Menyuarakan Musik (Daerah) Indonesia di Benua Biru

Menyerahkan tema #MendadakNgeBlog minggu ini kepada Zaki, teman kami si wartawan musik satu itu, rasanya agak bencana. Selain temanya sudah pasti tentang musik, ruang geraknya pun dia buat spesifik lewat subtema ‘Menyelamatkan Musik Indonesia’. Sial. Doubletrackers yang isinya jalan-jalan jadi agak ruwet dibikinnya. Mau bahas playlist, tapi kok aksinya kurang heroik. Nggak ada misi penyelamatan’-nya, gitu. Dan jelas kurang bau jalan-jalan.

Nah, terinspirasi dari tulisan teman blogger lainnya—Egha—di postingan #MendadakNgeBlog terbarunya (disini), saya pun kepikiran buat ikutan mengangkat musik daerah. Kan, musik daerah itu musik yang Indonesia banget dan harus diselamatkan. Soalnya, semisal dia ini flora/fauna, kategorinya berdasar IUCN Red List Threatened mungkin sudah taraf VU alias vulnerable. Rentan terhadap kepunahan dan butuh special care supaya nggak punah. Hehe.

Bicara soal special care dan aksi ‘penyelamatan’, biasanya tidak terlepas dari pola regenerasinya nih. Kira-kira, ada nggak sih di negara seluas ini anak mudanya masih bersemangat ‘menyelamatkan’ musik warisan bangsanya? Saya yakin masih. Entah mungkin secara teori atau secara aplikatif. Terbukti dengan masih adanya sekolah musik atau sekolah seni yang mempelajari musik budaya tersebut.

Sayangnya, tidak semua generasi muda bersemangat memperjuangkan warisannya tersebut. Mungkin teman-teman muda ini merasa malu atau malas mempelajarinya karena ribet. Apalagi sekarang jamannya EDM, gitu loh. Sementara yang bersemangat memperjuangkan, tidak semua aksinya terdengar ke penjuru negeri. Lalu yang bersemangat sisanya, ternyata nggak punya kesempatan belajar karena nggak ada yang bisa mengajari dengan mumpuni. Dan untuk itu, agaknya saya harus bersyukur karena punya kesempatan belajar dan diajari musik daerah oleh yang mumpuni :)

Waktu SMA, saya pernah tergabung dengan program kesenian di sekolah yang bernama Krida Art Group. Melalui program ini, kami akan menempuh persiapan berbulan-bulan agar bisa menari atau bermusik dengan baik. Tak peduli memang sudah punya bakat seni atau masih fresh blood, seleksi dilakukan secara adil. Dari sanalah para pembimbing akan mengelompokkan bakat para siswa kedalam penari atau pemusik. Hasilnya, kebanyakan akan condong ke salah satu, namun ada pula beberapa yang mumpuni keduanya.

Daya tarik program ini bukan sekedar belajar berkesenian, kami juga ditugaskan mengusung budaya Indonesia ke luar negeri! Abege mana yang nggak mau jalan-jalan ke mancanegara, Bro! Sudah dibekali skill berkesenian yang langka, output-nya kami dikirim ke Eropa. Setiap tahun tujuannya berbeda-beda pula. Ah luar biasa.

Lolos seleksi dan berangat ke Eropah, dua anak hutan ini menempuh jalur masing-masing. Saya dengan art group, sementara Ara (sahabat saya dari kecil yang SMA di sekolah yang sama) menempuh jalur homestay. Seragam yang sama, Merah Putih, dikira orang-orang di bandara kita adalah kontingen olahragawan. Hehehe.
Dua anak hutan ini lolos seleksi dan menempuh jalur masing-masing menuju Eropa. Saya dengan Krida Art Group, sementara Ara (sahabat saya dari kecil yang juga bersekolah di Krida) menempuh jalur Krida Homestay. Seragam yang sama, Merah Putih, sempat membuat kita dikira orang-orang di bandara sebagai kontingen atlet. Hehehe. Foto diambil 08 Agustus 2006, di Schipol. Abaikan tanggal kamera yang salah.

Dari hasil seleksi waktu itu, saya dikelompokkan kedalam pemusik. Dibilang bisa ya bisa, dibilang mahir jelas nggak. Diantara para pemusik itu, saya yang paling lamban belajarnya. Jadi cuma dipasrahi pegang bonang, akordeon, dan GONG huahahaha. Dikesempatan tampil lainnya, saya berkesempatan pegang Sampe’, alat musik khas suku Dayak yang sekarang di rumah malah jadi pajangan dinding.

img-20161114-wa0004
Satu dari dua Sampe’ yang ada di rumah. Yang satunya, Sampe’ sungguhan, berukuran lebih besar, kokoh, dan berwarna cokelat dengan lukisan pola burung Enggang dan Naga khas Dayak Kenyah. Sudah dihibahkan ke sekolah, entah apa kabarnya sekarang. Saya belajar kepada seorang pemain Sampe’ profesional selama di Bontang tapi cuma bisa lancar satu lagu. 

Ternyata, mempelajari musik tradisional ini susahnya setengah mati buat saya. Instrumennya apalagi. Nggak sama rupanya dengan saat saya belajar keyboard atau electone. Tidak ada kunci atau notasi yang dibuat dalam not balok semacam itu. Yang ada adalah kecermatan dan kecepatan.

Bonang misalnya, terdiri dari dua jenis. Bonang utama (kalau tidak salah namanya bonang barung? Saya lupa, CMIIW) dengan karakter suara yang lebih rendah. Kemudian satunya, bonang penerus yang bersuara lebih tinggi. Otomatis selama ada tarian yang diiringi bonang, pemain bonang pasti terdiri dari dua orang. Ya, semacam berduet lah. Satu pegang bonang barung, satu lagi bonang penerus.

Saat mempelajari instrumen ini, saya harus ingat seperti apa nada masing-masing ‘pentolan’ bonang. Biar kalau nanti harus mengikuti sebuah lagu untuk tarian, saya jadi tahu bonang sebelah mana yang dipukul. Berapa kali dia dipukul, seberapa cepat perpindahan dari bonang satu ke bonang lainnya, seberapa keras pukulannya, plus harus sekompak apa sahut-sahutan saya dengan teman saya pemain bonang satunya. Mau dicatat jadi not balok? Ya ora iso. Hehe… Sering salah? Jelas. Ngantuk sedikit, buyar konsentrasi, lupa irama lagunya, siap-siap dipelototin pemusik lainnya.

Gong pun demikian. Ternyata nggak seasal pukul yang saya kira. FYI, gong itu selalu terdiri dari dua gantungan bundaran. Yang besar disebut gong, sementara yang agak kecil disebut kempul. Nah kempul ini berbunyi lebih nyaring daripada gong yang bunyinya cenderung menggaung. Sebagai bunyi yang paling ritmis dan paling ‘bergaung’, salah pukul antara gong dan kempul ternyata bisa merusak satu kesatuan musik. Ya secara bunyinya ‘GONG’ banget, gitu. Dalam memukul instrumen (yang kelihatannya sepele) ini, saya selalu mengikuti instruksi guru saya yang pegang kendang. Kepala beliau biasanya akan bergerak ke kanan atau kiri sebagai aba-aba buat saya untuk memukul gong atau kempul. Kadang kalau beliaunya gregetan karena saya salah terus, sambil ngendang beliau bakal bersuara “puuuuull…pul-pul-gong” (artinya: kempul dipukul dengan jeda panjang, lalu pukul kempul dengan cepat dua kali, baru kemudian gong).

Coba cari dimana saya...
Coba cari dimana saya…

Lain lagi dengan akordeon. Karena agak lumayan familiar dengan keyboard dan electone, memainkannya tidak terlalu ada kendala. Meskipun saya tetap harus semedi di gudang wardrobe biar belajarnya nggak salah-salah terus, hahaha. Akordeon ini memang bukan alat musik asli Indonesia. Namun, kebanyakan musik Melayu memanfaatkannya.

Pada instrumennya, akordeon terbagi dua kubu. Sisi kanan dengan tuts yang biasa kita lihat pada keyboard, lalu sisi kiri yang terdiri dari banyak tonjolan-tonjolan sebagai individual bass not. Dibandingkan kesulitan memainkannya, satu hal yang pasti dari alat ini adalah BERAT. Alat yang saya pakai dulu berkisar 14 lbs atau 6,3 kg. Itu baru menggendongnya. Makin terasa berat saat menggerakkan bellows-nya. Pertama kali pakai sih, bahu saya biru kanan-kiri dan lengan saya lebih berotot. UYEAH. :)))

kag_v__khs_ii_289-lanczos3-tile
Beratnya lumayan juga. Bellow adalah bagian yang berupa lipatan-lipatan di bagian tengah akordeon. Ia bagian yang ditarik ulur untuk menentukan panjang pendeknya bunyi pada akordeon.

Selama persiapan sebelum dikirim ke Eropa, kami nggak belajar di sekolah saja. Beberapa event kami ikuti untuk melatih kesiapan dan biar nggak demam panggung. Sebuah tempat makan di area Dago Atas- Bandung, juga tak luput dari sasaran manggung kami.

Dalam misi muhibah kesenian Krida Art Group kali itu, kami direncanakan mengikuti International Folklore Festival di dua negara. Mereka adalah Belgia (Westerloo) dan Ceko (Sumperk dan Cerveny Kostelec). Sementara Belanda (Sluiskill) menjadi basecamp kami. Selama di Belgia kami tinggal bersama foster parent, sementara di Ceko kami tinggal berpindah dari penginapan satu ke penginapan lainnya. Buat saya, kesempatan ini sangat membekas karena bertepatan dengan momen pertama kalinya menginjakkan kaki di benua orang (meski cuma sebulan). Norak, norak deh.

with-nicole-tile
Dari kiri atas ke kanan atas: (1) Saya dan Ganis bersama Nicole van Opstal, foster parent selama di Westerloo, Belgia. (2) Saya bersama Gert Jansen dan putranya, Pasha yang sekarang sudah berusia belasan. Beliau adalah penanggungjawab kami selama di Sluiskill, Belanda. (3) Saya dan Ganis bersama Lieze Neusken, keponakan dari Nicole. Sekarang dia sudah menjadi gadis dewasa. Dari kiri bawah ke kanan bawah: (1) Saya dan Eric, driver bus kami selama berkeliling dari Belanda, Belgia, hingga Ceko. (2) Saya, Eric, dan dua LO selama di Cerveny Kostelec, Ceko. (3) Saya bersama Aghi dan Teresa, LO selama di Sumperk, Ceko. 
ajax-amsterdam-tile
Karena pertama kali dan masih satu-satunya pengalaman di Benua Biru, maka saya super norak. Maafkan ya. Iyain aja. Selama di Belanda, selain ke Ajax, kami juga diajak berkeliling ke Vollendam dan foto menggunakan baju adat plus sepatu klompen kayu yang khas itu. Sayang selama di Belgia tidak banyak foto yang bisa diabadikan karena saya dan Ganis (roomate saya) lebih banyak tidur. Balas dendam jet lag. Hahaha.
Gambar ini dikumpulkan di Ceko. Gambar paling atas adalah jalan-jalan di Adršpašské Skály, sebuah situs batuan megalitikum di utara Ceko. Sementara foto tengah diambil saat beradai di Praha. Tepatnya di St. Vitas Cathedral. Gambar paling bawah adalah saya bersama dua guru saya berlatar pemandangan kota Praha dari atas Charles Bridge yang membentang di atas Vlatava River.
Gambar ini dikumpulkan di Ceko. Gambar paling atas adalah jalan-jalan di Adršpašské Skály, sebuah situs batuan megalitikum di utara Ceko. Sementara foto tengah diambil saat beradai di Praha. Tepatnya di St. Vitas Cathedral. Gambar paling bawah adalah saya bersama dua guru saya berlatar pemandangan kota Praha dari atas Charles Bridge yang membentang di atas Vlatava River.
in-d-center
Tower yang kayak Disneyland ini disebut Kostel Panny Marie Pred Tynem. Adanya tepat di jantung kota Praha, perisnya di  Old Town Square. Tak jauh dari sini ada pula situs Astronomical Clock yang sangat ditunggu para pelancong untuk berbunyi. Maklum, bunyinya hanya 12 jam sekali dan setiap berbunyi, akan ada dua patung yang keluar dari atas jam. Selama di kawaan Old Town Square ini, beberapa kali kami sempat disapa oleh penduduk setempat (terutama yang jual suvenir) dengan Bahasa Indonesia. Bahkan ada seorang nenek yang mengaku dulu pernah tinggal di Indonesia pada masa perang dunia. Bahasa Indonesianya cukup baik dan lancar. Salut! 
Sumperk adalah sebuah distrik di Olomouc Region. Di kota yang juga disebut sebagai "The Gate To Jeseniky Mountains" ini, kami pernah tampil di sebuah Folklore Festival.
Sumperk adalah sebuah distrik di Olomouc Region. Di kota yang juga disebut sebagai “The Gate To Jeseniky Mountains” ini, kami pernah tampil di sebuah Folklore Festival dan berkeliling kota menampilkan kesenian Indonesia.
me-n-eca
Bersama Eca, teman satu tim yang sekarang jadi news anchor di TVRI dan selebriti di negeri Jiran. Di belakang kami ada sebuah toko sepatu yang sangat terkenal di Indonesia. Tahukah kamu kalau merk tersebut justru asli dari Ceko?

Kenorakan di atas nggak berhenti disitu. Bayangkanlah musik dan tarian khas negara kita dipertontonkan dihadapan ribuan orang. Rasanya luar biasa. Norak ini makin menjadi-jadi. Atmosfer penonton yang antusias dengan tarian dan musik kita sangat nggak bisa digantikan. Apalagi kalau kita ikut ‘devile’ keliling kota bersama kontingen-kontingen negar lain. Rasanya musik dari Indoneisa yang bergema di seluruh penjuru kotalah yang terdengar paling ‘kaya’. Kostum kita pula yang paling berwarna dan beraneka. Tarian kita juga yang paling memancing massa. Jadi pusat perhatian di keramaian itu sensasinya memang nggak bisa dijelaskan kata-kata.

audiences-kostelec-horz
Keseruan pengunjung di area pertunjukan. Kiri adalah para penonton di Cerveny Kostelec. Tengah saat pertunjukan di sebuah panti jompo, lalu yang paling kanan saat berada di Sumperk.
cimg6259-tile
Suasana saat keliling kota bersama kontingen negara-negara peserta di Ceko. Pada momen ini kami akan berjalan dan ‘membuat keributan’. Entah itu tiba-tiba berhenti lalu menari di tengah jalan, atau berjalan sambil nyanyi-nyanyi. Tebak saya dimana?

Beda lagi dengan kondisi di atas panggung. Saya sendiri, karena dominan memainkan akordeon buat iringan Tari Bedana (Lampung), rasanya ualaaaay banget bangganya. Dan saya nggak bisa nahan merinding tiap teman-teman pemusik yang lain (kebetulan saya nggak kebagian peran) memainkan Jangi Janger. Bunyi bambu pada Rindik berpadu dengan rancaknya kendang Bali dan Ceng-ceng itu indah banget. Nggak tahu kenapa rasanya ribuan kali lebih keren dari yang ada di Balinya sendiri hahaha.

Saya juga suka musiknya Jejer Banyuwangi yang agak ke-Bali-balian dan berisik sama teriakan ‘oeeyyy-oeeyyy’ dari kami pemusiknya. Hahaha. Seru banget rasanya apalagi difusikan sama lantunan flute milik guruku itu. Ada pula Tari Mambri (Papua) yang musiknya berbekal tabuhan Tifa saja, tapi didengar di negara orang sensasinya kok keren bener. Padahal kalau dibandingkan dengan memainkan musiknya Tari Jaipong, Merak, dan Giring-giring yang juga kami bawakan saat itu, rasanya musik iringan Tari Mambri jauh lebih sederhana. Tapi kesederhanaannya inilah yang mencengangkan penonton. Mungkin karena tariannya juga seru ya gerakannya. Rancak banget. Nggak kalah rancak sama Tari Saman (Aceh) yang juga kami tampilkan.

borneo-tile
Tarian dan tentunya musik yang kami bawakan. Kiri atas ke kanan atas: Tari Giring-giring, Saman Aceh (pria), dan Giring-giring lagi. Tengah kiri ke tengah kanan: Saman Aceh (wanita), Merak, dan Jaipong. Kiri bawah ke kanan bawah: Jejer Banyuwangi, Janger, dan Mambri
bohle-reizen-tile
Rombongan kami, Krida Art Group V SMAT Krida Nusantara.

Dalam acara tersebut, ada kalanya juga kami tidak menari. Hanya murni bermusik dengan Angklung. Di sesi tersebut, semua anggota Krida Art Group (penari dan pemusik) akan membawakan lagu rakyat populer dari negara yang kami kunjungi. Beberapa diantaranya seperti Blue Danube, Colonel Bogey, Heb Jou Even Voor Mij, La Vie En Rose, dan Skoda Lasky (silakan di klik judul-judul tersebut kalau mau dengar lagunya). Penonton biasanya akan ikut bernyanyi bareng dan itu luar biasa merindingnya. Iringan angklung yang mengandalkan fokus, kekompakan dan harmoni itu bener-bener menambah kesan merinding. Oya, saat bermain angklung ini, saya lagi-lagi kebagian tempat di belakang karena bertugas pegang sederetan angklung-angklung besar yang berfungsi sebagai rhythm. Ya begitulah nasib.

kag-v-khs-ii-545
Tahu kan, dimana saya berada? hehehe

Bukan sombong nih, tapi dibanding penampilan negara lain, budaya kita ini kaya banget. Kalau diperhatikan sesama peserta, peserta dari negara Eropa justru yang paling biasa. Kostumnya ya macam gaun begitu, alat musiknya juga ringkas, melodinya juga tertebak. Beda sama Indonesia yang sekali tampil bisa mengeluarkan penampilan yang berbeda-beda dari tiap daerah. Musiknya juga nggak ada yang sama. Dari yang gemulai untuk Jaipong sampai yang riuh bergelora untuk Mambri. Instrumen kita pula yang paling banyak dari semua peserta. Ya kalau yang lain paling gede bawa semacam tifa atau bass betot, kita pakai bawa gong, bonang, saron, rindik, angklung, dan segala rupanya itu kan PR banget. Dari segi instrumennya saja sudah terlihat betapa ‘kaya’-nya Indonesia ini.

belgium-tile
Para peserta dari negara-negara Eropa seperti Ceko, Belgia, dan Irlandia. Yang paling kiri bawah jelas dari India. Haha. Bersama mereka kami sempat tukar-tukaran duit. Sial, masak saya dikasih duit kumel. Lupa berapa Rupee dan nggak tahu berapa kalau di rupiahin. Yang jelas saya nukernya sama seribuan :)))

Betul memang kata orang, kalau di luar ‘rumah’ sendiri, kita baru bisa bangga sama apa yang kita punya. Baru bisa merinding, bahkan baru bisa nangis haru (oke, ini lebay tapi nyata). Padahal hal tersebut selama ini selalu dipandang sebelah mata.

Jadi, generasi muda, mau sampai sejauh mana kamu bangga dengan apa yang kamu punya? Sesiap apa kamu diwarisi kekayaan leluhur ini? Sudahkah kamu menyelamatkannya sebelum diklaim tetangga lagi?

in-d-sluiskill
Di rumah Gert Jansen, penanggungjawab kami selama di Sluiskill. Salam dari teman-teman Angkatan X Krida Nusantara yang sekarang sudah pada jadi emak-bapak! Bisakah kamu menebak dimana saya berada?

You may also like

13 Comments

  1. HENIIIIIIINGG,, hebaaaaaaattt

    Aaaaaaaaahhh jadi punya mimpi buat bisa tampil berbaju adat Sulawesi di Negeri orang juga
    List dream book ku jadi nambah

    Makin kagum sama dirimuuuuuuuuuu

    1. Ehehehe terimakasih, Ga. Iya rasanya menggetarkan jiwa. Duh apalagi yg punya kesempatan ke luar bawa nama negara bolak balik ya, pasti bangganya luar biasa. Hehehe. Semoga kelaknketurutan ya, Ega 😉

        1. 100! betul ega. karena kostumnya yang colorful, pemusik yang cewek suka pakai ini apapun yang diiringinya. biar kelihataannnn kasian ketutupan gong hahahaha

    1. Ya Allah ferdyyy. Apa kabarrr??? Lost contact euy kita. Kesebut kesebut, itu pemusik hekekekeke. Kok ga ada foto kita yang bareng2 yaaaa fer 😥 gumana, udah berapa lagu sekarang dibikin? 😊

  2. Musik membawamu keliling dunia, warbiasyak kamu mbaaaak.. Aku pernah liputan anak labschool yang ikutan International Folklore Festival di Polandia 2014 lalu. Kerasa banget atmosfer bangganya ya, apalagi kamu yang mengalaminya langsung. Bangga abis deh sama Indonesia, selain SDA yang kaya abis, keseniannya juga melimpah ruah. Semoga nanti anak-anakku termasuk satu diantara sedikitnya anak-anak yang melek dengan budaya bangsanya sendiri, biar bisa dipamerin kalau diajak Bapaknya keliling negara (jadi ceritanya nyambung ke diplomat ini) huahahahhaha….

    1. Ahey…hahahaha amin semoga Ula bertemu dengan yang didambakan :)))
      Iya eh, merinding-merinding sedap heheheheh. Kadang kalau lebay jadi berasa pengen nangis :p

  3. tulisanmu iki bener-bener pengalaman yang menyelamatkan musik Indonesia. literally and practically.

    kerennya sejalan sama tema blogmu : jalan-jalan. Berasa tetep baca blog traveling dengan cerita perjalanan memperkenalkan musik Indonesia.Keren!

    1. woooo thanks Jak! iya e… mikirnya seharian ini. terimakasih kepada folder di hardisk yang menyelamatkanku dari absen tantanganmu! huahahahaha

    1. hai, terimakasih sudah berkunjung. seru ya, acara makan gadangnya. jadi lapar hahaha.
      jarang-jarang liat bapak-bapak pada mau masak hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *