Suara Untuk Temanku, Pongo pygmaeus

Pernah tinggal di sebuah kota kecil pesisir timur Borneo, membuatku akrab dengan satu- satunya keluarga kera yang hidup di Asia. Ialah Orangutan alias Pongo pygmaeus. Individu yang dulu sering kulihat bergelantungan antar pohon di belakang sekolahku. Bersuara nyaring khas dan kerap menganggu konsentrasiku belajar di kelas. Ia juga suka berulah di halaman belakang rumah tetangga- tetanggaku untuk mencari makan pasca kebakaran hutan besar- besaran di Kalimantan Timur tahun ’97-’98.

Bersama dia, ada pula sederet hewan lain yang tak asing dalam cerita perjalanan hidupku. Sebut saja Enggang Gading atau kerennya Buceros rhinoceros yang kerap menyambangi pohon alpukat di belakang rumahku untuk sekedar bertengger. Ada juga Si Penguasa Rawa- rawa, Buaya Muara (Crocodylus porosus), yang ulahnya suka bikin geger berita surat kabar lokal. Lalu Beruang Madu (Helarctos malayanus), Si Hitam berkalung kuning di dadanya yang berbadan paling kecil diantara keluarga beruang sedunia.

2
Kiri ke kanan: Buaya Muara, Enggang Gading, Beruang Madu (courtesy: Tribun Kaltim, Mongabay, Portalhijau)

 

Aku juga mengenal Si Penyu Hijau alias Chelonia mydas. Hewan ikonik ini sering disebutkan dalam buku IPS Daerah saat aku SD. Katanya, ia tinggal di sebuah pulau kecil di utara Kalimantan bernama Pulau Derawan. Ah, menyesal aku dulu cuma tahu kalau pulau itu sekedar penangkaran. Karena di jaman canggih ini, kampung para penyu itu banyak berseliweran di media sosialku memamerkan keelokan alamnya. Berair bening bak kaca. Berpasir krem lembut bak bedak ibuku. Huh… siapa yang nggak terpesona.

Diiming- imingi teman, sunset di Derawan. Kenapa nggak dari dulu ajeee kesana sebelum beken, heh? (courtesy: Instagram.com/omdodon)
Diiming- imingi teman, sunset di Derawan yang begini amat. Kenapa nggak dari dulu ajeee kesana sebelum beken, heh? (courtesy:Instagram.com/omdodon)

 

Selama di Kaltim, kuhabiskan masa kecil mengikuti Ayahku tinggal di sebuah kompleks perumahan milik salah satu perusahaan pupuk negara. Berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kutai, kemudian aku tahu kalau di dalam sana hiduplah para Orangutan. Dan jadilah kami bertetangga.

Seperti anak kecil lain, aku termasuk yang menganggap Orangutan adalah monyet. Namun ketika kuliah di Biologi, barulah aku tahu bahwa monyet hanyalah definisi awam yang tidak paham taksonomi sehingga menyamaratakan semua jenis primata. Sungguh ternyata kamu dan monyet adalah dua individu berbeda, Tan. He-he.

Kita serumpun loohhh, Tan
Kladogram yang menjelaskan bahwa manusia masih sodara sama Orangutan (courtesy: paoloviscardi.com)

 

Spesiesmu hanya ada di Sumatera dan Kalimantan. Jenismu di kedua pulau itupun terbagi dalam beberapa subspesies. Seperti di Kalimantan, kamu terdiri P.p pygmaeus, P.p wrumbii, dan P.p morio. Sementara, saudaramu sesama kera besar yang lain, seperti Bonobo, Gorila, dan Simpanse, hidup di lain benua.

Teringat kebiasaanmu yang sering kulihat dulu, kamu tergolong makhluk diurnal dan arboreal. Begitu aktif pada siang hari dan lebih suka di atas pohon daripada turun ke tanah. Kelincahanmu di atas pohon didukung kaki tanganmu yang bersifat quadropedal, sehingga mudah membuatmu bergerak berpindah- pindah dahan.

Family seperti Fagaceae (polong-polongan), Myrtaceae (jambu-jambuan), dan Moraceae (ara-araan) hanyalah segelintir tumbuhan yang buahnya kamu favoritkan.  Aku masih ingat dulu kamu memang doyan ngemil entah buah apa sambil duduk di samping selokan sekolah. Selain buah, ternyata kamu juga suka bunga, daun muda, sampai kulit kayu.

Ciri khasmu jelas pada warnamu yang merah gelap kecokelatan. Juga tampilan fisikmu yang sedikit banyak mirip denganku, manusia. Nggak kaget sih, lah wong kita berbagi 96,4% gen yang sama. Ha-ha. Kalau dalam pelajaran Biosistematika, kita ini menduduki posisi akar leluhur yang sama. Yaitu Ape kalau dalam istilah bulenya.

orangutan_diagram
Morfologi Orangutan (courtesy: exploringnature.org)

Salah satu dari kamu yang dulu ada di belakang sekolahku, terlihat lebih suka sendirian. Ternyata memang begitu sifatmu. Cuma, kalau ingat kakimu yang nggak ada sebelah, pikiranku menerawang lebih jauh dari itu. Sepertinya pincangmu itu bukan bawaan lahir. Jangan- jangan kamu memang pernah diburu? Kalau iya, gimana keluargamu saat itu? Apa kamu kehilangan bapak- ibu?

Pikiranku kembali mundur ke era ’97-’98. Masa dimana banyak pesawat- pesawat penabur hujan seliweran di atas kotaku akibat kebakaran hutan. Masih terasa bagaimana mata ini pedas dan nafas ini sesak menghirup asap. Masker N95 seolah jadi lebih berharga daripada dompet. Katanya sih, kebakaran tak kunjung padam itu akibat perubahan cuaca dan kondisi lahan gambut yang kebanyakan mengisi hutan- hutan Kalimantan.

Aku nggak kebayang gimana panikmu dan teman- temanmu yang ada di hutan sana. Karena kemudian, kamu jadi blingsatan keluar hutan dan menyambangi halaman rumah warga atau belakang sekolahku. Pernah kulihat seekor Rusa yang berlarian karena ekornya terbakar. Atau ular- ular yang makin brutal menampakkan diri di jemuran Ibuku. Aku sih nggak menyalahkan kamu dan teman-temanmu berkeliaran, karena aku tahu kamu pasti kehilangan rumah dan butuh makan.

p1020598
Rimbunnya suasana tempat tinggalku dulu circa 2011. Nggak salah kamu betah hijrah kesini saat statusmu jadi homeless  dan hopeless (courtesy: pribadi)

 

img_3368
Gambar ini kuambil circa 2011. Belakangan baru kutahu ternyata kamu hidup disini menjadikan tempat ini sebagai perlindungan. Sayangnya, masih ada saja ulah pembakar hutan yang tega mencapai radius jelajahmu, sehingga kamu ikut terpanggang bersama lahan (source berita: kaltim.tribunnews, gambar: pribadi)

 

Begitu aku dewasa, baru aku tahu kalau kebakaran itu bisa jadi disengaja untuk mempercepat pembukaan lahan. Entah jadi tambang, perumahan, atau kebun. Bisa kebun pohon bahan baku kertas atau kebun sawit. Selain dibakar, pembukaan lahan juga bisa dengan ditebang.

Hutan Kalimantan Timur dilihat dari udara, circa 2010
Hutan Kalimantan Timur dilihat dari udara, circa 2010. Di beberapa titik bisa ditemukan lahan- lahan gosong bekas terbakar. (courtesy: pribadi)

 

Gara-gara ulah kaumku, kaummu kehilangan hutan tempat tinggalmu sebanyak 1,2 juta Ha per tahun dalam 10 tahun terakhir. Begitu cepatnya hutan ini amblas, sampai- sampai negara ini masuk daftar Guinness Book of World Records 2007 sebagai “Country With The Fastest Rate of Forest Destruction On The Planet.” (source: Greenpeace)

Jelas rekor dunia kalau yang hilang setara dengan 300 kali luas lapangan bola perjamnya. Sukses menghilangkan 72% kekayaan di dalamnya termasuk separuh diantaranya adalah jenis- jenis terancam punah, seperti kamu.

Nah, dari sekian banyak faktor yang mengancammu tadi, ternyata pembukaan kebun sawitlah yang kunilai paling licin liciknya dalam mengganggu hidupmu. Selicin minyak yang dihasilkannya. Selicin akal tamak pemilik perusahaan, pemerintah yang tak bertanggung jawab, dan semua oknum biadab dibalik itu.

Sebanyak 2.000 – 3.000 individu dari jenismu dibakar, dikejar senapan angin, atau dipukuli sampai mampus oleh pemburu atau warga desa setiap tahunnya selama empat dekade terakhir demi licinnya usaha sawit di negeri ini karena dianggap hama. (source: WWF Indonesia).

Ternyata spesiesku yang disebut- sebut memiliki kecerdasan paling maju se-Kingdom Animalia, nggak ada bedanya sama Protozoa. Otaknya ciut, matanya butut gara-gara disawer duit. Kamu disebut perusak ladang garapan yang didewakan sebagai sumber kemakmuran pelakunya.

Skema konversi hutan untuk pembukaan lahan sawit beserta dampak negatifnya terhadap lingkungan, flora, dan fauna. Sementara bagi manusia, pembakaran hutan juga bisa berdampak bagi kesehatan pernapasan. Penebangan hutan juga mengancam longsor dan banjir. Selain itu juga bisa mengancam kekurangan pangan, suplai air bersih, dan udara layak.  (courtesy: pribadi)
Skema konversi hutan untuk pembukaan lahan sawit beserta dampak negatifnya terhadap lingkungan, flora, dan fauna. Sementara bagi manusia, pembakaran hutan juga bisa berdampak bagi kesehatan pernapasan. Penebangan hutan juga mengancam longsor dan banjir. Selain itu juga bisa mengancam kekurangan pangan, suplai air bersih, dan udara layak. (courtesy: pribadi)

 

Herannya, efek negatif (seperti pada skema di atas) dari pengembangan membabi buta industri sawit, tetap nggak menghentikan produsennya agar minimal bisa lebih beradab dalam berbisnis.

Pengembangan sawit tidak lagi fokus pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (source: Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998).

Kalau yang begitu saja merek atak peduli, mereka jelas tak peduli juga soal jumlahmu yang turun. Data Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), menyebutkan jumlah keluargamu di Kalimantan kurang dari 55.000 dan di Sumatera kurang dari 6.500!

Buatku ini setara dengan 180 sampai 1.500 kali kurangnya dari penduduk Jakarta di tahun 2014 yang berjumlah 9,9 juta individu. Ini kan gila!

Nggak salah kalau kemudian IUCN Red List of Threatened Species menggolongkanmu sebagai Endangered (Orangutan Kalimantan) dan Critically Endangered (Orangutan Sumatera) species. Bila orang- orang biadab itu tetap melanjutkan aksinya, prediksi yang bilang kamu bakal jadi Apes pertama yang ‘apes’ karena punah duluan (Extinct category), tentu segera jadi kenyataan.

Kurasa mereka ini tak tahu peranmu di lingkungan itu apa. Kamu itu terhitung sebagai penyebar biji. Persis seperti peran Si Enggang Gading. Dari buah yang kamu makan, berjatuhanlah biji- bijian itu dan secara tak langsung membantu regenerasi hutan.

Dari sini harusnya mereka itu berpikir. Bila tempatmu tinggal ditiadakan, lantas kamu ikut ditiadakan, boro- boro meregenerasi hutan. Meregenerasi keturunanmu pun kamu sudah kepayahan.

Somebod
Somebody please, HELP US! (courtesyPixabay)

 

Dalam istilah ekologi, kamu juga disebut sebagai Umbrella Species. Yang berarti dengan menolong kamu, sama dengan menolong tempat tinggalmu beserta teman- temanmu.

Yang berarti juga, menolong kelestarian hutan primer dunia yang menjadi dasar kesejahteraan manusia. Manusia kan sangat bergantung dengan sumber air, pangan dan udara yang bersih. Darimana didapatkannya kalau bukan dari hutan? Kamulah si pembangun hutan itu, penjaga keseimbangan dan kesinambungan kehidupan di dalamnya.

Bila alam telah kehilanganmu, itu menjadi cermin hilangnya ratusan spesies tanaman dan kawan- kawanmu yang tinggal dalam ekosistem hutan hujan.

Nangkring dulu enak kali...
I need somebody to looooveeee meeee~ (courtesy: Pexels)

 

Memang sudah banyak lembaga yang peduli pada nasibmu saat ini. Namun kita harus tetap membantu dengan sedikit perubahan. Karena bagaimanapun, titik awal yang merubah kehidupanmu jelas didesak kepentingan manusia. Kita tetap bisa jalan beriringan kok. Misalnya dengan cara sebagai berikut:

  1. Bila membeli produk hasil olahan kayu, misalnya furnitur dan kertas, carilah yang berlabel FSC (Forest Stewardship Council). Label ini memiliki 10 prinsip yang menjamin produsen kayu bersertifikat FSC mendukung sustainable forestry. Prinsip itu mengatur diantaranya, benefits of the forest, environmental impact, maintenance of high conservation value forests, hingga (source: fsc.org)

    forest_stewardship_council_logo-svg
    Belilah minyak sawit dengan label ini. Karena produsennya menjamin ketaatan pada sustainable forestry (source: WWF)
  1. Kalau terpaksa membeli minyak hasil olahan kelapa sawit, pilihlah yang bersertifikasi CSPO (Certified Sustainable Palm Oil) dari RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Lewat label ini, produsen pengolah kelapa sawit menjamin hal berikut, diantaranya: Fair working conditions, local people and rights are protected, no clearing of primary forests, wildlife on plantation are conserved. (source: rspo.org).  Untuk penjelasan bahwa industri sawit tidak seharusnya mengganggu keseimbangan ekosistem (terutama kehidupan Orangutan), bisa dilihat di video milik WWF berikut (klik link).
  1. rspo_trademark_logo_482099
    Belilah minyak sawit dengan label ini. Karena produsennya menjamin ketaatan pada sustainable forestry (courtesy: WWF)
  1. Tidak memelihara, memakai ataupun membeli souvenir yang terbuat dari bagian tubuh Orangutan sebagai hewan yang dilindungi, melaporkan ke pihak yang berwenang jika melihat hewan yang dilindungi dipelihara ataupun diperjualbelikan oleh masyarakat sebagaimana tertulis pada Undang-Undang nomor 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2. Orangutan menurut CITES juga diklasifikasikan dalam daftar hewan Appendix 1.
    slide2
    Semoga undang- undang ini bisa bersuara lebih galak dari suara para pengusaha tamak yang merampas hak hidupmu (courtesy: pribadi)


  1. Memberikan pendidikan dan penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya melindungi dan menjaga orangutan dan habitatnya, seperti caraku ini.
monkey-orangutan-animal-face-52530-large
Aku nggak pernah minta sama Tuhan buat terlahir sebagai Orangutan. Kalau aku bisa jadi seperti manusia, aku jelas akan bersuara bahwa hidup terganggu begini, sangat menyiksa. (courtesy: Pexels)

 

Tan, aku mungkin bukan saintis seperti Zarah di dalam novel Supernova: Partikel. Seorang konservasionis  yang mendedikasikan hidupnya tinggal di dalam Taman Nasional Tanjung Puting untuk kelangsungan spesiesmu dan makhluk hidup lain.

Bagiku sekedar tanah yang menghidupimu pernah menjadi tanah yang menghidupiku juga. Anggaplah ini caraku membayar hutang budi karena kamu pernah rela berbagi lahan tinggal denganku. Maaf atas ketidakpedulianku sebagai tetanggamu dulu. Atas kesempatanku mengenyam ilmu ekologi yang tidak bisa kuoptimalkan dalam membantumu.

Kamu adalah teman kecilku yang kutahu tak mungkin bisa menuntut hak sepertiku. Kamu tak bisa bicara, bahasamu pun tak kami pahami. Jadi, biarkan aku menerjemahkan risaumu. Menyuarakan kepentinganmu.

Ah, andai kamu yang menempati posisi manusia, mungkin kamu akan balas memukuli spesiesku sampai lebur babak belur, membakar kaumku sampai habis jadi debu.

Tan, semoga lewat tulisanku, masih banyak orang yang bersedia menjaga adamu. Kamu masih diperlukan di dunia ini. Sebagai warisan kekayaan hayati, untuk anak cucuku nanti. Aku tak mau, kamu cuma jadi legenda, atau bagian cerita dalam komik Nusantaranger 🙂

banner-lomba-blog

You may also like

19 Comments

  1. Sangat edukatif dan informatif untukku yang awam tentang orang utan. Ending tulisan yang menyentuh. Setiap kita punya teman kecil yang menarik untuk diceritakan di kemudian hari, beruntung sekali kamu punya teman kecil seperti mereka mbaak :)))

  2. Seandainya anak cucu kita kelak masih diberi kesempatan bisa hidup dan berkenalan dengan mereka. Pasti akan menjadi hal yang menyenangkan dan menjadi cerita masa kecil mereka yang sangat indah.
    Saya ikut memberikan dukungan kepada orang hutan melalui tulisan ini. Semangat menginspirasi dan menjadi bagian untuk menjaga kelestarian orang utan doubletracker. semoga karena tulisan ini banyak orang yang lebih sadar bahwa mereka juga butuh kehidupan yang layak..

    Terimakasih 😊

    1. terimakasih dukungannya mas hafiz 😀
      setuju, pasti nanti ceritanya jadi kayak aku gini hehehehe.
      kamu, masa kecilnya main sama apa di Tuban? 😀

    1. halo mas, salam kenal!
      hehehehe ini toh mulanya tetiba nyasar di IG kami :)))
      terimakasih sudah berkunjung. masnya nulis #saveorangutan juga?
      kami blogwalking kesebelah juga aaahhh~

      amin, buat orangutannya. saya juga ga mau mereka bye-bye begitu saja.
      apalagi dulu pernah ‘tetanggan’ hehehehehe

    1. Makasi sye, sudah sempatkan berkunjung.
      huahahaha berasa nulis halaman Science Det yes? :)))
      maklum editornya juga ex editor Science ;P

    1. kesana tah Yan? aku tak nabung. bawaen anakmu nanti huahahaha. sekalian biar dia belajar mengenal. Bapakku yang mana ya? huhahahahahaha *kaburrrrr*

  3. Apik banget Ning, komplit, informatif.. soal kelapa sawit setuju banget, ada baiknya kita mulai care dan pakai produk yang punya sertifikat sustainable palm oil. semakin banyak demand, mau nggak mau produsen juga akan memperhatikan. Soal perkayuan, Indonesia udah punya sistem verifikasi legalitas kayu juga lho.. sistem ini ngasih cap V-Legal untuk produk-produk kayu yang terbukti sustainable dan bukan hasil produk illegal logging.. Next time mo beli apapun yang dari kayu, furniture atau apa lah, yuk iseng-iseng kita tanya produsennya, “ini sudah ter-SVLK belum?” hehehe…

    1. dear mbak cey,
      hahaha suwun. iya nih aku juga baru tau pas ikut kegiatan WWF tahun lalu.
      mungkin perlu banyak edukasi soal sertifikasi yg berkaitan dengan sustainable industry ini. jadi banyak produsen yang sadar, yang beli pun semakin pintar. terus terang di pasaran juga nggak banyak produknya. masyarakat juga nggak tahu bedanya apa yang disertifikasi sama yang nggak heehehe.
      makasi lo mbak sudah mampir :)))

  4. hai hening and samid

    webblog kalian bagus, suka deh liat pasangan yang suka jalan2 bareng, jelajahi Indonesia.

  5. hai hening and samid

    webblog kalian bagus, suka deh liat pasangan yang suka jalan2 bareng, jelajahi Indonesia.
    Semangat menginspirasi dan menjadi bagian untuk menjaga kelestarian orang utan doubletracker. semoga karena tulisan ini banyak orang yang lebih sadar bahwa mereka juga butuh kehidupan yang layak..#saveorangutan

    tulisan ini aku re-write boleh ya mbak?

    link aslinya aku share ke temen aku yg kerja di PKT yak. hehe…

    1. Dear mbaknya,
      waahhh terimakasih sudah berkenan mampir. terimakasih juga sudah suka kontennya.
      monggo hehehehe (aslinya isin hahahhaha)
      nggak sia-sia pernah punya temen main orangutan, ya mbak hehe 😀

  6. Halo kak. Tulisan yg sangat amat menginspirasi. Anyway, bolehkah saya minta kontak kka untuk berdiskusi mengenai hal2 org utan dan kiat2 dlm menulis. I hope u want. Thanks beforee:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *