Birdwatching: Hobi Lama Yang Masih Kurang Nama

img_3318

Terimakasih buat pasangan narrationology.wordpress.com buat ide #MendadakNgeBlog #2 yang dekat dengan ‘dunia’ saya ini. Saya jadi punya alasan bercerita soal kegemaran saya ngintip burung. Ngintip bukan buat membidik apalagi nyolong peliharaan tetangga, loh ya. Ngintip yang ini justru karena saya cinta sama kehidupan satwa di alam liar 😀

Birdwatching—nama kegiatan ini—saya kenal sejak 2009. Meski sekarang jarang-jarang saya lakukan, saya masih ingat kok cara ngintip dari balik binokular. Nama-nama burungnya yaa… masih tahulah satu-dua spesies hahaha. Harus ngaku nih, daripada bikin malu birdwatchers lain yang sampai hari ini masih fokus berkecimpung di dunia birding :)))

Saya akui, birdwatching disini nggak sepopuler mancing, hiking, diving atau apapun kegiatan di alam lainnya. Padahal kalau di luar negeri, orang sampai bikin birdfeeder atau birdbath untuk menarik burung datang. Sehingga mereka pun bisa mengamati cukup dari dalam rumah. Sementara di Indonesia, orang yang mendengar hobi ini suka menghakimi penghobinya kayak orang eweuh gawe. Ngapain coba burung diamatin? Ya… kalau saya boleh balikin sih, kenapa juga gunung didaki, lautan diselami? Hehehe.

Biriding saya pertama kali di Alas Purwo (2009)
Biriding saya pertama kali di Alas Purwo (2009)

Hobi satu ini nggak se-eweuh gawe yang dikira kok. Butuh kesabaran dan ketahanan dalam melakukannya. Harus mau capek jalan, harus sabar panas-panasan bahkan nyemplung lahan basah kalau ngamati burung air. Harus siap ngantuk kalau nungguin spesies burung hutan tertentu, harus rela nggak mandi karena berangkat sangat pagi, dan terutama, harus siap tengeng (kram leher) karena cukup banyak mendongak.

Intip dulu, gan, lewat monokular~
Harus sabar panas-panasan… eniwe saya sudah mirip outfitnya mamang-mamang tambak belom?

Hobi ini memang lebih populer di komunitas yang berangkat dari teman-teman kehutanan, biologi, kedokteran hewan, ekowisata, dan jurusan-jurusan serupa. Ya tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Padahal kegiatan ini seru dan potensial banget buat awam loh. Kamu jadi bisa mbolang ke banyak tempat yang nggak semua orang pernah kesana. Karena terkadang, ekspedisi spesies tertentu mengajakmu harus ‘terbang’ ke tempat asal mereka. Saya pribadi pun kalau bukan karena birdwatching, mana kenal dengan Alas Purwo, Meru Betiri, Buyan-Tamblingan, Serangan, bahkan Baluran yang sekarang sangat tenar itu.

Lewat birdwatching pula, banyak teman yang masih fokus dibidang ini jadi ikut melebarkan sayapnya. Bisa karena ikut event birding di dalam maupun luar negeri, atau bisa juga karena memandu birding tamu-tamu dalam dan luar negeri. Pertemanan jad meluas, bukan? Dari sini akan bertukar cerita soal perbedaan jenis burung di tempat masing-masing yang ternyata sangat indah-indah.

Mau jadi birder ada pelatihannya juga loh. Salah satunya di Petungsewu Wildlife Education Center ini. Selain dapat ilmu, dapat teman baru juga :)
Mau jadi birder ada pelatihannya juga loh. Salah satunya di Petungsewu Wildlife Education Center ini. Selain dapat ilmu, dapat teman baru juga :)

Berteman dengan para birdwatcher juga sangat seru. Mungkin teman pejalan akan takjub mengetahui kemampuan ‘menerawang’ mereka. Soalnya, mereka bisa mengidentifikasi burung hanya dari suaranya. Kadang dari siluetnya. Bahkan kadang bentuk titik dikejauhan yang kayaknya nggak kelihatan mata, mereka bisa tahu disana itu burung bukan lutung. Dan begitu mata mereka sudah ada dibalik lensa binokular, tadaaaa… dengan cepat mereka tahu itu jenis apa. Nama latin, nama Indonesia, bahkan nama Inggrisnya rata-rata mereka hafal di luar kepala.

img_3343
Siapa kira burung segede upil di ujung ranting ini adalah raptor? Gambar sudah diambil dengan lensa 75-300 paling mentok. Inilah dia Microhierax fringillarius alias Alap-alap Capung (diambil di Alas Purwo, 2012)
img_5792
Mini-mini gini adalah pendatang musim dingin. Mereka bernama Cerek Tilil (Charadrius alexandrinus). Bila sudah bergabung dengan jenis Cerek lainnya, wuaduh… siap-siap siwer saking perbedaannya sangat tipis. Oh, ada yang bisa tebak berapa jumlah burung pada gambar ini? (diambil di Kali Lamong, 2012)
img_6448
Teman-teman pengamat cukup banyak yang piawai mengamati burung dari siluetnya. Biasanya mereka segera mencocokkan morfologi burung yang teramati dengan gambar di buku panduan lapangan. Pada gambar adalah Nisaetus bartelsi atau Elang Jawa (diambil di Cangar, 2011)

Gara-gara hobi ini pula, tak sedikit dari mereka yang mulanya hanya sekedar mengamati, akhirnya menekuni fotografi (khususnya wildlife photography) atau malah sebaliknya. Yang mulanya hanya ikut-ikutan buat memotret, malah jadi ketagihan mengamati. Nggak sedikit juga yang kemampuan menggambarnya pun meningkat tajam. Kenapa? Karena dua hal tadi sedikit banyak membantu mereka selama pengamatan di lapangan. Sehingga mereka pun mendalaminya dengan seksama. Juga jangan kaget kalau mereka cukup piawai mengenakan peralatan outdoor. Beberapa ekspedisi untuk mempelajari spesies tertentu pada habitat tertentu, atau hanya kegiatan pengamatan biasa, memaksa mereka untuk akrab dengan peralatan outdoor yang sering diasosiasikan sebagai ‘peralatan anak gunung’ itu.

img_5017
Untuk beberapa kegiatan, teman-teman juga pasang tenda agar bisa nyaman berisitirahat

Nah, buat teman-teman awam, pasti muncul pertanyaan lain nih. Kenapa sih harus susah-susah mengamati burung? Burung bagi kami hanyalah satu dari sekian banyak warisan keanekaragaman alam Indonesia untuk dijaga. Jenis mereka sangat beragam. Ada yang menetap di kawasan perairan, di pedalaman hutan, di perkotaan, sampai yang hanya singgah sebagai migran dari negara tetangga. Mereka ada yang berperan sebagai penabur benih, pemakan serangga, hingga sebagai puncak rantai makanan.

Peran mereka sebagai penjaga ekosistem juga sangat penting. Tanpa peran mereka terhadap alam, kita tidak bisa menikmati kekayaan alam yang kita rasakan saat ini.Sebagai contoh, teman bisa bayangkan bila tak ada si Rangkong Badak dan gengnya, mana bisa hutan kita beregenarasi sebaik sekarang? Bayangkan bila tak ada kawanan raptor, mana bisa hewan pengerat terkendali populasinya? Bayangkan bila tidak ada burung-burung air, darimana kita tahu ekosistem perairan di tempat tersebut masih baik? :)

presentation1
Golongan raptor. Kiri atas, Elang Laut Perut Putih (Haliaetus leucogaster). Kanan atas, Elang Ular Bido (Spilornis cheela). Kiri dan kanan bawah, Elang Bondol (Haliastur indus).
presentation2
Punggawa perairan. Kiri atas, Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax). Kanan atas, Kokokan Laut (Butoroides striatus). Bawah, Gagang Bayang Timur juvenil (Himantopus leucocephalus).

Dalam mengamati burung, kita bisa melakukannya kapan dan dimana saja. Hanya memang, untuk mengamati jenis tertentu, ada baiknya kita mengetahui jam-jam aktif dan preferensi habitat mereka supaya lebih optimal. Semisal mau mengamati raptor, alangkah baiknya mengamati menjelang siang atau di sore hari menjelang senja. Ada pula burung-burung pengicau yang mudah dijumpai pada pagi hari saja. Atau misalnya juga burung-burung air yang lebih melimpah di pagi atau sore hari. Hal ini ada hubungannya dengan kebiasaan mereka mencari makan. Bagi rekan pengamat yang lebih detil, mereka bahkan sampai memahami kebiasaan bersarang, teritori, atau momen menjelang kawin para burung ini. Sangat berguna untuk diterapkan bila ingin berjumpa spesies seperti Elang Jawa, Merak Hijau, atau Paok misalnya.

Untuk melihat Merak Hijau (Pavo muticus) kawin, teman bisa mengunjungi salah satunya TN. Baluran atau TN. Alas Purwo di musim-musim penghujan setiap tahunnya.
Untuk melihat Merak Hijau (Pavo muticus) kawin, teman bisa mengunjungi salah satunya TN. Baluran atau TN. Alas Purwo di musim-musim penghujan setiap tahunnya.

Oya, ada beberapa momen besar yang rutin diikuti teman-teman pengamat di Indonesia. Semisal Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI) yang rutin digelar setahun sekali. Dalam momen ini, rekan-rekan pengamat baik yang bersifat organisasi maupun individu banyak hadir. Mereka biasanya akan mengumpulkan data dan informasi untuk berkontribusi di dunia perburungan Indonesia agar selalu update.

Ada pula momen internasional bernama World Migratory Bird Day (WMBD). Seperti judulnya, para pengamat akan memantau fenomena-fenomena yang terjadi selama momen migrasi burung. Biasanya datang dari kelompok burung air.

Migrasi burung sendiri merupakan bentuk pertahanan diri para burung dari musim dingin di utara yang mengurangi persediaan makanan dan membahayakan tempat tinggal mereka. Dalam perjalanannya ke selatan yang hangat, mereka memanfaatkan Indonesia sebagai rest area.

Di waktu yang sama dengan migrasi burung air, terjadi pula migrasi raptor. Jalur yang mereka tempuh berbeda meskipun arah tujuannya sama. Sehingga, pengamatan terhadap jenis raptor lebih sering dilakukan pada kegiatan terpisah.

Bila teman tertarik untuk ikut mengamati migrasi burung, puncak kejadiannya ada di rentang bulan Agustus-Oktober. Jangan terkejut ya, bila saat pengamatan kita akan menemukan bendera atau cincin di kaki burung. Penanda itu diberikan teman pengamat dari negara lain yang pernah dilalui burung tersebut. Tujuannya untuk memberi tahu darimana asal terbang burung itu. Setelah diamati, nantinya data WMBD ini (termasuk jumlah, jenis, dan waktu) akan dicatat untuk terus dipantau perubahannya dari tahun ke tahun. Bahkan, data-data ini dikompilasikan dari seluruh belahan dunia yang daerahnya dilintasi burung-burung migran.

img_1547
Hitung boi… catat jenis dan jumlahnya boi… (pada gambar adalah sekawanan Gajahan/ Numenius sp. di Ujung Pangkah, 2011)
img_8404
Hitung boi… catat jenis dan jumlahnya boi… (2) (pada gambar adalah sekawanan Dara Laut/ Terns dari berbagai jenis di Ujung Pangkah, 2011)

Perbedaan migrasi raptor dengan burung air juga bisa teramati dari pilihan tempat singgah mereka. Umumnya, raptor yang bermigrasi lebih memilih kawasan berbukit atau berhutan dibanding pesisir yang menjadi pilihan burung-burung air. Jenis raptor yang singgah di Indonesia ini bisa mencapai 5 jenis atau lebih. Kawasan pilihan mereka semisal Gn. Gede Pangrango, Gn. Papandayan, Gn. Banyak (Kota Batu), atau Tamblingan (Bedugul). Sementara untuk burung air, wah… bisa lebih dari 40 jenis dalam sekali pengamatan. Kawasan singgahnya jelas di pesisir, seperti di Pantai Trisik Jogja, Wonorejo Surabaya, atau Serangan Bali.

img_4730
Kawanan Gajahan Pengala atau Numenius phaeopus yang merupakan spesies migran (Kali Lamong, 2012)

Kegiatan mengamati burung migran memang harus harus dilihat dari sudut pandang ekologis. Sebagai ritual tahunan, kegiatan ini dapat menunjukkan keseimbangan ekosistem yang ada di seluruh dunia dari tahun ke tahun. Bila spesies yang sama tak lagi dijumpai di jalur migrasi, bisa dicari tahu ada gangguan apa di daerah asal/lintasannya. Termasuk juga saat jumlahnya menurun.

Nah, bila kamu kian tergoda mempelajari birdwatching¸bisa kok dimulai dari halaman sendiri. Biasanya, di halaman rumah perkotaan bisa kita jumpai Bondol, Gereja Erasia, Burung Madu, Kutilang, atau Prenjak. Tapi ini tidak serta merta berlaku kalau rumahmu masih di kawasan yang rimbun hijau, seperti pedesaan atau perbatasan dengan hutan ya. Pasti jenisnya lebih beraneka. Bagi yang ada di Jakarta, kalau teman bermain di sekitar GBK Senayan atau Monas, bisa juga loh berjumpa dengan Betet Hijau, Takur Ungkut-ungkut, atau Caladi Ulam 😉

img_1609
Remetuk Laut atau Gerygone sulphurea yang bisa kalian temui di halaman rumah
img_5709
Sering melihat burung yang diwarnai atau yang biasa dibuat kelengkapan sembahyang di klenteng? Ini dia salah satu dari jenis burung Bondol (Lonchura sp.) tersebut dalam versi anakan (diambil di Kali Lamong, 2012)
img_6103
Si lincah dan berisik, Prinia inornata atau Prenjak Padi.

Hmm… sebenarnya banyak sih yang bisa saya ceritakan dari kegiatan birdwatching. Tapi akan saya sambung di postingan selanjutnya saja. Semoga penjelasan di atas nggak terlalu ilmiah bagi teman yang masih awam ya (kalau bagi rekan birdwatcher mah ini penjelasan yang sangat receh hehe). At the end, yuk, ikut saya terbang menembus batas! Kami tunggu godaan untuk ikut birding sekaligus menjaga populasi burung di alam.

NB: Sambil mengamati, jangan lupa pula unduh aplikasi buatan anak negeri yang satu ini. Gunanya agar mudah mengenali jenis burung dijumpai dan tidak terbebani membawa buku-buku panduan yang tebal.

Download sekarang yah! Kamu juga bisa ikut berkontribusi menginfokan pengamatanmu, loh :)
Download di Play Store sekarang yah! Kamu juga bisa ikut berkontribusi menginfokan hasil pengamatanmu, loh :)

You may also like

9 Comments

  1. Mba Hen.. elang bondol beneran kamu potret? Cintanya aku sama elang bondol itu. Endemik Indonesia kan ya dia

    Dulu aku pikir Birdwatching itu ya cuma salah satu fokus wildlife photography aja. Trnyata not necessarily ya. Bisa Birdwatchig tanpa motret. Kayak Pokemon Watchers. :”

    1. Maskot Jakarta, iya. Tapi bukan endemik. Yang endemik Elang Jawa.
      Iya Ian, itu motret sendiri hehehe. Kapan2 ikutan birding yuk, biar bisa ketemu :)

  2. Mbak niing, pernah birdwatching di Sanggong nggak? Aku denger cerita dari temen yang liputan tentang program satwa liar di Taman Nasional di Gorontalo dan Sigi, Palu katanya di hutannya ada tempat di atas pohon buat nyanggong, ngintip dari lubang kecil buat pengamatan burung. Ada yang menarik burung maleo, dia kalo abis bertelur pingsan saking gedenya, nah orang2 biasanya nyanggong buat ngamatin maleo itu. Aku yang awalnya nggak ngeh sama dunia burung jadi antusias, apalagi abis baca deskripsimu, nice share mbak :)))

    1. aku belum pernah pengamatan sampai Sulawesi, Ula. Dan lagi jam terbangku masih cupu, hehehe. Aku pernah tahu bapak fotografer yang punya proyek bikin buku dan motret sampai kesana. Nama beliau Riza Marlon (mungkin pernah dengar?). Foto-fotonya bagus dan bercerita. Maleonya lucu. Di pasir-pasir gitu hahaha. Tapi memang untuk pengamatan jenis tertentu, teman-teman yang ada ‘keperluan’ (seperti mengamati tingkah laku atau memang mau memotret), menggunakan camo atau birdhide. Camo ini kependekan dari camouflage. Bisa berupa pakaian yang nyaru sama warna lingkungan sekitar atau rumbai-rumbai daun gitu lah.Kalau birdhide biasanya kayak yang kamu bilang tadi. Jadi ngamatinnya malah bisa lebih pewe.

    1. Halo, tentu ada. Biasanya dari kampus-kampus. Contohnya Peksia Himbio Unair, Pecuk ITS, Kirik-kirik FKH Unair, dan Srigunting Unesa. Kesemuanya masih aktif sampai sekarang. Biasanya beraktivitas di akhir pekan, di Wonorejo. Untuk komunitas umum dulu bernama Sarang Burung Surabaya, namun saat ini saya kurang update apakah namanya masih sama atau sudah berganti. Semoga membantu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *