DOUBLETRACKERS MOVIE: Liburan A la Layar Lebar (2-end)

movies-1262361_960_720

Di postingan sebelumnya (disini), Doubletrackers sudah kasih bocoran ide buat teman-teman yang masih bingung mau jalan kemana di liburan tahun depan. Nah, di postingan kali ini, kita mau lanjutkan lagi buat ngasih bocoran ide jalan-jalan lewat sederetan film yang nggak kalah seru. Selain jalan ceritanya juga tetap inspiratif, pemandangan cantik Indonesia timur di film-film ini siap ngomporin kalian buat segera beli tiket menuju kesana.

1.Mirror Never Lies

Meski di layar bioskop dalam negeri kurang nendang, film yang dibintangi Reza Rahadian dan Atiqah Hasiholan pada 2011 ini banyak menuai prestasi di perfilman internasional. Contohnya Best Children’s Feature Film dalam Asia Pacific Screen Awards, Brisbane dan  Earth Grand Prix sekaligus Asian Film Award Special Mention pada Festival Film Tokyo.

Inti cerita ada pada seorang anak Suku Bajo yang kehilangan bapaknya saat melaut. Ibunya (Atiqah Hasiholan), yang tahu bahwa si suami sudah tiada, menyikapi cara kehilangan dengan berbeda. Yaitu dengan menggunakan bedak dingin nyaris setiap hari. Oleh Suku Bajo, cara ini adalah penanda bahwa seseorang tengah berduka.

Sayangnya, konflik cerita antara ibu dan anak ini jadi kedodoran setelah dimasuki tokoh Tudo (Reza Rahadian) sang peneliti Lumba-lumba (quite weird, uh?). Peran dan penokohannya yang terkesan sangat dipaksakan justru jadi nggak penting dan merusak jalan cerita. Namun mengingat cerita ini disponsori WWF Indonesia, kisah Tudo yang berpesan soal pentingnya menjaga keseimbangan laut untuk kelestarian hidup keanekaragaman hayati di dalamnya pun jadi ‘penting’.

Terlepas dari itu semua, dipilihnya setting film di Wakatobi, memberi pandangan baru kepada penonton soal situasi keseharian masyarakat Bajo. Kegiatan berjualan ikan, menjadi nelayan, pergi ke pulau lain demi mencari air tawar, menjadi poin lebih yang ditawarkan film ini. Tentunya disamping pemadangan laut Wakatobi yang luar biasa dan cukup menggoda iman penonton buat segera pergi kesana.

Mirror Never Lies memang cocok jadi referensi kamu yang suka diving, snorkeling, bahkan cultural trip. Sambil menikmati kehidupan lautnya, selama berkeliling Wakatobi (which is consists of four islands, Wangi-wangi, Kaledupa, Tomini, Binongko), kita juga bisa belajar mengenal kearifan lokal suku Bajo yang akrab dengan laut.

2. Pendekar Tongkat Emas

Bukan hanya Taufik Ismail yang mengagumi Sumba, Miles Films pun demikian. Sampai-sampai film garapan mereka selanjutnya yang bertema laga tradisional ini dibuat di Sumba selama tiga bulan. Tepatnya di Desa Rambangaru, Sumba Timur.

Dirilis pada 2014 silam, film ini berkisah tentang perebutan senjata warisan berikut jurus mautnya oleh para murid sebuah padepokan pendekar di bawah pimpinan Cempaka (Christine Hakim). Demi sesuatu yang berharga tersebut, mereka rela beradu satu sama lain secara kotor.

Setelah resmi dilempar ke pasaran, tak disangka Pendekar Tongkat Emas mendapat banyak pujian dari para penikmat film Indonesia. Kebanyakan memuji akting para pemeran yang total, juga jalan cerita yang berbeda dari tren sekarang. Layaknya artefak kuno di museum, sajian silat klasik yang menjadi titik berat film ini tersaji apik diantara gemerlap film-film beraliran mainstream  di industri film tanah air.

Kemantapan film kian meningkat lewat eksploitasi maksimal keindahan alam Sumba yang belum banyak orang ketahui. Haharu, Wulla Waijelu sampai Watuparunu disorot dengan pas oleh sinematografer film ini.

Hembusan angin yang menyentuh rerumputan, juga adegan slowmotion dan time lapse di savana Sumba, semakin menginspirasi para pejalan penyuka traveling antimainstream untuk mengunjungi Sumba. Sekaligus setidaknya terpikir buat mencoba naik kuda Sumba seperti yang dilakukan Reza Rahadian, Eva Celia, Nicholas Saputra, dan Tara Basro.

3.Beta Maluku: Cahaya Dari Timur

Desa Tulehu memang markasnya bibit-bibit pesepakbola handal Indonesia. Tak heran bila kampung ini digelari Kampung Sepak Bola oleh PSSI pada 2015 silam. Melalui tempat ini pulalah, lahir nama besar pemain muda Indonesia seperti Ramdahani Lestaluhu, Hasyim Kipuw, juga Rachel Tuasalamony. Dirasa punya peran penting untuk diangkat kedalam sebuah cerita, duet Glenn Fredly sebagai produser, serta Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara menuangkannya dalam format layar lebar.

Adalah kisah nyata Sani Tawainella (diperankan Chicco Jericho) yang sangat cinta pada sepak bola. Lewat olahraga ini, ia mendirikan sekolah bola dalam upaya menyelamatkan tanah kelahirannya, Tulehu, yang sempat hancur sebab konflik SARA. Misi Sani sangat jelas, yakni menyatukan perbedaan anak-anak yang terjebak dalam perang SARA tersebut dan berharap mampu membuat kehidupan masa depan anak-anak tersebut lebih baik lewat sekolahnya bolanya.

Dalam film ini, tak hanya konflik perang perbedaan yang menjadi bumbu. Tapi juga bagaimana naturalnya akting anak-anak asli Maluku dalam berperan sebagai anak didik Sani versi Chicco Jericho. Humor ringan, celetukan khas Maluku, budaya masyarakat setempat, ikut menambah cita rasa timur Indonesia dalam film ini.

Desa Tulehu yang menjadi setting utama juga tak sekedar jadi tempelan belaka. Lanskap cantik desa kecil yang berjarak 25 km dari Ambon ini pun dieksplor habis-habisan. Mulai dari suasana pelabuhan kecil, kapal-kapal yang bersandar, garis pantai yang panjang, rumah-rumah penduduk yang sederhana, sampai lapangan seadanya tempat anak-anak berlatih bola di-framing cantik sesuai porsinya. Sudah cocok rasanya buat jadi iklan pariwisata pemerintah kota Ambon sejak film dimulai.

Bagi kalian pejalan yang suka olahraga terutama bola, berkunjung ke Tulehu bisa jadi opsi yang oke. Apalagi kalau kemudian menyempatkan berbelok mengunjungi sumber air panas Hatuasa di Salahutu untuk menambah cerita liburan ke Maluku, khususnya Tulehu.
4.Tabula Rasa

Dibanding sekedar cerita masak-memasak, Tabula Rasa bercerita tentang bagaimana usaha seseorang mengejar mimpi dan bangkit dari keterpurukannya. Adalah Hans, pemuda Papua yang bercita-cita jadi pemain bola, namun gagal. Dalam kesedihannya itu, ia bertemu Mak Uwo yang mengajaknya bekerja di rumah makan Padang miliknya. Dari sanalah rasa percaya diri Hans pelan-pelan bangkit lewat ajaran-ajaran memasak Mak Uwo.

Agak lucu memang mengingat bagaimana masakan Padang dibuat oleh juru masak orang Papua. Bagi kamu penyuka jalan-jalan sekaligus kuliner, film ini menjadi inspirasi yang tepat. Pun bagi yang tak suka kulineran, setidaknya kamu sanggup merasa lapar selama dan sesudah menontonnya. Minimal bisa lah nyeletuk pengen gulai kelapa ikan kelar nonton film ini. Hehe.

Selain kekayaan kuliner yang menjadi panduan cerita, Tabula Rasa juga menyajikan view indah dalam filmnya. Yakni view Serui di Kepulauan Yapen, Papua. Lewat adegan Serui inilah kita bisa melihat Danau Sarawandori yang indah, berjarak kurang lebih satu jam berkendara dari barat Serui.

5.Denias, Senandung Di Atas Awan

Masih dari tanah Papua, film satu ini jalan ceritanya hampir serupa dengan Laskar Pelangi. Menyoal anak-anak pelosok yang giat dan semangat dalam mengejar pendidikan meskipun hidupnya penuh keterbatasan tak seperti anak-anak di kota.

Setting film di Papua, menguatkan plot cerita ini menjadi lebih kompleks dan merenyuhkan. Bahwa di ujung Indonesia sana, ada tempat yang tak terjamah namun memiliki anak-anak cerdas, bersemangat, dan ulet, seperti Denias. Dikisahkan dalam film, demi cita-citanya bersekolah layak, Denias sampai harus berjalan kaki ke kota. Sebab, di pedalaman yang menjadi rumahnya, ia hanya bisa ‘bersekolah’ seadanya di sekolah darurat.

Poin terbaik dari film tahun 2006 ini adalah ditampilkannya ‘danau di atas awan’, Danau Habema. Kesejukan, ketenangan, juga keheningan lanskap Danau Habema yang dihadirkan terasa mampu menyihir dan memukau penikmat film Denias.

Oya, terletak di lereng Puncak Trikora, Jayawijaya, rasanya danau satu ini pantas disebut sebagai yang tertinggi di Indonesia. Nggak main-main, tingginya 3000 mdpl, cuy! Akibat ketinggiannya, Danau Habema ini sering juga kedatangan hujan salju! Bagi yang menyukai petualangan ketinggian paling beda di Indonesia, sekaligus penyuka dingin, pergi ke Wamena tak ada salahnya. 

Gimana, sudah tercerahkan belum mau kemana di liburan tahun depan? Selamat merancang masa depan yah, teman sejalan! Semoga tercerahkan! :)

You may also like

5 Comments

  1. Mantap mbaaak.. Ini semacam melihat film dari kacamata traveller sejati. Hehehehhe… Fokusnya beda, cara mereviewnya-pun juga beda. Oiya kalau ngomongin indonesia timur aku jadi inget film Ini Kisah Tiga Dara, itu eksplore Maumere banget. Aku sampe pengen kesana abis nonton itu. Dan kalau yg paling baru ada Athirah yg juga cuantiiiiiik ngetss…

    Btw kamu udah nonton semua film2 yg kamu review di atas mbaak?

    1. to be honest, aku ga bisa review film sebenarnya hahaha
      cuma bisa nonton dan komen kayak orang2 awam pada umumnya. sama menjadikan itu bisa jadi pemicu buat jalan atau nggak haha.
      mostly sudah, tapi ada juga yang belum. sengaja kutulis karena kurasa aku pun perlu nonton juga :)))
      anw, ingat Denias, ingat kamu, La. hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *