Menyusuri Liku Batavia Via Molenvliet

IMG-20161212-WA0025

Cerita jalan-jalan ini kembali bersama Jakarta Good Guide. komunitas walking tour Jakarta dengan beragam rute pilihan yang bisa kamu pilih sesuai minat. Plus bayarnya pun as you wish tergantung kepuasan kita terhadap pemandu. Dan kali itu, kami memilih bergabung dalam rute Molenvliet. Sebab penasaran dan namanya unik di telinga.

Rute Molenvliet: Hotel Sriwijaya – Jl. Pecenongan – Jiwasraya building – Harmoni – (Hotel Des Indes) – Gedung Arsip Nasional.
Rute Molenvliet: Hotel Sriwijaya – Jl. Pecenongan – Jiwasraya building – Harmoni – (Hotel Des Indes) – Gedung Arsip Nasional.

Mungkin nggak cuma saya yang bakal kesulitan kalau disuruh mencari kawasan bernama Molenvliet di Jakarta hari ini. Kalian pun mungkin akan merasakan hal yang sama. Tapi begitu namanya diganti dengan Jl.Hayam Wuruk-Jl.Gajah Mada, mungkin akan lebih mudah bagi kita menemukannya.

Dari Jakarta Good Guide, akhirnya kami tahu kalau Molenvliet merujuk pada kali yang ada di tengah Jl.Hayam Wuruk-Jl.Gajah tersebut. Dimana dulu ia merupakan kawasan penting dalam perkembangan Batavia.

Awal Mula…

Jan Pieterszoon Coen (Gubernur Jenderal Batavia kedua) meminta kapiten Tionghoa bernama Phoa Bing Gam agar membangun sebuah kanal pada tahun 1648. Tujuannya agar banjir yang sering melanda Batavia bisa disiasati. Maka, berdirilah kanal yang saat itu diberi nama Bingamvaart. Disesuaikan dengan nama pembangunnya, Bing Gam.

Areanya sendiri mencakup ujung selatan Kota Batavia (de Voorstadt di Kota Tua), Harmoni (yang dulunya hutan), Jl.Veteran (Rijswijkstraat), sampai Glodok (Batenburg). Selain mengatasi banjir, Bingamvaart juga dimanfaatkan untuk mengangkut barang dagangan, hasil pertanian, dan perkebunan. Termasuk media pengangkut bahan material pembangunan rumah mewah warga Belanda dan tembok Kota Batavia.

Di tahun 1661, VOC akhirnya menaikkan arus air ke kanal ini. Tujuannya untuk membantu proses penggilingan gula, produksi arak, dan pabrik pembuatan mesiu. Pengaturan debit air dibantu oleh Kanal Gunung Sahari. Sejak itulah kincir air banyak berdiri disini. Dan nama Bingamvaart pun berubah menjadi MolenvlietMolen berarti ‘kincir’ dan vliet berarti ‘aliran’.

Keberadaan Molenvliet sebenarnya memperluas pembangunan Batavia ke arah selatan. Selain berdiri rumah mewah (buitenverblijven) di speanjang sisinya, ada pula hotel, perkantoran, hingga pusat perdagangan. Contoh rumah mewah yang masih tersisa hingga kini adalah Gedung Arsip milik Gubernur Jendral VOC Reiner de Klerk, dan Candranaya milik keluarga Khouw Sang Tuan Tanah. Secara detil, kisah Gedung Arsip ada disini dan Candranaya ada disini.

Untuk perjalanan di Molenvliet, akan saya bahas secara urut sesuai rute Jakarat Good Guide, ya.

Molen berarti ‘kincir’ dan vliet berarti ‘aliran’.
MOLENVLIET: Molen berarti ‘kincir’ dan vliet berarti ‘aliran’.

Hotel Tertua di Jakarta

Setelah melewati Stasiun Juanda yang jadi meeting point, kita bakalan melewati hotel tertua di Jakarta, gaes. Namanya Hotel Sriwijaya. Lokasinya persis di pojokan Jl. Veteran (d/h Rijswijk) dengan Jl. Veteran I (d/h Citadelweg).

Hotel ini berawal dari sebuah bisnis resto dan toko roti milik Conrad Alexander Willem Cavadino di tahun 1863. Di tokonya tersebut, Cavadino terkenal menjual aneka gula-gula, cokelat, wine, liquor,  hingga cerutu Havana. Dan seiring perkembangannya, Cavadino melengkapi bisnisnya dengan membangun Cavadino Hotel pada 1872.

Hotel itu pun sempat berganti nama beberapa kali. Mulai dari Hotel du Lion d’Or, Park Hotel (1941), hingga menjadi Sriwijaya Hotel sejak tahun 1950-an. Cavadino Hotel sendiri hanya bertahan hingga 1898.

Kini, sebagian besar wujud bangunan lama tidak tampak lagi karena sudah mengalami banyak renovasi. Namun demikian, posisi eks toko roti masih bisa kita nikmati sebagai bagian dari restoran Hotel Sriwijaya.

Selain Hotel Sriwijaya, ada pula Hotel De Grand Java. Sayangnya, bangunan ini tidak lagi menjadi hotel. Melainkan menjadi Mabes AD! Hehe. Posisinya sederet dengan Hotel Sriwijaya. Dan dulunya juga hotel megah karena ada tempat parkir kuda. Yoi, dulu yang punya kereta kuda pribadi sama halnya dengan yang punya mobil mewah di masa kini.

Hotel Sriwijaya yang tertua di Jakarta.
Hotel Sriwijaya yang tertua di Jakarta.

Kawasan Kuliner Pecenongan

Meluncur dari kedua hotel tersebut, kita menuju Pecenongan. Agak aneh rasanya mengetahui kawasan yang kini rimbun oleh hotel, showroom, dan beragam tempat makan ini di masa kolonial justru rimbun sebagai hutan. Dan di ‘hutan’ inilah pribumi diijinkan tinggal saat Raffles memerintah.

Nah, kalau sekarang Pecenongan dikenal sebagai sentra kuliner, di masa kolonial justru dikenal sebagai pusat toko buku dan percetakan. Sebut saja yang dimiliki Belanda, Van Dorp, hingga yang milik perseorangan, G Kolff & Co, milik Johannes Cornelis Kolff.

Kolff sendiri merupakan sosok yang aktif di dunia pers. Ia juga menerbitkan surat kabar terkemuka pada masanya yang bernama Java Bode. Namun sejak hubungan Indonesia-Belanda memburuk, koran itu berhenti terbit .

Lalu tak jauh dari Pecenongan, kita juga akan bertemu dengan sekolah Santa Maria. Sekadar info, di sekolah ini ada museumnya loh. Dan boleh dikunjungi umum setiap weekdays. 

Berseberangan dengan Santa Maria, kita bisa melihat halaman belakang Istana Merdeka. Istana yang pada masa pemerintahan Presiden Soekarno dimanfaatkan sebagai tempat menginap tamu-tamu negara. Di masa sekarang sih, ia lebih sering berfungsi sebagai tempat pelantikan kabinet. Istana Merdeka ini dulunya juga salah satu vila orang kaya Belanda yang menghiasi Molenvliet.

Salah satu pusat kuliner Jakarta. Jangan terkecoh sama harga kaki limanya!
Salah satu pusat kuliner Jakarta. Jangan terkecoh sama harga kaki limanya!

Gedung Jiwasraya

Rasanya semua orang pasti familiar sama asuransi yang satu ini. Wajar sih, soalnya dia adalah asuransi pertama di Indonesia. Sejak 1859, gaes! Cuma, dulunya bernama Nederlansch Indiesche Levensverzekering en Liffrente Maatschappij (duh lah panjang bener). Dia menjadi perusahan negara sejak dinasionalisasikan pada tahun 1957 dan sempat bernama Eka Sejahtera.

Lokasinya nggak jauh dari Pecenongan, gaes. Dan bentukannya mirip-mirip dengan gedung Jiwasraya di Semarang. Gaya era-era kolonial gitu. Cakep dan Instagramable banget. Kalau kalian mampir kesini, jangan lupa foto-foto di pedestriannya, ya.

IMG_4964

IMG_4977

IMG_4997
Tempat yang ideal buat gaya-gaya-an

Harmoni- Hotel Des Indes

Kelar foto-foto cakep di Jiwasraya, kita menuju Harmoni. Kenal dong sama kawasan ini? Secara jadi sentral pemberhentian TransJakarta, gitu. Tapi tahu nggak, kalau kawasan ini dulunya tempat berkumpul para sosialita Belanda? Nah, kalau Surabaya punya Societeit Simpangsche yang akhirnya menjadikan nama kawasan itu sebagai Simpang, Harmoni pun berasal dari nama Societeit de Harmonie.

Gedungnya sih sudah nggak ada. Nggak kayak Societeit Simpangsche di Surabaya yang kini menjadi Balai Pemuda. Societeit de Harmonie kini cuma jadi lahan parkir milik gedung sekretariat negara.

Di persimpangan Harmoni ini, dulunya ada patung Hermes, sang Dewa Perdagangan. Tepat di salah satu sisi jalan yang kini ada jembatannya itu. Kenapa ada dia? Soalnya persimpangan ini di abad ke-19 adalah area perdagangan. Meski patung itu dulu sempat hilang, Hermes duplikat dibuat dan hingga kini tetap menghiasi jembatan Harmoni. Sementara Hermes yang asli kini dipajang di halaman belakang Museum Fatahillah.

Ini nih wujud si Hermes asli di Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)
Ini nih wujud si Hermes asli di Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta)

Oya, di kawasan Harmoni pula, dulunya ada Hotel Des Indes. Nggak asing sama nama ini? Wajar. Soalnya hotel terbaik dan termegah se-Asia Tenggara itu muncul di pelajaran sejarah kita. Dimana perjanjian Roem-Royen ditandatangani disini dan dimana Bung Hatta pernah ditahan disini oleh Jepang.

Dulunya sih, hotel ini gedung asrama pelajar putri Belanda. Sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi hotel sejak dibeli pebisnis Prancis, Antoine Surleon Chaulan.

Hotel Des Indes sering berganti-ganti kepemilikan. Ia pun baru bernama Des Indes atas ide dari Edward Douwes Dekker alias Multatuli. Meski yang punya datang dan pergi, ada satu hal yang sama dari hotel ini. Yakni sifat luxury-nya. Selain terletak pada interiornya, Des Indes juga menyediakan rijstafel (prasmanan a la Belanda) dan aneka es krim a la Eropa. FYI gaes, es krim di masa itu adalah barang mewah. Soalnya lemari es masih menjadi barang langka.

Sayang nih, sekarang si saksi sejarah ini sudah nggak berbekas sama sekali. Andai masih ada, katanya sih bakal sejajar dengan Hotel Raffles di Singapura itu. Secara usia mereka sama dan Hotel Raffles masih berdiri sampai sekarang sebagai hotel lawas nan bergengsi disana.

Sejak dirubuhkan di tahun 70-an, Des Indes berganti wujud menjadi pusat perbelanjaan bernama Duta Merlin.

Salah satu gedung lawas di sekitar Harmoni
Salah satu gedung lawas di sekitar Harmoni
Lorong salah satu gedung lawas yang masih berdiri di sekitar Molenvliet
Lorong salah satu gedung lawas yang masih berdiri di sekitar Molenvliet

Perjalanan terus berlanjut menuju pemberhetian terakhir, yakni Gedung Arsip. Dan sepanjang jalan itu, kita akan bertemu dengan gedung PT. Pelni. Perusahaan pelayaran negara yang dulunya juga dimiliki Belanda.

Nggak cuma itu, kita juga sempat berhenti di kedai kopi The Atjeh Connection. Duh, siapa yang nggak tergoda sama nikmatnya kopi Aceh yang tersohor itu, sih. Di kedai ini, kamu harus cobain Kopi Sanger, gaes. Yaitu kopi hitam khas Aceh yang dipadukan dengan susu kental manis dan gula.

Kopi Sanger yang pas kopinya :))
Kopi Sanger yang pas kopinya :))

Nah, gaes, kalau melihat Molenvliet yang sekarang sih, jelas jauh dengan yang ada di masa lalu, ya. Selain sudah memendek dan menyempit, lagi-lagi ia dituding mengembalikan Jakarta kepada banjir. Duh, gimana nggak kalau kalinya aja penuh sama sampah yang kita buat sendiri.

Padahal, dulu selain indah dengan kincir dan pernak-pernik lampion, Molenvliet juga diramaikan dengan pagelaran Tari Cokek dan riuhnya Tanjidor. Sementara beragam perahu lalu-lalang di kalinya. Berasa kayak di Eropa nggak sih?

Molenvliet hari ini
Molenvliet hari ini

Yah, meski sekarang sudah berubah fungsi, nggak ada salahnya kan kita tetap menjaga kerapihan area Molenvliet ini? Bagaimanapun ia tetap bagian dari denyut Jakarta, ibu kota kita bersama :)

So, see you on the next post!

Doubletrackers bersama teman pejalan lainnya. Kiri: DIta, Kanan: KAk Myrta dan putranya, Bhumi. Minus Dimas dan Mas Andri (suami Kak Myrta) nih.
Doubletrackers bersama teman pejalan lainnya. Kiri: DIta, Kanan: KAk Myrta dan putranya, Bhumi. Minus Dimas dan Mas Andri (suami Kak Myrta) nih.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *