Nyok, Ncing, Keliling Cilincing!

img_4674

Kadang ada kalanya kehabisan ide buat harus kemana di Jakarta. Mau statusnya pendatang atau penetap, mau liburan singkat atau liburan weekend, bingungnya sama. Giliran tanya sama teman atau keluarga soal enaknya kemana, ujung-ujungnya dibilang:  “Ah, Jakarta nggak ada apa-apanya. Paling ngemall.”  Cuma kalau yang ditanya agak kreatif, mungkin jawabannya bakal nyebut Ancol, Dufan, atau TMII sebagai opsi.

Nah, daripada bingung, coba deh main-main ke Jakarta Utara. Selain punya Ancol dan Dufan, kawasan pesisir ini punya 11 andalan wisata lainnya loh. Diantaranya seperti Kampung Marunda (Si Pitung), Suaka Margasatwa Kapuk Angke, dan Kampung Tugu. Namun, ada satu nih, yang nggak ada dalam daftar unggulan tersebut. Padahal nggak kalah potensial dan mengandung unsur sejarah juga. Tempat itu bernama Cilincing.

Hello from the north siiideeeee~~~
Hello from the north siiideeeee~~~

Bagi masyarakat dalam dan luar Jakarta, kawasan yang dekat dengan Tanjung Priok ini mungkin terdengar familiar. Berhadapan langsung dengan Laut Jawa, Cilincing sudah dimanfaatkan sebagai area transit awak kapal dan pekerja pelabuhan dari jaman perang hingga sekarang. Bahkan dari perannya tersebut, Cilincing memegang peranan penting dalam perkembangan sejarah Jakarta, bahkan dunia loh!

Di dalam sejarah Prancis, Cilincing disebut lewat tulisan Octave JA Collet yang berjudul L’ile de Java Sous la Domination Francaise (diterbitkan di Brussel, Belgia, tahun 1910). Sementara, dalam sejarah Inggris, Cilincing disebut dalam memoar Mayor William Thorndengan judul The Conquest of Java yang terbit di London pada 1815. Nggak heran sih. Sebab, Cilincing pernah menjadi saksi bisu perang besar kedua negara tersebut.

Di tahun 1811, Inggris dan Prancis berperang di Eropa. Perang tersebut tak hanya melibatkan kedua negara, namun juga sekutu-sekutunya. Sehingga, perang pun tak dapat dihindari untuk bisa meluas keluar dari Eropa, mengikuti kemana para sekutu masing-masing berada. Belanda, yang saat itu menjadi sekutu Prancis, berperan membawa perang Inggris vs Prancis tersebut hingga ke Batavia.

Demi mengalahkan Prancis (yang dibantu Belanda), tentara Inggris mengejar Belanda sampai Batavia. Mereka mendarat di Cilincing di bawah pimpinan Jendral Sir S. Auchmuty. Sebanyak lebih dari 10.000 militer Inggris turun disini sebelum menyerang pasukan Belanda-Prancis di Meester alias Jatinegara (cerita tentang Jatinegara ada disini).

Perang berlangsung keruh dengan hasil akhir Prancis (Belanda) menyerah pada Inggris. Pencatatannya dalam sejarah disebabkan perang ini merupakan duel Inggris-Prancis yang terbesar di luar Eropa pada abad itu. Sekaligus sejarah bagi Inggris karena perang itu menjadi pengiriman armada terbesar dan terbanyak yang diberangkatkan perang sebelum era Perang Dunia II muncul. Ngeri….

Hingga saat ini, saksi bisu pendaratan bala tentara Inggris tersebut masih bisa kita napak tilasi melalui sebuah bangunan tua bernama Landhuis Cilincing. Yakni, sebuah bangunan yang dibangun Justinus Vinck pada 1740 dan sekarang berfungsi dan disebut sebagai Rumah Veteran.

Nama Cilincing sendiri berangkat dari nama anak sungai di daerah tersebut yang mengalir kearah Teluk Jakarta. Ci (cai) diambil dari bahasa Sunda yang berarti aliran air, lalu Calincing berasal dari julukan nama pohon serupa belimbing wuluh yang dulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Ci dan Calincing inipun lantas disingkat menjadi Cilincing.

Dulunya, terlepas dari masa perang di atas, Cilincing merupakan pantai yang bersih dan berair jernih. Dalam sebuah video dokumenter, kawasan ini bahkan pernah menjadi tempat wisata bule-bule kumpeni untuk berjemur. Dibandingkan dengan kondisinya kini, Cilincing sangat berbeda jauh. Jangankan berjemur, untuk duduk saja bisa tidak betah. Bukan lantaran panasnya, melainkan karena kumuh dan semrawutnya wilayah ini. Tak salah kalau banyak yang enggan menilik bekas pantai cantik ini kecuali memang ada urusan atau lantaran kurang kerjaan seperti kami.

Ya. Banyak yang pikir-pikir 10 kali buat datang kesini. Selain jauh di utara, Cilincing sekarang lebih dikenal sebagai perkampungan nelayan saja. Orang pasti bertanya-tanya mau ngapain jalan-jalan di kampung nelayan? Beli ikan? Ikutan merajut jala? Atau ikut memancing? Bersyukur, komunitas Jakarta Good Guide (tentang mereka ada disini) berhasil membuka pandangan awam tentang Cilincing dari sisi yang lain.

Bersama Jakarta Good Guide, kami memulai walking tour edisi Cilincing dengan berkumpul di SMKN 36 Jakarta Utara. Pemilihan sekolah ini menjadi titik kumpul bukan semata-mata karena lokasinya yang muncul di Google Maps dengan jelas. Melainkan karena dia istimewa.

SMKN 36 menjadi satu-satunya SMK di Jakarta yang memiliki kejuruan nautika. Selain itu, kedekatannya dengan laut membuat sekolah ini membekali siswanya dengan keahlian mengolah hasil laut (agribisnis perikanan) juga. Beragam sajian seperti bandeng presto dan abon ikan, dihasilkan bahkan dijual para siswa sekolah ini. Menarik bukan?

cxg6bzbwgae14oe
SMKN 36 Cilincing yang istimewa!

Berjalan tak jauh dari SMKN 36, kita akan tiba di tujuan selanjutnya, yaitu Kampung Nelayan yang tadi saya singgung sebelumnya. Di kawasan ini, kita bisa menyaksikan kesederhanaan masyarakat Cilincing juga proses pengolahan ikan tangkapan menjadi ikan asin.

page-2
Suasana Kampung Nelayan. Gambar atas adalah suasana penjemuran ikan asin. Gambar kiri bawah adalah kondisi Kampung Deret yang pernah disinggung Presiden Jokowi dalam program kerjanya semasa jadi gubernur DKI. Gambar kanan bawah merupakan kondisi ibu-ibu memilah hasil laut tangkapan.

Aroma di kawasan ini memang cukup menyengat. Tapi melihat proses pengolahan ikan disini menjadi keseruan dan pemandangan unik tersendiri bagi yang belum pernah melihat. Bahkan banyak loh, peserta tur yang berfoto dengan background ikan asin-ikan asin ini karena dirasa ‘unik’. Buat kami yang berasal dari pesisir sih, ini bukan pemandangan aneh, hehehe (salah satu cerita tentang pesisir asal kami ada disini dan disini).

img_4587
Hamparan ikan asin
Sebagai gambaran, ikan-ikan hasil tangkapan nelayan akan disortir untuk direbus dengan air laut selama 5-10 menit. Lantas ikan yang sudah direbus tadi dijemur hingga kering di bawah panas matahari. 
Sebagai gambaran, ikan-ikan hasil tangkapan nelayan akan disortir untuk direbus dengan air laut selama 5-10 menit. Lantas ikan yang sudah direbus tadi dijemur hingga kering di bawah panas matahari.
Ikan asin ini akan dipasarkan di seluruh area Jabodetabek
Pengeringan akan sangat dipengaruhi oleh cuaca yang terjadi hari itu. Semakin terik, maka hasilnya semakin baik. Mendung sedikit saja, akan mengurangi kualitasnya. Hasilnya nanti akan dipasarkan di seluruh area Jabodetabek.

Selama di kampung nelayan ini, jangan lewatkan pula aksi warga pembuat jala nelayan atau ibu-ibu yang tengah memilah hasil panen kerang di bawah naungan terpal. Mereka nampak sangat cekatan dan tak terganggu oleh keramaian apapun.

page10
Suasana kampung nelayan, kesibukan perajut jala, dan keriangan anak-anak bermain di kubangan air
page4
Pemilahan kerang, pengolahan kerang, dan gerobak keliling penjaja kerang hijau rebus

Oya, bicara sedikit soal kerang, di Cilincing ini banyak sekali yang menjual kerang terutama kerang hijau (Perna viridis). Ada yang menjualnya di lapak-lapak kecil pinggir jalan, menyuplainya ke depot-depot seafood, atau memasarkannya lewat gerobak keliling. Namun, tahukah teman bahwa kerang (apapun jenisnya) sebaiknya sangat perlu diwaspadai untuk dimakan?

Meskipun kandungan gizinya baik, hal ini akan menjadi nihil kalau habitat hidup si kerang tidak baik. Karena, kerang bersifat filter feeder. Ia akan ‘menerima’ apapun yang masuk ke tubuhnya saat berusaha ‘menyaring’ air laut untuk mendapat partikel mikroorganisme yang disukainya. Bersamaan dengan itu, tersaring pula kandungan zat pencemar yang ada di dalam air, seperti halnya logam berat.

Kembali ke soal panen kerang di Cilincing, tahukah teman bahwa kerang yang dipanen tersebut berasal dari Teluk Jakarta? Teluk yang menjadi muara bagi 13 sungai yang ada di Jakarta! Nah, bisakah teman bayangkan kondisi kebanyakan sungai di Jakarta yang kalian ketahui?

Ya. Kebanyakan aliran sungai berdekatan dengan kawasan padat penduduk. Mencuci, kakus, memasak, bermain, membuang sampah, membuang limbah, semua dialirkan ke badan sungai. Terbayang bukan bagaimana tercemarnya air itu? Begitu sampai di Teluk Jakarta, akan ada hewan-hewan air yang hidup di kawasan teluk terkena imbasnya. Tak terkecuali, para kerang.

Mengingat sifat kerang yang layaknya ‘vacuum cleaner’ tersebut, maka kita pun harus waspada sebelum mengkonsumsi kerang. Sekalipun proses memasak kerang bisa mematikan bakteri yang ada di tubuh kerang, ia tidak akan bisa menghilangkan logam berat yang sudah merasuk ke tubuhnya. Kerang akan selamanya menyimpan ‘kotoran’ tersebut di dalam tubuhnya. Bila diteruskan untuk dimakan manusia, seperti yang kita tahu pada pola rantai makanan, racun ini akan ‘berpindah’ dan menumpuk semakin banyak dalam tubuh kita. Bahaya yang diakibatkannya memang tidak langsung, tapi ancaman seperti memicu kanker (karsinogenik), memicu kegagalan pembentukan janin (teratogenik), dan juga memicu kelainan genetik (mutagenik) harus diingat-ingat sebelum mengkonsumsi kerang.

Soal kerang ini, jangan lupa buat diingat ya! Dan mari kita lanjutkan perjalanan.

page6-2
Menuju titik selanjutnya, kita akan melewati eks Tempat Pelelangan Ikan Cilincing. Saat ini kegiatan TPI dipindah ke Muara Angke

Perjalanan lantas berpindah ke Pura Segara. Sebuah pura istimewa karena menjadi satu-satunya pura di Jakarta yang melaksanakan ngaben dan berlokasi dekat dengan laut.

Biasanya, upacara ngaben bagi umat Hindu akan dilaksanakan di Bali. Namun, dengan adanya krematorium yang dekat dengan pura, dirasa sangat mempermudah prosesi ngaben agar bisa dilaksanakan di Jakarta. Setelah ngaben dilaksanakan, biasanya abu jenazah akan dilarung ke laut. Dengan lokasi pura yang dekat dengan laut seperti ini akan semakin memudahkan rangkaian prosesi tersebut.

page11
Pura Segara. Satu-satunya pura di utara Jakarta.

Selemparan batu dari Pura Segara, kita akan bertemu krematorium yang dimaksud. Namanya Krematorium Cilincing. Disini, bisa kita lihat tungku-tungku tempat kremasi dari kayu maupun oven. Kremasi menggunakan tungku kayu disebut tour guide kami lebih murah dari tungku oven. Namun, proses kremasi bisa berjalan sangat lama. Kalau tidak salah ingat bisa mencapai 8-12 jam untuk satu jenazah. Itupun dengan proses kremasi tulang yang dilakukan secara terpisah.

page5
Bilik-bilik krematorium dan kayu bakar yang dimanfaatkan untuk mengkremasi

Selesai mengunjungi krematorium, perjalanan berpindah ke Masjid Al Alam Cilincing. Ya, memang ada dua nama Masjid Al Alam di utara Jakarta. Satu di Marunda, satu di Cilincing. Bedanya, masjid di Cilincing ini sangat sederhana dan berukuran tak seberapa. Bagian atapnya bertumpang dua dengan langit-langit yang tak tinggi. Mungkin sebab itu, masjid ini terasa teduh di bagian dalamnya.

Masjid Al Alam disebut sudah dibangun sejak tahun 1525 oleh Sunan Gunung Jati. Lewat wasiatnya, beliau berpesan untuk menitipkan masjid dan memanfaatkannya sebagai tempat (untuk berteduh atau beristirahat) para fakir miskin. Mulia sekali ya.

page6
Masjid Al Alam yang bersahaja. Atap yang nampak pada masjid adalah arsitektur asalnya meskipun komponennya sudah tidak asli lagi. Sementara pilar-pilar emas pada gambar adalah arsitektur tambahan dari masa sekarang.

Setelah beristirahat sejenak diketeduhan Masjid Al Alam, kita pun tiba di tujuan terakhir yaitu Vihara Lalitavistara. Satu komplek dengannya, ada sebuah tempat penitipan abu bernama Wan Lie Chie dan Sekolah Tinggi Agama Buddha “Maha Prajna”.

Tempat penitipan abu yang ada disebelah vihara terlihat sangat menarik dan cantik. Sebab, ada sebuah pagoda tujuh tingkat yang membuatnya jadi tertinggi se-Cilincing dan tertua se-Jakarta. Pagoda ini berungsi sebagai tempat penitipan abu sejak tahun 60-an loh. Kalau dulunya bisa dinaiki, sekarang tidak lagi karena bangunannya miring.

img-20161113-wa0026
Penitipan abu Wan Lie Chie disamping Vihara Lalitavistara

Menurut penuturan Pak Handoko (saya lupa nama tepatnya), yang berperan sebagai pengurus penitipan abu, Wan Lie Chie diisi ribuan abu jenazah. Ada yang masih dikunjungi, ada pula yang abunya sudah dipindahkan keluarganya ke kota/negara lain. Dan pasti, tempat ini akan sangat ramai dikunjungi saat musim chen beng (musim ziarah) sekitar bulan Maret setiap tahunnya.

Iuran penitipan abu diberlakukan selama sekali dan tidak bayar-bayar lagi. Donasi iuran tersebut bergantung pada besar kecilnya ukuran rak penyimpanan. Semakin luas ukuran raknya, maka semakin mahal harganya. Perihal posisi peletakan abu pun berlaku serupa. Semakin kebawah, semakin mahal. Sebab, semakin ke bawah berarti semakin mudah dilihat (visible) oleh keluarga yang berziarah dibandingkan rak yang paling atas.

page7
Suasana di dalam Wan Lie Chie dan Pak Handoko (?) sedang menjelaskan mengenai ketentuan penitipan abu

Nah, bila di penitipan abu Wan Lie Chie terkenal berkat pagodanya, Lalitavistara di sebelahnya ikonik dengan stupa emas. Artifisial sih, namun tak mengurangi kecantikannya. Nama Lalitavisatara ini diambil dari bagian kitab suci Buddha yang mengisahkan perjalanan hidup Sang Buddha.

img_4708
Ini dia stupa emas Lalitavistara :)

Sejarah Lalitavistara bermula dari ditemukannya papan bertuliskan Sam Kuan Tai Tie oleh kapal Tiongkok yang tengah bersandar di Cilincing pada abad ke-16. Kebetulan para awak kapal tengah bingung sebab kapal mereka kandas. Begitu melihat papan Sam Kuan Tai Tie, mereka teringat akan nama sebuah kelenteng di Tiongkok. Mereka pun membawanya sambil berharap papan tersebut bisa membawa keberuntungan agar kapal bisa kembali berjalan.

Malamnya, permohonan para awak kapal terkabul. Sesuai janji, mereka mengembalikan papan tersebut ke tempat semula bila kapal kembali berjalan. Berita tentang keajaiban papan itu pun menyebar ke penjuru Cilincing. Orang-orang lantas mendatanginya untuk membuat permohonan tertentu.

Singkat cerita, papan yang kemudian dikultuskan tersebut menghilang. Keluarga keturunan Tionghoa dari marga Oey pun merasa terpanggil jiwanya untuk mencari karena menganggap benda peninggalan leluhur adalah sesuatu yang sakral.

Papan pun akhirnya ditemukan dengan tubuh si pencuri ditemukan terkapar disampingnya dalam kondisi terbakar. Sementara papan tersebut tidak cacat sedikitpun. Warga pun makin percaya bahwa papan tersebut keramat meski hingga saat ini, asal usul papan Sam Kuan Tai Tie tidak diketahui. Karena dianggap sakral, setiap tahun di vihara diadakan ritual perayaan ulang tahun ditemukannya kembali papan tersebut.

page8
Ornamen vihara sangat detil dan cantik. Seluruh ruangan seperti biasa, dipenuhi aroma hio dan hawa panas dari lilin merah. Saat masuk ke dalam vihara, akan disambut oleh Altar Maitreya Bodhisatva (gambar kanan bawah)
page9
Gambar atas adalah suasana di dalam vihara dikawal dua naga. Gambar kiri bawah merupakan ruang kebaktian. Sangat bersih dan silau karena ornamennya bernuansa emas. Gambar kanan bawah adalah gerbang masuk ke vihara.

Fiuh. Bersamaan dengan berakhirnya kisah sejarah Lalitavistara, maka berakhir pula tur bersama Jakarta good Guide hari itu. Sebelum pulang, kami disarankan menyempatkan diri untuk menikmati olahan seafood yang ada di rumah makan Babeh di seberang vihara. Beragam ikan dan hewan alut lainnya tersaji segar. Tinggal dipilih untuk dimasak. Kami yang kelaparan kelar jalan seharian pun mengikuti saran tour guide kami. Dan hmmm… nggak salah pilih! Masakannya sangat nikmat apalagi sambil ditemani minum es kelapa muda asli. Lezaaatt…

page
Keliling Cilincing jangan lupa makan disini ya! Kami menikmati ikan ayam-ayam bakar kecap dan cumi saus balado yang takdes.
img_4635
Sampai jumpa lagi Cilincing!

 

You may also like

4 Comments

  1. Hai, boleh minta kontak tour guide nya?. Kami rencana mau ke vihara ini, tapi tdk tau pasti tempatnya & bukan kegiatan komunitas, hanya inisiatif pribadi. Jika berkenan, mohon bantuannya ya. Terimakasih sblmnya :)

    1. Jika hanya ingin ke Vihara saja, sangat mudah aksesnya baik dengan kendaraan pribadi maupun umum dibanding harus mengikuti tour, kecuali memang ingin ke tempat lain seperti yg ada di paket tour.
      Saya tinggal di Cilincing.

      1. iya, betul. Namun dengan ikut city tour, jadi bisa mendapat penjelasan sejarah dan budayanya.
        terima kasih sudah berkunjung. salam kenal! :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *