganga tak karuan. Ternyata di dalam Sembangun, yang menjadi meeting point para penanjak bukit Sikunir, ramai sekali. Beda jauh dengan jalan yang kami lewati sebelumnya. Yang lebih mirip Silent Hill daripada tempat wisata.

Bahkan, keramaian ini terus berlangsung hingga kami menyusuri jalan setapak Sikunir. Persis seperti rombongan haji lagi manasik. Beragam usia tumpah ruah disini demi sunrise yang katanya cantik layaknya telur ceplok itu.

IMG_2134
Para pemburu sunrise yang berakhir selfie- selfie dengan latar kabut.
IMG_20160515_055756_HDR
Jemaah sunriser :)))

Tiba di puncak Sikunir, sunrise yang ditunggu- tunggu nggak muncul- muncul. Sempat sebelumnya langit memberi harapan karena semalam menunjukkan bintang- bintang. Dalam hati sudah berharap agar hujan tak datang. Tapi Tuhan selalu sukses dengan rencanaNya. Sebagai ganti hujan, kabut diturunkan. Putih tanpa kecuali. Matahari yang baru terbit pun hanya sempat terlihat sesekali kemudian hilang lagi sepanjang hari.

IMG-20160516-WA0010
Nggak dapat sunrisenya, yang penting eksisnya

Putus asa dengan Sikunir yang PHP, kami menuju Kawah Sikidang. Kawah ini termasuk yang mudah dicapai dibanding kawah lain di Dieng. Aktivitas kawahnya pun relatif lebih ‘ramah’.

Dalam bahasa setempat, Sikidang berarti ‘seperti Kijang’. Dinamakan demikian karena magma dari dalam kawah bisa loncat- loncat dan berpindah dari titik satu ke titik lainnya. Lincah seperti kijang.

Kawah Sikidang yang lincah seperti Kijang
Kawah Sikidang yang lincah seperti Kijang
Orang- orang yang penasaran telur rebus kawah -____-' gimana rasanya ya?
Orang- orang yang penasaran telur rebus kawah -____-‘ gimana rasanya ya?

Sementara buat saya, kawah satu ini seperti gas perut alias kentut. Dengan bau belerangnya yang menyengat luar biasa. Oya, untuk berada di kawasan ini, upayakan tidak terlalu lama. Gas belerang yang terhirup juga dapat berbahaya. Ditambah lagi hari itu kabut yang tebal berbaur dengan asap belerang. Nggak bisa dibedakan antara keduanya.

Bau kentutnya bumi. Ga enak...
Beginikah bila bumi kentut? Ga enak baunya…

Puas memenuhi paru-paru dengan bau belerang, kami menuju kawasan Candi Arjuna. Candi yang tak seberapa besar namun diduga pengaruh arsitekturnya mengadopsi gaya candi di India. Bersama candi Arjuna, ada pula Candi Srikandi, Semar, Puntadewa, dan Sembadra. Kabarnya, candi- candi tersebut digunakan untuk sembahyang. Terutama kepada Dewa Syiwa.

Kompleks candi ini pertama kali ditemukan pada abad 18 oleh seorang tentara Belanda, Theodorf Van Elf.

Saat upacara Galungan, candi ini juga akan ramai orang- orang yang akan beribadah. Seramai bila anak- anak Dieng berambut gembel akan diruwat di candi ini. Bila penasaran dengan anak rambut gembel dari Dieng, teman- teman bisa melihatnya di acara Dieng Culture Festival.

Berdasar info yang kami tonton di Dieng Plateau Theatre dan informasi di Kailasa, penyebab anak- anak ini berambut gembel tidak diketahui dan masih jadi misteri. Biasanya mereka akan sakit panas jangka panjang. Untuk bisa sembuh dan rambutnya nggak gembel lagi, anak- anak ini harus menjalani ritual ruwatan. Berupa pemotongan rambut disertai upacara- upacara adat. Plus keinginan ruwatan ini harus dari anak itu sendiri. Apapun keinginan si anak dalam upacara itu (misal: minta dibelikan sepeda), harus dituruti.

Aank berambut gembel ini juga dipercaya sebagai pembawa rejeki atau malah pertanda buruk.

Candi Arjuna dan kawan- kawan. Saat kesini, ada candi yang tengah di renovasi.
Candi Arjuna dan kawan- kawan. Saat kesini, ada candi yang tengah di renovasi.
Candinya ST 12, Candi Setiaku. hehehehe
Candinya ST 12, Candi Setiaku  Setyaki. hehehehe. Candi ini digunakan untuk persembahyangan kepada Dewa Syiwa.

Di kompleks candi ini pula ada sebuah museum bernama Kailasa. Di dalamnya tersimpan artefak- artefak candi Hindu juga informasi lain mengenai Dieng dalam tampilan yang menarik. Sayang saat kami kesana, nggak banyak orang yang mau mengunjunginya. Padahal tiketnya hanya IDR 5.000. Pengunjung lebih senang berfoto daripada memperkaya pengetahuan mengenai tempat tujuan liburannya. Hehehe. #justsaying

Museum berisi artefak dan info- info tentang Dieng. Dari awal pembentukan Dieng secara geologis hingga penjelasan kehidupan budaya masyarakat sekitar. Kailasa diambil dari nama gunung tempat tinggal Dewa Syiwa.
Museum berisi artefak dan info- info tentang Dieng. Dari awal pembentukan Dieng secara geologis hingga penjelasan kehidupan budaya masyarakat sekitar. Kailasa diambil dari nama gunung tempat tinggal Dewa Syiwa.
View dari taman di belakang Museum Kailasa.
View dari taman di belakang Museum Kailasa. Taman dan museum sama- sama berada di sebuah bukit bernama Bukit Pangonan.
Candi Gatotkaca, di depan Museum Kailasa.
Candi Gatotkaca, di seberang Museum Kailasa.

Di area Candi Arjuna ini juga ada sebuah Telaga. Balaikambang namanya. Sayang danau ini tak lagi terurus. Kabarnya setelah pengerukan, ia terbengkalai begitu saja. Hingga pada musim tertentu, cerukan itu berubah menjadi lebih padat seperti tekstur lahan gambut. Meski bisa dipijak, untuk alasan keselamatan, ada baiknya teman- teman tidak mencobanya karena berbahaya. Salah- salah, malah ambles terperosok ke dalamnya.

Area persawahan menuju Telaga Balekambang
Area persawahan menuju Telaga Balekambang

Puas berkeliling dan teman- teman dari Prau sudah kembali, kami buru- buru siap- siap buat balik ke Jakarta. Nggak kerasa udah harus balik lagi aja. Belum puas sih. Terlalu lama di jalan. Hahaha. Mungkin lain waktu akan kesini lagi. Mungkin ke Prau atau sekedar wisata hore. Yuk ah, perjalanan masih jauh 🙂

We’ll see you again, Dieng. Insya Allah.

IMG_20160515_160855
Terimakasih para Dewa buat jamuannya. Kabut Anda, luar biasa menembus jiwa raga…

 

You may also like

3 Comments

  1. “Tidak ada yang namanya perpisahan, adanya SEE YOU NEXT TRIP” <– jadi kalimat favorit mas Hafiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *