Kehangatan Dieng Lewat Sececap Rasa

IMG_20160515_063834_HDR

Siapa yang tak kenal Dataran tinggi Dieng? Berpemandangan hijau nan elok, punya matahari terbit indah layaknya telur ceplok, sekaligus hawa dingin menohok. Semua yang pernah kesana pasti merasa rindu bisa kembali menjejakkan kaki di rumah para dewa itu.

Saya pun demikian. Alih-alih rindu merasakan pemandangannya, saya justru rindu citarasa lokal yang pernah saya nikmati selama disana. Memang ada yang khas? Oh, jelas. Dan ini salah sekiannya.

 

Tempe Mendoan

Ketika kamu pergi ke Dieng menggunakan kereta, biasanya kamu akan singgah di daerah Purwokerto. Sebuah daerah yang menjadi surganya tempe mendoan, hohoho. Pastikan sebelum atau sesudah ke Dieng, kamu mampir ke salah satu toko oleh-oleh yang menjual mendoan. Dijamin rasanya bikin kamu ketagihan dan susah melupakan. Sensasi gurih tepung mendoan dengan tempenya yang tipis-tipis kempos itu bikin makannya nggak cukup satu. Apalagi kalau dicocol saus kecapnya pas lagi hangat-hangatnya. Hm…nikmat Tuhan manakah yang bisa engkau dustakan?

Mendoan yang bisa kamu pilih sendiri kemasannya. Bisa minta digoreng di tempat atau dibawa pulang mentahan. Jangan lupa cobain gethuk juga!
Mendoan yang bisa kamu pilih sendiri kemasannya. Bisa minta digoreng di tempat atau dibawa pulang mentahan. Jangan lupa cobain gethuk juga!

 

Teh Tambi

Dieng yang dingin akan terasa nyaman disandingkan dengan yang hangat. Semisal disambi minum teh seperti Teh Tambi ini. Apa sih Teh Tambi itu? Sebenarnya dia adalah teh dari olahan daun teh hitam dengan tingkatan mutu pecco souchon. Dengan kategori ini, olahan teh akan berbentuk tebal, kasar, dan potongan daunnya cenderung pendek.

Nama Tambi diambil dari nama perusahaan pemroduksinya bernama PT.Tambi. Yang mana juga sekaligus merupakan nama desa penghasil teh di kaki Dieng yang berbatasan dengan Wonosobo dan Temanggung.

Rasa teh ini cukup lembut. Wangi teh yang khas tanpa campuran lain (seperti melati atau rasa-rasa lainnya) memberi kesegaran tersendiri buat teh yang satu ini. Warnanya juga berbeda dari teh kebanyakan. Sedikit lebih merah daripada coklat seperti yang sering kita lihat sebagai warna teh.

Teh Tambi yang memberi kehangatan di Dieng yang dingin
Teh Tambi yang memberi kehangatan di Dieng yang dingin

 

Mie Ongklok

Duh, yang satu ini saingan terberatnya tempe mendoan. Enaknya parah. Kuahnya itu legit. Cenderung manis daripada gurih yang mungkin muncul dari dominansi gula jawa terhadap ebi. Tekstur kuahnya juga nggak cair. Melainkan kental, meski tidak sekental papeda akibat adanya campuran kanji. Tekstur mie juga gepeng-gepeng. Seperti kwetiau hanya tidak begitu lebar. Tambahan sate sapi yang juga manis, melengkapi santapan Mie Ongklok yang masih panas jadi pas. Makin sedap kalau si kuah tadi disiram bumbu kacang dan taburan merica.

Ongklok sendiri tenyata berasal dari nama keranjang bambu yang digunakan saat merebus mie. Lewat ongklok tersebut, mie dan sayur akan dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Mirip dengan cara mamang mie ayam mengolah mie-nya bukan? Nah, kalau di daerah sekitaran Dieng, istilah memasak seperti itu namanya di-ongklok. Maka jadilah sebutan itu sebagai identitas sebuah sajian khas mereka.

IMG_20160514_152523_HDR (2)
Kuah kental dan rasa manisnya pas berpadu dengan sate sapi

 

Carica

Carica ini mungkin harusnya punya nama lain yang lebih lokal dan spesifik ya. Mengingat julukan carica merujuk pada genus tanaman ini yang juga masih satu saudara dengan pepaya (Carica papaya). Persaudaraan ini makin jelas bukan hanya dari nama genus yang sama, tapi juga dari bentuk (morfologi) buah dan tanaman yang mirip antara carica dan pepaya.

Di Dieng, carica memang menjadi produk oleh-oleh unggulan yang dibanggakan. Dari yang sudah diolah sebagai manisan dengan beragam pengemasan, hingga yang masih berwujud buah, banyak dijajakan. Nggak susah menemukan pedagang carica disana.

Dimas sangat menggemari manisan carica dan dia juga sempat tergoda mencicipi carica yang masih buah. Apakah seenak manisannya? Rasanya jauh berbeda. Carica buah memang sama-sama berbau manis seperti manisannya. Tapi rasanya jauh dari itu. Justru cenderung hambar. Daging buahnya juga cenderung oranye atau kuning bening seperti isi blewah. Bijinya sih tetap sebanyak pepaya. Hanya saja ukuran buahnya kecil. Mungkin sebesar kepalan tangan orang dewasa.

IMG_20160515_094929_HDR (2)
Carica seperti yang tampak pada gambar di bagian tengah (berwarna kuning)seperti pepaya yang masih muda. Di Dieng, carica biasa dibuat manisan dalam cairan sirup. Paling enak kalau disantap dingin. Carica tanpa dibuat manisan rasanya hambar saja. Tekstur daging bening seperti blewah.

 

Kentang

Pengen jalan ke Dieng tapi bikin kamu yang diet karbo khawatir? Nggak perlu. Kan Dieng surganya kentang yang dikenal rendah kalori dan gula itu. Liburan kamu bakal tetap mengenyangkan dan menenangkan kok sekalipun mengunyah karbo.

Saking banyaknya kebun kentang di Dieng, kita bisa menemukan banyak olahan kentang disini. Semisal yang biasa dijadikan oleh-oleh sebagai keripik kentang beragam rasa, sampai yang langsung dibumbui dan digoreng di pinggir jalan panas-panas. Hmmm lezatnya manis-manis pedas!

Setelah digongso di atas kuali, kentang dibumbu manis gurih. Goceng aja udah kenyang banget. Bentuk kentang yang mini-mini (dikenal juga sebagai 'kentang rendang'), bikin nggak kerasa udah makan banyak :))
Setelah digongso di atas kuali, kentang dibumbu manis gurih. Goceng aja udah kenyang banget. Bentuk kentang yang mini-mini (dikenal juga sebagai ‘kentang rendang’), bikin nggak kerasa udah makan banyak :))

 

Purwaceng

Minuman hangat ini saingan kehangatan yang ditawarkan teh Tambi. Ia diambil dari tumbuhan herbal bernama Pimpinella pruatjan. Dikenal secara turun-temurun kalau ia juga punya khasiat sebagai afrodisiak! Uwow. Pas saya beli ini dari toko oleh-oleh, jelas saya nggak ngeh sama khasiatnya. Lantas apakah warga mengonsumsinya karena khasiat utamanya itu? Jawabannya tidak juga.

Purwaceng jarang dinikmati dalam bentuk orisinalnya karena rasanya yang pedas seperti jahe. Sehingga, ia sering ditambahkan pada kopi atau susu supaya lebih nikmat. Di toko oleh-oleh, biasanya sudah dikemas sachet sehingga mempermudah mengonsumsinya.

Akibat rasa pedasnya tersebut, purwaceng juga disebut memilliki khasiat mengusir masuk angin, menghangatkan tubuh, dan menghilangkan pegal-pegal. Itulah kenapa, ia banyak dikonsumsi sebagai minuman sehari-hari disana

Kalau di seduh seperti kopi susu. Tetapi rasanya pedas seperti bandrek.
Kalau di seduh seperti kopi susu. Tetapi rasanya pedas seperti bandrek.

 

Nah, kurang lebih itu tadi segelintir olahan dari tanah Dieng yang bikin rindu dicecap. Selain mereka, masih ada pula hasilan khas tanah Dieng seperti kacang koro dan jamur. Jangan lupa mencoba semuanya saat kesana ya, teman sejalan! Selamat liburan!

 

NB: Artikel ini sudah pernah ditayangkan dalam situs kitaina.id: https://kitaina.id/mencecap-dieng-lewat-kehangatan-rasa/

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *