Sam Poo Kong, Jejak Cheng Hoo di Nusantara

Pada suatu masa, datanglah seorang laksamana muslim dari Tiongkok bernama Zheng He alias Sam Po Tay Djien (dialek Hokkian) ke tanah Jawa. Oleh lidah Indonesia, nama laksamana tersebut kepleset dilafalkan menjadi Cheng Hoo. Beliau memutuskan merapat ke daratan Jawa karena anak buah kapalnya ada yang menderita sakit. Yaitu Sang Juru Mudi Wang Jinghong alias Kiai Dampo Awang.

Di utara pulau Jawa tersebut, Sang Laksamana beserta para anak buah berlindung di sebuah gua di pantai yang berbukit. Sambil menunggu anggotanya sembuh, Cheng Hoo meminta sebagian anak buah sisanya untuk mendirikan sebuah pondok agar ia bisa beribadah dan berisitirahat. Pondok itulah yang kini menjadi sebuah klenteng dan dikenal dengan nama Klenteng Sam Poo Kong, sesuai nama lain dari Cheng Hoo.

Klenteng Cheng Hoo di Simongan, Semarang
Klenteng Cheng Hoo di Simongan, Semarang

Begitu Wang sembuh, Cheng Hoo melanjutkan perjalanan. Sementara Wang yang sudah betah di Semarang jadi menetap. Bersama beberapa awak kapal yang tinggal, mereka pun menikah dengan penduduk setempat dan berketurunan di Semarang. Demi mengenang Cheng Hoo, Wang pun membangun patung Cheng Hoo di tempat mereka berlindung dulu. Kurang lebih, demikianlah asal mula berdirinya Klenteng Sam Poo Kong yang sampai saat ini masih berdiri gagah setelah melalui banyak pemugaran.

img_20160909_095451
Gerbang Klenteng Sam Poo Kong

 

Pertama kali berkunjung ke klenteng ini, usia saya baru 16 tahun. Waktu itu seingat saya sekitar Februari 2007 bersamaan dengan study tour SMA. Hampir 10 tahun lalu! Hahaha. Waktu pertama kali melihat klenteng ini, saya cukup tertarik dengan detil arsitekturnya yang khas. Dan saat kemarin kesini lagi, saya seperti mengulang waktu.

Salah satu foto teman- teman sekelas di saat study tour jaman SMA. Foto diri sendiri entah kemana.
Salah satu foto teman- teman sekelas di saat study tour jaman SMA. Foto diri sendiri entah kemana.

 

Di titik yang sama nyaris 10 tahun kemudian :))) (inframe: saya dan Arum)
Di titik yang sama nyaris 10 tahun kemudian :))) (inframe: saya dan Arum)

 

Bersama Arum, sahabat saya di kantor terdahulu, kami berkeliling klenteng yang juga dikenal sebagai Klenteng Gedong Batu ini. Disebut demikian karena dulu bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada sebuah bukit batu. Guanya sendiri sudah lama hancur tertimbun longsor ratusan tahun lalu. Sekarang gua yang kita jumpai adalah replikanya. Katanya, di dalam gua ini mengalir mata air yang tak pernah kering. Saya sih nggak tahu persis karena nggak bisa masuk kedalam. Hanya yang berkepentingan ibadah saja yang boleh masuk.

Goa Batu di dalam area Sam Poo Kong
Goa Batu di dalam area Sam Poo Kong

 

img_20160909_105057
Relief dan keterangan di area Goa Batu yang menceritakan perjalanan Cheng Hoo

 

Perubahan fungsi bangunan peninggalan Cheng Hoo menjadi klenteng karena arsitekturnya yang khas oriental tersebut dianggap para keturunan Tionghoa sebagai klenteng. Ditambah keyakinan mereka yang mempercayai bahwa orang Cheng Hoo adalah dewata pelindung Asia Tenggara, maka jadilah area ini sebagai kawasan ziarah dan sembahyang. Pemujaan Cheng Hoo memang lebih banyak di kawasan Asia Tenggara. Di negeri asalnya, Tiongkok, Cheng Hoo tidak menjadi dewata yang dipuja.

Arsitektur Sam Poo Kong yang khas oriental
Arsitektur Sam Poo Kong yang khas oriental.

 

img_3798
Salah satu bangunan di dalam area Sam Poo Kong

 

img_20160909_095506
Pendopo berarsitektur Jawa di dalam area Sam Poo Kong

 

Selama berkeliling disini, kita akan menjumpai lima bagian bangunan klenteng. Diantaranya adalah:

  • Kuil Thao Tee Kong untuk pemujaan Dewa Bumi. Tempat para peziarah datang untuk memohon berkah dan keselamatan.

img_20160909_104146

 

  • Kuil Kyai Juru Mudi alias makam juru kemudi kapal Laksamana Cheng Ho, Wang Jinghong. Ia meninggal dan dikuburkan di tempat ini.

img_20160909_103653

 

  • Kuil Kyai Jangkar, tempat penyimpanan jangkar asli dari kapal Cheng Ho. Dimanfaatka juga sebagai tempat mendoakan arwah Ho Ping atau arwah yang tidak tidak mempunyai atau keluarganya tidak diketahui sehingga mendapatkan tempat di alam sana.
  • Kuil Kyai Cundrik Bumi, tempat penyimpanan persenjataan yang digunakan para awak kapal Cheng Ho.
  • Kuil Kyai dan Nyai Tumpeng sebagai tempat penyimpanan makanan rombongan Cheng Ho.
img_20160909_104424
Patung kura- kura di kawasan Kuil Kiai Tumpeng dan Kiai Jangkar

 

 

 

Selain diabadikan sebagai nama Klenteng, kisah Cheng Hoo beserta namanya juga diabadikan sebagai nama beberapa masjid di Jawa Timur. Salah satunya ada di link cerita ini.

Oya, berbeda dengan kunjungan saya 10 tahun lalu, sekarang di kawasan ini kita bisa berfoto dengan kostum ala putri Tiongkok maupun ala Laksamana Cheng Hoo loh. Biayanya mulai dari 90 ribu Rupiah ke atas.

img_20160909_095702
Di cafe ini, kita bisa membeli minuman dan camilan. Termasuk beberapa suvenir untuk oleh-oleh. Bila teman- teman berminat berfoto dengan kostum ala Tiongkok, bisa reservasi di tempat ini.

 

img_20160921_194052_hdr
Buku yang saya beli 9 tahun lalu di toko suvenir Sam Poo Kong. Di dalamnya tertulis dibeli tanggal 12 Februari 2007. :))) Dari buku inilah saya mendapat informasi mengenai Sam Poo Kong untuk blog ini.

 

Menarik dan cantik, bukan, klenteng ini? Mengingat fungsinya sebagai tempat ibadah, agar teman- teman yang berkunjung bisa menjaga ketertiban dan kesopanan di dalam area Sam Poo Kong. Tidak ada halangan kok bagi penganut keyakinan lain untuk masuk kedalamnya. Jadi, selamat menikmati Semarang!

img_20160909_100107
Tempat duduk cantik di bawah pohon area Klenteng. Ornamennya disesuaikan atmosfer oriental di dalam kawasan.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *