Siang Bolong Bengong di Tablolong

IMG_6430

Baru sekali ke Indonesia Timur aja, saya udah dibikin gagal move on sama keindahan Kupang. Gimana kalau pergi ke tempat-tempat lainnya kayak orang-orang, ya? Jangan-jangan saya bisa sawan kebayang-bayang cakepnya pemandangan di sana. Gawat, nih~

Nah, berhubung saya memang masih nggak move on sama Kupang sampai hari ini, maka di postingan ini saya mau cerita perjalanan ke Kabupaten Kupang kemarin.

Yoi, Kabupaten Kupang, cuy. Sama kayak Bandung yang terbagi dua, Kupang pun dibagi menjadi Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Dan tempat yang saya tuju di Kabupaten kemarin ada dua, yakni Pantai Tablolong dan Air Terjun Oenesu.

Sebenarnya, saya ke sini pun atas rekomendasi adik saya yang sudah empat tahun menetap di Kupang. Katanya: ‘Dari pada jauh-jauh ke (pantai) Kolbano, mending ke Tablolong dulu’.

Duh, padahal saya pengen banget ke Kolbano. Secara sudah empat tahun saya membayangkan pantai ‘berpasir’ batu kerikil segede-gede telur ayam itu. Masak sudah sampai tempatnya masih juga lihat dari majalah doang?

‘Soalnya ke sana butuh empat jam perjalanan. Belum baliknya,’ kata adikku lagi.

Wah, edan. Mengingat waktu terbatas dan tujuan yang dimau banyak, dengan sangat terpaksa saya mengeksekusi tujuan ke Kolbano. Hiks~

Tapiiii, sedih itu nggak berlangsung lama, sih. Soalnya, pantai tujuan saya ini memang bagusnya kebangetaannn.

IMG_6432
Halo, Tablolong!

Nih ya, pantai berair biru dengan pasir putih kecokelatan lembut yang selama ini cuma bisa saya lihat fotonya di majalah atau blog orang, akhirnya bisa saya rasakan sendiri! Kayaknya kalau saya tiba di sana lebih pagi atau sore sekalian, saya pasti sudah nyemplung dan berenang-renang di dalamnya. Cuma berhubung saya tibanya siang bolong, niatan itupun terpaksa diurungkan. Daripada saya pulang nggak dikenali rupanya karena kelewat gosong?

Asli cuy, siang itu kayaknya jadi siang terpanas yang pernah saya rasakan. Nggak ada awan, matahari bersinar sampai 35 derajat Celsius, dan parahnya, angin kencang khas Kupang yang kecepatannya bisa mencapai 33 km/jam itu nggak membantu apa-apa. Justru menghembuskan angin garam yang malah bikin lengket. Yeah, right…lengket.

Walhasil, sayapun memilih duduk-duduk bengong di salah satu pondokan yang ada di sana.

Nyai yang selalu ingin eksis di salah satu pondokan beratap daun lontar
Nyai yang selalu pingin eksis di salah satu pondokan beratap daun lontar.
Pondokan di pantai ini instagramable banget (inframe: Nia, eks teman sekantor yang sekarang berdomisili di Kupang)
Pondokan di pantai ini instagramable banget, gaes (inframe: Nia, eks teman sekantor yang sekarang berdomisili di Kupang)
Kemana Tuhan menyembunyikan awan-awan?
Kemana Tuhan menyembunyikan awan-awan?

Menuju Tablolong ini membutuhkan waktu 1,5 jam saja dari Kota Kupang. Jalannya memang agak sedikit berkelok-kelok, gaes. Tapi aspalnya muluuusss banget kayak pipi yang perawatan. Dan setelah melewati perkampungan bahkan jalan-jalan yang meragukan (saking sepinya), kita akan tiba di sebuah gerbang masuk yang nggak kalah meragukannya.

Ya gimana nggak meragukan kalau yang jaga gerbangnya aja nggak ada? Terus kayak juru parkir Indoma*et yang suka tiba-tiba nongol, penjaga gerbang slash tukang pungut tiket di sini pun bisa tahu-tahu muncul minta retribusi masuk. Haha. ‘Tiket’-nya nggak mahal, sih. Kalau nggak salah seorang sekitar 5-10 ribu aja. Cuma… jangan kaget ya kalau di dalam pantai nanti kita ditagih lagi.

Di sepanjang pantai Tablolong (yang Allahu Akbar, airnya seger beneerrrr itu), kalian bakal banyak nemuin pondokan yang terbagi dalam beberapa ‘blok’. Nggak tahu gimana pembagiannya, ya. Yang jelas masing-masing ‘blok’ itu ada pemiliknya. Orangnya beda-beda. Pastikan kalau kamu memasuki salah satu ‘blok’ di sana buat duduk-duduk, kamu cari tahu pemiliknya terlebih dahulu. Soalnya, para pemilik ini menarik ‘iuran duduk-duduk’ di pondoknya. Nggak mahal juga sih, paling serombongan dipatok 20-30 ribu. Jaga-jaga ajalah, daripada pulang-pulang dicegat terus ada yang bilang: ‘Ini tanah mama!’, pilih mana? Hehe….

Beda sama Lasiana yang cenderung ramai dan banyak aktivitas wisatawan (ceritanya di sini), suasana Tablolong cenderung melompong dan sepi. Kalian bisa mendapatkan sensasi pantai pribadi yang pas buat berjemur, ngelamun, apalagi yang pengen berkontemplasi mencari kedamaian diri. Ah, ntaps~

Cuma, pantai ini nggak cocok buat yang mau menikmati pantai sambil piknik, gaes. Apalagi yang beser. Soalnya, di sini nggak ada yang jual makanan. Dan…nggak ada toilet (well, mungkin ada toilet tapi nggak persis di sana). Jadi kalau mau ke sini, pastikan kalian sudah terganjal dari rasa lapar atau minimal bawa bekal. Pluusss…jadilah pribadi yang ‘ramah lingkungan’. Jangan dikit-dikit menandai teritori dengan buangan kalian, hehe… :p Oke?

Oh, satu lagi. Berhubung Tablolong juga masih bisa disebut perawan, buat kalian yang datang bawa bekal, sampahnya tolong di buang pada tempatnya ya, gaes. Sayang banget kalau pantai secakep ini dikotori sama bawaan kalian :)

 

Mancing banget suasananya buat leyeh-leyeh~
Suasana begini, tega mau kalian kotorin sama sampah? Meh~

Puas berjemur layaknya ikan asin di Tablolong, saya bergeser ke sebuah pemukiman nelayan tak jauh dari pantai. Nggak banyak sih yang bisa dilakukan di sana kecuali kalian menyukai fotografi human interest. Lagian hari masih siang, nelayan juga belum ada yang berangkat.

Perkampungan nelayan tak jauh dari Pantai Tablolong
Perkampungan nelayan tak jauh dari Pantai Tablolong
IMG_6437
Ehhhh, si adek. Nanti ditegur KPI, loh -___-“

Dan dengan berkunjungnya saya ke perkampungan nelayan siang itu, saya lega nggak harus mengikuti ide gila berenang di Tablolong tadi. Soalnya………

UNTUNG NGGAK JADI BERENANG. GILE AJE~
GILE LU, NDRO!~

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *