Pulau Rambut: The Last Sanctuary

img-20161105-wa0012

Kalau bicara soal birdwatching, cerita saya mungkin tak habis dalam satu dua kali posting. Hehe. Jadi, saya tuangkan saja soal itu lewat cerita birding yang saya lakukan baru-baru ini. Sekaligus dalam rangka memperingati #HariCintaPuspaDanSatwaNasional2016.

Cerita dimulai saat saya ikut kegiatan bernama Jakarta Bird Walk. Sebuah agenda bulanan yang diinisiasi rekan-rekan pengamat burung di Jakarta. Rata-rata pesertanya adalah mahasiswa berbagai pergururan tinggi di kota ini. Turut hadir pula para alumni mereka, bahkan awam yang menyukai kegiatan sains outdoor semacam ini. Dalam kegiatan kali itu, kami rencananya akan pengamatan di Pulau Rambut dengan tempat bermalam di Pulau Untung Jawa yang berada persis disebelahnya.

Selain Pulau Rambut yang selalu menjadi penutup rangkaian acara Jakarta Bird Walk, beberapa tempat lain yang menjadi jujugan sebelumnya meliputi area Monas, Ragunan, Hutan Kota Srengseng Sawah, GBK Senayan, Hutan Kota Pesanggrahan, sampai Taman Menteng.

Saya sendiri baru bergabung karena sudah lama tidak birding. Bersama teman sekomunitas waktu kuliah dulu, Johan, kami menuju titik kumpul di Terminal Kalideres. Tujuan pemberhentian kami adalah Pantai Tanjung Pasir. Sebuah pantai berpasir cokelat yang menjadi gerbang keberangkatan kami ke Pulau Rambut.

Inilah penampakan Johan
Inilah penampakan Johan

Tepat tengah hari, kami pun tiba di Tanjung Pasir. Sambil menunggu perahu yang akan membawa kami ke Pulau Rambut siap, saya sempat berpikir sesuatu. Terus terang, saya ini cukup mabuk laut. Beberapa kali nyebrang selalu tersisa sensasi bergoyang yang bikin mual. Karena nggak tahu seberapa jauh jaraknya, saya pun jaga-jaga dengan memutuskan minum anti mabuk. Ehhhh… lah kok ternyata begitu sudah naik perahu, sekitar 15-20 menit kemudian saya sampai. Kan tengsin ya… saya pun dibilang cupu sama Johan. Hehe.

img_20160417_065442
Rombongan tiba di Pulau Rambut
img_20160416_130450_hdr
Sebuah ritual nggak enak kalau nggak narsis

Sesampainya di pulau, kami disambut pihak Suaka Margawasatwa sebelum dibagi kedalam kelompok pengamatan oleh panitia. Namun, bukannya memperhatikan pihak balai, saya malah mengamati sampah di sekitar pulau.

Kegemasan saya akan sampah berlanjut sampai ke acara pengamatan burung. Disepanjang jalan, di pesisir pantai, sampah bertebaran dimana-mana. Dengan statusnya sebagai Suaka Margasatwa, kenapa sampahnya bisa sebanyak itu ya? Apa iya ini layak disebut tempat perlindungan? Apalagi masuk kesini nggak bisa sembarangan dan butuh perijinan dari Pusat Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta. Kok tega-teganya masih nyampah?

Ah, selidik punya selidik, ternyata sampah itu datang dari pulau sebelah (Untung Jawa). Pulau yang juga dikenal sebagai kawasan penyangga konservasi namun juga dimanfaatkan sebagai destinasi wisata. Tak berhenti disitu, ternyata sampah-sampah ini juga berasal dari aliran air yang bermuara ke Teluk Jakarta. Mereka hanyut, dan terbawa arus kesini.

Sampah-sampah ini lumayan ajaib loh, teman. Bukan sekedar kemasan plastik/styrofoam bekas ini itu, tapi juga sampai tas wanita, sandal jepit, perabot kayu, HELM, bahkan KASUR! Saking banyaknya, sampah-sampah ini sampai sudah menyaru dengan pasir pantai atau bercokol di akar-akar mangrove.

img_20160417_085841
Fotonya bukan rekayasa hasil dikumpulin terus ditata begini ya. Memang begini adanya.
img_1410
Sampah-sampah plastik yang hanyut terbawa sampai ke Pulau Rambut.
img_1428
Bos, sedih ya bos ngeliatin sampahnya? :))))

Ini mengkhawatirkan sekali. Apalagi Pulau Rambut merupakan tempat yang dimanfaatkan ribuan burung untuk melestarikan populasinya. Terutama dua jenis terancam punah seperti Cikalang Christmas dan Bangau Bluwok. Untuk teman ketahui, Bangau Bluwok ini berstatus Endangered berdasarkan IUCN Red List Threatened. Sementara Cikalang Christmas adalah spesies asal Pulau Christmas yang berstatus Critically Endangered. Menurunnya jumlah keduanya diakibatkan semakin sedikitnya kawasan yang sesuai untuknya tinggal. Mengingat tempat perlindungan terakhirnya yang sudah dipenuhi sampah itu, apa masih bisa Pulau Rambut sesuai bagi hewan-hewan terancam punah tersebut?

Mycteria cinerea atau Bangau Bluwok
Mycteria cinerea atau Bangau Bluwok
img_1368
Cikalang Christmas atau Fregata andrewsii

Oya, selain pengamatan burung, menikmati Pulau Rambut juga bisa disambi dengan leyeh-leyeh di bawah naungan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang banyak tumbuh disini. Sambil menikmati angin berhembus yang menghantarkan aroma pandan (Pandanus tectorius) bercampur aroma bulu dan bau kotoran burung yang mengering.  Haha. Kalau tak percaya, cari saja yang warnanya putih kayak kapur kering pada dahan, daun, bahkan jalanan setapak pulau ini. Itulah sumbernya baunya :)))

Ngaso dulu kita~~~
Ngaso dulu kita~~~
img-20161105-wa0007
Salah satu sisi pencegah abrasi pantai yang ada di Pulau Rambut

Jelang senja, pengamatan pun dihentikan. Kita menunggu perahu yang akan membawa kita ke pulau sebelah (Untung Jawa) untuk bermalam. Disaat itu, nampak matahari yang bersinar indah. Syahdu sekali. Nggak nyangka di Jakarta bisa lihat matahari seindah ini. Bonus bagi para pengunjung yang menyambangi Pulau Rambut 😀

Cantiknyaaa...
Cantiknyaaa pulau Rambut di kejauhan saat matahari terbenam.

Setibanya kami di Untung Jawa, kami bermalam disebuah pondokan milik balai suaka margasatwa. Sayangnya, ruangan yang disediakan tidak mampu menampung karena jumlah kami lebih banyak. Dan demi kenyamanan, saya dan Johan memutuskan menyewa kamar sendiri-sendiri tak jauh dari pondokan tadi.

Tidak banyak yang kami lakukan di pulau Untung Jawa mengingat tujuan kedatangan kami kesini sebagai apa. Namun berdasar pengamatan, di Untung Jawa teman bisa menikmati berbagai ikan segar yang tersaji di lapak-lapak rumah makan. Juga bisa melakukan olahraga air seperti banana boat atau snorkeling.

img_20160417_063006
Biar eksistensi makin hakiki di blog sendiri. U yeah~
img_20160417_062906
Dermaga Pulau Untung Jawa di pagi hari
img_20160417_060008
Tempat kami ngungsi akibat ruangan yang tak cukup
img_20160417_063124
Pantai di Pulau Untung Jawa. Banyak permaianan air yang bisa dicoba

Dari hasil pengamatan hari itu, didapatkan hasil perjumpaan dengan beberapa spesies burung air seperti Cangak Abu, Kuntul Besar, Ibis Roko-roko, Kuntul Kerbau dan masih banyak lagi. Tentunya kami juga bertemu dengan spesies langka Bangau Bluwok dan Cikalang Christmas. Tambahan berupa satu raptor masuk kedalam list, yaitu Elang Laut Perut Putih yang saat itu tengah soaring mencari mangsa.

Elang Laut Perut Putih (Haliaetus leucogaster)
Elang Laut Perut Putih (Haliaetus leucogaster)
Copsychus saularis atau Kucica Kampung yang senang bikin ramai. Dimanakah dia berada?
Copsychus saularis atau Kucica Kampung yang senang bikin ramai. Dimanakah dia berada?

Pengamatan burung di Pulau Rambut semakin terbantu dengan adanya menara pantau setinggi 15 meter. Dari ketinggian ini, kita bisa menengok kearah kanopi hutan mangrove yang menjadi tempat bersarang burung-burung air. Keluarga-keluarga burung nampak jelas dari atas sini terlihat tengah berjemur atau memberi makan anaknya.

img_1290
Keluarga Bangau Bluwok. Apakah kalian bisa melihat anak-anak bangau? :)
img_1295
Kawanan burung air yang asik terbang kesana-kemari.
img-20161105-wa0018
Mengamati dari menara pantau

Sepanjang musim kering, kunjungan ke Pulau Rambut dan Untung Jawa bisa menjadi pilihan destinasi hiburan saintifik bagi keluarga. Senangnya dapet, ilmunya juga dapet. Apalagi kedua pulau ini terbilang dekat dari Jakarta dan terjangkau harganya. Jangan lupa urus surat perijinan bila ingin memasuki Pulau Rambut ya. Sekaligus… buanglah sampah pada tempatnya. Mari menjaga kelestarian lingkungan untuk kehidupan berkesinambungan.

Selamat jalan-jalan, teman sejalan! :)

Nb: Video selama perjalanan bisa dilihat disini! 😉

You may also like

2 Comments

  1. Ini pulau yang kamu ceritakan banyak sampah tapi sunsetnya indah dulu ya mbaak.. Banyak-banyak nulis tentang ini ya mbak.. Akan sangat membantu memperkenalkan alam dan satwa bagi awam sepertiku. Hahahaha…

    1. Iya betul, kapan-kapan kesini yuk. Atau ikutan aku ngamatin burung. Di Senayan saja atau Monas atau Ragunan. Nanti juga ketemu :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *