Rabo-rabo: Tahun Baru Berkeroncong Tugu

Siang benderang di utara Jakarta tak menyurutkan semangat warga Tugu menyambut tahun baru. Sebagai rangkaian dari perayaan natal—sekaligus mempertahankan tradisi leluhur yang berakar budaya Portugis—kaum Mardijkers Tugu bersiap untuk saling bersilaturahmi usai melakukan kebaktian di Gereja Tugu. Kegiatan rutin setahun sekali ini mereka sebut dengan Rabo-rabo. Diambil dari kata Rabo, yang dalam bahasa Portugis berarti ‘ekor’.

Warga Tugu dan masyarakat sekitar usai kebaktian sebelum melangsungkan tradisi Rabo-rabo
Warga Tugu dan masyarakat sekitar usai kebaktian sebelum melangsungkan tradisi Rabo-rabo

Sama seperti lebaran bagi umat muslim, dalam acara Rabo-rabo ini masyarakat Tugu juga akan saling berkunjung ke tetangga. Mereka saling mendoakan harapan-harapan baik di tahun baru, sekaligus bermaaf-maafan. Tuan rumah juga nggak ketinggalan menyuguhkan beragam kudapan dan minuman. Tak terkecuali minuman beralkohol 😀

Dan makin banyak rumah yang dikunjungi, makin besar pula rombongan tamunya. Sebab, tuan rumah yang sebelumnya dikunjungi, bakalan ‘ngekor’ berkunjung ke rumah-rumah selanjutnya.

Yang bikin tradisi ini semakin seru dan beda adalah ikut sertanya rombongan keroncong Tugu. Di setiap rumah yang mereka datangi, para pemusik ini akan memainkan lagu sejak dari pintu masuk. Hingga nantinya, sang pemilik rumah akan turut berdendang dan berjoget bersama para tamu.

Ibu Erni Michiels (baju merah), ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) saat memimpin 'rehearsal' pemusik Keroncong Tugu sebelum mulai berkeliling rumah warga.
Ibu Erni Michiels (baju merah), ketua Ikatan Keluarga Besar Tugu (IKBT) saat memimpin ‘rehearsal’ pemusik Keroncong Tugu sebelum mulai berkeliling rumah warga.
Enaknya kita nyanyi lagu apaan nih, coy?
Enaknya kita nyanyi lagu apaan nih, coy?
Ibu Saartje Michiels (tengah), sedang bernyanyi bersama pemusik keroncong dan para tamu yang brtandang ke rumahnya
Ibu Saartje Michiels (tengah), sedang bernyanyi bersama pemusik keroncong dan para tamu yang bertandang ke rumahnya.
Ukelele khas keroncong Tugu. Keroncong Tugu sendiri didirikan oleh Joseph Quiko dan juga dikenal dengan nama lain Cafrinho. Yang berarti beramai-ramai.
Ukelele khas keroncong Tugu. Keroncong Tugu sendiri didirikan oleh Joseph Quiko dan juga dikenal dengan nama lain Cafrinho, yang berarti beramai-ramai.
Para pemusik tugu. Baret seperti yang dikenakan bapak pemain biola adalah salah satu ciri khas pemusik keroncong Tugu
Para pemusik tugu. Baret seperti yang dikenakan bapak pemain biola (gambar kiri) adalah salah satu ciri khas pemusik keroncong Tugu

Merujuk ke leluhur warga kampung Tugu, orang-orang Portugis pun ternyata masih melakukan kegiatan serupa, gaes. Sama-sama untuk merayakan natal dan tahun baru, juga sama-sama digelar pada minggu pertama bulan Januari. Orang-orang Portugis menyebutnya sebagai Janeiras (The January). Dimana tamu akan bernyanyi saat mengunjung para tetangga dengan membawa alat musik, sementara pihak tuan rumah menyajikan makanan dan minuman sebagai gantinya. Seperti wine, brandy, manisan, buah-buahan, hingga kacang-kacangan. Mirip banget sama yang di Tugu!

Nah, seminggu setelah perayaan Rabo-rabo, warga kampung Tugu akan melanjutkan tradisi ini dengan melaksanakan perayaan Mandi-mandi. Sebuah adat saling menorehkan bedak ke wajah, dimulai dari orang yang dituakan sebagai simbolisasi telah saling memaafkan. Kembali fitri, mulai dari nol yah. Begitu kurang lebihnya.

“Minggu depan datang lagi ya. Tahun lalu ada Xanana Gusmao di Mandi-mandi, loh. Nggak tahu nanti ada siapa. Tapi yang pasti ramai di sini,” begitu kata Ibu Erni sebelum kami pamit pulang.

Beragam lagu dibawakan secara apik oleh para pemusik. Tampak rombongan sedang berkunjung ke rumah salah satu pendeta terkenal di Kampung Tugu
Doubletrackers bersama teman tim I Was Here Network sebagai teman sejalan yang baru
Doubletrackers bersama teman tim I Was Here Network sebagai teman sejalan yang baru

You may also like

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *