Duduk-duduk Spooky Di Taman Prasasti

img_20160507_161711

Berkunjung ke taman ini nggak lantas bisa bikin kita duduk-duduk cantik. Rindangnya pohon-pohon yang memayungi menghembuskan angin spooky-spooky. Belum lagi suasana sunyi nan gloomy yang bikin darah kian berdesir. Hrrrr… Cocok rasanya dibuat bahasan Doubletrackers sambil menyingsing malam halloween ini.

Tanpa berlama-lama, yuk kita ke museum berbentuk taman yang bernama Taman Prasasti ini. Tempat dimana beragam kisah duka tersimpan abadi di dalamnya.

Ready?
Ready?

Beberapa waktu lalu, saya (Hening) dan kedua teman, Ula dan MJ, punya rencana menghabiskan waktu akhir pekan di Jakarta. Bingung mau kemana, saya pun memberi ide tak biasa untuk menengok taman ini. Beruntung, kedua teman menyetujui. Namun ternyata, begitu sampai di lokasi, eh… tempatnya tutup. Untunglah ada MJ yang cantik. Berbekal senyum dan kata-kata manis MJ, bapak security pun bersedia membukakan pagar. Oh, the perks of being cute and pretty :)))

img_20160507_163906
Gerbang masuk museum Taman Prasasti, Tanah Abang

Kami pun masuk dan melihat-lihat. Banyak sekali patung-patung sebagai bentuk personifikasi malaikat di area ini. Nampaknya, mereka dibuat untuk melengkapi kesan desperate dan sedih yang sangat cocok untuk setting area pemakaman. Bila teman susah membayangkan, coba tengok kembali video clip lawas milik Base Jam-“Bukan Pujangga” yang syuting di taman ini bertahun-tahun lalu. Sudah terbayang belum?

img_1557

img_20160507_163225

img_1566
Ketiga gambar di atas adalah patung the crying lady. Menceritakan perempuan pengantin baru yang ditinggal mati lelakinya akibat terkena wabah malaria di Batavia saat itu

Taman Prasasti diresmikan sebagai museum pada tahun 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sebelumnya, tempat ini hanyalah area pemakaman bernama Kebon Jahe Kober. Keberadaannya sudah ada sejak Belanda menginjakkan kaki di Indonesia pada tahun 1795. Dimulai sejak adanya wabah penyakit yang membuat banyak warga Belanda Batavia meninggal, lantas dibukalah lahan pemakaman baru untuk menampungnya.

Belanda memilih area pemakaman dibuka disini dengan pertimbangan seperti:

  1. lokasinya yang jauh dari tempat penduduk. Jauh lebih ke selatan.
  2. dekat dengan Kali Krukut. Saat itu, kali ini masih acap digunakan sebagai jalur transportasi. Jenazah-jenazah orang Belanda akan dibawa melintasi kali ini menuju Kebon Jahe Kober.
  3. lahan pemakaman yang lama, di samping Nieuwe Hollandse Kerk (sekarang Museum Wayang), sudah tidak muat lagi.
img_20160507_163517
Ada banyak kereta kuda di muesum ini. Dulunya, kereta-kereta kuda ini digunakan untuk mengangkut peti ke tempat pemakaman dari tepi kali Krukut. Kereta digerakkan oleh 4-8 kuda, bergantung tingkat sosial keluarganya. Salah satu dari kereta yang ada disini pernah digunakan Presiden Jokowi saat masih menjabat menjadi Gubernur DKI dalam perhelatan Festival Kraton tahun 2013 lalu.

Konon kabarnya, setiap ada pemakaman disini dulu, ada lonceng perunggu yang dibunyikan. Dentang pertama mengabarkan berita duka, dentang kedua yang terus- menerus menandakan kedatangan jenazah hingga tiba di pintu gerbang pemakaman.

Bila teman berkunjung kesini saat ini, tak perlu panik. Sejak diubah jadi museum taman, area seluas 1,2 hektar ini tak lagi diperuntukkan untuk pemakaman kok. Fungsinya kini menjadi tempat wisata alternatif untuk menyimpan berbagai macam batu nisan dan prasasti yang memiliki nilai sejarah tinggi. Banyak yang bisa kita temui disini merupakan makam-makam keluarga bangsawan. Hal itu bisa dilihat dari lambang helardic sebagai identitas keluarga dan lingkungan tinggal orang Belanda saat itu. Ada yang berbentuk helm, perisai, dan lain-lain.

img_20160507_160231_hdr
Coba temukan lambang helardic disetiap nisan ini
img_20160507_155850_hdr
Menyusutnya area pemakaman dari 5 ha menjad 1 ha membuat hanya orang-orang penting saja yang makamnya tetap lestari disini. Beberapa nisan bahkan berpindah ke sisi dinding pembatas museum agar tetap abadi.
img_20160507_155938_hdr
Menurutmu, kira-kira siapakah sosok ini semasa hidupnya?

Contoh orang-orang terkenal yang disemayamkan disini adalah pendiri sekolah kedokteran STOVIA, H.F. Roll, lalu adapula Olivia Marianne (istri Thomas Stamford Raffles), Miss Riboet (pemain opera Indonesia terkenal era 1920-an) serta aktivis pergerakan ’66, Soe Hok Gie.

img_20160507_160519_hdr
Ada satu makam yang dianggap misterius akibat tak diketahui siapa isi di dalamnya. Ia disebut Kapitan Jas. Ada yang bilang ia hanyalah mitos. Namun ada yang meyakini bahwa berdoa dimakam ini bisa memberikan kesuburan, keselamatan dan kemakmuran bagi peziarahnya. Mmm…. entahlah.

Makam paling tua di Taman Prasasti adalah milik mendiang Andrian Osstwalt. Dibuktikan oleh nisannya yang bertuliskan tahun 1734.

img_20160507_160401_hdr
Patung pastor Van Der Grienten yang menjabat sebagai pastor kepala katedral saat itu

Gimana, tertarik mengunjungi ‘taman’ satu ini nggak? Lumayan lah untuk menguji ketahanan nyali. Hehehe. Sebenarnya, ada biaya masuk yang dikenakan bagi para pengunjung. Namun kami yang datang di waktu tak terduga, membuat kami beruntung jadi bebas biaya masuk hehehe…. ;D

Agen trackers
Agen trackers
teman sejalan, MJ dan Ula
teman sejalan, MJ dan Ula

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *