Kenikmatan Khas Dari Pesisir Surabaya

Banyak hal yang bikin saya kangen sama rumah di Surabaya. Seperti ‘hangat-nya cuaca, hangatnya keluarga, sampai kehangatan hidangan khasnya. Hmm, memang makanan Surabaya itu paling top sejagat raya! Hehehe..

Ngomong-ngomong soal makanan Surabaya, pasti beberapa temen-temen sudah familiar dengan beberapa kuliner andalan Kota Pahlawan ini. Sebut saja Rawon, Rujak Cingur, Lontong Balap, Tahu Tek, dannn… yang bikin laper lainnya.

Nah, sebagai kota pesisir, Surabaya juga punya yang bikin laper dari hasil olahan laut. Nggak cuma sekedar ikan, cumi, atau kepiting yang diolah ini-itu. Sajian yang diambil dari hasil melaut di Selat Madura ini, benar-benar memberikan sensasi tersendiri bagi penikmatnya. Seperti apa? Yuk, ikut saya incip-incip!

*

Kupang Lontong. Salah satu kuliner khas yang berhasil bikin saya selalu kangen Surabaya. Sekaligus bikin mikir. Apa hubungannya kerang mungil ini sama ibukota provinsi NTT? Apa kupang berasal dari Kupang? Atau Kupang dinamakan Kupang karena di sana banyak kupangnya? Kenapa Kupang Lontong malah ada di Surabaya, bukan di Kupang. Hmm…

Lupakan soal asal-usul namanya. Karena, ada sensasi manis legit yang nikmat menanti dalam sepiring Kupang Lontong. Paduan lontong, lentho—olahan kacang tolo dengan singkong yang crunchy, dan kuah seperti sup berisi ratusan kupang, dijamin bikin temen-temen klenger!

Kelezatan petis khas Jawa Timur yang berpadu dengan kuah berbumbu bawang, cabe, dan gula merah, menambah kenikmatan Kupang Lontong. Belum lagi sate kerang gurih yang menemaninya.  Duh, jadi laper.

Kupang, yang jadi bahan dasar hidangan ini, sesungguhnya adalah kerang kecil yang mudah ditemukan di perairan dangkal dan berlumpur. Seperti kawasan Pantai Kenjeran Surabaya, Selat Madura, pesisir Sidoarjo, sampai pesisir Pasuruan.

Setelah “dipanen” (yang hanya membutuhkan tangan sendiri untuk menggali lumpur pantai), kupang harus dibersihkan terlebih dahulu dari lumpur yang menempel. Kupang yang sudah bersih kemudian direbus sampai cangkangnya terbuka, sehingga dagingnya bisa dipisahkan. Bila masih sulit dipisahkan, kupang kembali dicuci menggunakan ayakan bambu yang direndam air. Diayak terus sampai akhirnya kupang benar-benar terlepas dari cangkangnya.

Namun, biarpun ukurannya cuma seupil dan habitatnya begitu, Kupang punya segudang manfaat. Ia merupakan sumber asam amino esensial yang baik bagi tubuh. Seperti metionin, leusin, fenilalanin, dan histidin. Selain itu, Kupang juga mengandung mikronutrien seperti zat besi dan zinc yang dapat membantu membentuk sel-sel darah merah serta menjaga metabolisme tubuh.

Sementara, DHA, Omega-3, dan asam linoleat di dalam kupang berperan membantu proses transportasi oksigen, karbohidrat, dan protein menjadi lebih baik. So, nggak salah dong kalau hewan bernama keren Corbula faba ini sudah turun-temurun dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif?

Tuh apa kubilang, sudah rasanya enak, kaya manfaat lagi. Kupang Lontong greget banget kan?

*

Menikmati sepiring Kupang Lontong bakal lebih istimewa dengan Es Degan :D
Kupang adalah kerang kecil yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Pada gambar, ia nampak seperti taburan bergerombol di atas lontong.

*

Selain Kupang, sebagai orang Surabaya, saya juga akrab dengan yang namanya kerupuk Terung. Baunya semerbak kayak ikan asin. Rasanya gurih, cenderung asin. Bertekstur kering, dan kelewat renyah seperti Rambak alias kerupuk kulit sapi.

Terung ini ternyata masih satu saudara dengan teripang. Sama-sama dari kelas Holothuroidea alias timun laut. Nggak kaget kalau aroma dan bentuknya serupa.

Yang membedakan keduanya adalah bentuknya. Terung nampak lebih berlendir, berwarna lebih putih, dan bundar seperti bola. Sementara teripang berlendir lebih sedikit, berwarna lebih gelap, dan lonjong seperti terong.

Meski hasil olahannya terkesan enteng, mencari dan mengolah hewan ini nggak se-enteng memakannya.

Untuk mendapatkan terung yang tinggal di perairan dangkal berlumpur, perlu menunggu air laut surut. Sehingga, alat tradisional nelayan yang bentuknya mirip seperti alat pembajak sawah bernama aritan/ garit, bisa menjangkau kedalaman 15-100 meter. Sebanyak rata-rata 3-10 terung bisa menancap dalam sekali arit.

img_3733
Laut yang surut adalah kondisi ideal mencari terung. Kegiatan ini banyak dilakukan di lepas pantai Kenjeran hingga ke bawah jembatan Suramadu

Tak sampai disitu, proses memasaknya pun berliku-liku. Setelah terung didapat, kita harus membersihkannya berulang kali sampai hilang lumpurnya. Baru kemudian kita siap membelah dan memisahkan terung dengan isi perutnya. FYI, isi perut terung yang dipisahkan tadi juga bisa diolah jadi kerupuk, loh.

Nah, setelah diiris, terung harus dijemur seharian. Kemudian disangrai dalam pasir terlebih dahulu, baru siap digoreng dalam minyak panas. Uniknya, meski tidak diberi bahan tambahan apapun, terung versi kerupuk ini sudah gurih apa adanya. Wow, ajaib.

Mengingat proses mengubahnya menjadi kerupuk yang nggak gampang, wajar rasanya kalau terung dihargai cukup mahal hingga ratusan ribu per kilogramnya. Hiks, sebuah kerupuk enteng yang nggak bikin kantong enteng, yes.

Untunglah biar begitu, kerupuk ini punya faedah. Terung dikenal kaya akan fosfor yang baik untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Apalagi ia juga rendah kolesterol. Jarang-jarang kan, ada kerupuk sesehat ini 🙂

Srawut. Olahan dari bagian dalam perut terung. Sering disebut awam sebagai 'ototnya teripang' hahahaha. Olahan ini sudah enak dinikmati sebagai taburan di atas nasi panas.
Srawut. Olahan dari bagian dalam perut terung. Sering disebut awam sebagai ‘ototnya teripang’ hahahaha. Olahan ini sudah enak dinikmati sebagai taburan di atas nasi panas.
Kerupuk terung. Warnanya lebih bersih dibanding kerupuk teripang yang cenderung lebih gelap. Bentuknya juga lebih bulat dibanding kerupuk terung yang memanjang.
Kerupuk terung. Warnanya lebih bersih dibanding kerupuk teripang yang cenderung lebih gelap. Bentuknya juga lebih bulat dibanding kerupuk teripang yang memanjang.

*

Selain terung, ada pula Lorjuk yang dimanfaatkan sebagai camilan renyah khas Surabaya dan sekitarnya. Ya, nama lorjuk memang asing ditelinga. Namun nama razor clam atau kerang bambu, hm… pasti semua langsung kenal. Seketika terbayang lezatnya olahan kerang bambu bersaus yang sering dijumpai di resto atau depot seafood itu.

Selain menjadi keripik, di Surabaya dan sekitarnya, lorjuk (daging kerang bambu) juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran rengginang, kacang, bahkan petis. Bau lorjuk memang amis, sih. Tapi rasanya yang gurih dan renyah, dijamin bikin nagih. Apalagi dimakan hanya dengan nasi panas dan sambal. Hmmm…

Menangkap spesies Solen sp. ini ternyata lebih heboh daripada kupang atau terung loh. Karena nelayan lorjuk butuh linggis untuk menggali pasir tempat lorjuk berada. Plus lagi-lagi, harus menunggu air laut surut. Soalnya, lorjuk yang menyukai perairan pasir berlumpur dengan arus laut yang lemah ini, baru keluar dari pasir kalau air surut.

Biasanya nelayan akan mengunjungi pantai yang surut untuk menggali pasir dan mencari kerang
Biasanya nelayan akan mengunjungi pantai yang surut untuk menggali pasir dan mencari kerang

Mengolah lorjuk juga nggak kalah heboh. Setelah didapat, lorjuk harus dicuci sampai bersih. Direbus satu jam lebih sampai cangkang terlepas sendiri, lalu dijemur sekitar empat jam. Dibersihkan lagi dari kulitnya, kemudian dijemur lagi sampai enam jam. Baru deh Lorjuk kering tadi bisa diolah jadi macam-macam. Fiuuhh…

Dibalik kegurihan rasanya, lorjuk juga menyimpan banyak manfaat. Ia kaya akan vitamin B12, kalium, omega-3 yang baik untuk jantung, juga fosfor yang baik untuk kesehatan tulang.

Namun perlu diingat juga, sifat lorjuk sebagai kerang yang memakan segala. Ia menerima apa saja yang jatuh dari atas permukaan air kedalam tubuhnya. Kalau tidak awas dengan lingkungan asal diambilnya lorjuk, waspadalah akan bahaya logam berat yang mengintainya lewat lingkungan habitat yang mungkin tercemar.

Kerupuk Lorjuk yang gurih dan bikin nagih
Kerupuk Lorjuk yang gurih dan bikin nagih

*

Nah, gimana, teman? Olahan laut Surabaya nggak kalah unik dari daerah lain kan? Kalau nanti mampir ke Surabaya, jangan lupa mampir juga ke pusat-pusat kuliner yang menyediakannya ya. Seperti yang ada di Sentra Ikan Bulak, Kenjeran, Surabaya. Mengingat pentingnya peran ketiga hewan laut ini di sektor ekonomi, sekaligus kekayaan manfaat gizi ketiganya, semoga akan ada program budidaya dan riset pengolahan yang lebih tepat manfaat kedepannya. 🙂

Sentra Ikan Bulak di Kenjeran. Gudangnya olahan ikan khas pesisir Surabaya dan sekitarnya
Sentra Ikan Bulak di Kenjeran. Gudangnya olahan ikan khas pesisir Surabaya dan sekitarnya

 

Artikel ini diikutsertakan dalam blog competition Jelajah Gizi- Sarihusada.
Artikel ini diikutsertakan dalam blog competition Jelajah Gizi 2016- Sarihusada.

You may also like

4 Comments

  1. Wah pinggiran kenjeran nih tempat kenangan pas kuliah,, pas setres ma skripsi sore atau malem hari pasti sepedaan ke sini. Pagi hari buat cari inspirasi kadang juga sering duduk2 di pinggiran kenjeran. Gtw nih sekarang kayaknya udah rame beud setelah ada jembatan baru

    1. jangan nyemplung aja, Jak. karena itu pilihan yang nggak bijak. hehehehe
      anyway, bulan purnama disini, wuaduuuhh juara, bos! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *