Kandang Godzilla di Tebing Koja

IMG_6787

Nggak ada di dunia ini yang bisa mengalahkan maunya dua orang kurang kerjaan. Mau sejauh apa pun jarak ditempuh, bakal tetap dilakoni juga. Percayalah.

Seperti yang kami lakukan di liburan panjang beberapa minggu lalu. Bosan dengan hiruk-pikuk Jakarta, kami meluncur dari rumah di Kalibata ke…Tangerang :))) Naik apa? Sepeda motor. Gimana rasanya? Mati rasa, juragan! Turun dari motor rasanya pantat ini udah jadi martabak.

Kotak-kotak.

Seriusan.

Kenapa kami sampai mau-maunya naik motor sampai Tangerang? Ini semua gara-gara Instagram! Ah, memang dunia maya itu penuh tipu daya. Dan yang namanya tipu daya itu, tetap saja selalu terlihat menarik meski sebenarnya kita sudah tahu kalau ujung-ujungnya dibohongi juga. Haha.

Sad.

Di laman Instagram kami belakangan ini, sedang marak seliweran gambar sebuah ‘tempat wisata’ kekinian yang (kalau dilihat-lihat) kok fotogenik juga. Usut punya usut, lokasinya NGGAK SEBERAPA JAUH :))) CUMA di Tangerang saja. Dan tempat itu bernama Tebing Koja. Atau nama kerennya, Kandang Godzilla.

Agak gagal paham juga awalnya kenapa kok dinamakan Kandang Godzilla. Soalnya di sana nggak ada serem-seremnya, gaes. Badut Godzilla-nya pun nggak muncul. Plus nggak ada kandang-kandangnya sama sekali. Tapi begitu mencari tahu, ternyata kata Godzilla itu datang dari salah satu bentuk pahatan batu yang menyerupai kepala Godzilla (kata orang-orang di sana). Hm…, serah lo dah. Iyain aja biar cepet.

Bisakah teman sejalan menemukan kepala Godzilla-nya?
Bisakah teman sejalan menemukan kepala Godzilla-nya?

Dalam perjalanan ke Kandang Godzilla, sebenarnya kami sempat berhenti sejenak di Pasar Lama (soal ini akan kami ceritakan terpisah, ya). Baru kemudian, kami meneruskan ke Kandang Godzilla yang ternyataaaaa…ada di arah menuju SERANG.

YAK! SERANG, SODARA-SODARA!!!

Perjalanan dari Pasar Lama berlanjut cukup panjang berliku. Mungkin kalau nggak ingat rumah kami ada di Jakarta, kami bakal pasang tenda di sana sekalian, terus jadi penduduk lokal saja. Males balik banget, Ya Gustiiii :( Jauhnya itu loh, menetehennn~

Tapi kayaknya niat itu harus dibuang jauh-jauh, sih. Karena begitu sampai sana, kayaknya kemungkinan buat pasang tenda aja nggak bakal ada. Sebab kita udah kalah saing duluan sama tenda-tenda penjaja makanan dan minuman yang menyesaki sudut-sudut kawasan. Belum lagi sama suasana ramai yang datang dari pengunjung lokal maupun dari luar Tangerang. Rasanya penat luar biasa saking banyaknya manusia di sana. Harapan mendapat gambar sekece di Instagram pun langsung sirna begitu saja.

IMG_20170902_151256
Horang…semuah…

Sedikit flashback sebelum kami memasuki kawasan, kami sempat dicegat sekumpulan pemuda lokal yang menagih retribusi masuk di beberapa meter sebelum tiba di Kandang Godzilla. Nggak cuma ke kita sih, tapi ke semua orang yang akan menuju Kandang Godzilla. Besarnya cukup 3000 Rupiah saja untuk sepeda motor. Lalu begitu masuk ke dalam, setelah melewati parkir, akan ada lagi sekumpulan pemuda yang mencegat untuk menagih ‘biaya masuk’. Lagi-lagi keluarlah 3000 Rupiah. Untuk parkirnya sendiri, lain lagi. Seperti di banyak tempat, kami ditagih 2000 begitu meninggalkan lokasi. Hm…yasuw lah.

Meski cukup gemas dengan banyaknya tarikan sekalipun harganya terbilang murah, pemandangan di Kandang Godzilla ini ya…sebenarnya tidak terlalu eksotik gimana gitu. Agak lumayan jauh meleset lah dari apa yang kami lihat di Instagram. Tapi ya nggak pa-pa. Menyesal tak akan ada guna. Sebab bagaimana pun, kami percaya akan ada penghiburan di balik kesenewenan ini. Sebut saja kelucuan yang datang dari memerhatikan pengunjung. Kayak ABG-ABG yang datang ber-make up tebal dan memakai high heels (lalu ke sana buat ngedate dan foto-foto pakai tongsis), atau ABG-ABG yang datang bawa bendera komunitasnya (nggak usah saya sebutkan ya. Cuma semacam Slankers atau Jackmania, gitu kok). Belum lagi ketambahan yang dateng cuma buat foto-foto selfie.

SELFIE, JURAGAN! SEL to the FIE! Why don’t you take it at home? Ya Gustiii, mohon tahan lambe saya ini supaya nggak nyerempet aja kayak bajaj….

Lelah ngebatin, kami lantas memutuskan untuk menepi mencari kesejukan. Mungkin cuaca yang panas ini bikin pikiran saya ikut panas juga. Jadi, kami akhirnya duduk-duduk di salah satu tenda, milik seorang mbak-mbak, yang tahu-tahu nyerocos aja tanpa diminta bercerita.

Dari celotehannya itu, ia bercerita soal asal-usul Kandang Godzilla. Bahwa sesungguhnya, tempat ini merupakan milik pribadi. Satu klan keluarga gitu, lah. Yang ujung-ujungnya masih ada kaitannya sama keluarga si Mbak. Terus kata doi lagi, Kandang Godzilla ini dulunya tambang pasir. Digali manual (bukan pakai alat berat) sampai akhirnya jadi berelief-relief begini. Aktivitas penambangan pasir itu sendiri sebenarnya masih berlanjut sampai sekarang. Tepatnya di sis belakang kawasan Kandang Godzilla.

Kelar mendapat penjelasan si Mbak, saya lalu berpikir. Kalau hasilnya di dapat dari ‘ngerusak’ alam secara nggak langsung gini, kudu dibanggain apa dimirisin ya? Rasanya kok nggak adil kita membanggakan tempat yang ‘sakit’ begini sebagai jujugan wisata. Jujur saya langsung teringat sama kisah Danau Kaolin dan Brown Canyon (ceritanya ada di sini) yang serupa. Bukannya cantik karena berawal dari tatap, mereka malah ‘cantik’ karena dari berawal dari ‘luka’… #pedihjuragaann.

IMG_6709
Mungkin memang kita yang nggak bisa motret, jadinya ya B aja…
IMG_6723
Percayalah…foto-foto ciamik gonggong yang lagi rajin seliweran di internet itu, sebenernya tak lepas dari faktor man behind the gun (yang pinter motret dan atau pinter ngedit). Bukan semata karena tempat, alat, apalagi modelnya.

Cuma ya… kalau memang dengan adanya Kandang Godzilla ini dirasa bisa menaikkan geliat ekonomi warga sekitar, mungkin nggak ada salahnya pemerintah setempat mulai melirik, mengkaji, lalu menertibkannya. Menertibkan di sini bukan cuma masalah ‘tiket masuk’ yang tadi saya sebutin aja, sih. Tapi juga sampai ke masalah keamanan di sini.

Banyak banget pengunjung dan para pencari gambar (baik yang pro maupun yang selfie-selfie doang), berusaha mencapai titik ter-ekstrem tempat ini supaya gambarnya kelihatan kece. Padahal mah ya, soal kece kan tergantung man behind the gun, hehe. Kalau ujung-ujungnya berbahaya, kayaknya mending nggak usah sok-sok naik ke tebing-tebing itu, deh.

Bukannya apa-apa. Tebing ini memiliki lapisan tanah yang kalau di musim kering seperti sekarang, sangat halus dan berdebu. Licin, gaes. Salah memijak, kita sangat mungkin buat terpleset, terpelanting, lalu jatuh. Semakin berbahaya lagi karena di sekeliling tebing tidak ada (pagar) pengamannya. Kan jadi nggak lucu, kalau lagi asyik berfoto tahu-tahu ‘terjun payung’?

Selain itu, kontur dan tepian ‘tebing’ di Kandang Godzilla ini bukanlah ‘tebing’ yang aman untuk dinaiki dengan tangan telanjang. Boro-boro alat pengaman, tangga yang membantu buat naik ke atas saja tidak ada. Lah, dikata orang-orang yang datang pada jago panjat tebing? :))) Ditambah lagi tanah kering yang retak-retak, berdiri di salah satu ketinggian bisa bikin kita bener-bener was-was, gaes. Ya, bayangin aja kalau tanah retak itu terus patah lalu kita meluncur bebas kayak buah yang kelapa jatuh :)))

Apakah kalian melihat kontur-kontur tebing?
Apakah kalian melihat tepian tebing yang begitu pipih?

So, buat kalian yang mau kesini, silakan dipikir-pikir terlebih dahulu. Apapun motif kalian dibaliknya, cuma kalian yang bisa memutuskan apakah tempat ini layak jadi jujugan jalan-jalan atau nggak.

Dan seiring perjalanan kami pulang saat itu, kami mendapatkan insight yang bisa disarikan menjadi morals of the story dari jalan-jalan ke Kandang Godzilla ini

Pertama: Dunia maya memang indah, juragan. Tapi percayalah ia tetap semaya namanya. Yang kelihatan heitsss, bisa jadi nggak se-heittss itu.

Kedua: Telung ewu kok njaluk enak. Iku arane ngelamak! (sila tanya Mbah Gugel aja buat yang satu ini :))))

Sekian catatan perjalan kami, sampai membaca di catatan selanjutnya! :)

IMG_6733
Menuju tiga jam selanjutnya menuju Jakarta…

 

You may also like

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *