Banda Aceh: Kopi, Mie, dan Masjid

Aceh, khususnya Banda Aceh, sudah lama terkenal sebagai Bumi Serambi Mekah. Selain itu, beragam peradaban yang dibawa oleh kerajaan-kerajaan yang tumbuh di sini tak pernah absen menghiasi sejarah perkembangan nusantara.

Namun di sisi lain yang lebih humanis, Banda Aceh juga memiliki cerita lain dibalik kemegahan kotanya yang pernah menyimpan duka atas tragedi tsunami 2004. Sisi itu apalagi kalau bukan perkara kulinernya. Ya, bila boleh dirangkum, ada tiga hal dari perjalanan dinas saya ini yang melekat dari Banda Aceh: Kopi, Mie, dan Masjid.

Sebagai bagian dari masyarakat Melayu yang sangat akrab dengan kopi, masyarakat di Banda Aceh tak mau ketinggalan. Minum kopi adalah budaya. Bagian dari upaya mempererat silaturahmi dengan kerabat. Bahkan di sana, timbul guyonan yang mengatakan: ‘barang tiga rumah, pasti ada kedai kopi.’

Ya apa boleh buat bila kopi telah menjadi bagian dari kehidupan?

Tua muda, laki-laki dan perempuan, dari subuh hingga petang, kedai kopi tak pernah sepi pembeli. Apalagi bila dipasangi wi-fi. Ngobrol ngalur ngidul jadi tak terasa.

Namun, ada satu dari sekian juta kedai kopi yang selalu menjadi primadona para pelancong. Apalagi kalau bukan kedai kopi Solong Ulee Kareng.

Ngopi dulu, biar waras
Ngopi dulu, biar waras

Nama Solong sebenarnya datang dari nama pemiliki kedai, Muhammad Solong. Kedai itu sendiri aslinya berama ‘Jasa Ayah’ yang berdiri sejak 1974. Tetapi karena Solong lebih mudah diingat, maka jadilah Solong sebuah ‘merk’.

Pemilihan biji kopi yang tepat dari Lamno dan Pidie, proses penyeduhan dan penyaringan saat meracik yang mempertahankan nilai tradisional, membuat Kopi Solong selalu nikmat dari masa ke masa. Terlebih karena sejarahnya yang merupakan salah satu perintis kedai kopi di Banda Aceh. Solong pun menjadi ikonik dan selalu menjadi rekomendasi siapapun bila bicara kedai kopi.

Suasana di dalam kedai
Suasana di dalam kedai

Satu-satunya racikan kopi Aceh yang menurut saya bisa dicicipi siapa saja (apalagi yang tidak begitu menggandrungi kopi) adalah kopi sanger. Hening pernah membahasnya ketika kami jalan-jalan ke Molenvliet dan singgah ke Atjeh Connection beberapa waktu lalu.

Kopi yang dicampur sedikit susu ini memang bisa dikategorikan sebagai kopi susu. Namun bedanya, ada rasa sangit yang menyeruak dari aroma maupun rasa saat secangkir kopi itu mendekat ke wajah dan lidah.

Kopi Sanger yang pas kopinya :))
Kopi Sanger yang pas kopinya :))

Seperti kopinya, Mie Aceh juga tak kalah terkenal. Mie kuning yang banyak dipengaruhi budaya Melayu dan Arab karena kekayaan rempahnya ini adalah sesuatu yang tak boleh terlewat bila kita mengunjungi Banda Aceh. Kendati banyak mie sejenis yang bertebaran di kota-kota besar, sesuatu yang datang dari asalnya akan selalu lain rasanya.

Disajikan dalam tiga cara memasak, yakni kuah, goreng, dan tumis, rasa pedas bumbu mie Aceh dan rasa segar dari acar bawang merahnya memang menjadi paduan yang tak ada duanya.

Datanglah ke Mie Aceh Razali yang sudah beroperasi sejak 1967. Tempat dimana bila kita memesan mie kepiting, akan benar-benar disuguhi kepiting besar (utuh) di atasnya. Lewat kualitas dan rasa yang terjaga itulah Mie Razali tetap menjadi tempat favorit yang direkomendasikan kepada wisatawan maupun pejabat yang datang ke Banda Aceh.

Atau cobalah ke Mie Aceh Bardi yang menjual mie aceh ber-‘topping’ daging rusa untuk sensasi yang berbeda. Sebab mie Aceh pada umumnya cenderung berisi daging sapi, kambing, udang atau kepiting.

Bosan dengan Mie Aceh, kita bisa melipir ke rumah makan Sie Itek. Jualannya apalagi kalau bukan itik. Bedanya, itik di sini dimasak dengan kuah kari. Masih dengan aroma rempah yang begitu kuat (terutama aroma daun kari dan pandan), menyantap kari Sie Itek tak boleh terlewat.

Kiri: Nasi Goreng di Mie Aceh Razali Tengah: kudapan yang biasa umum tersaji di rumah makan-rumah makan di Banda Aceh Kanan: Mie Aceh Bardi daging rusa
Kiri: Nasi Goreng di Mie Aceh Razali. Tengah: kudapan yang biasa umum tersaji di rumah makan-rumah makan di Banda Aceh. Kanan: Mie Aceh Bardi daging rusa
Minuman yang tak boleh terlewat untuk dipesan di rumah makan di Banda Aceh.  Atas: Es Alpukat. Kiri bawah: Pepaya kerok (saudaranya timun kerok). Kanan bawah: Kopi Sanger
Minuman yang tak boleh terlewat untuk dipesan di rumah makan di Banda Aceh. Atas: Es Alpukat. Kiri bawah: Pepaya kerok (saudaranya timun kerok). Kanan bawah: Kopi Sanger

Dan tentu saja Banda Aceh, sesuai namanya, tak terlepas dari seribu masjid yang mengelilingi kotanya. Semuanya megah dan secara desain tidak ada yang biasa. Niat sholat di masjid menjadi semakin bulat dan bersemangat.

Masjid Baiturrahman, Banda Aceh
Masjid Baiturrahman, Banda Aceh
Interior di dalam salah satu masjid di dekat penginapan
Interior di dalam salah satu masjid di dekat penginapan
Oleh-oleh khas Aceh yang harus masuk daftar belanjaan. Gambar kiri merupakan camilan bernama Lontong Paris dan Bada Reteuk. Lontong Paris bukan lontong yang kita kenal. Ia kue kering yang dibuat dari bahan dasar tepung yang dilapisi kacang. Smeentara BAda Reteuk atau Boh Usen, dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan kacang hijau.  Selebihnya adalah oleh-oleh lain berupa  kopi dan minuman cokelat dari kedai Solong.
Oleh-oleh khas Aceh yang harus masuk daftar belanjaan.
Gambar kiri merupakan camilan bernama Lontong Paris dan Bada Reteuk. Lontong Paris bukan lontong yang kita kenal. Ia kue kering yang dibuat dari bahan dasar tepung yang dilapisi kacang. Smeentara BAda Reteuk atau Boh Usen, dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan kacang hijau.
Selebihnya adalah oleh-oleh lain berupa kopi dan minuman cokelat dari kedai Solong.

Kalau kamu, hal apa yang menjadikan sesuatu itu identik dengan Banda Aceh?

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *