Kekayaan Perairan Bumi Bessai Berinta

@doubletrackers

Beberapa waktu lalu, sempat terpikir untuk menuliskan sesuatu yang menceritakan tempat saya dibesarkan. Namun secara sudah lama tidak pulang kampung, jadi bingung harus mulai darimana. Laksana gayung bersambut, kebingungan itu mendadak menemukan jalan keluarnya. Lewat serangkaian event, akhirnya saya bisa bercerita tentang Bontang, kampung saya itu, melalui beberapa hal.

Cerita pertama datang dari kisah pertemanan saya dengan seekor orangutan untuk mengkampanyekan gerakan #saveorangutan bersama Phinemo dan BeBorneo (cerita disini). Lantas berlanjut ke kisah kedua tentang adaptasi dengan perbedaan bahasa yang pernah saya alami, melalui tantangan menulis #MendadakNgeBlog bertema “Sumpah Pemuda” (cerita disini). Masih belum puas, nampaknya saya harus melanjutkan kisah tentang Bontang di cerita ketiga, yaitu postingan ini, tentang olahan laut yang menjadi kekhasan kuliner Bontang.

img_3423
Laut Bontang dari kejauhan. Tampak beberapa pabrik yang beroperasi disana.

Yap. Kotaku ini terletak tak hanya dekat, namun juga berbatasan langsung dengan laut Selat Makassar di sisi timurnya. Hal ini tentu membuatnya kaya akan hasil laut sehingga masyarakatnya pun akrab dengan beragam olahan kuliner dari laut. Kakap, baronang, tenggiri, cakalang, ayam-ayam, hanyalah segelintir ikan laut yang wajar dijumpai di banyak tempat makan di kota ini, bahkan di dapur sendiri.

Beberapa orang mengolah ikan-ikan tersebut menjadi kuliner khas daerah asal para pendatang, seperti menjadi pempek, campuran bubur tinutuan, atau isi dari panada. Sementara sisanya, rata-rata diolah dengan dibakar atau dimasak dengan beragam bumbu.

‘Harta karun’ dari laut tersebut lantas tak berhenti diolah menjadi itu-itu saja. Cobalah berkunjung ke kawasan Bontang Kuala. Sebuah kawasan wisata sekaligus perkampungan penduduk di atas air yang menjadi kekhasan kota industri satu ini. Disini, selain bisa menikmati aneka santapan seafood mulai dari bakaran ikan, olahan kerang, kepiting, hingga lobster, kita juga bisa membawa pulang oleh-oleh olahan khas perairan Kota Bontang dalam bentuk lainnya.

img-20161027-wa0021
Kelurahan Bontang Kuala. Terdiri dari perkampungan rumah panggung yang terbuat dari kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri). Semakin lama terpapar air, kayu ini semakin kuat. Sehingga sering juga disebut kayu besi.
Salah satu titik lokasi di Bontang Kuala (gambar diambil circa 2009)
Salah satu titik lokasi di Bontang Kuala (gambar diambil circa 2009)

Kuliner pertama yang harus dicoba selama di Bontang, yaitu Gami Bawis. Gami merupakan nama sambal uleg seperti sambal kebanyakan. Bahannya terdiri dari cabai, terasi, garam, dan tomat yang diuleg lalu disiram minyak panas. Sementara Bawis adalah jenis ikan yang hanya ada di perairan sekitar Bontang. Dimasak dengan digoreng terlebih dahulu, baru kemudian sambal tadi dimasukkan untuk dimasak ulang bersama ikan Bawis. Disajikannya diatas cobek yang sudah dibakar, sehingga sambal mendidih beberapa saat dan terasa panas. Yah… semacam sambal hotplate lah:)))

Ketika dirasakan, sambal gami akan terasa gurih. Hal tersebut datang dari olahan terasi berbahan udang papai (rebon) yang berpadu dengan citarasa ikan Bawis yang khas. Rasa pedas dan asinnya pun meresap sampai ke daging ikannya akibat pengaruh cobek panas tersebut.

Begitu populernya Gami Bawis ini, dalam rangka ulang tahun Kota Bontang 2015 lalu, kabarnya diadakan kegiatan memasak 2.023 porsi Gami Bawis! Kegiatan bombastis ini pun akhirnya mencetak gelar di MURI. Penasaran akan wujud Gami Bawis? Berikut video dokumentasi sahabat saya saat menikmati Gami (kebetulan tidak ada Bawis-nya).

Nah, puas makan-makan seafood dan menikmati pemandangan laut Kota Bontang, jangan lupa beli oleh-olehnya juga. Bisa dimulai dengan membeli Terasi khas Bontang buatan masyarakat Bontang Kuala. Biasanya, dijual sebagai bubuk dalam kemasan botol atau berupa padat lempengan dalam kemasan plastik. Terasi ini, seperti yang tadi disebutkan, dibuat dari udang papai alias rebon. Rebon bukan ebi loh ya. Mereka spesies yang berbeda.

img-20161027-wa0006
Terasi khas Kota Bontang. Selain bisa dibeli di Bontang Kuala, juga tersedia di pasar induk Rawa Indah.

Papai ini akan ditangkap di laut dengan jala berukuran kecil. Bila ombak besar dan angin kencang, maka tangkapan papai akan menurun. Sehingga jelas berpengaruh terhadap sedikit banyaknya hasil olahan untuk dijual. Begitu papai didapat, dalam keadaan basah ia akan disimpan semalaman. Esok paginya, papai baru akan dijemur di bawah matahari sampai kering kemudian ditumbuk halus dan diberi garam. Selain biar lebih gurih, penambahan garam dimaksudkan supaya olahan ini bisa awet alami. Setelah itu hasil tumbukan akan diwarnai. Bisa dengan pewarna makanan, maupun dengan disimpan di dalam daun lontar.

img-20161027-wa0005
Garam laut produksi rumahan. Selain dibuat mengolah makanan, juga baik untuk kesehatan kulit. Masyarakat setempat juga memanfaatkannya sebagai garam rendaman kaki.

Jika sudah siap, terasi akan dikemas dan dijual dalam harga bervariasi tergantung ukuran atau kemasannya. Oya, dalam 100 gr papai kering, terdapat kandungan 2.306 mg kalsium dan 265 mg fosfor, loh. Mantap kan?

Penjemuran papai
Penjemuran papai

Olahan laut lain yang bisa menjadi buah tangan dari Bontang Kuala berupa cumi asin, ebi, dan ikan-ikan kering. Ikan tersebut biasanya berupa ikan cucut, ikan bulu ayam, ikan kerupuk, dan ikan gabus laut. Untuk ikan bulu ayam dan ikan kerupuk, bentuk keringnya ini akan digoreng kembali untuk dijadikan teman bersantap sayur. Sementara ikan gabus laut akan dipotong kotak-kotak dan dijadikan bahan campuran oseng-oseng daun pepaya atau masakan lainnya.

FYI, selain terkenal di Bontang, ikan gabus laut yang bernama latin Rachycentron candum ini juga terkenal di Tanjung Putus, Pesawaran, Lampung. Bahkan ikan laut berupa mirip lele ini sudah dibudidayakan dalam keramba jaring apung disana. Soalnya, masyarakat setempat menilai ikan penyuka perairan hangat ini memiliki nilai gizi dan ekonomi yang sangat baik.

img-20161027-wa0011
Aneka olahan ikan yang dikeringkan. Awet dibawa dalam perjalanan, cocok sebagai buah tangan, siap disajikan untuk teman makan.
img-20161027-wa0013
Ikan cucut yang sudah dikeringkan

Lalu, bagaimana bila kita tak suka ikan kering atau bosan dengan yang gurih-gurih? Teman sejalan bisa juga mencoba sesuatu yang manis dari olahan kedalaman lautnya Bontang. Sebut saja Dodol Rumput Laut. Olahan hasil laut satu ini membuktikan kalau laut tak melulu bicara tentang ikan.

img-20161027-wa0009
Yuk kakak, dicoba rumput lautnya~

Masyarakat pesisir Bontang sudah turun-temurun melangsungkan kegiatan ‘bertani’ rumput laut dan mengolahnya menjadi dodol/ manisan. Biasanya rumput laut yang sudah dipanen akan dijemur hingga kering. Kemudian direndam dengan air bersih berulang kali selama 2-3 hari agar bau amis dari air laut hilang. Setelah rumput laut berubah warna menjadi putih, ia akan digiling hingga menjadi seperti tepung untuk kemudian ditambah bahan-bahan lain agar menjadi dodol. Termasuk di dalamnya adalah perasa dan warna. Dodol yang dihasilkan disini kekenyalannya tidak terlalu gummy dan cenderung keras. Rasanya beragam tergantung perasa yang diberikan.

img-20161027-wa0019
Olahan rumput laut yang sudah menjadi manisan siap untuk dikemas.
img-20161027-wa0015
Rumput laut kering yang juga dijual di Bontang Kuala

Selain ikan-ikan laut, Bontang juga kaya akan hasil budidaya perairan tawar dan payau. Sebut saja ikan bandeng, ikan belida, ikan gabus, hingga kepiting bakau yang umum diolah menjadi abon, amplang (kuku macan), bahkan rempeyek.

Begitu kurang lebih gambaran kuliner laut khas Bontang. Bagaimana nih, teman sejalan? Sudah ada ide untuk referensi kegiatan kuliner selama di Bontang? Semoga memberi gambaran dan menginspirasi, ya! Selamat makan-makan, selamat jalan-jalan 😉

ki-ka: kepiting saus pedas dan cumi asam manis hanya satu dari pilihan olahan laut Bumi Bessai Berinta
ki-ka: kepiting saus pedas dan cumi asam manis hanya satu dari pilihan olahan laut Bumi Bessai Berinta

 

Artikel ini diikutsertakan dalam blog competition Jelajah Gizi- Sarihusada.
Artikel ini diikutsertakan dalam blog competition Jelajah Gizi- Sarihusada.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *