Pesona Kupang dan Budaya Lontar

IMG_6180

Nggak kaget kalau orang pada ramai bilang Indonesia timur itu eksotisnya kebangetan. Because that’s so true. Nggak usah yang jelas-jelas lagi naik daun kayak Raja Ampat, Kei, Ora, atau Padar. Kota yang satu ini—KOTA loh ya—pemandangannya udah bagus banget. Duh, berhubung norak adalah hak segala bangsa, maka sorry to say, untuk jalan-jalan yang kali ini aku noraknya dari hati terdalam.

Macam inilah noraknya kira-kira...
Macam inilah noraknya kira-kira…

Alkisah, perjalanan ke Kupang ini bermula karena keponakanku, Akira, baru saja lahir ke dunia. Syukur alhamdulillah, adikku (yang adalah ibunya) dan si bocah lanang ini lancar-lancar saja dan sehat selama dan setelah proses persalinan itu. So singkat cerita, ini juga merupakan pertanda baik buat budenya (alias aku) buat bisa…jalan-jalan keliling kota. Yeah!

Terus terang, Kupang menjadi jujugan pertamaku ke Indonesia timur setelah bermimpi sekian lama (hopefully bakal ada alasan lain buat ke Indonesia timur selanjutnya, amin). Setelah sebelumnya harus puas cuma baca di majalah dan sabar menabung. Dan nggak salah rasanya kalau perjalanan ini begitu membekas di hati :’)

Gimana nggak? Begitu pesawat yang kunaiki melintas di atas Laut Sabu, aku dibikin ternganga lebar sama pemandangan di luar. Begitu lebar sampai bisa jadi kolam renang standar internasional lah. Gara-garanya, ada hamparan biru nan luas yang begitu memanjakan mata.

Hamparan biru itu datangnya dari laut dan langit—yang saking birunya—berasa kayak nggak ada batas. Belum lagi dengan gumpalan awan putih yang tergabung dalam kelompok-kelompok kecil. Persis kembang gula yang lembut dan menyenangkan. Semenyenangkan terangnya matahari siang itu.

Mana batasnyaaa?
Mana batasnyaaa?

Tapi, di balik keelokan itu, jangan salah. Penerbangan justru tak bisa terhindar dari yang namanya turbulensi hebat. Dan usut punya usut, jawaban kutemukan ketika mendarat. Ternyata semua itu ulah angin!

Jujur, baru kali itu aku diterpa angin sedemikian kencang. Sampai sempat aku penasaran dan mengecek via aplikasi AccuWeather di HP suatu hari kemudian. Berapa sih kecepatan angin ini kok ngajak ribut aja padahal cuaca cerah ceria?

Dan tadaaa…. Begitu cek HP, yang ada aku syok sendiri. Kecepatan angin di sini ternyata mencapai 33km/h! Itu artinya 11 kali lebih kencang dari Surabaya dan Jakarta yang rata-rata HANYA ada di kisaran…3.7km/h. Hahahaha, pantessss…. *pegangin genteng*.

Tapi terlepas dari masalah angin yang bikin rambut berasa mau lepas aja dari kepala itu, aku sangat menikmati waktu selama di Kupang. Bukan cuma karena cuacanya yang selalu terik (selama musim kemarau, matahari kayak nggak pernah pergi dari tanah ini btw), tapi juga karena pantai yang membentang di sepanjang sisi utara sampai barat Kupang.

Pantai Namosain. SAlah satu pantai di pesisir Kota Kupang. Nggak dikasih filter apa-apa, warnanya udah kayak di edit pakai Snapseed, VSCO, dan Instagram :)))
Pantai Namosain. Salah satu pantai di pesisir Kota Kupang yang nggak dikasih filter apa-apa, warnanya udah kayak di edit pakai Snapseed, VSCO, dan Instagram :)))

Dibentengi pantai segitu panjangnya, bikin geser sejengkal aja kita langsung ketemu sama pantai yang berbeda. Ada Namosain lah, Pantai Panjang lah, Oesapa lah, dan yang paling terkenal sih, Lasiana. Dan berbeda sama pantai-pantai di negara ini yang cenderung ditumbuhi kelapa, pantai di Kupang malah banyak ditumbuhi lontar.

Nah, ngomongin soal lontar ini, aku bisa seketika berubah religius. Soalnya, tumbuhnya lontar di pesisir tanah Timor yang berkarang ini menjadi bukti betapa adil Tuhan dengan segala kuasa-Nya.

Pantai Lasiana dan pohon lontar
Pantai Lasiana dan pohon lontar. Fabi’ayyi ala’i rabbikuma tukazziban…

Borassus flabelifer, nama lain lontar, bisa kusebut sebagai pohon kehidupan masyarakat Kupang atau bahkan NTT pada umumnya. Kita lihat saja kehidupan suku Rote dan Sabu—dua suku yang cukup mendominasi masyarakat Kupang. Mereka sangat akrab dengan ‘dunia per-lontar-an’ ini. Coba deh, kita urut apa saja manfaat dari tanaman tangguh ini bagi masyarakat Kupang dan NTT pada umumnya.

*

Yang pertama, di kehidupan modern ini, lontar bisa dimanfaatkan sebagai peneduh jalan. Ya meski nggak rimbun-rimbun amat, asal rapat, dia bisa jadi peneduh sih, hehe. Tapi yang terpenting bisa jadi penghias jalan.

Selama di Kupang, dengan mudah aku menemukan lontar di kiri-kanan jalan. Dan kondisi ini bikin aku terpikir sama jalanan di California (yang biasa kulihat di Pinterest itu) yang juga banyak ditumbuhi lontar.

Kebayang aja gitu ada satu jalan/ spot di Kupang yang memang khusus ditanami saobak alias biji lontar yang matang. Begitu tumbuh, yakin deh muda-mudi Kupang bakalan mempopulerkannya di sosial media sebagai California van Kupang. Jadi deh dia jujugan yang instagramable dan menarik minat wisatawan. Ya nggak, sih? Dan view yang paling mendekati dengan California itu bisa kalian lihat di Pantai Lasiana.

California Girl. Eh. Lasiana Girl, deng :)))
California Girl. Eh. Lasiana Girl, deng :))) (inframe: Nia, temen kerja di Jawa Pos dulu)
Juragan kebon dan mandornya (inframe: Nyokap dan Ryan, temen kerja di Jawa Pos dulu)
Juragan kebon dan mandornya :))) (inframe: Nyokap dan Ryan, temen kerja di Jawa Pos dulu)

Kedua, lontar sebagai pembungkus. Berhubung masih bau-bau lahiran bayi, keluargaku yang Jawa totok selalu membungkus ari-ari bayi dengan periuk. Lantas memendamnya di halaman rumah atau di larung ke laut. Nah, kalau masyarakat Kupang, akan membungkusnya dengan kapisak. Yakni wadah dari anyaman daun lontar.

Sementara kalau ada tetua terhormat yang meninggal. Dari sumber yang kubaca, peti matinya dibuat dari potongan pohon lontar yang dinamai kopak. Sayangnya aku kurang tahu apakah sekarang masih digunakan atau nggak.

Lalu yang ketiga, lontar juga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan bahan perabot rumah tangga. Daunnya yang kering bisa dijalin jadi atap atau dinding. Pelepah daunnya bisa menjadi dinding ataupun pagar rumah. Sedangkan batangnya, bisa menjadi balok bangunan yang disebut mopuk. Dan sebagai perabot, daun lontar juga bisa dipakai jadi ‘ember’ yang disebut haik.

Semua terbuat dari lontar
Semua terbuat dari lontar

Manfaat lontar yang keempat adalah menjadi bahan konsumsi. Sebut saja gula nira yang biasa diolah menjadi gula lempeng dan minuman itu.

Gula nira ini datang dari hasil menyadap tongkol bunga lontar. Biasanya, penyadap akan memanjat pohon lontar lalu menggantungkan beberapa jerigen untuk menampung hasil tetesan dari tongkol bunga di atas pohon. Nantinya, begitu turun dari pohon, hasil sadapan akan ditampung di wadah yang dibuat dari daun lontar pula.

Menyadap pohon lontar. Mana hayo bapaknya?
Menyadap pohon lontar. Mana hayo bapaknya?

Bila hasil sadapan digunakan untuk minuman, hasilnya bisa langsung dikonsumsi dan disebut dengan tuak manis. Ia tidak memabukkan. Masyarakat di Jawa mengenalnya dengan legen. Namun bila difermentasikan, tuak manis akan berubah menjadi moke (istilah Flores) alias sopi alias dewe. Dan ketiganya itu sama-sama berpotensi bikin mabuk. FYI, moke yang berkualitas bagus acap disebut masyarakat setempat dengan ‘BM’ alias Bakar Menyala. Dan nama ini mungkin merujuk ke kandungan alkoholnya yang tinggi sampai bisa dibakar dan menyala-nyala. CMIIW.

Tuak manis yang baru disadap. Enak dan segar. Rasanya mirip air kelapa tapi lebih manis.
Tuak manis yang baru disadap. Enak dan segar. Rasanya mirip air kelapa tapi lebih manis.

Namun meski bikin mabuk, moke tetaplah tak terpisahkan dari kehidupan bersosial masyarakat NTT pada umumnya. Banyak acara adat yang menggunakan moke sebagai minuman penjalin persaudaraan. Tentu saja dalam kadar yang sangat sedikit dan hanya sebagai teman makan. Cuma karena banyak yang suka menyalahgunakan moke itulah, dewasa ini konsumsi moke betul-betul diawasi pemerintah setempat.

Kemudian masih dari bahan yang sama, selain minuman, sari bunga lontar juga bisa diubah menjadi gula lempeng. Melalui proses masak berjam-jam di dalam tungku, cairan putih keruh itu akan terkaramelisasi kemudian siap dicetak. Cetakannya dibuat dari daun lontar yang dilingkarkan. Sungguh sebuah pohon yang mengandung manfaat setali tiga uang, ya!

Kalau teman-teman penasaran ingin mencoba tuak manis yang bener-bener baru disadap, kalian bisa mendatangi Pantai Lasiana. Sebab di sana, banyak penyadap lontar yang juga membuka usaha kedai makanan di pinggiran pantai. Di kedainya itu, mereka akan menjual tuak manis yang bisa diminum di tempat, maupun dibawa pulang. Begitupun bila ingin mencoba gula lempeng. Di Lasiana kalian bisa mendapatkan yang paling fresh dan masih hangat.

Pisang bakar alias pisang epe. Pakai kacang dan gula dari gula nira.
Salah satu pemanfaatan gula lempeng. Jadi saus karamelnya pisang epe (pisang bakar). Selain itu gula lempeng yang dilelehkan juga bisa menjadi pengganti gula tebu untuk campuran minuman (teh, kopi, dll). Kandungan gulanya jauh lebih rendah dari gula tebu loh! :D
Menteri pangan (nyokap) menengok industri rumahan gula lempeng di Pantai Lasiana :)))
Menteri pangan (alias nyokap) sedang menengok industri rumahan gula lempeng di Pantai Lasiana :)))

Bagi masyarakat NTT yang mengakrabi kehidupan ‘per-lontar-an’, mereka percaya kalau sedikit banyaknya gula nira yang dihasilkan bukan serta-merta karena teknik yang dikuasai para penyadap. Tapi juga kemampuan penyadap ‘mengenali ruh’ masing-masing pohon yang disadap. Sehingga tak jarang mereka melakukan sebuah prosesi doa sebelum menyadap bunga pohon lontar.

Oh ya, begitu dekatnya masyarakat setempat—khususnya suku Rote—dengan pohon lontar, mereka mengenal sebuah filosofi yang berbunyi ‘Mao tua do lefe bafi’. Artinya kurang lebih: kehidupan dapat bersumber cukup dari mengiris tuak lontar dan memelihara babi. Wah, pantesan. Selain lontar banyak dimana-mana, nggak heran di sana juga banyak babi peliharaan yang berkeliaran. Ternyata ini toh dasarnya 😀

Nah, last but not least, masih ada nih manfaat lontar yang kelima. Dan ini dekat sekali dengan kehidupan suku Rote. Yakni sebagai alat musik Sasando dan bahan pembuat topi ti’ilanga. Nah, khusus yang satu ini akan kubahas terpisah di postingan selanjutnya, ya :)

Sasando dari Pulau Rote versi jadul. Daun pohon lontar sebagai alat resonansi. Berbeda dari versi modernya, bagian tersebut kini sudah bisa dilipat sehingga ringkas.
Sasando dari Pulau Rote versi jadul. Daun pohon lontar sebagai alat resonansi. Berbeda dari versi modernya, bagian tersebut kini sudah bisa dilipat sehingga ringkas.

Untuk mengetahui gimana proses pengolahan gula nira, sila diintip di video amatir berikut :)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *