DOUBLETRACKERS MOVIE: Liburan A la Layar Lebar (1)

valve-1705684_960_720

Psst… 2016 sudah mau berakhir. Kalender 2017 sudah mulai seliweran. Yakin nggak mau nengok tanggal merah buat rencanain liburanmu? Lumayan masih bisa nabung dan nyari-nyari tiket promo, loh.

Kalau masih bingung soal destinasinya, nih Doubletrackers beri ide lewat lima film karya anak bangsa yang cocok buat jadi referensi jalan-jalanmu di liburan tahun depan! Sekaligus menjawab tantangan #MendadakNgeblog #4. Destinasinya nggak jauh-jauh kok, cukup dalam negeri saja. Sambil ditemani jalan cerita yang apik, pemandangan ciamik dari film-film ini pun makin bikin kamu gatel buat hengkang segera dari balik kubikel. Apa saja? Ini dia.

  1. Laskar Pelangi

Film rilisan tahun 2008 ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata. Terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri, sang penulis berusaha menuangkan dalam kata-kata bagaimana ia dan kawan-kawannya berjuang mengejar mimpi sampai ke Eropa. Padahal mereka mulanya hanya anak-anak kampung yang hidupnya sederhana bahkan cenderung sulit.

Dibalik jalan ceritanya yang penuh makna, Laskar Pelangi jadi tontonan wajib pecinta pantai agar bersegera mengunjungi pantai-pantai Belitung yang ikonik dengan batuan granit raksasanya. Sebut saja Pantai Tanjung Tinggi dan Pantai Tanjung Kelayang yang sempat dimanfaatkan sebagai lokasi syuting film ini.

Tapi nggak berhenti di wisata pantai saja, Belitung juga menyajikan jujugan wisata lain yang siap memanjakan kamu. Baik itu yang masih berhubungan dengan Laskar Pelangi (seperti Rumah Kata Andrea Hirata dan Replika SD Muhammadiyah Gantong), maupun yang tidak (seperti Danau Kaolin dan Pulau Lengkuas).

Kamu juga nggak boleh lewatkan wisata kuliner Belitung. Seperti yang disebut Andrea Hirata dalam novel tetralogi Laskar Pelangi, masyarakat Belitung juga akrab dengan kedai kopi dan Hok Lo Pan (Martabak Manis)-nya. Jadi, pastikan kamu juga mencicipi kekhasan itu selama disana.

Percaya atau nggak, sejak Belitung dikenalkan secara luas lewat film Laskar Pelangi, pamor Belitung sebagai destinasi wisata terus melonjak. Bahkan diawal kepopulerannya, Garuda Indonesia sampai menjadi pelopor dibukanya penerbangan langsung Jakarta-Belitung gara-gara animo masyarakat yang tinggi dalam mengunjungi Belitung. Tak hanya itu, beragam operator tur juga berlomba-lomba menawarkan paket wisata bertajuk ‘Tur Laskar Pelangi’ dengan destinasi yang tentunya mengacu pada lokasi-lokasi cerita Laskar Pelangi. Berlibur ke Belitung pun semakin mudah dibanding yang sudah-sudah.

  1. Sokola Rimba

Dari Belitung, kita bergeser ke Jambi. Di tahun 2013, sebuah film adaptasi dari kisah nyata Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution) diangkat ke layar lebar. Butet sendiri sangat dikenal sebagai perempuan pengajar sukarela anak-anak Suku Kubu yang menghuni hilir Sungai Makekal Taman Nasional Bukit 12, Jambi. Lewat ‘sekolahnya’ itu, Butet memang ingin agar anak-anak Suku Kubu minimal jadi melek pengetahuan. Tujuannnya agar tak mudah dimanfaatkan oknum-oknum tertentu yang sering membuka lahan sawit ilegal di hutan kawasan tinggal Suku Kubu.

Film yang sarat sisi inspiratif dan kepahlawanan ini pun ternyata dilengkapi dengan detil visualisasi yang hebat. Penonton bisa ikut merasakan bagaimana tantangan Butet berkomunikasi dengan Suku Kubu yang tak bisa Bahasa Indonesia. Juga tentang tantangan perjalanan Butet menuju sekolahnya tersebut.

Rapatnya pepohonan dan suasana hijaunya hutan yang masih lebat, dengan indah ditampilkan sinematografer film, Gunar Nimpuno, dengan cantik. Keragaman flora, fauna, juga kemampuan film mengemas adat istiadat sekaligus mitos Suku Kubu memberi pengalaman emosional tersendiri bagi penikmatnya. Sementara akting anak-anak murid Butet yang asli dari anak-anak rimba, terasa tampil begitu natural. Sebuah film yang cocok banget jadi referensi kamu para pecinta jungle trekking buat liburan depan main kesini.

  1. Petualangan Sherina

Referensi kita dari yang bersetting Sumatera, sekarang loncat ke Jawa. Bagi kamu yang besar di tahun 90-an, film satu ini pasti menemani masa-masamu di awal era milenium. Kemunculannya di industri perfilman tanah air bahkan dinilai sebagai titik bangkitnya film Indonesia yang sempat mati suri. Ditambah lagi jalan cerita dengan range usia yang luas, bisa bikin satu keluarga menikmati film ini bersama-sama.

Menceritakan tentang dunia anak yang ceria, persahabatan, juga konflik keluarga lewat penokohan Sherina dan Sadam, cerita ini dirajut pas tanpa bertele-tele. Bahkan setelah lewat 16 tahun setalah rilisnya, film ini tetap layak buat dinikmati sebab isunya pun tak usang. Ditambah lagi lagu-lagu soundtrack-nya yang bermakna dalam, beraspek luas, plus bermelodi tidak kacangan, membuatnya bisa dinyanyikan siapapun dari segala usia.

Bersetting di Lembang, Bandung, Petualangan Sherina mengajak kita merasakan hawa sejuk dataran tinggi Lembang yang banyak dikepung kawasan perkebunan itu. Suasana hijau yang ditawarkan seakan ikut mencuci mata penonton, sekaligus secara tak langsung mempopulerkan kita dengan Observatorium Bosscha sebagai jujugan jalan-jalan dengan muatan pendidikan. Bahkan bagi penikmat film dari ini dari pada masa itu. mendengar Bosscha entah kenapa langsung bawaannya mau nyanyi ‘Bintang-bintang’. Canopus…Capella…Vega… eaaa…

Pas deh, buat jadi referensi kamu yang mau liburan cantik atau liburan keluarga. Apalagi sekarang Lembang punya banyak tempat pilihan wisata seperti Farmhouse, Floating Market, Kampung Gajah, Sapu Lidi, Kampung Daun, dan masih buanyak lagi.

  1. Ada Apa Dengan Cinta 2

Sefenomenal Petualangan Sherina, AADC juga menjadi film Indonesia yang membekas di hati penikmatnya. Bagi yang tumbuh kembang bersama era AADC, mungkin bahkan hafal di luar kepala bagaimana kisah Rangga dan Cinta termasuk puisi-puisinya.

Berselang 14 tahun kemudian, mengikuti kesuksesan film pertamanya, AADC pun memutuskan membuat sekuelnya. Ah, ternyata memendam cinta lama itu bisa bikin orang mau saja mengejar ‘cinta’ dari New York ke Jogja. Meski dibuat tak sengaja, tapi… too cliche.

Terlepas dari hujan kritikan dari penonton soal jalan cerita yang dipaksakan, toh AADC 2 tetap menjadi film terlaris sepanjang 2016 dengan raihan 3,6 juta penonton! Lagipula, lewat AADC 2 pula, Jogja yang memiliki porsi setting lokasi paling dominan jadi punya warna berbeda dari apa yang selama ini kita lihat di film-film lain.

Ada 12 titik menarik yang bisa dieksplor wisatawan bila ke Jogja merujuk AADC2. Bahkan titik-titik ini sudah banyak dirangkum para operator tur kedalam paket wisata dengan harga bersaing, loh! Gila, nggak Belitung nggak Jogja sama saja rupanya.

Titik-titik wisata tersebut diantaranya adalah Rumah Doa Bukit Rhema atau yang dikenal dengan Gereja Ayam. Lalu ada pula Punthuk Setumbu yang menjadi spot terbaik melihat Borobudur, Puncak Merapi, juga sunrise dari ketinggian. Tak ketinggalan Pantai Parangkusumo yang jauh sebelum AADC booming sudah terkenal duluan dengan gumuk pasirnya. Juga Candi Ratu Boko yang magis atau Kotagede yang terkenal dengan kerajinan perunggunya. Lewat AADC2, kamu jadi dapat referensi jujugan liburan seru buat dikunjungi bareng geng teman-teman lama kamu deh.

  1. 5 Cm

Digarap Rizal Mantovani, 5 Cm tak ubahnya Laskar Pelangi yang juga berangkat dari adaptasi novel. Bedanya, dia bukan kisah nyata dan tokoh-tokohnya berkonsentrasi pada dewasa muda. Itulah kenapa cerita karya Donny Dirghantoro, ini tak hanya menyoal persahabatan, tapi juga ambisi mencapai tekad yang tinggi, dan masalah cinta-cintaan.

Sebuah perjalanan ke Semeru dilakukan para tokohnya yang secara tak langsung menjadi ujian bagi persahabatan mereka. Apakah pertemanan sekian lama itu rusak karena rasa suka? Atau justru menguat karena rasa yang sama?

Mengiringi kisah persahabatan dan cinta yang dirangkum dalam sebuah perjalanan, film 5 Cm cukup mampu memberi visualisasi yang hebat sebagaimana yang novelnya coba sampaikan. Pengambilan gambar terasa sangat pas mewakili bagaimana seharusnya perjalanan terjadi dari Jakarta sampai Semeru.

Gambaran padatnya Jakarta, ramainya stasiun (kelas Ekonomi pula), suasana sawah yang dilewati selama perjalanan,eksotisnya Ranu Kumbolo, hingga pemandangan di atas awan Mahameru yang menghanyutkan, terekspos dengan maksimal. Meskipun kalau opini saya sih, pemerannya terlalu ‘cakep-cakep’ buat di setting melakukan perjalanan nggembel begitu. Tapi masih cocoklah menyemangati kamu yang suka naik gunung. Hehehe.

Seperti Laskar Pelangi yang sukses menghasut penontonnya buat ke Belitung, 5 Cm pun sukses menghasut penontonnya buat naik gunung! Fakta ini nyata adanya. Sejak booming 5 Cm, banyak berseliweran pendaki-pendaki newbie dan pendaki-pendaki ‘cantik’ yang pada kurang persiapan tapi pergi naik gunung. Selain bikin repot dalam perjalanan, risiko mereka kenapa-kenapa di jalan pun besar banget. Ah, mereka mungkin lupa kalau naik gunung beda sama pergi ke mall. Bahwa perjalanannya pun nggak semudah nonton filmnya.

Nah, gimana teman, sudah dapat gambaran mau kemana liburan depan? Ini baru inspirasi dari kawasan Indonesia barat saja loh. Bagian timur akan meluncur, soon!

You may also like

2 Comments

  1. Baca review ttg film 5cm jadi inget aku dulu pas kuliah juga punya geng kayak gitu, geng temen2 KKN yg saking sering ketemunya dan bingung mau ngapain lagi akhirnya kita niru2 5cm yg waktu itu hypenya luar biasa buat saling nggak kontak selama beberapa saat dan ngerancang liburan bareng setelahnya. Meskipun cuma ke Batu Malang akhirnya liburannya, bahkan ada janji 6 sahabat kayak yg diucapkan cast 5 cm sebelum naik gunung.. Ualaaaay Hahahha…

    Bagaimana sebuah film bisa meningkatkan daya tarik sektor wisata ya mba, meskipun 5 cm itu film paling nggak realistis, preachy, dan bikin cuegek pada masanya tapi bikin nggak lupa karena sinematografi ciamiknya..

    1. mmm…aku baca novelnya pas SMA. aku sih kurang apa ya, hahaha apalagi filmnya.
      bagus tapi kalau ga ketolong pengambilan gambarnya ya… gitu aja.
      agak kurang realistis buat naik gunung seepik semeru dengan gaya pemainnya yang begitu (maaf lo ini opini saja)
      mungkin kalau bisa ‘dandanan’-nya dibikin natural akan lebih oke. mendakinya kayak enteng benerrr gitu.
      hahaha dan ada kalimat2 yang agak berlebihan sih buat diucapkan dalam percakapan ‘real’ :)))

      dan ya, 5 cm memang cukup pinter menghasut orang2 buat naik gunung (semeru) sih. meskipun yang naik kadang suka bikin kontroversi heheheh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *