Ubahsuai Bahasa. Penolong Pertama Dalam Kegagapan Pergaulan

Ada istilah dalam bahasa Inggris yang kita kenal dengan culture shock. Bagi teman yang belum mengenalnya, istilah ini diperuntukkan bagi kondisi dimana kita merasa gagap atau canggung terhadap budaya lain yang berbeda dengan budaya kita. Termasuk di dalam budaya itu adalah soal bahasa.

Nggak usah jauh-jauh menengok kebingungan kita beradaptasi bahasa saat di luar negeri. Di dalam negeri pun, secara tidak disadari kita sering menghadapinya.

Bayangkan bila kita hidup di luar daerah kesukuan kita sekalipun di dalam negeri. Misalnya saat kuliah, bekerja, atau sekedar bepergian. Tanpa perlu buru-buru menengok tradisi suku lain yang jelas berbeda dari kita, kita bahkan sudah gagap duluan untuk berkomunikasi karena ada perbedaan bahasa. Ya atau ya?

Padahal kalau diingat isi dari Sumpah Pemuda, bukannya kita selain harus berbangga berbangsa dan bertanah air satu, juga harus berbangga berbahasa satu ya? Salah nggak sih kalau kita masih suka berbahasa ‘asing’ alias bahasa daerah?

Tentu tidak. Itulah bukti bahwa negara ini begitu besar dan begitu kaya. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, nggak ada satupun budaya yang sama. Bahasanya apalagi. Sesimpel satu provinsi beda pulau yang berjarak sejepretan tali kutang aja, bahasanya bisa beda total. Contohnya Jawa (Timur) dengan Madura. Ya kan? Nah, disinilah kita perlu yang namanya Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu kita.

Bicara mengenai ini, ada cerita menarik soal gagap bahasa dari pengalaman pribadi saya nih. Dan ini berlangsung sepertinya hampir disepanjang usia saya yang beberapa kali hidup berpindah. Momen dimana saya akhirnya berpikir gimana kalau nggak ada Bahasa Indonesia yang menyelamatkan kehidupan pergaulan saya. Hahaha.

Saya terlahir sebagai Jawa namun besar diluar daerah kesukuan saya. Meskipun orang-orang Jawa tetap termasuk yang mendominansi di daerah saya tinggal dulu, dua suku lain yang juga dominan, Bugis dan Banjar, memberi warna sendiri dalam kehidupan saya sehari- hari.

Tempat saya mengenal istilah lelek dan botek
Tempat saya mengenal istilah lelek dan botek :)))

Bingung nggak dalam bercakap-cakap? Jelas. Untung ada bahasa Indonesia. Ya… meskipun tetap saja saya akhirnya menyerap sebutan tante dengan acil, hitam (gosong) dengan malotong, atau standar sepeda dengan jagrak. Nggak kelewatan juga menyebut mamang pedagang mainan depan sekolah dengan lelek (serapan kata pak lik, bahasa Jawa). Atau memberi imbuhan kata dengan –kah, -na, -ji (pengaruh Bugis) disetiap akhir ucapan.

Nggak berhenti disitu. Hasil kawin silang tiga bahasa suku tersebut, melahirkan bahasa baru dikalangan bermain kami. Kami akan bilang “Ais…sekke’nya pale’ anak ini”, sambil diucap dengan logat Bugis untuk menyebut teman yang pelit. Atau kami akan berkata “Kasi liat dulu na, botek pasti,” ketika ada teman yang omongnya besar dan suka bohong. Sungguh perbendaharaan kosakata yang sangat kaya, bukan? Hahaha. Mungkin hal serupa juga terjadi pada teman yang merasakan merantau atau tumbuh dengan banyak kultur.

Lidah saya makin berbelit ketika pindah ke Bandung. Di sekolah, rata-rata teman yang berasal dari Jawa Barat jelas berbicara bahasa Sunda. Guru-guru pun demikian. Belum lagi yang dari Jakarta dengan bahasa gaulnya itu. Pernah saya mencoba mengikuti, tapi ditertawakan karena sangat aneh. Ya bayangkan saja dialek saya sudah bercampur 3 suku. Ditambah dua lagi, rasanya seperti punya lidah naga yang bercabang lima. Untungnya lagi, semua itu bisa teratasi dengan penggunaan Bahasa Indonesia. Ohhh… terpujilah pencetus bahasa kita tercinta ini.

Tempat saya berkenalan dengan bahasa Sunda :)))
Tempat saya berkenalan dengan basa Sunda :)))

Pernah ada kasus dimana saya berusaha sok-sokan berbicara bahasa daerah asal selama di Bandung. Kebetulan ada dua kata dalam bahasa Jawa dan Sunda yang beririsan. Artinya sama mekipun kelas bahasanya berbeda. Kosakata itu adalah dahar dan sare yang berarti makan dan tidur.

Dalam bahasa Jawa, dahar dan sare adalah kata yang cukup halus. Biasanya diucapkan untuk orang yang lebih tua dari kita. Namun dalam bahasa Sunda justru sebaliknya. Keduanya digunakan dalam percakapan dengan orang berusia sebaya. Saya pernah mengucap kata dahar saat hendak menawarkan makan kepada penjaga asrama yang kebetulan orang Jawa. “Dahar, Pak” begitu ucap saya. Bapaknya sih menanggapi dengan senang hati. Tapi teman saya yang orang Sunda, langsung nendang kaki. “Kasar amat,” katanya. Hahaha. Sejak saya tahu perbedaannya, saya pun lebih memilih bahasa Indonesia untuk berbicara daripada dibilang sota’ (sok tahu dalam prokem Bontang- red) :)))

Nggak usah sama teman. Sama nenek sendiri saja, saya pernah mispersepsi gara-gara bahasa. Ceritanya dimulai saat saya sekeluarga mau mudik ke Surabaya. Seperti cucu kebanyakan yang kelewat senang, saya yang masih kelas 2 SD pun mengabari si mbah di kampung lewat telepon. Percakapannya kurang lebih begini.

Mbah   : Gelem dimasakno opo? Seneng maem opo to? Iwak? (Mau dimasakin apa? Senang makan apa? Ikan?)

Saya     : (dengan pemahaman Bahasa Jawa seadanya) Ya Mbah. Iwak Kakap.

Ibu       : (yang lagi disebelah saya, tiba-tiba nyubit terus melotot)

Saya     : (pasang muka jengkel yang kurang lebih berarti SALAH GUE APA MAKKK???)

Percakapan telepon langsung diambil alih ibu. Menyisakan tanda tanya besar di kepala kenapa saya dicubit. Pertanyaan yang masih nggak terjawab sesampainya kami di Surabaya dan menemukan seonggok ikan kakap goreng di meja makan. Tidak ada penjelasan dari ibu saat itu kenapa beliau masih pasang muka kesal juga. Sampai akhirnya, bertahun-tahun kemudian, saya ngeh maksud iwak dalam perkataan si mbah adalah LAUK bukan ikan yang merupakan arti dari iwak yang sesungguhnya.

Ya, orang dari suku kami suka menyebut LAUK dengan kata IWAK. Mau itu ayam, tempe, tahu, semua diberi imbuhan IWAK di depannya. Bahkan peyek pun tak luput dari istilah IWAK PEYEK. Nah lo! Andai saat itu mbah bilang ‘LAUK’, maka pasti saya akan sebutkan ayam. Bukan kakap, si ikan enak yang di Surabaya bisa berharga 3x lipat dari di Bontang itu :)) Terjawab sudah misteri ibu kenapa ibu mencubit setelah sekian lama :))

Language barrier memang sub-bahasan yang selalu seru diperbincangkan dalam topik culture shock. Hal ini mengingatkan saya, yang hidup di satu negara penuh keberagaman, soal pentingnya peranan bahasa pemersatu. Dan saya bersyukur Bahasa Indonesia ada untuk itu.

Nggak salah dong kenapa moyang kita dulu dimasa mudanya sampai bela-belain mendeklarasikan Sumpah Pemuda? Tujuannya jelas, supaya ada bahasa yang menjadi jembatan perbedaan-perbedaan di Indonesia. Kebayang nggak kalau nggak ada Bahasa Indonesia di negara ini? Bepergian bisa jadi tersesat beneran karena kita malu bertanya. Nah, gimana mau tanya kalau bahasanya setempatnya saja nggak ngerti? Disitulah peran Bahasa Indonesia.

Masalah ini juga makin seru kalau bahasannya bercabang ke fenomena generasi sekarang yang lebih suka berbicara bahasa luar negeri dalam kehidupan sehari-hari. Entah untuk sekedar memperbarui status sampai biar bebas ngerasani orang. Hayo ngaku siapa yang suka begitu?  *ikutan ngacung*

Jadi, dengan semangat Sumpah Pemuda, yuk kita benahi lagi penggunaan bahasa ibu kita yang masih suka hilang timbul dalam kehidupan sehari-hari. Kita ubahsuai penggunaannya supaya bisa jadi pertolongan pertama dalam kegagapan pergaulan. Masih mau bertanya perlu nggak sih berbahasa Indonesia? Buat saya sih jawabannya jelas. Perlu.

Nb: Ada yang tahu arti kata ubahsuai? Tinggalkan jawaban dikolom komentar yah 😀

img-20161027-wa0034

You may also like

20 Comments

  1. kebayang juga sih, culture shock di dunia kerja dianggap sebagai seleksi alam. Ada benarnya, kalau gak cocok ya angkat kaki. Btw, itu Ega? #Salahfokus haha, sampai sekarang akupun gak tau ning, jawa setengah-setengah, bahasa banjar apalagi bugis juga gak bisa. Cocok deh. Logatku malah dibilang daerah timur (papua sekitarnya) lah aneh to?

    1. hooh itu ega (mencoba cari gambar lain yang representatif, tapi ga ada hahahaha). cerpenmu lanjutin. kesel bacanya kentang :)))

  2. Bahasa memang sering jadi masalah. Terpujilah kamu yang hidup di tiga bahasa yang berbeda mbaak. Jadi tahu bahasa2 lain selain bahasa daerah sendiri hahaha.. Aku pengen banget loh bisa bahasa Sunda, alus banget, enak didengerin meskipun sedang marah. Btw itu baju yg kamu buat foto di depan kampus Krida Nusantara yg pernah aku pinjem pas nginep di rumahmu kan mbaak? Pas foto itu kamu masih kecil ya, masih muat gitu #ehmaapkalosalah wkwkwkwkwkkw

    1. ini sebuah respon yang minta di unapprove saja *huft* hahahha.
      jawabannya iya. PUAS? aku 10kg yang lalu *ngemil sukro dipojokan*
      iya nih, aku pernah sok-sokan ngomong Sunda terus diketawain gara-gara bilang KAMARI.
      Kamari ternyata berarti kemarin. sementara maksudku ‘kemari’ (kesini), harusnya bilang saja kadieu -_-‘
      sejak itu juga aku nggak mau ngomong bahasa Sunda. maksud hati biar akrab malah tetoottt~

  3. jadi penasaran, penetapan bahasa indonesia yg baik dan benar itu lembaganya apa ya? apa mereka rembuk tiap taun atau per 3 bulan untuk temukan satu bahasa baru, serapan dsb?

    1. aku juga kurang tahu nih iyan. mungkin ada teman-teman yang tahu?
      kalau kamu ngikutin perkembangan bahasa yang ada di KBBI versi terbaru, ternyata banyak yang mengejutkan loh.
      serapan-serapan yang diubahsuai sampai bikin ngakak juga banyak.
      seperti mouse menjadi tetikus, selfie sebagai swafoto, dan lain-lain yang malah ganjil ditelinga :)))

      1. Betul. terakhir yang aku tahu, terjemahan Cyber bukan Maya tapi Siber. Jadi kurang tepat kita sebut Dunia Maya. Sepengetahuanku, pembahasaan mengenai kata Siber ini ada diskusinya dengan orang Kemenkominfo sebelum dimasukkan ke KBBI.

        CMIIW

        1. dunia siber, dunia siwer. heheh
          nyadar nggak sih dunia itu kayak stop kalau udah di dalam dunia maya.
          sadar-sadar udah jam berapa gitu hahahaha

  4. Beruntung nih mbak hening bisa tau banyak bahasa daerah. Aku yo jowo mentok, gak nambah kosakata 😂. Eh , tapi aku pernah juga ngalamin gagal gaul. Pas baru-baru masuk kantor bosku yg orang jakarta tulen tanya aku ke kantor naik apa. Aku jawab aja naik sepeda. Sontak semua orang pada kaget “gile naik sepeda dr slipi kemari? Hebat banget”. Aku heran, apanya yg musti dihebatin, semua org juga bisa naik sepeda, org deket. Sampai seminggu kemudian bosku masih nggak percaya, bos: “gile lo ya naik sepeda dr slipi, hebat banget”.
    Aku: “ya kan cuman setengah jam doang bos, tinggal ngeeeeng sampai deh”.
    Bos: “lho motor apa sepeda?”
    Aku: “sepeda motor bos 😐”
    Usut punya usut kalo di jkt sepeda itu sepeda angin, nah kalo di lmj sepeda itu ya motor, kalo sepeda angin namanya sepeda pancal 😂😂. Kok panjang yah ceritaku, wkwkwk.
    Soal ubahsuai emang banyak yang kedengar aneh ya, di teknik ada istilah “losses” yg jika dibahasaindonesiakan jadinya “rugi-rugi”. 😅

  5. ulasannya mantab hening (y)
    tapi kadang susah juga mahamin yang ini –> “haha”
    dalam bahasa texting, ini maknanya ketawa tapi bisa jadi ini hanya sekedar basa basi ketawa
    tapi coba deh hening klo ada waktu nanti diulas tentang bahasa-bahasa selain ini, karena kalo sunda dan jawa emang banyak kemiripan (y).

    1. iya betul. bentuk ‘polite response’ yah (bingung mengubahsuaikan padanan kata untuk kalimat barusan –“)
      menarik tuh mas. bisa jadi masukan unggahan selanjutnya 😀
      terimakasih sudah berkunjung kakaknya 😀
      ikutan #mendadakngeblog selanjutnya yaaa

      1. Orang bisa saja mengirimkan pesan “hahaha” padahal tidak sedang tertawa
        Sama halnya dengan ngomong “I Love You” tapi tak sedang mencintai
        #eaaaaa #eghanyampahdoank

  6. Aku juga ada turunan orang Banjar. “Ikam kada bulik kah?”,
    Atau penggunaan istilah acil = tante, amang = om. Atau kosakata lainnya yg jika didengar oleh orang luar sepertinya lucu.

    Perbedaan bahasa ini juga sering membuatku dibilang “medok” ketika masuk di Universitas di Jakarta yang umumnya diisi oleh mahasiswa hits dengan panggilan “gue-elo”.
    Tapi bagaimanapun juga itu adalah ciri kita. Tidak masalah walau terdengar medok. Yang penting bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang ada saja 🙂

  7. menarik!! dulu pas sekolah TK sampe SD di lumajag, aku dibesarkan di daerah yg mayoritas madura.. jadilah skill berbahasa madura cukup terasah walaupun darah saya murni jowo tulen, di jakarta suka iseng kalau nemu tukang sate madura tak ajakin bahasa madura, ternyata banyak yg asli madura dan ada beberapa yg madura tipu-tipu hanya untuk melariskan dagangan. tapi kok di jakarta selama 4 tahun ini, masih belum nyaman dengan bicara lo gue, dan sampai sekarang ngomongnya masih saya kamu. Gak seperti istri yg udah mulai luwes lo gue lo gue, yg kadang tak ledekin kalau pas dia lagi “lo gue” dengan “saiki ae lo gue lo gue, ndisek ae chating karo aku pean pean”.

    Cheers..

    1. asik ya, padahal sota’ sota’ aja kita ngomongnya. kali dapet harga beda yekaannn
      iya aneh kan kalo gue eo tapi medoknya parah kek gini. hahaha
      aku dulu juga disuruh diem aja daripada ngomong gue elo malah ngakak yang diajak ngomong :)))

  8. Ubahsuai itu mungkin antara “serapan” atau “adaptasi” kayaknya Ning. Lha, kamu dewe nemu kata ubahsuai pertama kali dimana lho?

    Oia, buat Sunda, jangankan sampai bahasa, logatnya pun biasanya langsung kita ubah suai kan, satu-dua hari aja kita ngobrol secara intens sama urang2 Sunda, logat kita jadi ikutan. Ajaib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *