Brown Canyon, Cantik Karena Luka

Teman- teman sudah pernah ke Belitung? Pernah mendengar Danau Kaolin? Itu loh, danau berair biru yang hits menjadi jujugan pelancong yang datang ke Belitung. Tahukah kamu kalau tempat itu dulunya area tambang yang sekarang ditinggalkan? Sebuah tempat yang nampak cantik namun terbentuk karena ‘luka’ akibat kelakuan manusia terhadap alam?

Hal serupa juga terjadi di Semarang. Sebuah lokasi yang belum lama ini hits di kalangan Instagrammers karena pemandangan eksotiknya, juga terbentuk akibat ‘luka’. Brown Canyon namanya. Disebut- sebut mirip sama Grand Canyon yang ada di Colorado, Amerika Serikat sana.

Yayaya. Apa deh yang Indonesia nggak punya. Yang mirip Niagara ada, yang kayak Paris ada, yang kayak Amsterdam ada, yang kayak Bangkok juga ada, sampai yang dibilang Afrika aja ada, kok. Orang Indonesia bebas deh kalau soal kreatifitas mirip- miripin tempat. Hehehe.

usa-1183563_960_720
Grand Canyon di Colorado, Amerika Serikat (source: Pixabay)

 

Sudah dari lama punya rencana, kalau ke Semarang harus banget ke Brown Canyon. Begitu kesampaian buat bisa ke Semarang, nggak pakai lama, nanya deh sama si adek sepupu yang homebased-nya memang di Semarang.

“Dek, kamu sudah pernah ke Brown Canyon belom?” tanyaku waktu itu.

Berhubung si adek ini juga sudah lama tinggal di Jakarta dan Surabaya, maka dia pun bilang, “Belom, Mbak. Aku ya penasaran. Kesana, ta?” tawarnya.

Waktu itu hari memang  belum siang. Tapi tak ubahnya Surabaya, Semarang yang juga kota pesisir, sudah bisa bikin kita berdua kering kayak ikan asin meskipun belum juga jam sembilan.

Dan penasaran memang bisa mengalahkan keengganan. Biarpun belum mandi, keluar rumah cuma buat lihat suasana CFD di Simpang Lima, nekat juga kita berdua panas- panasan ke arah Pucang Gading.

Ternyata… lumayan, sodara. Panas iya, jauh iya. Mungkin ada setengah jam sampai empat puluh menit kami di atas motor. Untuk ukuran waktu tersebut, di Semarang tentu sudah bisa menempuh jarak yang lumayan jauh. Jelas beda sama Jakarta yang dengan waktu segitu paling baru jalan nggak sampai tiga kilo ;p

Sebenarnya agak susah juga mencari info tentang lokasi ini kepada warga setempat. Kebanyakan mereka tidak tahu ada tempat di sekitaran Semarang dengan nama sekeren itu. Jadi, kalau mau kesini dan nanya sama orang, jangan menyebut nama lokasi ini dengan nama keminggris itu ya.

Seperti kami, kebanyakan pengunjung yang menuju Brown Canyon akhirnya mencari jalan sendiri kesana dengan bantuan Google Maps. Jauh memang dari Kota Semarang. Tepatnya ada di Meteseh, Tembalang.

Dalam perjalanan, saya terus bertanya- tanya. Kok jalanan makin sempit? Kok jalanan beraspal jadi bertekstur tanah liat yang kering? Kok jadi berpapasan sama ‘ Transformer’ (baca: truk- truk pasir) begini? Tempat apa ini sebenarnya?

Dan itu terjawab waktu motor yang kami naiki makin mendekati tujuan. Nampak potongan perbukitan yang membentuk tebing cadas berjajar- jajar di kejauhan. Nggak ketinggalan kendaraan- kendaraan keruk yang sibuk gali sana gali sini.

img_20160911_085416
Tadaaaaa Brown Canyon di Semarang :))) (captured by: Satrio Raharjo)

 

Oalaahhh tambang pasir?

Antara senang akhirnya sampai di tempat yang hits, sekaligus sedih karena tahu ini hanyalah tempat galian pasir untuk bahan bangunan!

Jadi, untuk kalian ketahui teman- teman, Brown Canyon sebenarnya memang bukan tempat wisata. Dia adalah kawasan perbukitan biasa yang dimanfaatan sebagai tambang material selama bertahun- tahun. Karena sudah digali sangat lama, kawasan ini jadi memiliki pemandangan yang fotogenik bagi kalangan penyuka foto- foto. Beda sama Grand Canyon yang memang terbentuk alami karena deflasi (erosi oleh angin).

img_20160911_090304
Salah satu ‘tebing’ di kawasan Brown Canyon

 

Fungsinya sebagai area galian, harusnya menjadikan tempat ini bukan kawasan yang wajib dikunjungi kalau lagi di Semarang. Bahaya, gaes. Selain risiko tanah longsor, jalur kesini juga ngeri- ngeri sedap.

Jelas nggak bisa kalau naik kendaraan roda empat, kecuali mobil kalian model truk. Banyaknya debu dan kesempatan berpapasan dengan truk- truk pengangkut bahan material juga jadi hal yang harus diperhitungkan kalau kesini. Belum lagi kalau jalanan tanah ini menjadi licin bila dilewati sehabis hujan. Nggak jadi foto- foto yang ada malah rugi bandar.

img_20160911_090256
Naik motor kesininya, bray (captured by: Satrio Raharjo)

 

Kondisi makin jelas begitu motor makin mendekati lokasi. Banyaknya alat berat disekitar kawasan bikin ciut juga. Ini sebenarnya restricted area apa gimana? Kami pun bertanya ke salah satu orang yang sedang mengurus truk bak pasirnya.

“Boleh Mbak, silakan. Masuk aja lewat sana. Tapi hati- hati jangan terlalu dekat sama tebingnya, siapa tahu ada kerikil- kerikil dari atas. Biar kecil tapi kalau jatoh dari atas kan lumayan, ya,” ujarnya mengingatkan dalam logat Jawa yang kental parah. 😀

Mengikuti arahan Bapak tadi, kami menuruni lokasi galian. Sampai tiba- tiba si adek diberhentikan seseorang. Ngakunya jadi tukang parkir. Minta duit goceng dan sok ngasih kertas bukti parkir hasil ngeprin sendiri gitu. Ternyata ya, nggak dimana- mana, beda tukang parkir sama tukang palak makin tipis.

img_20160911_095331_hdr
Sampaiii kitaaa (inframe: my cousin, Satrio Raharjo)

 

Dan benar saja, di bawah sana, kami menemukan remaja- remaja usia tanggung begitu ramai lagi narsis foto gaya tren masa kini.

Mulai dari gaya merenung, gaya manyun, gaya loncat ramai- ramai, sampai gaya menatap masa depan. Yang paling nggak paham kalau di tempat- tempat begini itu sama yang selfie. Isi layar penuh sama mukanya sendiri gitu, mending foto di kamar sana. Nggak ada bedanya -_-“

Melihat kondisi tersebut, adikku tertawa terbahak- bahak. “Mbak,…Mbak,… tiwas jauh- jauh kesini dadakno podo karo ABG alay,” katanya. Kalimat itu kalau diterjemahkan kurang lebih artinya: “Mbak,…Mbak,… udah jauh- jauh kesini ternyata sama aja kayak ABG alay.”

Yasudah lah ya, masak udah kesini kita nggak ikutan foto- foto? Kita pun melebur tertular kealayan ABG- ABG itu.

img_20160911_092229
Gambar di crop. Sebelah kiri saya sebenarnya ada ABG- ABG alay-nya -___-” (captured by: Satrio Raharjo)

 

img_20160911_093108
Sudah mirip Grand Canyon belom?

 

img_20160911_091141
Ganteng dikit, cekrek. Nggak kok, itu nggak lagi selfie. Eh, nggak tau lagi, deng. :)))))

 

img_20160911_094551
Terinspirasi oleh gaya ABG di batu sebelah. Gaya menatap masa depan

 

Sebenarnya, dalam hati terasa nyeri. Memang terbukti ya kalau beauty is pain. Nggak akan ada tempat kekinian ini seliweran di kalangan Instagrammers kalau bukan karena dia sudah lebih dulu disakiti sama ulah manusia.

Dan entah karena sudah kadung hits atau gimana, kami bahkan menemukan plang- plang penanda bahwa Brown Canyon memang sedang digarap menjadi kawasan wisata yang sesungguhnya. Proyek yang tertulis disana bernama Brown Canyon Botanical Garden.

Hm… kira- kira akan seperti apa nantinya tempat ini? Berapa lama itu akan terjadi? Entahlah. Yang jelas, sebenarnya, kawasan ini tidak sehits yang kita lihat di Instagram kok, teman- teman. Ingat, never trust picture in square. Okeh?

Juga selalu ingat bahwa cantik itu luka. Tapi luka tidak selalu cantik. #apadeh

img_20160911_092855
Beauty is pain~

You may also like

2 Comments

  1. Tinggal di Semarang hampir 7 tahun. Dan baru tau ttg brown canyon wkt liat foto IG hening 😅. Sedih ya liatnya sebenernya,tandus. “Tempat wisata” yg salah dan gak direncanakan,tp “dibanggakan” 😅.
    Hening jalan2 ke tempat wisata yang bisa bawa anak2 donk hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *