Jembatan Ampera, Jujugan Mainstream di Palembang

IMG-20160914-WA0022

Meski setiap ke Palembang selalu karena urusan kerja, bukan berarti aku nggak punya waktu jalan-jalan, ya. Dan meski Palembang sendiri termasuk minim dalam jujugan wisata, tetap saja destinasi mainstream ini nggak boleh terlewatkan.

Di sela-sela waktu, aku menyempatkan mengunjungi Jembatan Ampera yang ikonik itu. Membentang di atas sungai Musi, jembatan ini menghubungkan daerah ulu dan ilir kota. Awalnya Ampera sendiri bernama Jembatan Bung Karno. Namun seiring pergerakan politik di negara ini, nama itu pun berubah jadi Ampera pada tahun 1966.

Nak kemano kito?
Nak kemano kito?

Di awal pengoperasian, jembatan Ampera bisa dinaik-turunkan. Mengingat saat itu sungai Musi adalah jalur yang penting bagi perdagangan. Tapi karena kambat laun dianggap menghambat lalu lintas jalan raya, pada sekitar tahun 70-an fungsi tersebut akhirnya dihilangkan.

Selain bisa menikmati Ampera yang cantik di malam hari dengan lampu-lampunya, kalian juga harus mencoba beragam kuliner yang sayang buat dilewatkan. Sebut saja pempek dan mie celor. Tapi kalau kalian bosan, bisa juga mengunjungi resto yang menyediakan menu seafood ini. Kampung Kapitan namanya.

Ingat, yang ini resto loh ya, bukan Kampung Kapitan yang kawasan pecinan itu. Resto ini sendiri buka dari sekitar jam 5 sore. Dan selain jalur darat, buat mencapai resto ini kalian bisa mencoba perahu klotok yang disediakan pihak resto.

Ada yang mau menyeberang, anyone? (ini perahu umum, bukan yang tadi disebut milik resto)
Suasana penyeberangan sungai di malam hari. FYI, ini perahu umum. Bukan milik resto seperti yang diceritakan di atas.

Nah, begitu kita punya kesempatan mengunjungi Ampera, kalian juga harus melengkapinya dengan berkunjung ke Pulau Kemaro. Apalagi jaraknya cuma sekitar 7 km saja dari Ampera.

Mari menyeberang ke Pulau Kemaro~ *sesaat kemudian, HP yang dibuat ambil gambar ini, kecemplung di sungai Musi :))))*
Mari menyeberang ke Pulau Kemaro~ *sesaat kemudian, HP yang dibuat ambil gambar ini, kecemplung di sungai Musi :))))*

Ada sedikit cerita rakyat yang begitu terkenal di kalangan masyarakat setempat terkait Pulau Kemaro. Dan cerita ini tertulis juga di sebuah batu yang menyambut kita ketika tiba di Pulau Kemaro. Ceritanya kurang lebih begini.

Alkisah ada seorang bangsawan Tiongkok bernama Tan Bun An yang mempersunting seorang putri raja bernama Siti Fatimah. Dalam perjalanan kembali dari Tiongkok, sepasang pengantin muda itu dibekali tujuh buah guci oleh orang tua Tan Bun An. Tetapi, betapa terkejutnya ia saat membuka guci-guci tersebut. Isinya ternyata tak lebih dari sekadar acar sayur! Seiring dengan perasaan dongkolnya, ia lalu membuang guci itu ke sungai Musi yang kebetulan tengah dilintasi perahu.

Namun begitu guci ketujuh dibuka, Tan Bun An baru menyadari kalau ada emas yang tersembunyi di bawah acar sayur itu. Merasa bersalah dengan perbuatannya, ia lalu menceburkan diri ke sungai Musi untuk mengambil kembali guci-guci tersebut. Tetapi, Tan Bun An tak kembali.

Merasa was-was dengan kondisi suaminya, Siti Fatimah akhirnya ikut menceburkan diri ke sungai demi mencari Tan Bun An. Namun malangnya, ia pun tak kembali ke permukaan.

Sekian.

 

Nah, meski cerita rakyat ini begitu melekat, bila dijelaskan secara sains sih, sebenarnya Pulau Kemaro hanyalah delta yang terbentuk dari endapan sungai musi. Hehehe.

Di Pulau Kemaro sendiri kalian bisa menikmati suasana Tiongkok yang khas. Mulai dari model bangunannya, hingga warna bangunannya yang dominan merah-emas. Tengok saja klenteng Hok Tjing Rio yang biasanya dipadati masyarakat Tionghoa setiap Cap Go Meh itu. Dan pastikan kalian juga nggak lupa buat berfoto di ikonnya Pulau Kemaro, yakni pagoda tingkat 9.

Pagoda tingkat 9. Ikon Pulau Kemaro.
Pagoda tingkat 9. Ikon Pulau Kemaro.

So, kalau kalian ada kesempatan mengunjungi Palembang, pastikan kedatangan kalian ‘sah’ dengan menyambangi kedua tempat di atas, ya! :))

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *