Maspati, Kampung Bersejarah Arek Suroboyo

Terus terang, biarpun berasal dan keturunan asli Surabaya dari kedua pihak orangtua, nggak bikin saya (Hening) tahu- tahu banget soal Surabaya. Ketidaktahuan yang awalnya biasa- biasa aja, kerasa jadi nyelekit gara- gara baca postingan beberapa travel blogger yang saya follow soal Surabaya.

Suatu ketika, blogger- bogger ini mendapat undangan dari Pelindo III untuk meliput soal Surabaya North Quay yang baru saja diresmikan dan dibuka untuk umum. Lanjut kemudian, mereka meneruskan perjalanan dengan menyambangi sebuah kampung yang juga masih di bawah binaan Pelindo III. Nama kampungnya adalah Kampung Lawas Maspati.

Hmm… dimana itu? Saya nggak inget sama sekali. Disitu saya merasa kelangkahan sama blogger- blogger tadi.

Begitu cerita sama Ibu, malah Ibu bilang kalau Mbah Kakung (Bapaknya Ibu), keluarga besarnya jaman dahulu kala banyak yang tinggal disitu (sekarang sih nggak tahu, deh, hehehe….).

Apa sih yang bikin kampung yang dulunya sama kayak kampung lainnya ini jadi hits? Sampai- sampai Ibu Walikota Surabaya, Bu Risma, meresmikannya jadi kampung wisata sejarah? Sampai blogger- blogger ini seru banget ngebahas meriahnya kegiatan di kampung ini?

Daaannn… penasaran itu terjawab saat saya pulang ke Surabaya kemarin.

Bersama teman- teman yang awalnya bingung mau kemana jalan- jalan di Surabaya, salah satu dari mereka nyeletuk, “Mbak, sudah pernah ke kampung Maspati, ta?”

TING!

Saya langsung keinget sama postingan blogger- blogger itu (ini link blog milik salah satu blogger yang datang ke Kampung Maspati dan manas-manasin saya yang orang Surabaya tapi nggak tahu apa- apa soal kampung ini). Nggak pakai lama, ajakan teman saya itu langsung saya iyain.

Meluncurlah kami kearah Jalan Bubutan, Surabaya. Nggak jauh dari sana, terletaklah kampung lawas ini.

Mobil diparkir di pinggir jalan, karena memang kendaraan selain roda dua nggak mungkin bisa masuk ke dalamnya. Kami pun menelusuri kampung ini dari gerbang gang Jalan Maspati V. Gerbang yang di depannya diberi umbul- umbul sebagai penanda petualangan di kampung Maspati dimulai dari sini. Hehehehe.

img_20160918_182838_hdr
Penanda masuk ke Kampung Maspati

 

Cukup takjub juga meskipun kami datang di malam hari (sayang banget sih, harusnya kesini pagi/ siang/ sore biar lebih kelihatan). Kampung ini cukup bersih. Sangat bersih malah. Bebas dari bau- bauan got yang nggak jelas, bebas dari sampah, dan banyak banget tanaman ijo- ijo di sepanjang gang. Plus memiliki pengelolaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Kampung juga semarak dihiasi mural di beberapa bagian tembok rumah.

img-20160921-wa0003
Salah satu dinding rumah yang dihiasi mural (credit: Ike Novalina)

 

Yang pasti sih, bangunan- bangunan rumahnya memang lawas banget. Kelihatan dari model pintu, jendela, atap, yang masih sama seperti jamannya Si Mbah (Dih, kayak tahu aja jaman dulu gimana, hahaha).

@doubletrackers
Suasana malam hari di Kampung Maspati yang bersih dan adem

 

img_4082
Salah satu rumah jadul milik warga yang masih mempertahankan bentuk aslinya beserta model 😉 (ki- ka: Zahra, Rima, dan Ike. Ketiganya masih single dan available #eh)

 

Kami udah kayak Pak Jokowi aja yang blusukan di gang. Beberapa warga kelihatan asyik ngobrol di depan rumah dan anak- anak juga seru main sepatu roda di jalanan gang. Beberapa mau pergi solat Isya’ berjemaah di langgar terdekat. Suasana yang bikin saya maknyes… saking langkanya kegiatan sehangat ini di jaman moderen kayak sekarang.

img_4083
Blusukan sampai nyasar- nyasar

 

Di dalam perjalanan, kami mentok menemui sebuah plang. Salah satu tulisannya menandakan arah menuju pesarean (makam) Mbah Buyut Suruh dan pasutri Raden Karyo Sentono. Mereka ini adalah moyangnya Sawunggaling, pahlawan legenda ternama di Surabaya. Semacam Pitung-nya Surabaya lah. Berhubung sudah malam, kami nggak kesana. Yakaliii mau uji nyali ke kuburan malem- malem, cuy.

Sebenarnya kami sempat bingung juga karena buta arah. Mau kemana nih? Udah segini doang? Kalau di postingan blogger- blogger lain, kegiatan disini kayaknya seru banget. Ada jualan jajanan karya warga setempat, ada festival musik patrol, ada main mainan tradisional sama anak- anak yang tinggal disini, dan masih banyak lagi. Yah karena sudah malam, jelas kampung ini kembali ke wujud aslinya. Selow, sepi, dan anteng.

Akhirnya kami kepikiran buat balik saja dan asal memilih jalan gang buat menuju parkiran. Ehhhh lah kok malah ketemu ‘gong’-nya.

Ternyata ini dia yang jadi situs bersejarahnya. Bangunan yang ikonik dan bikin Maspati digelari kampung wisata sejarah. Bangunan eks Sekolah Ongko Loro.

Saya yang sudah sempat membaca di blog blogger- blogger tadi, sama sekali nggak mengenali bangunan ini kalau bukan gara- gara disapa seorang Bapak yang lagi duduk di atas motor di depan rumah ini. Later, saya tahu nama beliau adalah Pak Subandi.

“Ini rumah bersejarahnya, Mbak, Mas. Bekas sekolah,” saya menengok mendapati Beliau yang berjalan mendekati kami. Sepertinya Beliau mencium gelagat kami yang ‘turis’ banget dan celingukan bingung.

Ternyata benar. Ada plang berisi keterangan di depan rumah dalam cetakan huruf yang sangat kecil. Jereng banget buat di baca malam- malam.

img_4075
Keterangan di depan rumah eks Sekolah Ongko Loro

 

Pak Subandi kemudian bercerita dan mengaku sebagai keturunan ketujuh dari si empunya rumah. Beliau dan keluarganya menempati rumah bekas sekolah ini sebagai rumah tinggal lebih karena warisan orangtua saja. Dulunya, rumah ini ditempati Bapak Marsaid (saya lupa ini entah Bapak atau Kakek dari Pak Subandi). Pak Marsaid ini adalah seorang veteran pejuang kemerdekaan RI. Sama halnya dengan penduduk lain kampung ini yang dulunya banyak dihuni para veteran.

img_4068
Piagam keterangan milik leluhur Pak Subandi yang menyatakan bahwa Pak Subandi pernah memiliki leluhur seorang  veteran perang kemerdekaan.

 

Beliau dengan bangganya menceritakan kalau rumahnya (yang dulu anteng- anteng saja) mendadak ramai dan dikunjungi banyak tamu asing sampai orang penting sejak Maspati disahkan jadi kampung wisata. “Ini sudah dikunjungi bule- bule, sudah dikunjungi Bu Risma,” ucap Beliau mantap.

“Ini lo, ruang tamunya dulu bekas kelas,” tunjuk Pak Subandi saat mengajak saya masuk kedalam rumahnya. Ruangannya tidak terlalu besar. Langit- langitnya tinggi dan berlantai coklat bermotif jadul. Tidak ada perabot sama sekali selain TV tua yang ngos- ngosan menyiarkan tayangan. Dua orang wanita dan dua orang bocah yang merupakan anggota keluarga Beliau terlihat asyik nonton TV di ruangan tersebut sambil selonjoran di lantai.

“Sekolah ini kan dulu ya buat orang kampung biar bisa baca tulis gitu lo, Mbak. Biar nggak bodo,” terang beliau yang bikin kami manggut- manggut.

img_4074
Bersama Bapak Subandi, di depan rumahnya, eks Gedung Sekolah Ongko Loro (ki-ka: Retha, Saya, Ogis, Bapak Subandi, Rima, dan Ike)

 

Puas ngobrol dengan Pak Subandi, kami pun pamitan. Namun sebelumnya, Pak Subandi sempat menyebutkan satu hal penting. Bahwa menurut keterangan yang Beliau dapat dari pemerintah Kota Surabaya, sooner or later, Beliau dan keluarganya sudah tidak bisa lagi menempati rumahnya itu. Disebabkan mau serius digarap sebagai bangunan cagar budaya. Sehingga harus dikosongkan dan tidak boleh lagi dihuni. “Nanti akan dipindah, Mbak. Tapi nggak tahu kemana. Nggak tahu kapan,” sebut Beliau. Dalam hati, saya pun mengharapkan yang terbaik bagi Pak Subandi dan keluarganya.

“Mbak, disana itu ada lagi rumah sejarah lainnya, tapi kalau malam tutup. Itu dulu bekas tempatnya tentara- tentara musyawarah. Kalau mau liputan, besok pagi saja,” lanjut Pak Subandi sambil menghantarkan kami beranjak. Tangannya menunjuk ke salah satu bangunan tak jauh dari rumahnya. Kalau tidak salah ingat, bernomor 31 B. Saya nahan ketawa begitu dengar kata- kata ‘kalau mau liputan’ dari Pak Subandi. Disangkanya saya wartawan kali ya? Gaya bawa DSLR sama nanya- nanya sok iye, hehe.

img-20160921-wa0001
Disangka wartawan :))) (credit: Ike Novalina)

 

@doubletrackers
Rumah lain yang juga pernah berperan penting dalam peperangan 10 Nopember di Surabaya

 

Benar saja, rumah itu tutup. Menurut keterangan dari blognya blogger lain yang saya baca, rumah ini kalau dibuka memajang berbagai barang antik bersejarah di dalamnya. Dibangun pada tahun 1907, dulu dimiliki M. Soemargono yang sekarang sudah diwariskan kepada anak- cucunya.

img_4079
Tulisan di dalam keterangan di depan rumah M. Soemargono: “Rumah ini dibangun pada tahun 1907 dan pernah dijadikan markas tentara. Rumah ini dihuni oleh M. Soemargono hingga saat ini. Pada jaman kolonial Belanda rumah ini difungsikan sebagai tempat pertemuan pemuda dan pemudi Surabaya khususnya pemuda Kampung Maspati dan sekitarnya untuk menyususn strategi peperangan dalam 10 Nopember dimana terjadi pertempuran sengit di Surabaya pada saat itu. Sampai sekarang rumah ini masih terawat dengan baik sebagai bukti adanya Kampung Lawas Maspati di Surabaya.”

 

Selain kedua rumah tersebut, ada pula pabrik roti H. Iskak yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi losmen. Dulunya pabrik ini difungsikan sebagai dapur umum pada perang 10 November. Sayang banget kemarin kami nggak ngeh sama bangunan ini, jadi nggak mampir.

Hm… jadi ini toh yang bikin spesial. Jadi selain kampung yang bersih dan asri, ternyata memang ada beberapa situs penting di kampung ini yang ikut berperan dalam menguatkan tekad kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kalau teman- teman berkunjung ke Surabaya, jangan lewatkan kampung ini ya! Kabarnya, kampung ini lebih baik dikunjungi di hari Minggu. Karena kita bisa menjumpai beragam atraksi meriah yang digelar warga kampung ini. Dan yang paling penting, sih, paling baik jangan berkunjung kesini malam- malam. Sepi pol, Rek! Hehehehe.

@doubletrackers
Dadahhhh Maspati, sampai jumpa lagi! (credit: Ike Novalina)

You may also like

2 Comments

    1. hanya ada rumah-rumah bersejarah saja, Mbak. Kalau beruntung datang di waktu-waktu tertentu (kalau tidak salah weekend), warga suka bikin acara di Maspati 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *